Sejak pertemuan pertama kita duniaku kembali berwarna rasanya memandang mu dari kejauhan sudah menjadi candu bagiku
Hingga pada akhirnya kau pergi tanpa tanda menghilang bagai debu dan malapetaka kembali masuk ke dalam hidupku
Setelah semuanya berhasil mengubahku takdir mempertemukan kita kembali
Hydrangea arella dapatkah kita memulai awal baru berama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulac ryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memejamkan mata
🌱Happy reading ya guys 😁
.
.
Sejak kepergiannya keluar negeri yang begitu tiba-tiba serta janji yang ia ucapkan akan pulang sesekali
Pada kenyataannya tidak pernah gio lakukan hingga satu setengah tahun berlalu nomor ponselnya tak lagi aktif
Disusul kabar kepindahan seluruh keluarga gio bak ditelan bumi yang membuat brian serta febri semakin khawatir akan kondisi dari sahabatnya tersebut
Memaksa brian menggunakan cara apapun untuk mendapatkan keberadaan dari keluarga gio tanpa mendekat sedikitpun
Karena keduanya paham betul bastian bukan orang yang suka rencananya diganggu oleh siapapun dan akan menggila jika siapapun menyentuh miliknya
.
.
🌼HINGGA TUJUH TAHUN BERLALU🌼
Kali ini melalui informannya kabar rencana kepulangan gio sampai ke telinga brian
yang akan menemui keluarganya beberapa hari di bali kemudian dilanjutkan ke tempat tujuan alasan kepulangannya ke Indonesia
Membuat sahabatnya itu mulai merasa gondok mendengar penuturan dari seseorang yang sudah lima tahun terakhir ia tugaskan untuk menggali informasi tentang gio
"Kembali hanya karena dipindah tugaskan ke kalimantan untuk mengawasi perusahaan cabang yang ada disana" ucap brian dengan menarik salah satu sudut bibirnya
"Kedatangannya tidak seorang diri tuan"
"Siapa?"
"Seseorang yang seperti teman keluarga serta dokter pribadi bagi tuan gio chan ravindra"
membawa pengawal sekaligus sekretaris pribadinya selama bekerja di kantor pusat"
"Sial, anak itu.."
"Baiklah atur semua seperti rencana awal karena kali ini aku harus menangkap seekor tupai yang pandai melompat"
.
🌼🌼
Disisi lain didalam apartemen termegah dipusat kota gio berulang kali ingin menekan tombol panggilan video kemudian menghubungi sahabat yang teramat ia rindukan
Ada banyak hal yang harus ia jelaskan ketika ingin menyambung kembali sebuah hubungan membuatnya semakin berfikir keras
Karena kenyataanya setelah ingatannya kembali bahkan waktu bertahun-tahun tidak cukup baginya untuk menerima kenyataan itu bahkan sempat menimbulkan keinginan dalam diri untuk mengiris pergelangan tangannya menggunakan benda tajam
"Saatnya kita berangkat boss"
Gio hanya mengangguk paham mengikuti arahan dari sekretaris pribadinya tersebut "bangunkan aku jika kita sudah sampai"
Sesampainya di bandara gio dijemput oleh bunda lidya yang terlihat sedang duduk bersama seseorang yang paling tidak ingin ia lihat
Hingga dua hari berlalu tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut gio untuk orang ini
Membuat bunda lidya semakin merasa bersalah atas kelalaiannya di masa lalu
Gio hanya terus memandang deru ombak seakan mampu menyapu hatinya yang terlah kotor tercemar limbah
Bahkan kedatangan seseorang yang telah berdiri disampingnya selama beberapa menit tidak mampu membuatnya tersadar dari imaginasinya itu
"Teman macam apa kau?" suara yang langsung menariknya kembali ke dunia nyata
Sebelum wajahnya sempurna menoleh ke asal suara seseorang yang lain mengunci lehernya terlebih dahulu
"Bocah nakal yang tidak pernah berubah" kali ini suara berat yang berasal dari brian
"H hey--" suara gio tercekat tidak mampu berucap, pikirannya seketika terasa kosong
Ketiganya kini mulai menumpahkan semua isi pikiran mereka masing-masing yang selama ini mereka pendam bertahun-tahun lamanya tanpa ada satupun hal yang mereka tutupi lagi
Yang seperti biasa akan mereka selingi dengan pertengkaran serta makian khas mereka
Setelah ketiganya tenang rencana berikutnya yaitu menghabiskan weekend di bali untuk belajar surfing, mencicipi kuliner serta berkunjung ketempat wisata yang menjadi icon dari pulau dewata
Setelah kedatangan keduanya waktu terasa berlalu begitu saja, tidak terasa saatnya gio melanjutkan perjalanan menuju kalimantan
Beberapa barang yang sempat gio keluarkan untuk keperluannya selama tinggal di bali kembali ia masukkan kedalam koper
Kini ia terlihat sudah berpakaian rapi mengenakan kaos hitam dengan jean panjang
Sebelum tangan berhasil meraih sepasang sepatu terdengar suara pintu yang diketuk dari luar menyembulkan wajah seseorang yang beberapa tahun terakhir bekerja dengannya
Gio menuruni anak tangga diikuti seseorang yang berjalan tidak jauh darinya dan menarik koper menuju ruang makan
