Semua orang tau bila Jessica sangat membenci musim dingin, terlebih-lebih ketika salju turun. Jika bagi orang lain salju adalah sebuah keajaiban, bagi Jessica salju adalah petaka. Jessica pernah kehilangan segalanya ketika salju turun. Ibunya meninggal di bawah rintik salju. Dan kekasihnya menghianatinya ketika musim dingin tiba.
Dan sejak itulah ia sangat membenci musim dingin. Karena musim dingin sangat identik dengan salju.
-
Hay Kak..
Jangan lupa tinggalkan like komentnya ya 🤗🤗🤗 bantu novel ini lebih maju dan berkembang🙏🙏🙏. Tinggalkan vote dan rate juga. Jangan lupa tambahkan ke daftar favorit biar gak ketinggalan bab barunya.
Dukung terus karya Author Lusica Jung 2. Di usahakan sehari up dua bab...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Cantik
Bulan Desember.... memanglah bulan yang sangat menyenangkan. Salju turun dengan menampakkan kristal-kristal putihnya yang indah.
Kebanyakan orang pasti akan menghabiskan waktunya dirumah, menghangatkan diri mereka masing-masing, atau bersantai dan menikmati teh hangat dirumah. Hampir semua penduduk kota menyambut datangnya musim dingin dengan suka cita.
Namun, hal ini tidak berlaku untuk bagi gadis yang sedang menatap titik-titik putih yang terus berjatuhan dari langit dan membuat warna putih tersebar di mana-mana. Jessica kembali menghela napas untuk yang kesekian kalinya.
"Sica,"
Sebuah suara baritone membuyarkan lamunannya. Manik matanya membulat, detak jantungnya pun berdetak tak menentu saat menyadari wajah seorang pemuda sangat dekat dengannya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajah cantik yang merona itu.
"Ke-Ken." Bibirnya mengumamkan namanya pelan. Gugup terlihat jelas dari tatapan dan sikapnya.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Ken. Tangannya terulur mengelus helaian coklat terang milik Jessica. Mata abu-abunta menatap lembut iris hazel itu, itu semua membuat nafas Jessica tercekat di tenggorokan.
'Ya Tuhan, bagaimana ini, hatiku luluh hanya dengan sikap nya yang lembut padaku, membuatku berharap padanya' jeritnya dalam hati.
"Hidungmu memerah, dan tanganmu terasa sangat dingin."
Buru-buru Jessica menarik tangannya yang di genggam oleh Ken. Tangannya terasa begitu hangat. "A-Aku-"
Jessica tak melanjutkan ucapannya ketika melihat pemuda itu semakin wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan, membuat Jessica terbawa suasana.
Perlahan ia memejamkan kedua matanya dan meresapi setiap helaan nafas Ken yang menerpa permukaan kulit wajahnya. Terasa hangat.
Sedikit lagi... ya, sedikit lagi bibir mereka bersentuhan. Sampai tiba-tiba....
"BIBI, PAMAN TAMPAN KAMI PULANG!"
Deg..
Kedua mata Jessica membelalak sempurna. Buru-buru dia mendorong tubuh Ken lalu beranjak dan meninggalkannya begitu saja. Akan sangat berbahaya jika Laura sampai melihat apa yang nyaris saja terjadi. Keponakannya yang cantik dan menggemaskannya itu pasti akan berteriak histeris dan dirinya akan menjadi bahan Bullyan kakak iparnya.
"Omo!! Princess akhirnya kau pulang juga. Bibi, sangat merindukanmu." Jessica memeluk Laura dengan erat. Sambil mencium pipi kanan dan kirinya secara bergantian.
"Bibi, kau berlebihan sekali. Dan kau membuatku tidak bisa bernapas." Protes Laura karena pelukan Jessica yang terlalu erat.
"O'Oh maaf, Bibi terlalu bahagia karena akhirnya kalian bertiga pulang juga."
