Silvira, wanita berparas cantik yang ditinggal meninggal suaminya, ia memiliki putra kembar yang pintar namun selalu merindukan kasih sayang ayahnya.
Silvira tak sengaja bertemu mantan kekasihnya waktu kuliah dulu. Namun sang mantan sudah berkeluarga, dia sebenarnya sangat menginginkan mantan kekasihnya itu kembali, namun keinginan itu ditepis jauh-jauh setelah mengenal istrinya, dan dia mendapat hidayah untuk belajar agama lebih baik menjadi wanita sholiha agar mendapat pasangan yang sholih pula.
Siapakah lelaki yang memikat hatinya? Bahagiakah kehidupannya selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Azam membuka matanya, ketika Adzan Dhuhur berkumandang, dia pelan-pelan meletakkan kepala Silvira yang ada di lengannya karena ia tak mau membangunkan Silvira yang masih terlelap kelelahan. Lalu dia segera berlari ke kamar mandi untuk segera mandi agar tidak terlambat sholat berjamaah ke masjid. Selesai mandi Azam berganti pakaian dan segera berangkat ke masjid.
Silvira terbangun mendengar Azam menutup pintu. P0erutnya terasa lapar. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan mengambil baju kaos Azam dari lemari kemudian dia pakai. Setelah itu dia rapikan tempat tidur dan merapikan baju yang berserakan tadi. Ia membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa dimakan. Dia menemukan sawi, wortel, serta brokoli dan dua butir telur, Silvira membuka laci di dapur dan menemukan mie instan.
"Aku masak ajalah," ucapnya sendiri. Dia mencari peralatan dapur sendiri kemudian mulai memasak. Ketika tengah memasak Azam datang dan mencium bau harum masakan Silvira. Dan melihat istrinya memakai kaos oblongnya.
"Masak apa Dek?" tanya Azam sambil ikut berdiri di samping Silvi melihatnya memasak.
"Jangan dekat-dekat, aku belum mandi. Aku lapar Mas, di kulkas nemunya ini, aku buat tamie capcay," jawab Silvi.
"Ehm iya, aku beresin treadmill lagi ya," ucap Azam sambil berjalan ke arah treadmill yang belum selesai dibongkar tadi.
"Iya, mau dibawa treadmill nya? Kan di rumah sudah ada," tanya Silvira.
"Iya, biar kita bisa treadmill barengan," ucap Azam.
Silvi tersenyum mendengarnya, romantis juga Mas Azam ini, pikirnya. Dia segera menyelesaikan masakannya. Dan menatanya di dua piring.
"Mas makan dulu yuk," ucap Silvi.
"Iya," sahut Azam sambil menggelar karpet kecil di depan TV. Mereka pun makan bersama. Selesai makan, Azam mengambil sesuatu dari dompetnya.
"Ini kartu debit Dek, setiap bulannya akan aku transfer ke sini, ini kamu pakai buat belanja bulanan, uang sekolah anak-anak, juga keperluan mereka, juga untuk beli bedakmu," ucap Azam sambil menyerahkan sebuah kartu ATM pada Silvira. Dan Silvi menerimanya.
"Aku tahu penghasilanmu sudah sangat cukup, dan ini tidak seberapa, tapi ini kewajiban ku sebagai suami dan ayah bagi mereka, untuk memberi uang belanja, dan menafkahimu lahir dan batin," ucap Azam. Silvi hanya mengangguk sambil mendengarkan.
"Dan aku mengingatkanmu, bukan berarti aku mengekangmu, bahwa kewajiban mencari nafkah sekarang ada padaku, dan tugasmu mengurus rumah dan anak-anak, tapi karena dari sebelum menikah kamu sudah punya usaha sendiri, maka dari itu aku tidak melarangmu bekerja, asalkan kamu bisa tetap menjalankan kewajibanmu sebagai istri dan ibu, ya," lanjut Azam.
"Iya Mas, aku juga sudah kepikiran hal itu, dalam waktu dekat akan ku angkat kepala cabang di setiap cabang, lalu aku akan memonitor mereka secara online, dan mengunjungi mereka setidaknya sebulan sekali, itupun dengan izinmu Mas," ucap Silvira.
"Iya baiklah, kamu atur saja, tapi kalau keluar kota, aku sendiri yang akan mengantarmu, sebaiknya wanita pergi keluar rumah didampingi mahromnya," ucap Azam.
"Iya baiklah, terus ingatkan aku ya Mas, kalau aku mungkin ada salah," ucap Silvi.
"Iya, sama juga, kalau ada masalah kita selesaikan baik-baik ya, begitupun kalau Mas ada khilaf, ingatkanlah.
