Tidur Pangeran Rayyan Muhannad Arnauth tak akan pernah nyenyak jika ia tak bisa mendapatkan seorang wanita yang menghantui mimpinya tiap malam. Bagaimanapun caranya ia harus bisa menjadikan wanita itu sebagai salah satu selirnya.
Selir? Bilqist sangat membenci status itu. Dia merasa tak jauh beda dengan wanita simpanan yang tak mempunyai status dan dihargai hanya bila tubuhnya mampu menjadi pemuas napsu sang pangeran.
Sampai tulang belulangnya mengering di gurun pasir pun Bilqist rela. Asalkan dia tidak akan pernah menjadi selir Rayyan Muhannad Arnauth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Militer vs Medis
Jangan lupa untuk naruh jempol dan komen ya Friends. Biar cerita ini tersundul ke atas 😊❤️✌️
Bilqist dan kedua temannya menyempatkan diri untuk makan sebelum melakukan operasi. Bilqist dan An sering melewatkan jam makan kalau sedang melaksanakan tugasnya. Memang itu buruk bagi kesehatan, tapi kadang tugas lebih utama. Mungkin hanya karena kemurahan hati Tuhan-lah Bilqist tetap sehat sampai saat ini.
Makanan yang terhidang di hadapan mereka saat ini adalah pemberian dari keluarga pasien. Mereka memang hidup di bawah garis kemiskinan, tapi di desa itu mereka sebisa mungkin untuk bercocok tanam sehingga bisa tetap mempunyai bahan makanan meskipun tidak banyak.
Bilqist juga sempat mengganti bajunya yang kotor dengan pemberian dari ibunya Abbas. Mereka akan melakukan operasi, jadi Bilqist tak ingin bajunya yang kotor akan mempengaruhi keberhasilan operasi ini.
Abbas menceritakan kalau dia membawa ayah dan ibunya ke desa ini sebelum blokade total dijalankan pemerintah. Dia memang perawat yang digaji pemerintah, tapi kepercayaan atas kebijakan mereka perlahan terkikis oleh tindakan mereka yang semakin tidak masuk akal. Sebelum kotanya diblokade, dua kota lain sudah menjadi korban. Menurut kabar yang beredar, kota yang diblokade penduduknya sangat menderita. Mereka tidak bisa bekerja bahkan bahan makanan pun menunggu dari pemerintah. Mereka bahkan menyembelih kucing karena tak ada lagi yang bisa dimakan. Banyak yang tewas karena kelaparan. Jadi saat berita itu bocor, Abbas segera merencanakan pelarian mereka.
Dia pernah sekolah keperawatan ke Mesir beberapa tahun. Ada beberapa dokter spesialis asing yang bekerja di rumah sakit tempat dia praktek. Juga banyak tenaga kerja asing yang menjadi pasien di rumah sakit itu. Abbas berusaha mempelajari sedikit bahasa Inggris agar bisa berkomunikasi dengan mereka. Itulah kenapa dia bisa berbahasa Inggris meskipun sedikit. Dia masih sangat muda dan ingin melihat negara Nu’mani kembali aman dan damai.
Andrew mengelus punggung Abbas untuk menenangkannya.
“Tolong nyalakan ponselku,” pinta Bilqist pada Ahmad yang tampak masih mengumpulkan tenaga setelah darahnya diambil untuk didonorkan. “Aku hanya berusaha untuk mengirimkan pesan-pesan yang kuketik sebelumnya. Kamu bisa lihat nanti isi pesannya.
Aku hanya punya waktu sekali dalam seminggu untuk menghubungi keluargaku. Aku tidak ingin mereka khawatir,” lanjutnya dengan wajah memelas.
Bilqist berusaha sekali lagi untuk meluluhkan hati Ahmad sebelum ia mulai melakukan operasi. Ahmad dan Bilqist bersitatap. Detik-detik berlalu dan Bilqist semakin tak yakin usahanya akan berhasil. Sampai akhirnya Andrew dan Abbas datang kepadanya.
“Semua sudah siap, Dok. Ruangan sudah disterilkan,” lapor Andrew.
Bilqist menghela napas lemah. “Baik, kita lakukan sekarang.” Bilqist kemudian berbalik dan memunggungi Ahmad. Bahunya tampak merosot dan dia melakukan gerakan seperti mengusap pipinya. “Katakan pada Bu Mina agar tak berhenti berdoa selama kita melakukan operasi ini,” ujar Bilqist kepada Abbas. Suara Bilqist terdengar sengau. Abbas segera menghampiri Bu Mina dan memintanya persis seperti yang Bilqist katakan. Bilqist memang dokter yang lihai. Keberhasilan operasi ini prosentasenya sangat tinggi, tapi Bilqist tak pernah sombong. Dalam hatinya semua bisa lancar karena ijin Yang Maha Kuasa.
