Kinara Novelya Putri
Sakit hati tidak membuat Kinar menyerah untuk melanjutkan hidupnya. Karena ia percaya, jika suatu saat nanti ia akan mendapatkan cinta yang begitu tulus dari seorang pria.
Jefan Bintang Yudhistira
Jefan yang merasa dikhianati oleh Mecca akhirnya mendekati Kinar yang ia ketahui sudah lama menaruh hati padanya.
"Sebenarnya apa sih status hubungan kita?" Tanya Kinar sangat pelan tapi Jefan masih mampu mendengarnya karena jarak mereka yang dekat.
Jefan mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kinar. Ia diam, menunduk seakan tak memiliki keberanian untuk menatap wajah Kinar lagi.
"Kita ciuman, kamu panggil aku sayang, bahkan sikap kamu begitu manis sama aku. Tapi status hubungan kita nggak ada kejelasannya."
"Kamu sabar ya! Aku janji akan selesaikan hubungan aku sama Mecca secepat mungkin."
"Aku nggak butuh janji, Jef. Aku hanya butuh kamu jawab apa status hubungan kita selama ini?"
"Kamu maunya gimana?" Jefan membalikkan pertanyaan Kinar yang membuat Kinar kecewa dan keluar dari mobilnya begitu saja.
Akankah Kinar dan Jefan dapat bersatu dalam ikatan cinta? Akankah jalan cinta mereka mulus tanpa adanya lika-liku? Cerita selengkapnya langsung baca ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon is fitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 12 Jogging
Sedari keluar kamar tadi Kinar tak hentinya bersenandung. Ia tampak ceria pagi ini. Bibirnya juga tak berhenti mengulas senyum. Ada pancaran bahagia dari wajahnya.
"Pagi, bik!" Sapa Kinar kepada bik Rumi yang tengah sibuk di dapur.
"Pagi, non!" Balas bik Rumi seraya mencuci sayuran.
"Ada yang bisa Kinar bantu nggak nih?" Kinar mendekati bik Rumi yang sudah beralih ke depan kompor.
"Nggak usah non! Udah siap semua kok!" Tolak bik Rumi lembut.
"Kin, mau ikut jogging nggak?" Elsa muncul dari lantai atas dengan handuk kecil yang ia kalungkan di leher.
"Boleh. Tunggu bentar gue ganti baju dulu!" Kinar bergegas ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Gue tunggu di depan." Teriak Elsa.
Sebelum keluar, Elsa mencomot selembar roti yang ada di meja makan kemudian meneguk susu yang sudah disiapkan oleh bik Rumi.
Ponsel yang di letakkan di atas meja berdering. Segera ia mengangkat panggilan itu.
"Halo sayang!"
"......."
"Iya ini mau berangkat masih nunggu Kinar."
Elsa memasukkan ponselnya ke saku celana setelah panggilannya dengan Erwin terputus.
"Kin, buruan!!" Teriak Elsa seraya kepalanya mendongak ke lantai atas.
Elsa bergegas keluar rumah melakukan pemanasan sebentar sebelum jogging sembari menunggu Kinar muncul.
"Ayo!!!" Kinar pun muncul dengan pakaian olahraga, lengkap dengan sepatu juga topi. Tak lupa handuk yang sudah ia lingkarkan di leher.
Kinar dan Elsa berlari kecil melewati komplek perumahan yang Elsa tinggali. Mereka menuju ke taman komplek, di sana Elsa sudah janjian dengan Erwin.
"Loh sama Erwin juga?" Tanya Kinar setelah sampai di taman dan mereka menemui Erwin.
"Iya." Jawab Elsa.
"Yuk ah! Keburu panas nanti!" Ajak Erwin. Mereka pun mulai berlari kecil mengelilingi area taman. Elsa berdampingan dengan Erwin, sementara Kinar sengaja memilih di belakang mereka.
"Untung aja gue bawa headset." Kinar menyambungkan headsetnya ke ponsel kemudian memasangnya di kedua telinga.
Mendengarkan musik membuat aktivitasnya pagi ini lebih semangat. Terlebih bisa menyingkirkan rasa kesalnya karena pemandangan yang ada di depan.
"Nggak ngerti banget sih kalau sahabatnya ini jomblo." Gerutu Kinar melihat Elsa dan Erwin saling menyuapi bubur.
"Awwww!!!" Kinar mengipasi lidahnya yang terasa kebakar.
"Kenapa Kin?" Tanya Elsa yang duduk di samping Kinar.
"Nggak apa-apa!" Jawab Kinar jutek. Kemudian mengambil segelas air putih dan meneguknya.
"Mau kemana, Kin?" Tanya Erwin ketika melihat Kinar melangkah pergi meninggalkannya juga Elsa.
"Gue pulang dulu ya. Males jadi obat nyamuk." Kinar membayar pesanan bubur ayamnya kemudian berlalu pergi.
Kinar tak berhenti ngedumel. Ia merasa kesal dengan Elsa yang enak-enakan pacaran tanpa memikirkan perasaannya.
"Bikin bad mood aja sih Elsa."
"Kok mati sih?" Kinar mengambil ponsel dari dalam saku celananya karena musik yang ia dengarkan tiba tiba mati.
"Yah! Abis baterai lagi!" Kinar menyentak nafas kasar. Ia benar benar kesal pagi ini.
