Hidup bahagia menjadi ratu dalam sebuah keluarga. Memiliki suami dan anak yang begitu mencintainya. Husna namanya. Seorang ibu rumah tangga yang begitu dicintai suaminya dan keluarganya.
Namun, dia mendapatkan sebuah pesan rahasia yang membuat hidupnya berubah begitu drastis.
Apakah pesan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen's Suga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat
"Pada zaman dahulu, hiduplah seekor rusa. Iya sangat sombong dan pemarah, ia sering meremehkan kemampuan hewan lainnya. Suatu hari dia bertemu dengan kura-kura lalu bertanya, kura-kura kamu mau ke mana? tanya rusa. Kura-kura menjawab kalau dia akan lomba lari. Rusa itu tertawa dan mengatakan jika itu adalah hal yang mustahil, lalu ...." Arini tidak melanjutkan dongengnya saat melihat Lean sudah terlelap. Dengan sangat perlahan, Arini menyimpan buku dongeng itu.
Tubuh bocah mungil itu pun dia tutupi dengan selimut hingga menutupi dada. Diusap lalu diciumnya pipi bulat Lean.
"Good night, my boy. Sweet dream."
Arini mematikan lampu kamar Lean dan hanya menyisakan lampu kamar yang temaram.
Saat di kamar, dia mengambil ponselnya yang berdering. Ada panggilan masuk.
"Ya, Fad. Kenapa?"
"Gak apa-apa, sih. Nelpon aja."
"Oh, aku baru aja bacain Lean dongeng. Baru aja masuk ke kamar."
"Udah tidur dia?"
"Hmmm. Dia kalau dibacain dongeng tidurnya cepet banget."
"Oh, pantesan."
"Pantesan kenapa?"
"Lean sering minta dibacain dongeng via telpon, tau-tau gak ada suara. Dipanggil juga diem aja, ternyata tidur toh."
Arini terdiam sesaat.
"Hellooo, jangan-jangan kamu juga tidur?"
"Enggak kok. Emmm ... Fadel, makasih ya karena kamu selalu ada buat Lean. Aku gak tau kalau dia gak ada kamu saat itu. Terimakasih karena sudah baik dan perhatian pada Lean. Padahal kamu bukan ayah kandungnya. Beda banget sama .... ya kamu tahu sendirilah ya."
"Memangnya kalau berbuat baik harus pada anak sendiri, ya? Haruskah ada ikatan darah dulu?"
"Enggak, bukan gitu maksudnya."
"Aku ngerti, Rin. Jangan tegang gitu."
"Ishhh."
"Weekend ini kamu ada acara gak?"
"Ada. Aku ada acara amal pemeriksaan gratis. Kenapa memangnya?"
"Duh, ngapain sih ngadain acara kayak gituan di hari libur? Gak bisa ganti hari aja gitu?"
"Tau tuh. Direkturnya siapa, sih, ya? Masa gak ngertiin karyawannya kalau mereka juga butuh refreshing," ledek Arini.
"Mau aku marahin gak direkturnya?"
"Boleh, boleh."
Mereka pun tertawa.
Obrolan garing yang sebenarnya tidak terlalu penting itu membuat mereka lupa waktu. Beberapa kali terdengar gelak tawa renyah dari Arini di tengah malam yang sepi.
Acara amal yang diadakan satu bulan di weekend terkahir menjadi agenda rutin pihak rumah sakit yang dikelola oleh ayah Fadel. Mereka mengunjungi pelosok-pelosok yang memang tidak terlalu banyak tenaga medis di sana.
Tidak hanya itu, mereka juga sering mengadakan pengobatan gratis bagi mereka yang tidak mampu. Para pengemis, pemulung, anak jalanan atau mereka yang hidupnya terlantar tanpa arah.
Saat pengobatan dan pemeriksaan sedang berlangsung, sebuah truk besar datang. Kehadiran truk itu menarik perhatian semua yang hadir.
Saat terik berhenti, Fadel dan Lean turun dari bagian depan bersama dengan sopir. Arini tersenyum melihat kehadiran mereka.
"Mereka bahkan terlihat seperti ayah dana anak," bisik direktur pada Arini.
"Coba saja gendong, Pak. Barang kali bisa terlihat seperti kakeknya," canda Arini.
"Aku ini memang kakeknya," ucapnya bangga. Direktur pergi menghampiri Fadel dan Lean.
