Sekuel Istrinya Ustadz?
Ustadz Afkha atau Adzraffa Khayru Al-jaris tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, apalagi memiliki niat berpoligami. Terlebih usia pernikahannya dengan Shanum atau Rhaishanum Almahyra Qurby baru beberapa bulan saja.
Akan tetapi suatu insiden, membuat Ustadz Afkha di minta bertanggung jawab oleh sang Istri untuk menikahi Zeeta Alghiz atau Zeetasha Umaiza Alghiz. seorang model cantik. Namun, seusai insiden tersebut, kehidupannya menjadi tak memiliki arti. Ia buta dan juga mengalami kelumpuhan pada kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Jangan jelekin Kak Aaf.
Aftha kini sudah berada didalam mobil. Ternyata itu adalah mobil Lintang. Ia tadi memang sedang terlelap di kamar Kyra, saat suara kehangatan dari sang paman dan tante beserta kedua anaknya berhasil mengusik lelapnya.
Aftha mencoba bangun dan mengintip. "Ky, akhirnya kamu pulang. Setelah enam bulan menghindari aku." ujar Aftha, ia kembali kedalam kamar dan duduk di sisi tempat tidur menunggu momen yang tepat untuk keluar kamar.
Awalnya Aftha ingin bersikap biasa saja, tidak mengindahkan kehadiran Kyra dan ia ingin segera keluar dari rumah tersebut. Akan tetapi, terkadang bibir nakal dan senang mengkritik, seakan memberontak ingin bicara tidak mengenakan. Terlebih, Kyra sosok yang ia nantikan sosok yang pernah membuat dia kehilangan dan kini perasaannya bercampur antara kesal dan juga senang karena gadis itu telah kembali.
Akan tetapi Aftha yang masih belia terkadang masih agak sulit mengatur kata-kata dan sikap. Aftha memang tidak selembut dan sesabar kedua Kakaknya, Walaupun dia masihlah tetap anak baik dan patuh terhadap orang tua serta berjalan dalam jalur agama yang tepat. Namun, terkadang Aftha terbiasa bicara ceplas ceplos kepada orang-orang tertentu. Dia belum bisa bersikap bersahaja seperti sang ayah.
Selepas Ashar.
"Ky, ikut saja ya bersama kami ke rumah sakit. Di sini kamu sendiri loh, kemungkinan besar kami akan menginap di sana." Bujuk Lintang kepada Kyra.
"Tidak mau Imom's, nanti ketemu Kak Aaf," tolak halus Kyra, masih pada pendiriannya, enggan bertemu Aftha.
"Tidak apa Mom's nanti di titip saja pada Zain dan Dek Nurma." Ubaydillah tidak mau memaksa akan sang putri yang tidak mau ikut ke rumah sakit dengan mereka.
"Baiklah, kamu hati-hati di rumah ya, Sayang. Nanti Idad's titip ke Om Zain dan onty Nurma dan kalau Kami sempat, maka kami akan pulang malam. Kalau tidak, nanti menginap di asrama putri saja. Bagaimana?" tanya Lintang.
"Baik Mom's." Jawab Kyra yang malah asik menonton televisi.
"Dad's, Mom's mari. Abang sudah siap!" Arsya baru saja keluar dari kamarnya, berbalut kaus putih dan celana bahan slim body standar. Nampak gagah dan kekinian. Rambut tertata rapi dengan sedikit bakal brewok di pipi. Terlihat macho.
"Masya Allah, putra Mom's tambah tampan saja." puji Lintang.
"Yah terbang tuh di sanjung seperti itu. Tapi sayang, setampan dan hingga sudah setua itu, belum ada yang nyantol juga di CV ta'aruf-nya. Ada sih yang Abang suka tapi sayang cewek itu terlalu waras, malah dia gak suka sama Abang. Alhamdulillah, aku capek Mom's dijadikan alat pendekatan dari mulai gadis belasan, sampai janda muda." komentar Kyra.
"Adek!" pekik Arsya dan langsung loncat melewati sofa duduk disisi sang adik dengan membekap mulut Adiknya yang tadi bicara tanpa di saring.
"Betul, Bang?" tanya Ubaydillah yang terlanjur mendengar sang putri bicara begitu lugas dan jelas, "putri siapa itu? biar Idad's langsung Khitbah untukmu!"
"Eh, hehe ah tidak ada, Adek nih suka bercanda." ujar Arsya dengan menyeringai canggung.
"Baaang ...." suara Lintang dengan nada interupsi.
"Hum, baiklah. Adek sih!" dengus pelan Arsya kepada adiknya, sebetulnya ia ingin merahasiakan tentang gadis yang ia taksir, terlebih dahulu kepada orangtuanya, nanti setelah hati gadis itu luluh, Arsya berniat langsung menikahinya.
"Dia Putri pemilik SKY Textile. Namanya Beryl Allica Skyner." Ucap Arsya dengan senyam senyum sendiri. Mengingat juteknya Allica, ketika mereka tidak sengaja bertemu di sebuah acara perusahaan.
"Sepertinya Idad's pernah mendengar nama Skyner." Ubaydillah mencoba mengingat-ingat nama tersebut.
"Itu loh Dada's mereka Vendor produk kain garmen untuk baju anak-anak kualitas ekspor." terang Arsya.
"O ya ya, nama CEO-nya Bapak Abigail?" tanya Ubaydillah.
"Sekarang sudah diangkat menjadi komisaris Dad's dan putranya yang bernama Akhtar yang jadi CEO nah Allica ini memang sering keluar masuk perusahaan mereka. Terkadang ikut memimpin meeting. Abang juga tidak tahu, ia memiliki jabatan apa di perusahaannya, dia tuh jutek banget Dad's Mom's. Sepertinya tidak mudah untuk di dekati."
"Kamu yakin Bang, dengan perasaanmu?" tanya Lintang.
"Insya Allah Mom's. Begitu dia mengatakan ia, maka Abang akan langsung menikahinya." tegas Arsya.
"Masya Allah, putra Mom's sudah besar ternyata, sudah memiliki perasaan terhadap lawan jenis." ujar Lintang.
"Dia unik Mom's, Dad's. Maka dari itu, aku pernah mengajaknya menikah. Eh malah di tolak," ucap Arsya dengan nada penyesalan.
"Ya, Karena Kak Allica waras Bang. Tidak seperti gadis lain, tergila-gila sama Abang. Padahal Abang itu seperti robot mode on, apa enaknya coba mesraan sama robot hidup."
"Huh, memang pikiran kamu itu hanya Dek Aaf. Makanya gak akan paham dengan pesona orang cool seperti Abang. Suka koq sama yang gaya ceplas-ceplos, model Dek Aaf!" ledek Arsya.
"Abaaaaang ... jangan jelekin Kak Aaf! aku suka sama dia sejak dalam kandungan! gak ada yang boleh ganggu gugat!" pekik Kyra, sembari memukuli Arsya menggunakan bantal sofa.
"Adeek, Abang. Sudah ...." peringtan lembut Ubaydillah, yang kini duduk di antara keduanya.
"Iya Dad's," sahutnya secara bersamaan.
"Siapapun pilihan kalian, Dad's dan Mom's selalu berdoa agar seseorang itu jodoh yang terbaik dari Allah." Ujar Ubaydillah, "hanya satu, jangan saling bersentuhan atau berduaan sebelumnya kalian mendapat label halal." Pesan Ubaydillah kembali.
"Aamiin." balas keduanya, "iya Dad's," sambung mereka terdengar patuh.
"Ya sudah, nanti keburu maghrib nih. Mari berangkat Bang, Dek Ky hati-hati di rumah ya." pesan Lintang.
"Baik Mom's." Jawab Arsya.
"Iya Mom's, Insya Allah." balas Kyra.
Setelah berucap salam mereka-pun, meninggalkan Kyra seorang diri, yang masih asik menonton televisi, serial cartoon kesukaannya.
Di sirkuit milik Hasna, sebuah mobil city car berwarna merah, baru saja memasuki area tersebut. Itu Aftha yang sedang mengemudikan mobil milik Lintang. Di pintu masuk, Scurity tempat tersebut sempat memberhentikan mobil merah yang baru saja masuk.
