Ini bukan sebuah Novel tentang Bos dingin menjadi bucin ataupun perjodohan antara si kaya dan si miskin,ini adalah sebuah Novel yang menceritakan kisah cinta antara sepasang manusia berbeda Negara, kisah cinta yang ringan dan dibumbui dengan komedi yang menghibur.
Indiana Khan seorang wanita cantik berhijab yang bekerja disebuah toko bunga tidak sengaja bertemu dengan Aiman Arsya Ady yang merupakan Pemilik Restoran ternama di Malaysia.
Indi dan Aiman tidak menyadari kalau pertemuan mereka yang tidak sengaja adalah merupakan awal dari kisah cinta mereka berdua.
Selain ingin mengembangkan usahanya, kedatangan Aiman ke Indonesia adalah untuk mencari adiknya yang hilang.
Akankah Aiman bisa menemukan adiknya dan menemukan cintanya di Indonesia?
Yuk, ikuti kelanjutan kisah mereka🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getaran Tidak Biasa
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Disebuah Hotel, Aiman dan Joe sudah bersiap-siap hari ini mereka akan mencari sebuah rumah untuk tempat tinggal sementara mereka. Aiman merasa tidak nyaman kalau harus tinggal lebih lama di Hotel bukan masalah biaya tapi dia lebih merasa nyaman tinggal dirumah saja.
"Im, kamu sudah siap?" tanya Joe yang muncul dari balik pintu kamar Hotel.
"Sudah, yuk berangkat."
Aiman dan Joe pun segera turun kebawah dan di lobi Pak Saad sudah menunggunya dengan sabar. Melihat Bosnya sedang berjalan kearahnya, Pak Saad dengan sigap langsung membukakan pintu mobilnya.
"Selamat pagi Tuan," seru Pak Saad dengan membungkukan badannya.
"Selamat pagi Pak Saad."
Aiman dan Joe pun segera masuk kedalam mobilnya.
"Pak Saad, apa Pak Saad sudah mencari tahu tentang rumah kosong itu?" tanya Joe.
"Sudah Tuan, kemarin saya ke Kampung Bahagia dan Alhamdulillah disana ada rumah kosong yang lumayan besar dan terawat juga Tuan," sahut Pak Saad.
"Syukurlah."
"Saya juga kemarin sudah bernegosiasi dengan pemiliknya dan berjanji hari ini akan bertemu," ucapnya lagi.
"Bagus, Pak Saad memang selalu bisa diandalkan," seru Aiman.
"Terima kasih Tuan."
Mobil Aiman mulai memasuki kawasan Perkampungan Bahagia yang merupakan kampung tempat tinggal Indi.
Aiman berhenti tepat di depan rumah Indi, dan memang rumah yang akan dijual itu berada didepan rumah Indi yang merupakan rumah Ibu Rafa.
"Aku kedalam dulu ya mau bantuin Indi dan Keisya," ucap Alex.
"Oh ok," sahut Azzam dengan tidak menoleh kearah Alex sedikitpun.
Sementara Fais dia sibuk mengotak-ngatik Ponselnya, Azzam menghela nafasnya dalam-dalam dan membuangnya sedikit kasar. Pandangannya masih kosong entah apa yang sedang dipikirkan oleh Azzam.
Aiman dan Joe turun dari mobilnya, Aimana menoleh kearah rumah Indi dan melihat Azzam yang sedang termenung disana.
"Bukankah itu laki-laki yang waktu itu datang ke toko buku dan ngobrol bersama wanita cantik itu," batin Aiman.
"Ayo Im kita masuk," seru Joe.
"Ah iya."
Aiman masuk kedalam rumah itu mengikuti Joe, tapi matanya tetap saja mengarah kepada Azzam, ada getaran aneh kala melihat Azzam dan Aiman tidak tahu perasaan apa itu.
"Selamat pagi Tuan Aiman dan Tuan Joe," sapa Ibu Rafa.