Fadel tersenyum sambil mengulurkan tangan pada ayahnya. Dia berharap sang ayah akan memuji perbuatannya karena telah membawa truk berisi sembako untuk dibagikan pada mereka yang habis diperiksa. Namun, direktur menghampiri Lean dan melewati anaknya begitu saja.
"Cuci kakek ...."
"Kakek." Lean segera berlari menghampiri direktur.
"Aduuu, aduuuh, kamu berat sekali sekarang. Ternyata sudah sangat besar," ucapnya sambil menggendong dan membawa Kean menjauh.
"Ayah, ini anakmu yang ini. Pak, tolong. Saya anak anda, Pak. Selamat atau apa gitu, Pak. Gak ada kata-kata mutiara atau puisi, Pak?" teriak Fadel pada direktur yang sama sekali tidak perduli pada Fadel, dia sibuk berbicara pada Lean.
Pemeriksaan Arini pada anak-anak sudah selesai. Dia segera menghampiri Fadel yang sedang sibuk membagikan sembako pada masyarakat.
"Ini, Bu. Diterima, ya."
"Aduh, Dok. Ini suaminya ya? Ganteng banget."
"Bukan, kok. Ibu mau ambil jadi menantu? Silakan, Bu. Ambil aja."
Fadel menyikut Arini.
"Haha ... enggak, Bu Dokter. Anak saya laki-laki semua soalnya."
Arini tertawa meledek Fadel.
Antrian semakin lama semakin memanjang, sementara persediaan sembako tidak akan memenuhi orang-orang yang antusias datang ke sana. Melihat sisa sembako yang tidak akan mencukupi jumlah orang, mereka yang tidak ingin pulang dengan tangan kosong pun menyerobot antrian, membuat yang di depan marah.
Tidak bisa dihindarkan lagi, akhirnya aksi saling dorong-dorongan pun terjadi. Keamanan yang dibawa Fadel pun tidak cukup untuk menenangkan masyarakat. Mereka kalah jumlah.
"Awww!"
Arini ikut terdorong dan dia jatuh ke belakang. Melihat Arini terjatuh, Fadel langsung melindungi Arini dengan tubuhnya agar tidak terinjak.
"Lindungi Pak Fadel!" teriak salah satu keamanan. Tim pun segera melindungi Fadel yang merangkul Arini dan mereka pun menjauh dari tempat kejadian.
Mereka pun telah masuk ke dalam mobil.
"Ini kenapa?" tanya Arini saat melihat jari telunjuk Fadel berdarah.
"Keinjek tadi, tapi its oke. Gak sakit, kok."
"Harus dibersihkan dulu biar gak infeksi." Arini mengambil air mineral yang ada di dalam mobil lalu mencuci tangan Fadel dengan hati-hati.
Fadel terus menatap Arini tanpa jeda. Arini nampak fokus membasuh luka Fadel tanpa sadar sedang diperhatikan. Bibir manis Arini meniup luka Fadel berharap segera kering setelah dibasuh.
"So beautiful."
"Hum?" tanya Arini yang tidak mendengar apa yang Fadel ucapkan.
Fadel menggelengkan kepala.
"Alat-alat kesehatanku tertinggal. Jadi, untuk sementara waktu cukup basuh saja yang penting bersih biar gak infeksi."
Fadel mengangguk-angguk kecil. Dia melihat lukanya yang tidak seberapa dengan jarak yang begitu dekat. Lalu ....
"Isssh, apa-apaan sih! Kotor tau!" Arini kesal lalu dia mengelap bibirnya dengan tangan.
"Biar cepat sembuh."
"Sembuh apanya? Yang ada mulut aku kena infeksi entar." Arini masih mengelap bibirnya.
"Kan kalau di film-film, pasangannya terluka tuh suka dicium, katanya biar cepet sembuh."
"Teori dari mana itu! Kotor tau."
Arini masih kesal sambil membersihkan bibirnya.
"Terus apa yang gak kotor?"
"Apa aja asal jangan luka!"
"Ini?" tanya Fadel sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Arini. Sontak ibu dari satu anak itu terkejut bukan kepalang saat dia bisa merasakan nafas sahabatnya, Fadel.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bener ini 🤣🤣🤣novel isinya g harus perempuan merebut milik orla tp memang lakinya yg g benar🤭🤣🤣
lestari alamku lestari desaku....