ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENOLAKAN ANDI SHADAM
Pria paruh baya itu menatap Ibnu dengan tatapan sulit diartikan. Ibnu beranjak dari duduknya dan mengucapkan salam hendak meraih jemari Andi Shadam untuknya bersalaman, namun pria itu hanya mengangkat tangan, seolah memberi tahu 'Cukup. Itu tidak perlu'.
DEG!
Ibnu terpaku sejenak sebelum menarik perlahan tangan yang menggantung begitu saja.
Wajahnya merunduk dengan bibir terlipat. Ia tak berani menatap pria paruh baya itu yang tak pernah memandangnya dengan ramah.
"A-ayah."
Alda yang melihat itu mencelos. Sungguh! Bukan itu yang dia harapkan ketika seorang Ibnu bertamu ke rumahnya.
"Cepat selesaikan urusanmu dan temui Ayah," titah Andi Shadam tak ingin dibantah. Ucapannya pun penuh penekanan.
Alda hanya mampu mengangguk pelan. Selang beberapa detik, Sang Ayah meninggalkan ruangan yang telah diselimuti oleh ketegangan luar biasa.
"M-maafkan ayahku, Ibnu ...." Dirinya dipenuhi rasa bersalah.
Ibnu hanya mampu tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Da." Pria itu paham dengan posisinya. Pun dengan posisi wanita itu beserta keluarganya.
Tanpa terasa, genangan air tercipta dibalik bola mata seorang Alda. Rasa kasihan pun mulai menggelayuti. Namun sekuat tenaga menahan untuk tak terjatuh.
"Aku yang salah." Suara Ibnu hampir tak terdengar.
Alda menggeleng. "Tidak! Aku yang salah."
Ibnu terdiam. Ia menghela napas dan membuangnya perlahan. Apa yang ia pikirkan sejak tadi telah menemukan jawaban. Ibnu kembali mendekati sofa dan mengambil ransel. Ia mengeluarkan kantongan putih transparan.
"Ini." Ibnu menyodorkan benda tersebut. "Dari ibu."
"Ibu?" seraya menerimanya.
Pria tampan itu mengangguk. Dia tahu apa yang dipikirkan wanita di depan. Antara Alda dan Ibunya tak saling kenal. Namun Bu Hilda tahu bahwa Dia wanita yang diinginkan.
"Alakadarnya, Da."
"Ini lebih dari cukup. Terima kasih," tukasnya dengan suara serak.
Ibnu kembali merapikan ransel dan menggantungnya di punggung. Bersiap meninggalkan tempat yang telah memberikan kesan tak mengenakkan untuknya. Yah, tak akan ia lupakan seumur hidup.
"Aku pamit, Da." Kembali ia melempar senyum tulus dan berbalik.
Ibnu melangkahkan kaki keluar dari rumah. Sedangkan Alda hanya memandang punggung itu yang semakin menjauh dan mengecil dibalik pupil mata.
"Tempatmu terlalu tinggi, Da."
*****
Alda menahan menengadah dan menghela napas kasar. Dilihatnya kembali kantongan tersebut yang berisi empat mika kue kering. Wanita itu menyimpan di dalam kamar dan menemui ayahnya di ruang pribadinya.
"Siapa dia, Andi Alda?" kalimat sambutan yang diterima saat ia berhadapan dengan Sang Ayah.
"Hanya teman."
Andi Shadam yang kini duduk di kursi kerja menautkan jemarinya di depan perut. "Antara wanita dan pria tidak ada yang benar-benar dalam berteman." Paruh baya itu terdiam sesaat kemudian melanjutkan kalimat, "Ayah tahu, ada ketertarikan diantara kalian."
Dia memandang lekat putrinya. Mencari jawaban dibalik sorot mata indah yang tampak mengembun. Jujur saja, ia sangat kecewa dengan hal itu.
"Alda! Siri'na tomatoammu, engkai tu mukateddi (Kehormatan orang tuamu ada pada genggamanmu)," tekannya.
Wanita itu menunduk.
"De' mullei subbu i pole ri pajajiammu, Nak (Kamu tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari kedua orang tuamu)"
Alda semakin tersudutkan oleh ucapan ayahnya. Apakah benar yang dia rasakan selama ini? Bukan hanya menganggap Ibnu sebagai teman, tapi juga memiliki rasa yang lebih pada pria sederhana itu.
Andi Shadam memejamkan mata. Yang ditakutkan kini telah mencuat sedikit demi sedikit. Sang Anak tak mampu lagi berjalan pada poros yang semestinya.
"Ingat, Nak. Tiga hari lagi Andi Adam akan tiba bersama keluarganya. Secepatnya semua akan ditentukan."
Alda mengangguk lemah. Wanita cantik itu meminta izin kembali ke kamar. Semakin lama dalam ruangan itu bersama ayahnya, takut jika ia salah dalam berucap dan berujung pada perdebatan.
Alda membuka mika dan memandang susunan kue kering. Dia mengambil dan menggigit. Tanpa terasa, air matanya mengalir.
"Sangat enak."
Dia mengusap wajahnya dengan lengan pakaian. Tak henti-hentinya dia memakan makanan tersebut. Bahkan deringan ponsel yang memunculkan nama calon suaminya pun tak dihiraukan sama sekali.
Yang ada dalam ingatan hanyalah Ibnu, Ibnu dan Ibnu. Pria yang beberapa menit lalu telah meninggalkan kediamannya. Tentu saja membawa kekecewaan yang ia pendam.
Alda merasa bersalah telah memperbolehkan pria itu datang. Tapi harusnya, orang tuanya mampu menyambut dengan baik sama seperti yang lain.
Dia meraih benda pipih tersebut. Melihat 3 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Namun bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang. Alda mencari kontak Ibnu dan menghubungi.
"Hallo, Da."
"Kamu sudah sampai?" tanyanya to the point.
Terdengar suara kekehan dari seberang. "Iya. baru saja."
"Kamu baik-baik saja?" rasa ingin tahunya semakin menjadi.
"Iya, Da ... iya ... aku baik-baik saja."
Alda menghela napas. "Syukurlah." Kata-kata itu bagai penenang akan hatinya yang diselimuti rasa gelisah. "Aku mengkhawatirkanmu."
.
.
.
.
Jangan lupa di like, comment dan vote.
Salam
AAH♥️
smg ibnu jg bisa mncintai nana