"Selamat pagi," seru Aiman sembari menjabat tangan Ibu Rafa dan bergantian dengan Joe.
"Silahkan duduk Tuan."
"Oh iya terima kasih."
Ibu Rafa mengambilkan minuman untuk tamu-tamunya itu.
"Silahkan Tuan diminum," ucap Ibu Rafa dengan ramahnya.
"Terima kasih, maaf Bu kemarin anak buah saya sudah kesini dan bernegosiasi dengan Ibu, dan saya sudah menyetujuinya ini cek pembayarannya saya suka dengan rumah ini," seru Aiman dengan menyodorkan sebuah kertas kepada Ibu Rafa.
"Oh iya terima kasih Tuan, semoga Tuan betah disini jangan khawatir Tuan masyarakat di Kampung ini semuanya ramah-ramah kok jadi Tuan-tuan tidak usah khawatir," ucap Ibu Rafa.
"Bu, bolehkah saya melihat-lihat dulu rumahnya?" tanya Joe.
"Oh silahkan Tuan, Yanto tolong antar Tuan Joe berkeliling rumah," suruh Ibu Rafa kepada orang kepercayaannya.
"Baik Bu, mari Tuan saya temani Tuan berkeliling."
Joe pun dan Yanto berkeliling melihat-lihat rumah, sementara Aiman masih duduk bersama Ibu Rafa.
"Bu, boleh saya bertanya?" tanya Aiman.
"Oh boleh, Tuan mau menanyakan apa?"
"Maaf, kalau boleh tahu laki-laki yang ada dirumah sebrang itu siapa?" tanya Aiman.
"Oh itu, itu Bang Azzam tukang jualan keliling di Kampung ini."
"Apa itu rumahnya?" tanya Aiman kembali.
"Bukan, itu rumahnya Indi mungkin dia sedang bertamu soalnya tadi saya lihat banyak orang disana."
"Oh."
Tidak tahu kenapa, Aiman ingin terus melihat Azzam ada getaran-getaran aneh yang dia rasakan didalam hatinya.
"Ada apa denganku? kenapa perasaanku seperti ini? dan kenapa disaat melihat laki-laki itu rasanya ingin sekali memeluknya," batin Aiman.
"Woi lagi ngelihatin apaan?" tanya Joe dengan menepuk pundak Aiman.
"Ah tidak ada apa-apa, oh iya bagaimana aman kan dengan kondisi rumahnya?" tanya Aiman mengalihkan pembicaraan.
"Aman, kondisi rumah ini sangat bagus tidak ada kerusakan sama sekali."
"Baiklah Bu, kami akan pindah ke rumah ini sore ini juga."
"Silahkan Tuan Aiman, dan ini kunci rumahnya terima kasih Tuan semoga Tuan-tuan sekalian betah dan kalau ada yang tidak dimengerti Tuan bisa minta tolong kepada Indi pemilik rumah seberang, Indi anak yang sangat ramah dan yang disebelahnya itu rumah Pak RW jadi Tuan sudah mulai bisa laporan dulu kepada Pak RW," jelas Bu Rafa.
"Oh iya, terima kasih Bu atas informasinya."
"Sama-sama Tuan, kalau begitu kami permisi dulu, ayo Yanto."
Bu Rafa dan Yanto pun pergi meninggalkan rumah itu.
"Bang Azzam, lagi ngapain jangan melamun nanti kesambet lho," teriak Bu Rafa.
"Eh Bu Rafa, enggak kok Bu sebenarnya aku sedang memikirkan Ibu Rafa sudah lama tidak melihat dan beli dagangan saya," seru Azzam yang langsung berdiri menghampiri Bu Rafa.
"Ah Bang Azzam bisa saja, maaf Bang saya mau pindah rumah soalnya suami saya dipindahkan kerjanya ke Bandung jadi saya harus ikut pindah deh," sahut Bu Rafa.