Akibat semalaman terlalu memikirkan perubahan sikap Jefan, membuatnya lupa untuk men-charge ponselnya. Padahal ia tau, ponselnya sudah lowbat sejak malam tadi.
Kinar mengurungkan niatnya untuk pulang, ia memilih untuk jalan jalan sebentar menikmati udara pagi hari di taman itu.
"Hai!!!" Sapa seorang laki laki mendekati Kinar.
Kinar menoleh menatap wajah laki laki yang sangat dikenalnya.
"Jefan? Kok bisa di sini?" Melihat kedatangan Jefan yang tiba tiba itu seketika mood Kinar kembali membaik. Ia langsung mengulas senyum di bibirnya, padahal 1 menit yang lalu ia masih ngedumel terus.
"Duduk di sana aja yuk!!" Jefan menunjuk 1 bangku yang tak jauh dari tempat mereka berada.
"Tadi aku telpon kamu, tapi nomor kamu nggak aktif. Trus aku coba tanya Elsa, katanya kamu di sini. Yaudah aku nyusul aja." Ujar Jefan setelah mereka duduk di tempat yang ia maksud.
Tiba-tiba tangan Jefan terulur mengambil handuk dari tangan Kinar, kemudian mengusap kening Kinar yang berkeringat. Kinar seketika mematung mendapatkan perhatian Jefan seperti itu. Ia hanya tersenyum dengan mata yang tak beralih dari wajah tampan laki laki itu.
"Astaga!!! Jantung gue!!! Duh! Jangan sampai Jefan denger."
Jantung Kinar berdegup kencang, pasalnya saat ini posisi mereka sangat dekat. Kinar mampu mencium aroma tubuh Jefan yang begitu wangi.
"Lain kali jangan lupa nge-charge HP!" Suara Jefan menyadarkannya dari lamunan.
"Hah!!! Iya iya." Jawab Kinar gugup.
"Udah sarapan?" Kini ganti Jefan yang memandang wajah Kinar dari samping.
"Udah." Jawab Kinar singkat seraya menatap ke arah depan.
Sangat nampak jika gadis itu tengah gugup, terlihat dari tingkahnya yang nggak bisa diam menggerakkan kakinya. Hal itu membuat Jefan gemas dan ingin menggodanya.
Jefan kembali merapatkan duduknya ke Kinar sehingga tak ada jarak di antara mereka. Jefan menyenggol lengan Kinar dengan sikunya, membuat gadis itu menoleh dan tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan.
Dengan cepat Kinar mengalihkan pandangannya ke samping dan menggeser duduknya. Ia semakin terlihat gugup.
"Kok grogi gitu sih, Kin? Kan bukan pertama kalinya lagi."
"Nggak!" Jawab Kinar singkat tanpa menatap Jefan.
"Masa? Kok tangannya gemetar gitu?" Ucap Jefan seraya melirik tangan Kinar. Kemudian pergi meninggalkan Kinar, tak lama ia kembali dengan sebotol air mineral di tangannya.
"Nih!" Kinar meraih botol itu dan langsung meneguknya.
"Emang buat kamu?" Ledek Jefan. Seketika Kinar menyemburkan minumannya.
"Hah??? Bukan ya??? Tapi udah abis setengah." Jefan menahan tawa melihat wajah Kinar yang lucu.
"Yaudah aku beli gantinya ya." Kinar beranjak hendak pergi, namun di tahan oleh Jefan.
"Nggak usah!" Jefan masih menahan tawanya. "Di sini aja!" Jefan menarik lengan Kinar agar kembali duduk di sampingnya. Kemudian ia tergelak.
"Kok ketawa?" Jefan tak menjawab, ia masih terus tertawa.
"Kamu ngerjain aku?" Kali ini Jefan mengangguk tapi tetap dengan tawanya yang mulai mereda.
"Kok iseng sih?" Kinar menunjukkan wajah cemberutnya.
"Maaf, aku cuma bercanda. Jangan marah ya!" Jefan memutar posisinya menjadi duduk menyamping menghadap Kinar.
"Nggak lucu!" Kinar mulai kesal.
"Yaudah buat permintaan maaf aku, gimana kalau aku traktir. Kamu mau beli apa?" Kinar menoleh menatap tajam ke arah Jefan. Membuat laki laki itu mengerutkan dahinya.
"Emang gini ya cara laki laki meminta maaf? Sorry! Aku nggak bisa di sogok dengan apapun." Kinar bangun dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Jefan.
"Kinar, tunggu!" Jefan berusaha menahan Kinar, namun gadis itu tak menghiraukannya. Ia tetap melangkah pergi menjauh dari Jefan.
"Kok Kinar marah? Gue kan cuma pengen ngajak dia jalan. Apa jangan jangan cara gue salah ya?" Gumam Jefan.
"Gue harus tanya ke ahlinya ini!"
Jefan pun akhirnya pergi menuju ke parkiran tempat ia meletakkan mobilnya. Setelah sampai di kursi kemudi, ia meraih sebuah kotak kecil di depannya.
"Tadinya mau ngasih ini ke Kinar. Tapi dia udah marah duluan." Jefan kembali meletakkan kotak tersebut. Beralih ke stir dan melaju meninggalkan taman.
cuma sangat disayangkan,, alurnya muter muter..
selalu diceritakan lagi dan lagi, bisa 1 bab tu yg muter..
semoga kedepan lebih baik lagi.. semangat
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti