Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal yang Husnan belum ketahui
Husnan masih memperhatikan mobil om Hendra yang terparkir di depan sekolah.
“Kenapa om Hendra datang kemari.gumam Husnan .
Ferdi yang mendengar ucapan Husnan langsung ikut melihat dari jendela.
“Itu om kamu Hus?”
“Iya Fer”
“Kok tumben datang?”
Husnan menggeleng.
“Aku juga gak tahu.”
Fajar yang sedang menikmati gorengannya juga ikut melihat ke jendela.
“Kayaknya kamu mau dijemput,apa Omnya cuma mau lihat keadaanmu?.”tanya Fajar.
“Gak mungkin lah Om Hendra bisanya sekarang masih di kantor.”jawab Husnan .
Naura hanya diam sambil memperhatikan mobil tersebut.
Beberapa saat kemudian pintu mobilnya terbuka dan Hendra keluar sambil memegang ponsel. Lalu berjalan menuju ke halaman sekolah.
Husnan yang melihat itu semakin bingung.
“Ada apa ya Om Hendra kesini, apa aku menghampirinya ya?”gumam Husnan
“Iya di hampiri saja Hus”kata Ferdi.
Husnan pun berjalan keluar dari kantin lalu menghampirinya.
Hendra yang melihat Husnan sedang berjalan ke arahnya juga langsung menghampiri.
“Ada apa Om ? Kok tumben kesini?.”
“Ini ,Om mau urus dokumen yang kemarin”
“Kirain ada masalah”
“Ah gak lah masalah apa “
“Om dapat dari mana dokumennya?”
“Tenang jangan dipikir Om akan urus semuanya sampai selesai.”
“Baik Om “
Tiba-tiba bel sekolah berbunyi.
“Sana masuk kedalam kelas dulu ,nanti saya suruh supir untuk menjemputmu lebih awal”
Husnan hanya mengangguk sambil berjalan ke kelas.
Hendra pun mulai berjalan ke ruang guru.setelah sampai ia menemui guru yang kemarin.
Setelah beberapa saat kemudian Pak Guru Budi pun datang.
“Sudah bawa semua pak dokumennya?”tanya pak Budi sambil menarik kursi.
Hendra tidak langsung menjawab ia menghela napas panjang.
“Sebelumnya minta maaf ya pak Husnan itu bukan dari keluarga saya”
Pak Budi kaget “lah kok bisa sama anda kenapa orang tuanya tidak yang kesini.?”
“Begini pak….” Hendra menceritakan semuanya kepada Pak Budi
Pak Budi pun terdiam beberapa saat. “Gimana ya pak bukannya tidak boleh, tapi saya harus mengisi data anak itu”
“Begini saja Pak pakai data saya semuanya saja pak” kata Hendra sambil mengeluarkan uang untuk Pak Budi .
Pak Budi terdiam sejenak. “Gak usah kasih uang pak saya bisa pakai data anda dengan senang hati.”
“Bukan begitu Pak Budi saya kasih uang ini untuk berterima kasih bukan untuk suap.” Kata Hendra menyakinkan Pak Budi.
“Baiklah kalau begitu saya terima uang ini ya pak saya berterimakasih sama bapak.”
“Gak usah sungkan, saya juga berterimakasih.”
Setelah sekian lama mereka ngobrol di ruang guru ,Hendra pun berpamitan dengan Pak Budi.
“ Pak saya pamit duluan ya , saya masih ada urusan di kantor.” Ucap Hendra sambil berdiri dari kursi.
“Iya , silahkan pak besok kapan kapan lagi ngobrol lagi ya”jawab pak Budi.
“Iya Pak saya duluan, oh iya pak pantau Husnan ya pak kalau nakal beritahu saya”
“Baik pak aman pokoknya.”
Hendra pun mulai berjalan menuju ke mobilnya.
Sebelum masuk ke mobil Hendra mengamati gedung sekolah yang dilihat saja sudah nyaman.” Pantesan Husnan memilih sekolah ini “ gumamnya sambil tersenyum.
Hendra kemudian masuk ke dalam mobil.
Sementara di kelas Husnan sambil mengharapkan “semoga Om Hendra bisa mengurus semua.”
Fajar yang melihat Husnan langsung memanggilnya.
“Heh Hus ngapain bengong, ada masalah kah?.”
“Gak papa Jar aku baik baik saja “
Ferdi yang melihat itu langsung menyahut.
“Tuh kan ada sesuatu”
“Apaan sih Fer Om Hendra cuma mau mengurus dokumen doang.”
“Dokumen apa?”
Husnan terdiam sebentar “ya dokumen perpindahan lah, masa dokumen surat nikah”
“Eh jangan emosi aku cuma biar kamu gak cemas.”
“Iya iya makasih.”
Naura yang melihat mereka pun ikut tertawa kecil.
Beberapa lama kemudian bel sekolah berbunyi,para murid pun langsung memasukan buku dan alat tulis ke tasnya dan keluar dari kelas.
Husnan yang melihat dari jendela,mobil sopir belum datang,ia menunggu di kelas.
“Ayo Hus pulang” sapa Naura.
“Iya Ra aku lagi tunggu sopir kamu pulang dulu.”
Ferdi dan Fajar yang sedang mengintip di jendela depan langsung menyahut.
“Cieee ehem ehem lagi ngapain nich kok berduaan lagi , menunggu aku pulang dulu ya” kata Ferdi.
“Ah kalian lagi , ngapain sih ganggu aja” ucap Naura.
“Baik kami gak ganggu kami pulang dulu, Yo Jar kita pulang.” Ucap Ferdi sambil memegang pundak Fajar.
“Ayo.”
“Kalau begitu aku pulang dulu ya Hus.” Ucap Naura.
“ Iya duluan aja Ra.”
Tak lama kemudian Husnan melihat mobil sopir yang baru saja datang. Ia langsung bergegas keluar menuju ke bawah.
Setelah sampai Husnan pun langsung masuk kedalam mobil. Ia langsung menyandarkan badannya di kursi mobil yang depan.
“Kok tumben Hus duduk di depan?” Tanya sopir.
“Aku malas duduk di belakang pak gak kelihatan jalannya, biar hafal sama jalan ke rumah”
Sopir hanya mengangguk.
“Maaf ya nak jadi menunggu.”
“Iya gak papa kok pak.”
“Gimana di sekolah hari ini?”
“Seru banget sih pak aku sudah akrab sama teman temannya.”
“Baguslah kalau begitu.”
Sopirnya pun mulai mengendarai mobilnya menuju ke rumah.
Di tengah perjalanan, ponsel sopir tiba tiba ada notifikasi masuk dari teman masa lalu Hendra. Husnan langsung menatap ponsel itu dengan teliti.