"Yah berarti saya tidak akan melihat lagi senyuman indah Bu Rafa dong," goda Azzam.
"Ishh..ishh..ishh..Bang Azzam ini bisanya hanya menggoda saja."
"Oh iya, terus rumahnya bagaimana Bu Rafa?" tanya Azzam.
"Saya sudah menjualnya, tuh Pemilik yang baru sudah ada didalam mereka Pengusaha muda dari Malaysia lho Bang," bisik Bu Rafa sembari mencondongkan tubuhnya kearah Azzam.
"Busyet, jauh amat Bu ketemu dimana sama Upin Ipin?" seru Azzam.
"Hus jangan keras-keras ngomongnya nanti kedengaran sama mereka, kemarin anak buahnya datang kerumah soalnya kan dia melihat ada plang dengan tulisan rumah ini dijual, makannya dia langsung melihat dan bernegosiasi dan kita langsung deal," jelas Bu Rafa.
"Oh begitu ya, ya sudah kalau begitu Bu Rafa hati-hati dijalan, sehat selalu, dan selamat sampai tujuan."
"Amin, terima kasih Bang Azzam yang tampan kalau begitu saya pamit dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Azzam.
Bu Rafa pun segera masuk kedalam mobilnya, sementara Aiman yang dari tadi berdiri didepan pintu memperhatikan Bu Rafa dan Azzam yang sedang berbincang-bincang.
Azzam pun hendak membalikan badannya untuk kembali keteras rumah Indi, tapi langkahnya terhenti dan Azzam langsung menoleh kearah rumah Bu Rafa yang katanya sudah dijual.
Seketika tatapan Azzam bertemu dengan Aiman yang saat ini sedang menatap Azzam, sejenak mereka saling pandang satu sama lain hingga akhirnya panggilan Fais menyadarkan Azzam.
"Zam, kamu ngapain berdiri disitu?" tanya Fais.
"Ah tidak apa-apa Is," sahut Azzam dan langsung menghampiri Fais.
"Kenapa sih dimana-mana penggemar kamu kebanyakan emak-emak rempong? enggak ada apa sekali-kali anak perawan gitu?" seru Fais.
"Hai Fais, anak perawan juga banyak yang ngefans sama aku cuma ga tahu kenapa yang lebih menonjol justru emak-emak, apa mungkin auraku hanya untuk membuat hati emak-emak klepek-klepek," sahut Azzam dengan pura-pura berpikir.
Fais hanya mengangkat bahunya, dia terlalu pusing memikirkan tingkah sahabatnya itu. Azzam kembali melihat kearah rumah Bu Rafa dan ternyata Aiman sudah masuk kedalam rumah.
"Kenapa dengan perasaanku? kok aku merasa kenal sama orang itu, tapi mana mungkin aku kenal sama dia orang aku di Indonesia dia di Malaysia, ada-ada aja kadang-kadang otakku suka ga beres kalau lagi galau," batin Azzam dengan memukul-mukul kecil kepalanya.
Sedangkan didalam rumah, Alex berusaha mendekatkan diri kepada Indi. Alex sudah terlalu lama memendam perasaannya dan sepertinya Alex harus segera meresmikan hubungannya dengan Indi.
"Indi, apa besok sepulang kerja kamu ada waktu ga?" tanya Alex.
"Memangnya kenapa Bang?"
"Ah, hmm...besok sepulang kerja, Abang mau ajak Indi kesuatu tempat dulu ada sesuatu yang ingin Abang katakan kepada indi," seru Alex.
Keisya yang mendengar percakapan antara Alex dan Indi hanya diam saja, sudah dipastikan kalau besok Alex akan menyatakan cinta kepada Indi.
"Kenapa ga sekarang aja Bang? memangnya Abang mau ngomong apa?" tanya Indi.