Disana bunda lidya yang sudah duduk ditemani secangkir teh hangat beserta sandwich yang sama sekali belum disentuhnya
Suara sepatu yang membentur kelantai terdengar semakin mendekat menyadarkan bunda lidya akan kehadirannya
Wajahnya menoleh ke asal suara "selamat pagi apa kalian tidur dengan nyenyak semalam?" tanya bunda lidya menampilkan senyuman yang begitu manis diwajahnya
"Selamat pagi nyonya, tempat ini sungguh indah dan tentu saja saya tidur dengan nyenyak bahkan pagi ini rasanya saya tidak ingin terbangun di pagi buta tentunya jika tidak ada urusan penting" ucap steven menahan malu
Gio hanya memperhatikan percakapan keduanya dengan wajah datar diikuti tubuh yang ia dudukkan di atas kursi
Pikirnya steven sedari dulu memang sungguh ahli dalam urusan berakting, Tidak akan ada yang mampu membedakan apakah itu sungguhan atau hanya berpura-pura
Mereka sarapan pagi dengan tenang hanyut dalam pikiran mereka masing-masing, gio ingin menanyakan sesuatu tetapi langsung ia urungkan karena terlalu malas menyebut nama seseorang
Gio yang beberapa hari tinggal di bali terlihat membuat jarak dengan semua orang yang baru dikenalnya, semakin mengiris hati bunda lidya
Rencana yang ia susun selama kepulangan gio berharap dapat mendekatkan kembali kedua putranya
Tetapi siapa sangka, bahkan anak sulungnya saja sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya
Malah memilih mengirim kedua sahabat gio ke bali, memberi mereka ruang untuk menyelesaikan kesalahpahaman selama beberapa tahun terakhir setelah kepergian gio
Gio yang sempat menolak untuk bertemu dengan bastian membuat keluarga ravindra tidak lagi berkumpul dalam satu tempat secara lengkap
Bastian cukup tahu diri untuk tidak menampakkan wajahnya agar adiknya merasa nyaman berada di samping bunda yang selalu merindukan anak-anaknya
"Kami berangkat" ucap gio
"Sayang jangan lupa kabari bunda kalau sudah sampai di apartemen" tutur bunda lidya memeluk tubuh putranya sebelum melanjutkan kalimatnya "titip gio ya, steven?" menoleh kearah steven yang sedari tadi menundukkan pandangannya
"Baik nyonya" jawab steven dengan pandangan yang terus tertunduk
Pada akhirnya gio memilih pergi tanpa menanyakan hal yang membuatnya gusar, bunda lidya hanya mampu menghela nafasnya dengan kasar menatap mobil gio yang semakin menghilang
Sesampainya gio di bandar udara tanjung harapan seseorang karyawan yang diutus untuk menjemputnya tengah menunggu dengan membawa papan atas namanya
Langkah gio mendekat diikuti langkah steven yang masih mengekor padanya dengan kedua tangan menarik dua koper satu milik tuannya satu yang lain miliknya
"Tuan gio chan ravindra?" tanya seorang pria paruh baya
"Benar, mobilnya diparkir dimana pak?" tanya steven pada pria paruh baya tersebut
"Diluar pak, saya permisi pamit sebentar mau mengambilnya terlebih dahulu diparkiran"
Ketiganya kini sudah masuk kedalam mobil, selama diperjalanan gio terus mengedarkan pandangannya keluar jendela entah apa yang kini ada dalam pikirannya saat ini
Sesampainya di perusahaan langkah kaki gio serta steven terus dibimbing oleh pria paruh baya tersebut menuju ruangan khusus Direktur keuangan
Seolah tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang silih berganti terus memperhatikannya dari lorong depan
Seseorang terlihat masuk keruangan setelah mengetuk pintu beberapa kali "Selamat pagi tuan gio chan ravindra, perkenalkan nama saya jessica aprilia saya disini menjabat sebagai kepala sekretaris eksekutif. Jika anda membutuhkan sesuatu--" mengulurkan tangan
Gio hanya melirik tangan tersebut kemudian mengalihkan pandangannya tidak peduli kalimat dari lawan bicaranya yang belum selesai "Steven"
"Saya tuan" melangkahkan kaki mendekati meja kerja dimana tuannya duduk
Gio yang diam saja membuat steven paham akan maksud dari tuannya tersebut "maaf nona jessica ada beberapa hal yang harus kita bahas terlebih dahulu" pinta steven melebarkan tangan kanannya mengarah keluar ruangan
Pandangan jessica menatap steven sekilas kemudian beralih kembali menatap gio yang terlihat sama sekali tidak peduli
Dengan santainya fokus menggulir tablet yang berada dalam genggamannya itu, membuat kening jessica menautkan keningnya menatap heran kearah gio yang seakan membenarkan sikap sekretaris pribadinya itu.
Ada perasaan dongkol dalam diri jessica, pasalnya dia tidak pernah diperlakukan seburuk itu oleh siapa pun
Walaupun kedudukannya di perusahaan memang masih dibawah gio, tetapi ada perasaan tidak rela saat dirinya diperlakukan tidak hormat oleh sekretaris pribadi yang jelas kedudukannya kini lebih tinggi darinya
.
.
🌱Gakpapalah ya jess, Hidup itu harus nano2 agar rame rasanya 🙃 di 'iya' iya' iyaa'in aja😁😁