NovelToon NovelToon
Memories Of Love

Memories Of Love

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:83.1k
Nilai: 5
Nama Author: lizbethsusanti

"Selamatkan anak kamu!" Ucapan seorang wanita muda berwajah mungil dan manis membuat Jarvish Benjamin, Presdir muda Grup Benjamin seketika itu mematung.

Jarvish sama sekali tidak mengenali wanita itu dan merasa bahwa dia belum pernah bertemu dengan wanita itu sekali pun. Kenapa tiba-tiba ada kata, "Selamatkan anakmu!"

Apa yang sebenarnya telah terjadi? Ikuti kisah seru ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizbethsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luna dan Joshua

Joshua melangkah lebar dan langsung berjongkok di depan Dave yang sudah merosot turun dari gendongan mamanya.

Joshua berjongkok untuk memeluk Dave dan berkata, "Andai saja Om adalah Papa kamu, Om akan sangat senang. Tapi, sayangnya bukan, Nak. Om hanyalah sahabatnya Mama kamu"

Joshua langsung menggendong Dave saat anak tampan itu melemas di dalam pelukannya. Luna langsung berteriak, "Dave! Kamu kenapa, Sayang?"

Joshua langsung berlari ke kamar dan Luna langsung mengikutinya. Setelah merebahkan Dave di atas kasur, Pria tampan berkacamata dan berambut abu-abu itu menelepon dokter pribadinya.

Luna yang duduk di tepi ranjang, terus menggenggam tangan putra kesayangannya sambil terus menangis dan berkata, "Maafkan Mama. Mama mengajakmu pulang cepat, Nak. Tapi, dokter juga mengijinkannya. Lalu, kenapa kamu seperti ini? Bertahanlah, Sayang"

Joshua menatap Luna dengan hati sedih dan sorot mata prihatin. Pria tampan itu tidak tega melihat wanita yang sangat ia cintai bersedih seperti itu. Dia juga tidak tega melihat putra tunggalnya Luna sakit.

Sepuluh menit kemudian, dokter pribadinya Joshua datang.

"Gimana El?" Tanya Joshua ke dokter pribadinya yang bernama Eli.

Luna bangkit berdiri dan badannya berputar mengikuti arah gerak dokter yang bernama Eli itu untuk mendengar jawaban dari dokter itu.

"Anak ini baik-baik saja. Dia cuma kecapekan. Biarkan dia beristirahat dan aku akan pasang infus berisi vitamin. Saat dia bangun nanti, badannya akan fit kembali" Sahut dokter itu sembari membetulkan letak kacamatanya.

"Syukurlah" Sahut Luna dan Joshua secara bersamaan.

Ketika Dokter Eli masih sibuk menyiapkan infus, Joshua berkata, "Aku tinggal bentar, ya, El. Tolong jga Dave dengan baik"

"Oke" Sahut dokter itu tanpa menoleh ke Joshua karena ia masih asyik menyiapkan infus.

Joshua menarik tangan Luna untuk keluar kamar dan pria tampan itu langsung bertanya, "Apa kamu hamil saat kamu minta resign?"

Luna menganggukkan kepala.

"Dia anak pria yang sudah memperkosa kamu? Ah! Maaf aku membuka luka lama kamu"

"Nggak papa, Tuan. Iya, dia anak pria brengsek itu"

"Kenapa kau pertahankan anak itu dan memilih pergi dari rumah Papa kamu?"

"Karena, anak itu tidak bersalah. Aku bersyukur memiliki Dave. Aku tidak pernah menyesal mempertahankan Dave dan melahirkan Dave ke dunia ini" Sahut Luna.

"Apa kau mau mengatakan kepadaku siapa pria brengsek itu? Aku akan mencarinya dan menyuruhnya bertanggung jawab"

"Saya tidak ingin bertemu dan berurusan dengannya lagi, Tuan. Jadi, maaf kalau selamanya saya tidak akan pernah mengatakan kepada siapa pun siapa pria brengsek itu"

"Kau wanita yang sangat hebat, Luna"

"Saya hanyalah seorang Ibu yang berjuang keras untuk anaknya. Saya tidak hebat, Tuan" Sahut Luna dengan senyum lelah.