"Besok aja, pulang kerja Abang akan bawa kamu kesuatu tempat soalnya Abang hanya ingin ngobrol berdua sama kamu."
"Oh, baiklah," jawab Indi dengan senyumannya.
Indi memamg tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Alex, Indi juga tidak berpikir macam-macam. Azzam yang hendak menemui Indi karena ingin berpamitan pulang, tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mendengar percakapan antara Alex dan Indi.
Senyuman tipis tampak terlihat diwajah tampan Azzam, dengan langkah pasti Azzam menghampiri Indi didapur.
"Umi, Abi pulang dulu ya mau beres-beres buat jualan besok, terima kasih masakan Umi sangat enak dan Abi tidak akan penasaran lagi ingin mencoba masakan kamu," seru Azzam.
"Ih Abi apaan sih kaya sama siapa aja, kalau Abi pengen dimasakin sama Indi, datang aja kesini pasti Indi bakalan masakin buat Abi," sahut Indi dengan senyuman manisnya.
"Benarkah? asyik, Abi akan sering-sering kesini buat memcicipi masakan kamu. Ya sudah kalau begitu Abi pulang dulu ya, jangan lupa besok belanja sayuran ke Abi."
"Ok siap, Abi hati-hati ya."
"Sip..Alex, Kei aku duluan, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab semuanya serempak.
"Ndi, aku juga kayanya mau pulang juga ya soalnya aku ada keperluan penting," dusta Keisya.
"Lho kok pada pulang semua sih? kalau begitu Abang juga harus pulang juga dong walaupun Abang masih betah sih disini tapi Abang ga mau sampai digerebek sama Pak RW," seru Alex.
"Memangnya kita bakal ngelakuin apa Bang sampai digerebek segala?" tanya Indi.
"Ya enggak ngelakuin apa-apa sih, ya sudahlah Abang juga mending pulang juga."
Indi pun mengantar Alex dan Keisya sampai kedepan pintu.
"Indi, kita pulang dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikimsalam."
Alex dan Keisya pun akhirnya meninggalkan rumah Indi, Keisya dengan naik motornya sementara Alex berjalan kaki karena rumah Alex memang terhalang oleh beberapa rumah dari rumah Indi.
Disaat Indi ingin menutup pintu, Indi melihat sebuah mobil sedan hitam mewah terparkir didepan rumah Indi.
" Mobil siapa tuh, sepertinya aku pernah lihat mobil itu tapi dimana ya?" batin Indi.
Karena Indi lupa, Indi pun tak ambil pusing dia kembali masuk kedalam rumahnya. Matanya agak sedikit berat dan mengantuk.
Waktu pun berjalan dengan cepat, waktu sudah menunjukan pukul 16.00 sore dan Indi masih terlelap tidur sedangkan Bu Ninik sudah pulang satu jam yang lalu dan saat ini sedang tiduran sembari nonton tv.
Tiba-tiba diluar, terdengar suara mobil mengangkut barang-barang seperti lemari, tempat tidur, bermacam alat elektronik seperti kulkas, mesin cuci, televisi dan semuanya merupakan barang-barang baru.
"Oh ternyata ada tetangga baru," gumam Ibu Ninik yang mengintip dari kaca rumahnya.
Ibu Ninik kembali merebahkan tubuhnya, sementara itu Indi tampak meregangkan tubuhnya karena merasa bising dengan orang-orang yang mengangkut barang.
"Ada apa sih, kok diluar rame banget," gumam Indi dengan suara serak khas bangun tidur.
Perlahan Indi pun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar.
"Lho, Ibu sudah pulang?" tanya Indi.
"Sudah dari satu jam yang lalu Nak."
"Diluar ada apa sih Bu, kok bising banget?" tanya Indi.
"Kayanya ada tetangga baru Nak."
"Tetangga baru, siapa Bu?" tanya Indi.
"Ibu juga belum tahu Nak, soalnya Ibu belum lihat siapa tetangga baru kita."
