Arsyila Qiana Azzahra. Perempuan berusia 32 Tahun. Belum Menikah. Cerdas, Mandiri, Berprestasi dan Berbakti kepada kedua orang tua.
Satu yang belum Arsyila miliki diusianya yang sudah kepala tiga, SUAMI!
Kedua Orang tua Arsyila menginginkan putri satu-satunya menikah seperti anak perempuan keluarga lain seusianya bahkan telah memiliki anak.
Beberapa pria datang melamar Arsyila namun Arsyila menolak hingga disatu titik ucapan Bapaknya seolah mengetuk sanubari Arsyila.
Akankah Arsyila tetap Menanti Cintanya? atau Takdir yang akan mempertemukan Arsyila dengan jodohnya?
Semoga cerita ini bisa menjadi insprirasi dan dapat diambil pelajaran baik dan buruknya jangan diikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pradana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nepotisme
..._________🍃🌺🍃_________...
...Assalamualaikum Wr.Wb....
...Reader jangan lupa support...
...Like dan Kembang Kopinya ya!...
...Selamat Membaca!...
..._________🍃🌺🍃_________...
...“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”...
...(QS : An-Nisa Ayat 58)...
"Bu Syila." panggil Pak Hasan.
"Assalamualaikum. Ada apa Pak?"
"Waalaikumsalam. Ibu diminta datang ke rektorat. Pak rektor ingin bicara dengan Bu Syila."
"Saya masih ada kelas Pak."
"Berapa sks?"
"2 Sks."
"Ya sudah Bu Syila mengajar saja dulu setelah itu segera temui Pak Rektor."
"Baik kalau begitu. Mari Pak Saya ke kelas dulu. Assalamualaikum."
"Silahkan. Waalaikumsalam."
Selesai mengajar Syila bergegas ke gedung rektorat untuk menemui Pak Rektor.
"Assalamualaikum. Pak Rektor ada Mbak?" Syila bertanya pada resepsionis di gedung tersebut.
"Bu Syila silahkan masuk saja, Pak Rektor sudah menunggu."
Syila mengernyitkan dahi, memilih melangkahkan kakinya keruangan Rektor.
Tok,Tok,Tok!
"Masuk."
Syila membuka pintu setelah ada izin dari si pemilik ruangan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Oh Bu Syila. Silahkan duduk?" Terlihat Pak Rektor sedang bermain mini golf diruangannya.
Syila duduk di depan meja kerja pak Rektor pada kursi yang tersedia disana.
"Maaf Pak Saya baru selesai mengajar jadi baru menemui Bapak. Ada apa Bapak memanggil Saya?"
Pak Rektor tampak memperhatikan Syila secara seksama.
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin tahu apakah Bu Syila sudah mendapat surat tugas sebagai penguji sidang skripsi?"
"Sudah. Memang ada apa Pak?"
"Jadi begini, tolong saat menguji mahasiswa yang bernama Kamila Larasati jangan dipersulit."
Pak Rektor menyandarkan punggungnya sambil tersenyum pada Syila.
"Saya tidak pernah mempersulit mahasiswa dalam proses kegiatan perkuliahan ataupun saat menjadi penguji." Nada tegas terasa dalam penjelasan Syila.
"Bukan begitu maksud Saya Bu Syila, Saya hanya khawatir Bu Syila terlalu idealisme. Bagaimanapun mahasiswa layak diberi kesempatan."
"Jika memang begitu, mengapa Bapak hanya menyebutkan satu nama mahasiswa tidak semua mahasiswa yang Saya uji saja Bapak perlakukan seperti itu?" Syila balik menatap tanpa gentar meski Pak Rektor sudah berubah raut wajah masam tak bersahabat.
"Bu Syila, Saya menghargai Anda sebagai orang yang direkomendasikan sahabat Saya, namun Saya harap Anda tahu batas dan ikuti saja apa yang Saya katakan." Pak Rektor memajukan wajahnya berbicara seakan penuh penekanan didepan Syila dengan tatapan mengintimidasi.
"Saya tetap akan berpegang dengan prinsip Saya, Saya berlaku adil kepada setiap mahasiswa Saya. Kalau Bagus dan memang sesuai Saya akan bilang bagus dan meluluskannya, kalau tidak bagus dan banyak kesalahan maka tidak lulus. Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi Saya permisi. Assalamualaikum."
"Mungkin Bu Syila bisa melawan seorang lurah hingga membuat putranya masuk penjara, tapi Bu Syila salah jika melakukan hal yang sama dengan Saya. Saya harap Bu Syila tidak salah memilih langkah. Atau Saya bisa membuat reputasi Bu Syila hancur seketika." dengan keangkuhan Pak Rektor berhasil menghentikan langkah Syila.
Kata-kata Pak Rektor membuat sedikit gentar di hati Syila.
Sepanjang koridor menuju kelas Syila masih terbayang kata-kata Rektor menyebalkan yang sering membuat Syila naik darah.
"Bagaimana bisa hal itu diketahuinya?" batin Syila bertanya-tanya.
Bunyi notifikasi dari ponsel Syila menyadarkan Syila dari lamunannya.
Syila membuka nya ada sebuah chat masuk.