Namun, ketika melihat siapa yang mengemudikan mobil tersebut, tiga orang Scurity membiarkan mobil itu masuk tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Mereka mengenal Aftha, sebagai salah satu putra pemilik sirkuit tersebut.
Akan tetapi Scurity menghubungi para operator yang berada didalam gedung yang berdiri di area sirkuit. Mereka memberitahukan bahwa salah satu putra pemilik tempat tersebut baru saja masuk kedalam area sirkuit.
"Baik! terima kasih, Pak. Nanti saya hubungi Pak Afnan dan Bu Hasna, sepertinya Den Aftha mulai tak terkendali dengan kecepatan yang ia pacu." Jawab si operator yang mendapatkan laporan dari Scurity dan ia langsung mengarahkan beberapa kamera monitor mencari keberadaan Aftha.
Betul saja, Aftha berada di titik timur sirkuit tersebut dan menurut pemantauannya. Kecepatan Aftha sudah melebihi kecepatan rata-rata. sepertinya Aftha mulai ber-slip stream dengan menggunakan mobil city car milik Lantang.
Di rumah sakit tempat Afkha dirawat.
Afnan yang tengah duduk di taman, sedang menunggu waktu Maghrib tiba sembari mengobrol dengan beberapa pengunjung lainnya, yang kebetulan duduk di dekatnya. Ia baru saja mendapatkan telepon dan itu dari operator sirkuit.
"Assalamualaikum, Kang." sapa Afnan begitu telepon tersambung.
"Wa'alaikum salam warahmatullah. Pak! A Aftha sedang berada di sirkuit, dari lima belas menit yang lalu dan sedang memacu kecepatan mobil yang di kemudikannya dengan kecepatan diatas rata-rata, kali ini saya pikir sedang ingin memacu adrenalin karena nampak-nya A Aftha sedang dirundung pikiran." balas operator tersebut.
"Biarkan dia bertindak semaunya untuk sementara. Selama itu belum terlihat akan membahayakan keselamatannya. Jika sudah diambang batas dan taruhannya keselamatan. Tolong hentikan saja, bilang permintaan dari saya." Ucap Afnan mantap.
"Baik, Pak!" suara operator di seberang telepon.
Afnan menghela napasnya pelan. Lalu berpamitan kepada para pengunjung yang sebelumnya bercengkrama dengannya di taman rumah sakit. Afnan lebih memilih menghampiri Hasna yang sedang berbelanja kebutuhan yang di butuhkan selama menjaga Afkha di minimarket rumah sakit.
"Assalamualaikum Mimma." Sapa Afnan saat sudah berdiri di sebelah Hasna.
"Wa'alaikum salam By. Em, ada sesuatu hal? wajah Byby nampak lain?" tebak Hasna. Afnan malah tersenyum.
"Selesaikan belanjanya dulu, setelahnya duduk sebentar didepan." Pinta Afnan.
"Ini sudah selesai koq," jawab Hasna. Ia paham, Afnan memiliki hal yang akan disampaikan.
"Baiklah, mari Byby bantu." Afnan mengambil keranjang belanjaan Hasna dan membawanya ke kasir, dengan tangan Hasna mengapit lengan Kirinya dan melangkah bersamaan menuju kasir.
Setelah membayar belanjaan, mereka duduk sebentar di bangku yang tersedia di depan minimarket. "Dek Aaf ada di sirkuit. Sedang memacu kendaraannya. Entah apa yang membuatnya galau," ujar Afnan.
"Em, sudah tidak aneh By! Dek Ky 'kan tadi siang sudah sampai ponpes. Mungkin, mereka terlibat percekcokan. Nanti kita tanya pada Lintang dan Kak Ubay." Balas Hasna.
"Hum, baiklah Sayang. Semoga tidak ada kejadian yang akan membuat geger di pesantren, karena mereka berdua."
"Aamiin." Hasna mengaminkan perkataan Afnan dengan menahan senyum, ingat kelakuan Absurd sang putra dan keponakannya yang menggegerkan pesantren beberapa bulan lalu.
Bersambung ...
ah coba Afka dengar