"Oh, ya sudah Indi mandi dulu ya Bu."
Indi pun berlalu dan memilih untuk membersihkan dirinya, dia tidak terlalu perduli sama tetangga baru toh cepat atau lambat nanti juga bakalan tahu.
Setelah selesai mandi dan shalat, Indi pun menghampiri Ibunya dan bergabung dengan Ibunya untuk menonton tv. Tapi tiba-tiba saja terjadi kebisingan diluar rumah Indi.
"Ada apa lagi sih, sepertinya dari tadi berisik banget," kesal Indi.
Indi pun beranjak dari duduknya dan mengintip dari kaca rumahnya, betapa terkejutnya Indi saat melihat banyak Ibu-ibu sedang berkerumun didepan rumah Pak RW sembari teriak-teriak.
"Astagfirullah, ada apa itu?"
"Ada apa Nak?" tanya Ibu Ninik.
"Itu Bu, banyak Ibu-ibu berkerumun didepan rumah Pak RW ada apa ya?" sahut Indi.
Ibu Ninik pun ikut mengintip...
"Astaga, mereka sedang apa disana?"
Ibu Ninik pun keluar dari rumahnya karena merasa penasaran dan disusul oleh Indi yang ikut penasaran sebenarnya apa yang sudah terjadi.
"Maaf Ibu-ibu ada apa ya kok semuanya berkerumun di depan rumah Pak RW?" tanya Bu Ninik.
"Ya ampun Bu Ninik tidak tahu ya kalau di Kampung kita ini ada warga baru? tuh yang sudah membeli rumahnya Bu Rafa," sahut Bu Weni dengan antusiasnya.
"Saya sudah tahu Bu Weni, tapi maksud saya apa hubungannya warga baru sama kalian yang berkerumun didepan rumah Pak RW seperti ini?" tanya Bu Ninik kembali.
"Bu Ninik, warga baru di Kampung kita itu cakep-cakep lho Bu masih muda dan dengar-dengar mereka itu berasal dari Malaysia lho Bu, makannya kami kesini ingin memastikan apa benar yang dikatakan Bu Weni tadi," sahut Bu Ema.
"Astaga, dasar Ibu-ibu genit," bisik Indi.
"Hus, jangan bicara seperti itu nanti kedengaran sama mereka," sahut Bu Ninik dengan berbisik juga.
"Ya sudah deh, Indi masuk kedalam dulu mendingan baca Novel online daripada ikut-ikutan Kepo kaya Ibu-ibu itu," ucap Indi.
Tapi baru saja Indi membalikan badannya hendak melangkah, tiba-tiba Ibu-ibu itu berteriak histeris membuat Indi menghentikan langkahnya dan kembali membalikan badannya.
Dari dalam rumah Pak RW, tampak Rara dan Bu Samsy menggandeng lengan Aiman dan Joe yang membuat kedua pria tampan itu merasa risih. Disaat Aiman dan Joe hendak melepaskan tangan mereka, Anak dan Ibu itu justru malah kecentilan dan malah mengeratkan pegangannya di lengan merek berdua.
"Lho itu kan Mas galak sama Mas tampan yang alergi bunga," teriak Indi.
Semua mata langsung menoleh kearah Indi, tak terkecuali Ibunya sendiri, Indi refleks menutup mulutnya dengan tangannya.
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Hallo Reader-readerku tercinta, kembali lagi nih dengan Author yang kece badai, ayo mana dukungannya yang banyak ya untuk Author biar tambah semangat lagi🙏🙏😘😘
Jangan lupa
like
vote dan hadiah
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU ALL💜💜💜
thor..aku penasaran ni,si azzam manggil indi 'buna',apa arti nya?...
tapi sayang ya yg menjadi tokoh Azzam dibuat meninggal saya jadi engk rela karena dia belum lama jumpa keluarga kandungnya