"Assalamualaikum. Bu Syila maaf mengganggu waktunya. Ini Saya Angga Bu. Saya mau mengkonfirmasi apakah besok Bu Syila jadi untuk monitoring ke tempat KKN kami? Kalau jadi, insha Allah Saya dan Hanum akan menjemput ibu. Saya tunggu jawaban ibu, karena akan Saya konfirmasikan kepada Bapak Kepala Desa."
Gara-gara persoalan Pak Rektor Syila jadi lupa mengabarkan kesediaannya untuk monev mahasiswa KKN bimbingannya padahal surat tugas sudah ia terima.
"Waalaikumsalam Angga. Insha Allah jadi. Apakah tidak merepotkan? Ibu tidak apa kesana sendiri." Syila mengirimkan jawaban.
"Tidak Bu Syila. Lagi pula Saya dan Hanun juga ada keperluan sedikit ke kampus. Jam berapa besok ibu bisa kami jemput?"
Syila menerima balasan chat Angga.
"Pukul 09.00 juga boleh."
"Baik Bu. Insha Allah jam 9 pagi Saya dan Hanum akan menemui Ibu dikampus. Terima kasih banyak atas waktunya Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Syila melanjutkan kembali berjalan menuju kelas karena ia masih memiliki jadwal mengajar hingga sore.
"Untuk hari ini cukup sekian. Saya minta tugas paper hari ini dikirimkan via email paling lambat 1X24 jam dari sekarang. Assalamulaikum."
Syila mengakhiri kelasnya segera menuju ruang dosen.
Syila membereska meja kerjanya dan memasukan beberapa kertas kuis mahasiswa yang akan ia bawa pulang untuk dilanjutkan dikoreksi dirumah.
"Bu Syila, bisa keruangan Saya sebentar?" Kini Bu Bekti memanggil Syila.
Syila berfirasat hal ini akan ada kaitannya dengan pembicaraannya dengan Rektor tadi siang.
"Assalamualaikum." Syila mengucap salam setelah mengetuk pintu dan diizinkan masuk ke ruangan Sekprodi.
"Waalaikumsalam. Silahkan duduk Bu Syila."
"Terima kasih Bu Bekti. Ada apa ya memanggil Saya?" Syila to the point.
Helaan nafas berat terasa Syila saat Bu Bekti memulai pembicaraan mereka.
"Saya mengerti dan paham akan prinsip kita sebagai dosen untuk bisa berlaku adil kepada seluruh mahasiswa. Dan memang sudah seharusnya seperti itu. Namun seperti yang Bu Syila mungkin sudah mendengar sendiri Pak Rektor mengatakan langsung kepada Bu Syila mengenai permintaan yang, paham kan maksud Saya, sebaiknya Bu Syila ikuti saja." sedikit tersendat Bu Bekti saat menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Boleh Saya tahu siapa mahasiswa tersebut hingga ada perlakuan khusus untuknya?" tampak tubuh lelah Syila setelah seharian mengajar membuat ia tak lagi punya energi untuk berbasa basi.
"Mungkin Bu Syila pernah mendengar gosip tentang Pak Rektor, jadi Saya harap Bu Syila tidak mengusik dan mempersulit mahasiswa itu. Walaupun Saya tahu persis bagaimana nilai dan kehadiran mahasiswa itu jauh dari batas ideal lulus. Tapi semua kembali lagi, boss selalu benar. Saya hanya tidak ingin Bu Syila seperti Pak Dimas di kirim ke luar negeri dengan alasan studi banding namun sebenarnya Pak Dimas diskorsing."
"Maksud Bu Bekti, Pak Dimas yang Saya gantikan sebagai Dosen Pembimbing KKN?" Syila aemakin penasaran.
"Ya. Untuk itu Bu Syila jangan menentang kebijakan Pak Rektor. Ibu Dosen yang sangat kompeten di prodi kita, dan mahasiswa senang dengan kelas Bu Syila, jadi abaikan saja 1 permintaan ini demi bisa mengajar mahasiswa lain yang masih membutuhkan kita Bu." Bu Bekti mengecilkan suaranya seakan tembok sekitar memiliki telinga.
Syila mendengus. Bernafas kasar.
Syila tak menyangka jika kampus besar, megah dan terkenal juga tak luput dari praktek Nepotisme.
"Pak Dimas?"
Syila bertanya dalam hatinya.
Ada rasa penasaran mengenai apa yang telah dilakukan sang dosen hingga membuat Rektor menonjobkan dirinya dan mengirim seolah dosen itu mengikuti studi banding.
Syila membaca doa sebelum ia menyalakan mesin motornya dan kembali menuju rumah setelah seharian melaksanakan tugas dan kewajibannya di kampus.
... “ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benarbenar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”...
...(QS : An-Nisa Ayat 135)...
..._________🍃🌺🍃_________...
...Waalaikumsalam Wr.Wb....
...Reader jangan lupa support...
...Like dan Kembang Kopinya ya!...
...Terima Kasih sudah membaca karya Author...
...Alhamdulillah...
..._________🍃🌺🍃_________...
sementara ibu nya Dimas sudah mau memberikan Restu dan mendatangi kedua orang tua syila
tapi koq gak jadi
ya seperti flasback gitu kak biar gak penasaran aja para readers nya
akhirnya syila menemukan jodoh nya
semoga samawa