"Kenapa anak kamu pengen teropong? Alih-alih meminta mobil remote control, pesawat remote control, atau robot, Dave justru meminta teropong?"

"Karena, saya bilang ke Dave kalau Papanya tinggal di Bulan. Untuk itulah ia pengen punya teropong untuk melihat Papanya dari jarak dekat"

"Oooooo" Hati Joshua berdesir perih mendengar ucapannya Luna. Dia tidak tega melihat anak sekecil Dave menyimpan harapan begitu besar ingin bertemu dengan papanya. Sedangkan dia yang memiliki Papa, justru tidak akur dengan papanya.

"Oh, iya! Ini Tuan" Luna menyerahkan uang tiga ratus ribu rupiah yang ia ambil dari dompet berbahan benang rajut yang sudah butut dan masih ia genggam.

"Apa ini? Uang ini untuk apa?" Tanya Joshua dengan kedua tangan yang masih berada di dalam kantong celana kainnya.

"Ini untuk mengganti teropongnya"

Joshua bergeming.

"Harga teropongnya lima juta rupiah, Nyonya" Sahut Bram.

"Hah?! Kenapa jadi mahal banget?"

"Aku yang suruh Bram ambil teropong yang paling canggih" Sahut Joshua.

"Tapi, saya tidak bisa membayarnya, Tuan. Saya belum punya uang sebanyak itu. Saya akan mencicilnya. Ambil dulu uang tiga ratus ribu ini, Tuan. Sisanya akan saya cicil dan......."

"Sssttt!" Joshua menempelkan jari telunjuknya di bibir Luna dan Bram langsung melangkah pergi.

"Tuan?" Luna menatap Joshua dengan penuh tanda tanya.

"Aku tidak butuh uang kamu. Simpanlah uang itu. Aku butuh kamu, Luna. Maukah kamu menjadi pacarku? Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali berjumpa denganmu. Saat kau menghilang, aku baru menyadari kalau aku mencintaimu"

Luna sontak kesulitan menelan air liurnya dan diam mematung.

"Dave butuh gizi yang baik untuk ke depannya. Dave juga butuh seorang pria dewasa yang bisa ia ajak bermain dan bercanda. Aku mencintaimu, Luna. Aku juga mencintai anakmu.Sungguh!

Luna langsung membenamkan wajahnya di dada Joshua dan menangis sejadi-jadinya di sana.

Joshua tersentak kaget dan terhuyung ke belakang. Pria tampan itu kemudian tanpa ragu mengelus rambut Luna dan bertanya, "Apakah ini artinya, kamu mau jadi pacarku, Luna?"

Luna menganggukkan kepala di dalam pelukan Joshua dan pria itu langsung mempererat pelukannya dan memekik girang, "Aku mencintaimu, Luna. Aku juga mencintai Dave. Terima kasih sudah mau membalas cintaku yang tulus ini, Luna"

Luna yang sejak lama membutuhkan sosok laki-laki dan pelukan hangat, semakin dalam membenamkan wajahnya di dada Joshua.

Joshua mengelus lembut rambut Luna sambil berkata, "Mulai sekarang jangan memanggilku, Tuan! Panggil Mas!"

Luna kembali menganggukkan kepala di dalam pelukan hangatnya Joshua.

Joshua kembali berkata, "Mulai besok kau jadi sekertarisku lagi karena aku, ingin terus melihat kamu. Aku juga nggak mau lagi jauh dari kamu. Untuk Dave, aku akan sewa pengasuh dan supir untuk mengantar jemput Dave dan menjaga Dave selama kamu bekerja, oke?"

Luna sontak menarik diri dari dekapan Joshua dan saat ia ingin melemparkan protes, Joshua langsung menarik tengkuk Luna, namun di saat ia ingin mencium bibir Luna, wanita itu langsung menoleh ke kiri dan bibir Joshua mendarat di pipi Kanan Luna.

"Maafkan saya, saya masih belum bisa menerima........"

