Cinta pada pandangan pertama? Sepertinya sudah biasa ya. Tapi bagaimana kalau sampe deja vu setelahnya? 😯😊
SINOPSIS
Nindy dan Hasan dipertemukan di sebuah event Paskibra. Dari pertemuan pertama mereka, Hasan sangat terkesima pada Nindy. Demikian juga dengan Nindy, dia penasaran siapa Hasan, yang bisa memandangnya sedemikian intensnya.
Dari kejadian itu juga yang membuat Nindy sampai mengalami mimpi selama 3 minggu berturut-turut secara berkelanjutan, yang membuat dia insomnia dan sempat mengalami gangguan belajar. Semua mimpinya tentang Hasan, lengkap seperti alur cerita, dan seperti kejadian nyata.
Ketika mereka bertemu kembali, Nindy seperti mengalami deja vu ketika bersama dengan Hasan. Dan ketika diingat-ingat, ternyata kejadian itu semua ada di dalam mimpinya.
Penasaran gak kira-kira bagaimana jalan cerita mereka? Apakah hubungan mereka berdua akan berakhir bahagia? Ataukah hanya sekadar bertemu, menjadi teman, dan berakhir disitu saja?
Simak terus kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intertwine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SRB
“Hasan. Hasan Capaska 2011. Temenku. Yang tadi nganterin aku pulang. Kamu nggak usah becanda deh, San…” Kataku kembali judes.
“Hahaha…” Hanya tawa yang terdengar.
“Eh, malah ketawa. Siapa sih kamu? Nggak lucu kalau kamu bohongin aku, San. Sikonnya nggak tepat. Aku udah mau meledak marah nih…” Kataku mulai berapi-api. Tak peduli dia beneran Hasan atau bukan.
Mas Okta hanya memandangku tanpa berusaha membantu. Tapi kalaupun membantu juga membantu apaan?
Ah… Paling tidak dia tidak malah cengar-cengir dan makan kueku seenak udelnya sendiri seperti ini.
Masih tetap tak ada jawaban dari seberang. Aku mulai muak.
“Eh… Denger ya. Aku nggak ada banyak waktu untuk dengerin semua omong kosong kamu ini, San. Atau… Oh, entahlah siapa yang ada disana.”
“Sabar, Mbak cantik. Nggak usah pakai emosi. Aku beneran bukan Hasan kok.”
“Apa? Beneran bukan Hasan? Lah tapi suara kalian mirip. Ngaku nggak kalau kamu Hasan!!” Kataku mengancam.
“Hahaha... Aku jadi tau sekarang, bagaimana kualitas kamu sebagai danton, walaupun kamu perempuan. Kamu bisa buat aku bergidik disini. Aku udah bilang berkali-kali ke Hasan kalau kamu lebih pantes sebagai Best Danton tingkat Jatim. Bukan malah dia… Hah, apaan dia tuh!!”
Malah masih ngeles…
“Jadi….” Kataku tercengang. “Kamu beneran bukan Hasan?”
“Aku tadi kan udah bilang, kalau aku bukan Hasan. Nggak percaya banget sih!!” Katanya.
Dan kemudian terdengar dia tertawa lagi. Tawanya seperti tawa kemenangan suatu makhluk ganas yang sudah berhasil membohongi musuhnya.
“Tapi suara kamu kayak Hasan. Aduh… Udah deh. Please. Aku lagi nggak mood dengerin semua ocehan kamu. Ngaku kalau kamu bohongin aku. Sekarang!!”
“Ehmmm… Oke deh. Ternyata nggak gampang bohongin kamu. Aku ngaku deh.” Katanya akhirnya.
“Hasan kan??”
“Bukan. Aku beneran bukan Hasan."
"Lah, terus kamu siapa sih? Kamu siapanya Hasan?"
"Oke, perkenalkan. Aku Second ‘RAY’ Bafaqih. Bisa panggil aku SRB. Jangan salah ya. S-R-B, bukan CBR.” Katanya dengan pengucapan Bahasa Inggris yang kental.
Kentara sekali jika kata itu sudah sering diucapkan. Membuatku semakin penasaran dengan si penelfon misterius ini.
“Nama apaan tuh? Nggak usah ngajak aku becanda deh. Aku nyuruh kamu buat ngaku kamu siapa. Dan menurutku kamu Hasan. Karena suara kalian mirip. Jadi kamu harus ngaku kalau kamu Hasan!!” Kataku keras kepala.
“Sejak kapan aku harus menuruti perintah kamu, Mbak?”
'Dan sejak kapan pula aku jadi Mbak dadakannya kamu?' Pikirku dalam hati.
“Aku bukan anak buah kamu di barisan. Yang harus nuruti apa aja perintah kamu, walaupun matahari sedang menyengat minta ampun. Dan asal kamu tau ya, aku memang bukan Hasan. Jadi aku nggak akan mengaku kalau aku Hasan.” Katanya dengan dingin dan keras kepala juga.
“Terus kamu siapa? Ini bukan saat yang tepat, oke? Aku nggak kenal yang namanya SBR, CBR, atau CD-R, atau siapa lah. Yang aku kenal yang punya nomor ini adalah Hasan. Karena tadi dia ngasihi aku nomor ini." Aku mulai panik.
Apa jangan-jangan Hasan sudah ngasihkan nomor cowok lain ya ke aku? Duh, bisa gawat nih kalau nomorku sampai kesebar kemana-mana.
"Kalau kamu bukan Hasan, tunjukkan ke aku sekarang Hasan dimana, aku pengen ngomong sama dia. Urgent!” Kataku patas.
Dia yang diseberang sana masih tertawa cekikikan.
“Ngapain ketawa? Ada yang lucu?” Kataku semakin judes.
“Nggak.” Katanya masih dengan cekikikan tak jelas.
“Berhenti bercanda!” Kataku dengan nada memerintah.
Dan dia yang disana berhenti tertawa seketika.
Aku mulai benci dengan semua ini. Hasan dimana sih? Buang-buang waktuku saja...