Sekuel dari istri kedua tuan Alex...
Kisah berlanjut disini, dimana para putra putri pun jadi korban jebakan perjodohan Tuan Alex dan Sandi asisten nya....
Bagaimana kisah mereka? apakah mereka bisa bahagia setelah menikah dengan pasangan pilihan dari mak comblang super sukses seperti Tuan Alex dan Sandi...
Jangan lupa tinggalkan like vote dan komentar jika suka dengan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Revan menggeleng tak percaya menatap ke arah pelayan itu,
"Yang bener aja dong mbak, masa saya disuruh nyuci piring. mbak nggak tau siapa Papa saya, kalau Papa saya sampai tau saya disuruh nyuci piring, beh bakal tutup kafe ini." ucap Revan dengan sombongnya membuat Pelayan itu menatap ke arahnya jengah.
"Ya sudah, kalau nggak mau nyuci piring. bayar sekarang." balas Pelayan itu ketus.
Revan mendesah frustasi, bisa bisanya Ia mendapat kesialan seperti ini.
"Gimana? nggak bisa bayar kan? udah deh mas mendingan cuci tuh piring biar nggak kelamaan nanti di sini, kalau kelar boleh kok langsung pulang." jelas pelayan,
"Masalahnya ya mbak, saya nggak pernah nyuci piring jadi nggak tau gimana caranya."
Pelayan itu menatap tak percaya ke arah Revan, "Belagu banget sih, cuma nyuci piring aja alesan nggak bisa."
Revan semakin kesal dengan ucapan pelayan itu, dirinya memang tak pernah sekalipun mencuci piring bisa bisanya pelayan itu menuduhnya seperti itu.
"Udahlah mbak, ajarin aja nggak usah banyak ngomel, cepet tua ntar nggak cantik lagi." ucap Revan yang langsung membuat pelayan itu tersipu.
Dasar baperan batin Revan.
Pelayan itu segera mengajari Revan yang langsung saja paham.
"Ck, gitu doang ternyata. gampang!" sombong Revan.
"Awas, jangan sampai ada yang pecah."
"Tenang aja mbak, saya orang nya nggak ceroboh kok apalagi sampai mecahin piring, nggak mungkin lah." ucap Revan penuh percaya diri.
Pelayan itu hanya mendegus sebal kearah Revan lalu pergi dari sana.
Revan segera saja memulai mencuci piring, dengan sangat hati hati karena takut memecahkan piring. tak ingin membuat dirinya bertambah masalah lagi.
1jam berlalu akhirnya, Ia selesai mencuci 3 tumpuk penuh piring kotor beserta gelas dan saudaranya.
"Beres kan mbak?" kata Revan dengan nada sombong.
"Pas banget, udah mau tutup juga tokonya." kata Pelayan itu.
"Berarti saya boleh pulang nih?"
Pelayan cantik itu mengangguk, "Ya pulang saja."
Jawaban pelayan itu tentu saja disambut senyum merekah Revan. Sebelum pulang, Revan mampir ke kamar mandi sebentar untuk membersihkan noda yang ada di baju nya karena terciprat bekas kuah di piring yang Ia cuci.
Setelah selesai, Revan keluar dan melihat pelayan tadi kesusahan menutup gerbang depan kafe.
"Untung nggak ke kunci gue." omel Revan segera berlari mendekati pelayan tadi.
"Lho, kamu masih disini?" tanya Pelayan itu kaget.
"Numpang ke kamar mandi, untung nggak ke kunci."
Pelayan itu terkekeh "Malah seneng dong kalau ke kunci kan bisa makan sepuasnya didalam!" ejek pelayan tadi.
Revan mendengus kesal "Tadinya mau aku bantuin, tapi denger ucapan kamu jadi males."
Pelayan itu semakin terbahak "Cowok kok ngambekan."
Revan tak mengubris ucapan pelayan itu, langsung menggeser gerbang agar tertutup.
"Pelayan kafe yang cowok kan tadi banyak, kenapa Elo nutup sendiri?" tanya Revan usai membantu menutup kafe.
"Biasa, mereka buru buru pulang." balas pelayan itu lalu mengeluarkan ponselnya untuk memesan ojek online.
"Lo ngojek?" Revan sengaja mengintip ponsel milik pelayan tadi.
Pelayan itu hanya mengangguk,
"Cancel aja, bareng gue!"
Pelayan tadi menatap ke arah Revan, "Mana motor kamu?"
Revan tersenyum angkuh, pasti pelayan itu kaget melihat apa yang Revan pakai.
Revan mengajak pelayan itu ke parkiran kafe dan berhenti tepat di sebuah mobil mewah berwarna biru.
"Mana motor kamu?" tanya pelayan tadi terlihat celinggukan.