"Bibi, kau terlihat sangat mencurigakan. Ahh, pasti terjadi sesuatu antara dirimu dan paman tampan ya?" tebak Laurent dengan gerlingan nakalnya. "Bibi, hayo ngaku. Pasti kalian berdua sudah berciuman ya?"
"Astaga bocah, apa yang kau bicarakan?! Jangan mengada-ada, deh. Di mana ibu dan ayahmu?"
"Dia masih di teras. Sebentar lagi juga masuk." Laura memiringkan kepalanya dan tersenyum lebar melihat Ken yang berjalan menghampirinya. "PAMAN TAMPAN!!!" seru Laura dan langsung menubruk tubuh Ken hingga pemuda itu terhuyung ke belakang.
"Bagaimana perjalanamu?"
"Sangat menyenangkan, tapi aku merasa kesepian di sana. Dan ternyata Swiss lebih dingin dari pada Korea. Untung saja Bibi, Sica tidak ikut. Kalau ikut, aku jamin pasti dia mengeluh sepanjang hari." Ken terkekeh, lalu pandangan Ken bergulir pada Jessica dan tersenyum tipis. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan ketika sedang menekuk wajahnya.
Melihat Ken yang terus memandang ke arah Jessica membuat Laura tersenyum misterius. Gadis kecil itu mencium aroma cinta dari pancaran mata pemuda berdarah China tersebut.
"Paman, bukankah Bibi Sica sangat cantik." Ucap Laura dan membuat Ken tersentak. Laura terkekeh geli melihat wajah kaget Ken. "Paman menyukai bibi, Sica ya? Sepertinya, bibi Sica juga menyukai Paman. Dia selalu merona dan salah tingkah saat Paman menatapnya."
"Jangan bicara sembarangan kau, bocah!!" hardik Jessica sambil mencubit pipi Laura."Bocah ingusan sepertimu tau apa soal cinta. Lagipula mana mungkin Bibi menyukai pria cantik ini. Itu tidak mungkin!!"
"Bibi mau bertaruh?!"
"Soal apa?"
"Soal yang Bibi katakan tadi. Bibi bilang tidak mungkin menyukai Paman tampan. Bagaimana jika Bibi sampai menelan ludah sendiri?!"
"Jangan ngaco, sudahlah Bibi ke kamar dulu."
Laura terkekeh. Dia merasa geli sendiri melihat sikap bibinya yang terlihat begitu menggemaskan itu. "Paman, lihat itu? Bibi Sica, terlihat sangat gugup dan malu. Jelas-jelas dia sudah jatuh cinta pada Paman tampan, tapi tidak kau mengakuinya." Tutur Laura panjang lebar.
Dan Ken hanya menyikapi ucapan Laura dengan senyum tipis. "Kau terlalu banyak bicara, Nona kecil." Ken mencubit pipi Laura lalu menurunkan gadis kecil itu dari gendongannya. Ken menghampiri sepasang suami-istri yang terlihat berjalan beriringan memasuki rumah.
Ara langsung pergi ke kamarnya sementara Hans dan Ken berbincang di ruang tamu. Perjalanan kali ini begitu melelahkan dan Ara sudah sangat merindukan kasur empuknya.
.
.
"Soal yang Bibi katakan tadi. Bibi bilang tidak mungkin menyukai Paman tampan. Bagaimana jika Bibi sampai menelan ludah sendiri?!"
Jessica menutup matanya dan menggeleng kuat-kuat. Kata-kata Laura begitu membekas dan terus mengganggu pikirannya.
Apakah ia benar-benar jatuh cinta pada Ken? Benarkah yang dia rasakan itu adalah cinta? Tapi Jessica masih ragu, dia terlalu takut membuka kembali hatinya. Dia tidak siap jika harus terluka lagi.
Jessica berjalan menuju balkon kamarnya dan berdiri di sana. Hawa dingin yang begitu menusuk langsung menyambutnya ketika Jessica menginjakkan kakinya yang terbalut heels di lantai balkon.
Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, bulir-bulir salju kali ini turun dari langit yang menghampar kelabu dengan begitu cepat. Seolah berlomba, tak memerlukan waktu lama baginya untuk dapat membius seluruh penjuru kota dengan nuansa beku. Dalam sekejap saja salah satu negara tersibuk di dunia itu telah disulap menjadi sebuah padang putih yang sunyi.
Meskipun para penduduk negeri Ginseng terkenal dengan daya tahannya terhadap dingin, tetap saja mereka tak mampu melawan suhu udara yang hanya beberapa lebihnya di atas nol derajat celcius, dan dikabarkan akan semakin turun menjelang tengah malam nanti. Itulah kenapa banyak warga yang memilih untuk mengalihkan saja seluruh aktivitas ke dalam ruangan daripada harus berkonfrontasi dengan cuaca.
Beruntung ini adalah zaman yang serba modern. Sehingga paradoks dengan kondisi di luar sana, para insan kini bisa menghadirkan kehangatan pulau tropis ke dalam rumah. Atau setidaknya itulah yang ditawarkan alat penghangat yang beberapa minggu terakhir sering menghiasi layar kaca.
Akan tetapi, tak peduli betapa pun praktisnya kehidupan modern ini, Jessica tetap tidak menyukai musim dingin.
"Kita bisa membahasnya nanti setelah aku kembali ke China."
Suara familiar itu langsung menarik perhatian Jessica untuk menoleh pada asal suara. Di sana, dalam jarak lima meter Jessica melihat sosok pemuda yang sedang berbicara di telfon. Tidak terlihat seperti apa ekspresi pemuda itu, hanya punggung yang tertutup rompi tebalnya yang tertangkap oleh netra mata Jessica.
"Sebaiknya kau segera tidur, jangan sering keluar di musim dingin seperti ini. Aku tutup dulu telfonnya,"
Ada rasa sesak yang menghimpit dada Jessica mendengar Ken yang sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telfon. Terdengar suara manja seorang wanita yang samar-samar tertangkap oleh telinganya.
"Sica, kau belum tidur?" Jessica tersentak kaget. Teguran Ken menyadarkan gadis itu dari lamunan panjangnya.
"Ken, kau membuatku terkejut." Seru Jessica sambil mengusap dadanya dengan gerakan naik turun.
"Maaf, aku tidak bermaksud."
Ken menghampiri Jessica kemudian berdiri di sampingnya. Jessica memperhatikan apa yang Ken pakai. Celana panjang, sweater hitam yang di bungkus rompi tebal. "Tumben kali ini dia waras?" ujar Jessica membatin. Biasanya Ken memakai pakaian lengan terbuka, tapi kali ini tidak.
"Apa yang kau lihat?"
"Tidak ada." Jessica menggeleng.
"Bukankah kau sangat membenci salju, lalu kenapa kau malah berdiri di sini dan melihat salju tutun?" tanya Ken penasaran.
"Hanya ingin saja. Lalu apa yang kau lakukan di luar tengah malam begini?" bodoh, tanpa bertanya pun tentu Jessica tau apa yang Ken lakukan tadi.
"Tidak ada, hanya bertelfonan dengan teman saja. Masuklah, udara di sini sangat dingin. Kau bisa sakit jika terlalu lama berdiri di sini. Aku juga akan masuk,"
"Ya, itu juga yang akan aku lakukan." Jessica beranjak dari hadapan Ken dan pergi begitu saja. Meninggalkan pemuda itu sendiri di balkon kamarnya.
Tak lama kemudian. Ken pun mengikuti jejak Jessica dan pemuda itu melenggang meninggalkan balkon kamar Jessica. Ken merasa sangat lelah dan ingin segera tidur. Ia berencana tidur lebih awal malam ini.
-
Bersambung.
lanjut De🥰🥰😙😙kebahagiaan Ken dan Sica....semangaatttt