Alex patah hati karena wanita yang ia incar ternyata lebih memilih rival bisnisnya. Membuat pria ini putus asa dan memilih melampiaskan kesedihannya dengan minum minuman keras.
Dalam keadaan terpuruk, tak sengaja Alex bertemu dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan wanita yang ia sukai.
Sayangnya kesalahpahaman sering terjadi di antara mereka. Meski begitu, tak dipungkiri bahwa Alex sebenarnya juga menyukai gadis itu.
Akankah Alex mampu merebut hati si gadis penolong? Ataukah malah menghindarinya gara-gara gadis itu berwajah mirip dengan wanita yang dia suka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kebenaran
Kesal dengan pertemuan tak disengaja itu, Alex pun membatalkan rencana mengerjai Emma dan meminta Emma untuk pulang menggunakan taksi.
"Kau pulang naik taksi saja, aku ada urusan," ucap Alex sembari menyerahkan beberapa lembar uang kertas pada Emma.
"Tapi, Pak! Nanti kalo oma tanya bagaimana?" tanya Emma khawatir. Karena ia bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Alex saat ini.
"Kau bilang saja aku ada urusan, cerewet!" umpat Alex kesal.
Emma tak bertanya lagi. Emma tahu jika ia tak punya hak untuk melarang Alex pergi.
Tak ingin melakukan kesalahan yang sama, Emma pun memutuskan untuk ke lobi dan mencari taksi untuknya. Sedangkan Alex, pria itu langsung pergi ke club untuk melampiaskan apa yang sedang ia rasakan saat ini.
***
Di dalam taksi..
Pikiran Emma kalut bukan hanya karena Alex meninggalkannya atau apa yang akan ia hadapi sesampainya di rumah. Tetapi lebih karena pertemuannya dengan saudari tirinya.
Emma menyesal? Mengapa harus bertemu dengan gadis itu sekarang? Bertemu di saat dirinya masih belum bisa berbuat sesuatu yang bisa ia banggakan untuk menutup mulut gadis penghina itu.
Emma yakin, dengan keadaannya yang sekarang akan mudah bagi Kanaya untuk menjatuhkan dirinya di setiap waktu. Terlebih saat ini Kanaya tahu bahwa dirinya terlibat dengan pria yang dikenalnya. Otomatis informasi ini akan memudahkan Kanaya untuk mengusik hidupnya.
Emma kenal betul bagaimana Kanaya. Sebelum ia dan keluarganya mati, gadis itu tak akan pernah berhenti menghujatnya. Emma mengerti rasa sakit yang dirasakan Kanaya pada ibunya yang telah berani mengusik ketenangan keluarganya dan menjadi istri kedua dari ayah tercinta.
Namun, apakah semua kesalahan kedua orang tuanya harus Emma yang tanggung? Sepertinya ini sangat tidak adil untuk Emma.
Pikiran kalut itu semakin melekat, mana kala Emma teringat kata-kata Kanaya yang berbicara mengenai selera Alex mengenai wanita. Sejenak Emma tercengang, "Mungkinkah mereka pacaran? Lalu putus? Mereka terlihat seperti terlibat perasaan?" gumam Emma penasaran.
Emma kembali terdiam. Mencoba menghubungkan kata demi kata yang diucapkan Kanaya sekaligus menyambungkan dengan balasan yang dilontarkan oleh Alex. "Ya, sepertinya mereka memang pernah terlibat rasa. Makanya musuhan begitu. Ahhhh, serah dia lah. Bodo amat. Ngapain aku ngurusin mereka. Mending aku mikirin jawaban pertanyaan yang mungkin diajukan sama oma. Duhhh, gimana ini? Pasti wanita tua itu akan menghakimiku!" gumam Emma takut. Karena ia sangat yakin, Oma Asri pasti akan menghujatnya.
Benar saja, baru juga membuka pintu, tatapan Oma Asri seakan hendak menelannya.
"Selamat malam, Oma!" sapa Emma dengan senyum manisnya.
"Mana Alex? Kenapa kamu pulang naik taksi?" tanya Oma Asri, langsung to the poin.
Tu kan, aku bilang juga apa?
"Pak Alex ada urusan Oma, makanya Emma disuruh pulang dulu!" jawab Emma apa adanya.
"Kamu pikir aku peduli dengan urusan dia? Pokoknya, kalo kamu yang bawa dia pergi, maka kamu pula yang harus membawanya kembali. Mengerti!" serang Oma Asri.
"Tapi Oma, kan bapak sendiri yang suruh saya pulang. Masak saya harus memaksa ikut?"
"Terus? Jika terjadi sesuatu pasa cucuku, siapa yang akan tanggung jawab. Sedangkan kamu yang membawanya keluar dari rumah ini."
Lah, piye to iki...
"Tapi kan bapak bukan anak kecil Oma. Beliau pasti bisa jaga diri," jawab Emma.
"Terserah apa yang kamu pikirkan, bagiku Alex adalah bayiku. Siapapun yang membawanya keluar dari rumah ini, harus membawanya kembali ke rumah ini. Dengan selamat. Tanpa lecet sedikitpun. Paham? Sekarang kamu pergi, cari dia sampai ketemu! Bawa pulang sekarang juga. Jangan banyak alasan aku nggak terima alasan apapun! Paham!" ucap Oma Asri kali ini dengan tatapan serius. Membuat Emma merinding.
"Tapi Oma, bapak kan sudah besar... " jawab Emma lirih dan malas. Sebab ia berpikir ini sangat aneh.
Sayangnya, apa yang terlihat sekarang tidak seperti yang Emma pikirkan. Emma yang lugu, tidak tahu jika dirinya memang sengaja dilibatkan dalam masalah ini oleh Oma Asri. Diam-diam selama ini Om Asri telah menyelidiki Alex. Bahkan dia juga tahu jika Emma adalah sopir taksi yang berhati baik. Oma Asri juga tahu jika Emma pernah menjaga Alex ketika mabuk.
Di depan rumah, Emma terlihat bingung. Bagaimana tidak? Ia harus mencari pria itu. Sedangkan dirinya tidak tahu di mana pria arogan itu berada.
"Ya Tuhan, aku harus cari dia ke mana?" gumam Emma seraya melangkah mendekati salah satu mobil yang ada di depan rumah.
"Dasar pria jelek merepotkan. Sampai kapan sih kamu tu nggak bikin aku repot. Ahhhh... gini amat nyari duit ya," gerutu Emma lagi.
Andai Alex ada di depannya saat ini, ingin ia berteriak dan memaki tepat di depan muka pria itu. Biar tahu rasa dan tidak menjadi biang paling merepotkan dalam hidupnya.
Bersambung....
Sambil nunggu Emma and Alex Update, kalian bisa kepoin karya sahabat Emak😍Stay Tone...
kog malah muncul masalah baru,...
lanjut crazy up gtu kak😊