"Ini, ayo naik." ajak Revan.
Pelayan itu melonggo tak percaya dan kemudian terbahak "Hahaha, yakin kamu nggak salah mobil?"
Reva geram, pertama kalinya ia mendapatkan penghinaan seperti ini "Serah kalau nggak percaya."
Revan langsung menaiki mobilnya, tak peduli dengan pelayan yang menyebalkan itu.
"Bukain pintunya, aku nggak bisa." pelaya itu mengetuk kaca mobil Revan kala Revan sudah berada didalam.
"Dasar kampungan.".
Pelayan itu akhirnya masuk ke mobil mewah milik Revan,
"Kamu kerja jadi sopir? apa majikan kamu nggak marah kalau mobilnya kamu bawa?"
Revan semakin kesal saja, Ia lebih memilih diam dari pada menanggapi pertanyaan menjengkelkan seperti itu. Memangnya mukanya keliahata miskin apa?
"Rumah Lo mana?"
"Gang mawar, daerah cukini. tau nggak?"
"Oh, deket sekolah gue."
"kamu masih sekolah?" tampak sekali wajah pelayan tadi terkejut.
Lagi lagi Revan memilih diam dari pada kesal.
"Oh ya Nama aku Rania, makasih udah nganter aku." kata Rania sebelum akhirnya Rania keluar tanpa tau siapa nama pria yang telah mengantarnya.
"Ck, dasar cewek nyebelin."
Revan segera melajukan mobilnya untuk segera pulang sebelum kena omel Papa nya.
...
Vano menggerayagi tubuh Riska yang tengah asik duduk diruang keluarga sambil melihat televisi.
"Mas nggak usah aneh aneh kamu. nanti kalau Revan pulang trus lihat kita gimana?" sebal Riska.
"Ck, lagian kemana sih tuh anak, udah malem gini belum pulang." balas Vano sambil terus melanjutkan aksinya tak mengubris ucapan Riska.
"Mass,, uhhh." Riska mulai meleguh kenikmatan membuat Vano semakin semangat.
Namun saat keduanya sedang dilanda panas panasnya,
Ehemmmmmm... sebuah suara deheman membuat keduanya terkejut dan menghentikan aktifitas panasnya.
"Mas dibilangin ngeyel sih." gerutu Riska merapikan pakaianya yang sempat terkoyak.
Revan menatap kedua orang tuanya dengan tatapan malas, sudah biasa untuknya melihat pemandangan seperti ini, Papa nya memang gila dan tak tau tempat.
Beruntung selama ini mata Revan hanya tercemar sekedar ciuman seperti tadi tidak sampai ah entahlah Revan tak ingin membayangkan lagi.
"Dari mana kamu?"
"Papa itu yang dari tadi kemana?" balas Revan dengan wajah kesal membuat Vano mengeryit.
"Revan telepon papa kenapa nggak dijawab ee ternyata malah *** *** dirumah!" kesal Revan.
"Harusnya Papa yang marah, kenapa malah jadi kamu yang marah?" tanya Vano heran.
"Ya karena Papa nyebelin." Revan segera meninggalkan kedua orangtuanya yang masih melonggo menatap ke arahnya.
"Kenapa sih dia mah?" tanya Vano pada Riska.
"Papa emang nyebelin sih, makanya dia sampai marah gitu." balas Riska membuat Vano menjadi kesal saja.
Revan merebahkan tubuhnya diatas ranjang, Ia kesal dengan Papanya. jika saja Papa datang pas dia menelepon tadi pasti Rania tidak akan menganggapnya penipu.
"Dasar menyebalkan."
Paginya saat disekolah, Randi dan Ander heran melihat sikap Revan yang tak biasa. tak ceria dan jail seperti biasanya.
"Kenapa Lo?" tanya Randi yang gatal melihat sikap aneh Revan.
"Nggak usah kepo!"
"Idih, kenapa nih? habis di tolak sama cewek lagi?" ejek Randi.
"Gue ditolak cewek? yang bener aja!" balas Revan tak mau kalah.
"Trus kenapa tuh muka kusut?"
"Nggak usah sok peduli sama Gue! nggak inget semalem bahkan kalian ninggalin gue dikafe sendirian dan nggak bayar bill makanan!"
Hahaha, Tawa Ander pecah.
Ander memang sengaja mengerjai Revan. tau jika Revan jarang bawa dompet jika bertemu mendadak seperti semalam. melihat wajah kesal Revan pasti terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan semalam.
Ander jadi penasaran apa yang terjadi pada Revan semalam.
Bersambung....
Like vote dan komen...
di awal kan ayahnya minjam uang untuk adik nya berobat
sukses selalu y thor