"Oh iya Mas, aku mau tanya, masalah seserahan," ucap Silvi kemudian.
"Seserahan, kenapa? Apa ada yang tidak kamu sukai?" tanya Azam.
"Bukan begitu, itu siapa yang milihkan, kok bisa semuanya pas dengan ukuranku, seingatku Mas Azam gak pernah nanya," Silvira masih penasaran akan hal itu.
"Iya, kalau aku nanya, aku takut kamu menolak, menolak menjawab dan menolak aku beri, makanya tanpa sepengetahuan kamu, aku minta tolong si kembar buat lihatkan itu ukuran-ukuran kamu. Jadi itu semua aku dan si kembar yang pilihkan," Kata Azam panjang lebar menjelaskan.
"Skincare itu juga?" tanya Silvira lagi.
"Iya, aku sama anak-anak ke klinik, terus aku tanya yang biasa dipakai Bu Silvira yang mana saja Mba, saya mau beli semuanya, gitu," jawab Azam.
"Ooh gitu, pantesan besoknya pas aku ke klinik itu karyawan senyam-senyum lihat aku, pasti gara-gara Mas ke sana," ucap Silvira.
"Sudah jelaskan sekarang," kata Azam sambil tersenyum.
"Iya maa syaa Allah, kamu keren Mas," ucap Silvi memuji Azam.
"Lalu, apakah pria keren ini sudah bisa membuat kamu jatuh cinta?" tanya Azam yang sontak membuat Silvira memerah pipinya.
"Entah Mas, aku belum tahu, yang jelas, maa syaa Allah banyak sekali pesonamu, entah cinta atau bukan, tapi aku gak rela kamu dimiliki orang lain," ucap Silvira. Azam tersenyum mendengarnya.
"Kalau Mas, bagaimana?" tanya Silvi balik.
"Ehmm, sejak pertama melihatmu di kantor waktu itu, aku sudah menyukaimu, tapi aku gak mau menumbuhkan rasa itu terlalu dalam karena kamu bukan istriku, tapi setelah akad, kita sah menjadi suami istri, barulah perlahan kita tumbuhkan rasa ini bersama, bersama-sama mencintai karena Allah," penuturan Azam itu lantas membuat Silvira semakin uwuuu hatinya. Dia segera berdiri dan mencuci piring dan peralatan masak yang dia pakai, sementara Azam meneruskan packing nya.
"Mas aku mandi dulu ya," ucap Silvi sambil meraih bajunya dan berjalan ke kamar mandi.
"Tok..tok..tok," ada yang mengetuk pintu.
"Mas Azam," panggil orang dari luar. Azam segera membuka pintu kamar kost nya. Rupanya ibu kost dan Vina cewek SPG yang tinggal di kamar depan kamar Azam.
"Oh iya Bu, ada apa?" tanya Azam.
"Itu, saya tadi dapat laporan dari Vina, katanya Mas Azam bawa perempuan masuk ke kamar dari pagi tadi, dan sampai sekarang belum keluar," ucap Ibu kost.
"Dari pagi di dalam ngapain aja? Mas Azam ini kelihatannya alim, sama saya sok jual mahal, eh nyembunyikan perempuan di dalam." imbuh Vina yang emosi, karena memang sudah lama menaruh hati dengan Azam.
"Oh itu, maaf sebelumnya Bu, saya tidak konfirmasi sebelumnya, memang saya bawa masuk perempuan, tapi itu istri saya," ucap Azam mencoba menjelaskan dengan tenang.
"Lho Mas Azam sudah menikah?" tanya ibu kost.
"Iya Bu, alhamdulillah kemarin saya baru menikah, maaf tidak ada resepsi, jadi saya tidak mengundang banyak orang, cuma akad nikah saja," jawab Azam.
"Halah bohong itu, mana buktinya kalau sudah nikah? Cincin kawin aja gak pake, cuma alasan doang itu Bu, jangan percaya, suruh perempuan itu keluar, pengen tahu saya," ketus Vina.
Azam menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia merasa bingung, bukti, iya bukti, Foto pernikahan belum jadi, cincin kawin karena pernikahan mendadak juga belum sempat beli.
Silvira yang mendengar ribut-ribut di depan kamar, segera meraih jilbabnya dan ikut keluar.
"Ada apa sih Mas?" tanya Silvi.
"Oh ini perempuan yang disembunyikan Mas Azam di dalam kamar, baru mandi, habis ngapain aja lu? Mesum pasti kan?" kata Vina ketus.
wa fiiki baarokalloh ukhti Shakeena..