Cinta itu tak bisa dijelaskan seberapa besarnya. Orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun, tak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.
"Apa itu sangat menyakitkan? Kamu ingin menguburnya saja?"
"Ya, begitulah."
"Kamu bilang 'cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran, cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati.' Bagaimana dengan itu? Jiwamu telah terikat pada cintanya, jadi kamu akan terus memikirkannya?"
"Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah di hati. Itulah cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Sedangkan cinta yang lain, bisa berada di mana saja, bisa datang dan pergi."
"Jadi, jiwamu belum terikat sama sekali? Aku yang akan mengikat jiwamu."
'Sudah sejak lama Ardi. Hanya saja telah tersimpan, kunci hatiku entah hilang kemana, kamu harus cari.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rikha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hatinya lelah
🍂🍂🍂
Hari kelulusan.
Seluruh siswa bereuforia setelah membaca papan pengumuman. Mereka berdesakan memeriksa nama mereka. Termasuk geng Rindu dan teman-teman band nya. Mereka bersorak berlompatan membentuk lingkaran. Saling menautkan lengan antara satu dengan yang lainnya. Mereka semua lulus dengan nilai memuaskan. Ardian peringkat pertama, Rindu peringkat ketiga. Dian, Teo, masuk 20 besar, sedangkan Dimas dan Bram Masuk 30 besar. Mereka senang Dimas bisa melewati ujian dengan baik mengingat sesi rehabilitasi nya sebulan belakangan.
"Gaes… Kita semua lulus, malam ini kita rayakan sehabis latihan, persiapan promnite hanya 3 hari lagi," ucap Teo sebagai ketua Momo band.
"Yyouuuhuuu… pesta…!" Sorak semuanya.
"Gue gak bisa ikutan." ucap Ardian kemudian menarik perhatian yang lain.
"Klub basket buat acara juga, jadi maaf gue gak bisa gabung."
Oooo… jawab semua. Lalu Ardian pamit pergi. Ardian melirik Rindu yang terdiam.
Seminggu terakhir Ardian memang jarang bertemu Rindu. Kegiatan mereka masing-masing sudah sangat merepotkan. Sebagai anggota OSIS Ardian sibuk pada persiapan promnite, dan Rindu sibuk latihan. Namun raut muka Rindu hari ini sangat berbeda. Sama sekali tidak melihat ke arahnya. Rindu lebih banyak diam. Ardian menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.
____
Di studio latihan
Pintu terbuka tiba-tiba. Ardian mengedarkan pandangannya. Anak-anak serentak memalingkan wajahnya melihat Ardian kebingungan. Mereka sepertinya telah selesai latihan, dan bersiap untuk pergi.
"Wooiii… Ardi, lo ngapain...?" tanya Dimas.
"Gue… gue," dia enggan menjawab, lalu Tatapannya terkunci pada Dian.
"Dian… Rindu mana?" tanyanya kemudian.
"Pergi ke toilet… kenapa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Ardian berlalu pergi. Mereka pun mendengus kesal dengan sikapnya.
"Di… Ardian mau apa nyariin Rindu?" tanya Dimas penasaran. Dian mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.
Mereka saling berpandangan. Bertanya dalam hati masing-masing. Karena penasaran mereka mengikuti. Dengan hati-hati mereka mengendap-endap di belakang Ardian, hingga sampai di dekat toilet mereka kompak menempel ke tembok seperti cicak.
Tangan Rindu tiba-tiba ditarik Ardian ke arah pintu lift. Lalu masuk dan membawa mereka naik ke roof top gedung itu. Sebuah taman kecil di atap gedung tempat biasa untuk bersantai karyawan disana. Keempat orang yang mengintai berlari ke arah tangga dan bergegas naik.
"Ardi… apa apaan sih!"
Rindu menepis tangan Ardian yang menariknya kasar.
"Jelaskan… kenapa kamu batalkan?" tanya Ardian berang.
"Apa...?" jawabnya santai.
Ardian menghela nafasnya berat.
"Kamu janji mau kuliah sama-sama setelah kita lulus, kita juga sudah mendaftar waktu itu, lalu kenapa tiba-tiba kamu batalkan?"
"Hmmm… aku berubah pikiran. Aku belum mau kuliah dulu untuk saat ini," tuturnya seraya duduk di kursi panjang.
"Kenapa? Apa masalahnya? kenapa kamu gak cerita?" tanyanya menyelidik.
Ardian pun ikut duduk di sebelahnya.
Rindu bingung harus menjawab apa. Rencana awalnya adalah untuk merahasiakan semuanya, dan sekarang akhirnya sia-sia. Sebenarnya Rindu tidak ingin merepotkan teman-temannya. Bahkan dengan Dian yang paling dekat dengannya tidak ia ceritakan sama sekali. Empat orang yang sedang menguping di pojokan saling pandang.
"Rin… jawab, kamu ada masalah?"
Rindu menggeleng.
"Lalu?"
Rindu terdiam.
"Aku ingin bekerja saja," jawabnya lemah.
"Apa keluarga kamu dalam masalah?" tanyanya kemudian, dan Rindu terdiam.
"Rin…!"
Diamnya Rindu adalah jawabannya. Ardian tidak bisa berkata-kata lagi. Rindu mulai terisak, menumpahkan kesedihannya. Ardian mendekap Rindu dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu hingga siap untuk bercerita.
Kemudian Rindu menceritakan tentang perbuatan keluarga Papanya yang telah mengambil alih perusahaan papanya. Mamanya tidak diberi sepeserpun harta peninggalan papanya. Hanya rumah yang mereka tempati sekarang yang tersisa beserta isinya.
Dian yang mendengarnya ikut menangis. Tidak disangka keluarga papa Rindu tega berbuat hal buruk seperti itu. Tiga orang yang lainnya memilih diam dan mendengarkan. Dimas mendekap Dian ke dalam pelukannya.
Rindu adalah tipe anak yang tidak suka menyusahkan orang disekitarnya. Apapun kesulitannya yang dihadapi, ia akan berusaha mengatasi sendiri. Ardian dan teman-teman yang lain menyayangkan sifat Rindu tersebut. Lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Walaupun mereka tidak dapat membantu, setidaknya bisa mengurangi beban Rindu dengan berterus terang.
🍂🍂🍂
Promnite
Malam ini penuh gegap-gempita. Rindu dan teman bandnya sedang tampil di atas panggung. Ardian yang sedang duduk dengan Dania terpaku menatap panggung. Matanya tersihir akan keindahan di atas sana. Rindu tampak berbeda malam ini. Kenapa Ardian baru menyadarinya. Aura gadis itu benar-benar terpancar membuatnya terpesona. pertama kali dia merasa kagum dan merasakan getaran di hatinya.
Sorot matanya benar-benar tidak lepas dari seorang Rindu. Tanpa ia sadari Dania di sebelahnya jadi cemburu. Mereka pun kembali bertengkar. Rindu melihat sekilas ke arah mereka. Rindu menghela nafasnya begitu berat. Kenapa mereka masih bisa bertahan jika terus berselisih paham seperti ini. Seandainya Ardian mau memberikan tempat Dania untuk Rindu. Perasaan gadis itu selalu terabaikan. Sekarang Hatinya lelah, Rindu lelah dengan semuanya. Sudah waktunya untuk ia menyerah.
"Huuuww... Gimana teman-teman semua, sudah puas…," sorak Rindu kepada penonton.
Empat lagu pun telah selesai mereka mainkan. Dan semua yang ada di sana telah bersenang-senang.
"Belum.... Lagi... Lagi…!"
Sahutan penonton bergantian menguasai kemeriahan acara malam ini. Lalu salah seorang penonton dari sudut ruangan itu berteriak dengan lantang.
"Rinduuuuu.... I Love Uuu....!"
"Hey… yang disana... We love U too…!"
Rindu tersenyum. Ia melempar kecupan dari telapak tangannya. Mereka semakin heboh, bersorak bertepuk tangan hingga bersiul. Ardian yang masih sibuk dengan pertengkarannya, saat ini fokusnya teralihkan. Dania yang sudah lelah pun mengakhiri hubungan mereka. Lalu pergi begitu saja.
Perlahan Ardian kembali ke tempat duduk nya semula. Membiarkan Dania pergi entah kemana. Berakhir nya hubungan dengan Dania bukan masalah besar bagi Ardian. Toh selama ini ia juga menginginkan hal itu. Hanya saja tidak sanggup untuk mengatakan terlebih dahulu.
"Ok… untuk lagu terakhir malam ini… lagu yang khusus saya nyanyikan untuk seseorang. Lagu yang memiliki makna mewakili perasaan saya sekarang ini... Semoga teman-teman semua menikmati nya…!"
Rindu melirik teman-temannya untuk memulai musik. Rindu menarik nafasnya, menenangkan hatinya sejenak.
"Ardian… semoga setelah ini kamu bisa mengerti. Tidak peduli bagaimana tanggapan mu. Kita tidak akan bertemu lagi. Aku Rindu, mulai saat ini tidak akan ada untukmu lagi" gumamnya dalam hati.
Padamu pemilik hati yang tak pernah ku miliki
Yang hadir sebagai bagian dari kisah hidupku
Engkau aku cinta dengan segenap rasa di hati
Slalu ku mencoba menjadi seperti yang engkau minta
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatan mu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri
Mungkin memang benar
Cinta itu tak lagi berharga
Semua percuma bila engkau tak punyai harta
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatan mu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri
Cinta sendiri
Oh aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatan mu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri
Cinta sendiri
Kekasih bayangan - Cakra Khan
Ardian terpaku, terdiam. Entah apa yang dipikirkan nya saat ini. Yang ia Rasakan jantung nya berdetak tidak beraturan. Seketika ia sadar akan sesuatu yang sangat terlambat ia sadari.
"Rindu… ada apa ini? Bodohnya aku baru menyadarinya sekarang?"
*
*
*
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya...
LoPe dan JemPol kamu yang berharga. 🥰
Komen Yuk ramein, biar Aku semangat nulisnya...
Dukung terus author ya...
Love U all ☺️😘
diMangatoon lah tempatnya 😁
Hari ini kutemui karyamu 😊
Mari salkung bersama - sama 🤣
Semangat Kaka 🤗 !!!
Jika kak Author ada waktu mari mampir kekarya saya :
" MISTERI DUA CINCIN DIBALIK RUNTUHNYA ISTANA ANDALUSIA " .
Semangat terus 👍👍
...
Nanggung Ardiii...
😭😁🤣