Joshua kembali mendekap tubuh rampingnya Luna sambil berkata, "Nggak papa. Kita akan jalani hubungan kita ini dengan santai. Aku akan setia menunggumu sampai hati kamu siap menerima ciuman dariku. Tapi, kamu tidak boleh menolak apa yang aku katakan tadi. Kamu harus turuti semuanya demi kebaikan kamu dan Dave"

Luna menganggukkan kepalanya di dalam pelukan Joshua dan Joshua langsung mendaratkan puluhan ciuman di pucuk kepalanya Luna.

"Malam ini, kamu dan Dave tidur di sini saja. Dave masih butuh istirahat dan masih diinfus. Besok aku akan carikan apartemen untuk kamu"

Luna hanya diam membisu di tepi ranjang. Dia terus menatap Dave yang masih tidur pulas. Dia hanya bisa menuruti semua ucapannya Joshua di saat otaknya beku dan hatinya terasa sangat lelah.

Keesokan harinya, Jarvish melangkah ke rumah sakit tempat Dave dirawat inap dengan langkah tegap. Pria tampan berwajah dingin dan arogan itu memutuskan untuk melangkah ke bagian lab untuk bertanya, "Hasil tes DNA atas nama Jarvish Benjamin dan Dave Aditya udah jadi belum?"

"Belum, Tuan"

"Kenapa lama banget? Butuh berapa duit untuk mempercepat hasilnya?"

"Kalau biasanya hanya butuh tujuh juta rupiah. Kalau dipercepat, butuh biaya sepuluh juta rupiah, Tuan dan itu pun baru bisa jadi lusa"

"Kalau aku kasih dua puluh juta apa bisa jadi sekarang juga?"

"Nggak bisa begitu juga, Tuan"

"Oke, aku kasih uang sepuluh juta dan lusa harus sudah jadi" Sahut Jarvish.

"Baik, Tuan"

Kemudian Jarvish melangkah ke lift dan naik ke lantai di mana Dave dirawat inap. Sesampainya di kamarnya Dave, Jarvish langsung keluar untuk bertanya ke suster yang tengah lalu lalang di selasar, "Di mana Dave? Anak yang kemarin menghuni kamar ini?"

"Oh! Dave anak tampan dan hebat itu?"

"Iya. Di mana dia?"

"Dave sudah pulang kemarin, Tuan" Sahut Suter itu kemudian suster itu pergi begitu saja meninggalkan Jarvish.

Jarvish langsung mengepalkan kedua tangannya dan menoleh ke Brian untuk berkata, "Kita cari keberadaan Dave saat ini juga!"

"Baik, Tuan"

1
anggita
iklan☝
anggita
👍👍top
anggita
like👍☝iklan
anggita
Jarvis..😘. Luna
Tyara Lantobelo Simal
Lanjut Thor semangat
anggita
👍👌,,
Golda Youwe
kok jdi malas baca yah, maaf yah author smpe di episode ini aja aku baca krna si Luna jdi kyk perempuan gk punya pendirian.. diapa apain sama Jarvis mau aja tpi berlagak jual mahal depan Joshua
bisa ditebak endingnya pasti kembali sama si Jarvis.
tapi ttp semangat👍🙏
Golda Youwe
luna kok kayak perempuan bego, gk punya pendirian pasti akhirnya kembali ke si jarvis, jadi malas baca, maaf yahh🙏
Yudi Saputra
novelnya bagus banget
Yudi Saputra
semangat kak dalam berkarya
S R
Happy ending..selamat kak😍🌷
Be___Mei
lanjut kak el
Be___Mei
suka 😍
auliasiamatir
sip josua nukahin aja biar jarvis gigit jari, manusia laknat satu itu
auliasiamatir
mudah mudahan josua membantu luna yah
auliasiamatir
baiknya bapak tirinya, anak nya aja gak tau di untung
auliasiamatir
makanya jadi perempuan jangan ke gatelan luna, udah tau orang mabuk, sok sok lula mau bantu
auliasiamatir
tanggung jawab kau jarvis, kalau gak lato lato mu, aku sumpahin karatan
auliasiamatir
jangan sampai kau gak mau bertanggung jawab yah jarvis
auliasiamatir
makanya jangan bodoh ihhh emosi aku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!