Ecla Chasa Vanny adalah seorang gadis yang berusia 18 tahun. Seorang gadis malang yang melakukan bunuh diri setelah dijual kepada seorang rentenir oleh paman nya sendiri.
"Tuhan mendengarkan doa yang kau panjatkan dengan rasa putus asa......"
Reyhans De' Etrama seorang Ceo dari perusahaan ZR Group yang merupakan perusahaan terbesar dinegara S dan H. Memiliki wajah tampan dengan bentuk tubuh yang sempurna.
"Pertemuan yang seperti nya sudah ditakdirkan oleh Tuhan...."
"Tuhan memberimu kesempatan untuk me-RESET hidup mu....
Apakah kau akan memperoleh kebahagian di kehidupan mu yang baru........"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Keesokkan harinya, seperti biasa karena sinar mentari yang menerpa wajah tampannya. Rey akhirnya terbangun bersiap untuk membersihkan dirinya dan pergi ke kantor.
Ketika hendak kekamar mandi Rey menatap Vanny yang masih tertidur lelap, lalu setelah itu dia langsung masuk menuju kamar mandi.
Saat Rey menatap Vanny ternyata Vanny sudah terbangun dari tidurnya, namun dia memilih untuk pura-pura masih tertidur.
Saat Rey keluar dari kamar mandi dengan masih mengenakan jubah mandi miliknya, dia sedikit terkejut ketika melihat Vanny yang sudah duduk bersandar pada tepi ranjang miliknya.
“Maaf dan terima kasih untuk yang semalam.” Ucap Vanny lirih, tetapi terdengar sangat tulus.
“Tidak masalah!”
“Kau belum makan bukan? Aku sudah memesan makanan dimeja makan,”
“Makanlah dulu setelah itu bersihkan dirimu, lalu aku akan mengantarmu pulang.” ujar Rey agar gadis itu tidak merasa terbebani, tetapi malah membuat gadis itu menangis lagi.
Rey dibuat bingung dengan reaksi Vanny, perkataaannya mana yang salah sehingga gadis itu malah menangis lagi.
Karena bingung mau berbuat apa untuk membuat Vanny berhenti menangis, Rey memutuskan memeluk gadis itu lagi supaya tenang dan anehnya pelukan Rey memang bisa membuat Vanny tenang.
“Sudah jangan menangis lagi, kau sudah aman sekarang!” bujuk Rey dengan belaian lembut dikepala Vanny.
“Aku tidak ingin pulang ketempat itu lagi! Hiks … hiks … hiks …!” ujar Vanny yang masih menangis dipelukan Rey.
“Bukankah kau harus pulang agar keluargamu tidak merasa khawatir!” Rey kembali membujuknya dengan membuat alasan yang dia pikir tepat.
“Huhuhuhu ….. aku tidak mau kembali! Hhuuhuhu …. Kalau aku kembali mereka akan menangkapku lagi….! Huhuhuuu..” Vanny malah semakin menangis histeris ketika teringat kembali tentang Pamannya yang menjual dia ke para Rentenir.
“Baiklah aku tidak akan memaksamu lagi, kau boleh tinggal disini sampai kau tenang. Sekarang jangan menangis lagi, Yah!” pinta Rey yang kini melepas pelukannya menatap Vanny dengan lekat.
Sebenarnya saat Rey memeluk Vanny tadi, dia merasa sangat risih karena masih mengenakan jubah mandinya saja.
Rey bahkan menjadi tidak tega untuk memaksa gadis itu kembali ke keluaga. Sehingga Rey pun mengijinkan Vanny tinggal dikamar Hotel bersama dengannya.
“Terima kasih, Tuan! Hiks … hiks … hiks …” Ucap Vanny yang masih menangis.
“Sudah makanlah dulu sarapanmu! Aku juga harus bersiap untuk kekantor!” ucap Rey sambil mengelus kepala Vanny dengan lembut juga dan berlalu menuju kekamar ganti yang berada disebelah kamar tidur.
Vanny sudah menghentikan tangisannya sekarang dan turun dari kasur menuju ruang makan untuk sarapan sesuai perintah orang tampan tadi.
Vanny sungguh takjub dengan semua desain interior yang ada dikamar Hotel Rey itu. Semuanya barang-barang yang tertata rapi disana terlihat begitu mewah dan elegan, berbeda sekali dengan barang-barang yang berada dirumah sederhananya.
“Benar kata Mama! Tuhan sudah memberiku kesempatan. Jadi aku harus memperoleh kehidupan bahagiaku sendiri serta mengungkap tentang penyebab kematian Mama dan Papa agar mereka juga bisa pergi dengan tenang.” ujar Vanny yang mulai memasukkan makanan kedalam mulutnya walaupun ada beberapa tetes air mata yang masih jatuh melalui pipi cantiknya.
Dia terus berusaha berfikir positif mengenai kesempatan hidup kedua yang diberikan Tuhan kepadanya, sebab dia selalu yakin bahwa Tuhan akan selalu berada disisinya.
“Baguslah, makan yang banyak biar cepat sembuh.” ucap Rey dengan senyum manis diwajahnya ketika melihat Vanny tengah memakan sarapan yang sudah dia sediakan.
“Kalau boleh saya tahu! Siapa namamu, Tuan?” tanya Vanny yang melihat kearah Rey dengan ragu.
“Reyhans, lalu siapa namamu?”
“Panggil saja saya Vanny, Tuan! Sekali lagi terima kasih, Tuan Rey. Karena telah bersedia membantuku!” ucap Vanny lagi dengan tulus, dalam hatinya dia benar-benar merasa tidak nyaman karena sudah merepotkan orang lain bahkan orang yang tidak dikenal olehnya.
“Sudahku kukatakan itu tidak masalah!”
“Jika butuh sesuatu minta saja pada pihak hotel. Saya harus pergi kekantor sekarang.” ujar Rey dengan acuh tak peduli, karena baginya ini hanyalah bantuan kecil dari seorang Reyhans De’Etrama.
Kemudian Rey terus menerus menatap jam ditangannya dengan perasaan gelisah, lalu dia pun hendak berjalan meninggalkan Vanny.
“Tunggu, Tuan! Apakah anda mempunyai baju untuk wanita, saya perlu untuk…” tanya Vanny ragu dan perasaan malu yang bercampur jadi satu saat mengatakannya, lalu dia memperhatikan dirinya yang kacau.
Hal itu membuat Rey juga ikut memperhatikan tubuh Vanny dengan seksama.
“Aku mengerti! Aku akan menyuruh orang untuk membawakan beberapa pakaian untukmu. Aku pergi dulu.” sahut Rey gugup.
Entah kenapa melihat Vanny yang bicara dengan wajah malu-malu padanya membuat hatinya menjadi berdegup kencang.
Setelah itu Rey langsung berjalan menuju pintu keluar, sebelum Rey menutup pintunya, dia sempat mendengar ucapan terima kasih dari Vanny lagi walau samar-samar.
“Tuan, terima kasih!” ucap Vanny entah Rey mendengar atau tidak.
sekali lagi maaf ya. 🤭