Operasi ini akan mudah jika mereka melakukannya di fasilitas kesehatan yang memadai. Tapi yang mereka lakukan sekarang adalah di sebuah bangunan yang tak utuh dengan alat seadanya. Bahkan mereka hanya bisa melakukan bius lokal untuk melakukan operasi ini. Bilqist meminta Abbas tak menjelaskan secara detail bagaimana mereka melakukan operasi ini agar istri pasien tidak panik. Jika di rumah sakit biasanya mereka akan melakukan bius total agar pasien tidur, tapi mereka tak bisa melakukannya di sini.
“Aku akan menyalakan ponsel kalian. Tapi aku tidak yakin kalau di sini bisa menangkap sinyal dengan baik,” kata Ahmad saat Bilqist akan meninggalkannya. Rupanya hatinya luluh juga.
Bilqist menoleh padanya dan berterima kasih. Bibirnya membuat senyuman kecil. “Doakan operasi ini berhasil,” katanya pada Ahmad.
“Ya. Semoga Allah memudahkan,” jawab Ahmad.
“Yaa Hayyu yaa Qayyum, birohmatika astagitsu, aslihli sya'ni kullahu walaa taqilni illa nafsi thorfata ‘ain, aamiin,” bisik Bilqist dalam doanya.
Abbas dan Andrew melakukan persiapan lebih dulu. Memakaikan kain berwarna biru muda pada Pak Yahya dan membungkus rambutnya dengan hairnet steril.
Kemudian mereka mendorong ranjangnya ke tempat yang disediakan. Ruangan itu tadinya adalah ruangan yang dipakai oleh ibu bersalin. Andrew dan Abbas melakukan persiapan sedangkan Bilqist membersihkan kedua tangannya. Dia menggosok jemarinya dengan kuat. Memastikan setiap jengkal kulitnya tersabuni dengan baik. Juga kuku-kukunya yang selalu dipotong pendek itu juga harus digosok. Setelah Bilqist yakin tangannya bersih, Andrew memakaikan sarung tangan dan gaun operasi berwarna biru muda untuknya.
Semua sudah siap. Bilqist minta Abbas untuk mengajak Pak Yahya bicara selama dia menyuntikkan obat bius pada area pangkal pahanya. Area yang akan disayat untuk memperbaiki letak ususnya. Biar Pak Yahya tetap rilex dan tak terasa kesakitan sewaktu Bilqist melakukannya.
Setelah beberapa suntikan obat bius masuk, Bilqist menekan-nekan beberapa titik di sekitarnya dan menanyakan apa Pak Yahya bisa merasakan jarinya. “Laa,” jawab Pak Yahya.
“Di sini?” Bilqist menekan di titik lainnya.
“Laa,” yang berarti tidak. Bilqist yakin kalau mereka sudah siap.
Bilqist mengambil pisau dan mulai membuat sayatan selebar tiga inci. Kemudian saat itulah keributan terjadi.
Sekelompok tentara berpakaian serba hitam menerobos masuk. Ahmad yang waktu itu masih merasakan pusing mengambil senjatanya yang dia letakkan berdiri di samping ranjang. Tapi dia kalah cepat, seorang tentara mendodongkan senjata pada kepalanya.
“Jangan bergerak!”
Ahmad lalu mengangkat kedua tangannya. Seorang yang sepertinya pemimpin mereka amendekat dan menanyakan sebuah nama. “Di mana Yahya?”
Saat itulah Ahmad mengetahui kalau mereka bukanlah tentara Nu'mani. Dari badge bendera yang terpasang di bahu seragam tentara itu, Ahmad bisa melihat kalau mereka tentara Julunda.
Ahmad kemudian menggerakkan pandangannya ke sekitar ruangan. Semua yang ada di sana tampak ketakutan. Mereka merunduk, bahu mereka bergetar. Ahmad berpikir cepat. Tidak mungkin dia akan mengorbankan keselamatan warganya demi satu orang saja. Yang dicari tentara Julunda hanya Yahya, kemungkinan dia adalah buronan negara itu.
“Sebelum aku mengatakannya, bisakah kamu berjanji padaku?”
“Apa maksudmu! Ini bukan negosiasi. Cepat katakan atau aku akan menembakmu!” bentak tentara di hadapan Ahmad.
“Aku tidak ingin kamu membunuh orang yang tak berdosa. Berjanjilah kalau kau tak buru-buru menembak.”
“Baik,” kata Sa’id kemudian. Ia hanya ingin misi ini cepat selesai.
“Jangan melakukan tindakan buru-buru sebelum aku menyelesaikan ceritaku.”
Ahmad benar-benar membuat kesabaran Sa’id semakin menipis. Tujuan Ahmad sebenarnya adalah mengulur waktu agar dokter Bilqist bisa menyelesaikan pekerjaannya sebelum tentara itu menyerbu.
“Yahya sedang sakit. Dia tidak akan bisa lari, jadi kalian tak perlu khawatir kalau ia akan kabur dari tempat ini.”
“Katakan di mana dia sekarang!”
“Dia sedang berada di ruang operasi.” Sa’id hendak berbalik dan meninggalkan Ahmad untuk mencari ruang operasi, tapi suara Ahmad menghentikannya. “Tunggu!”
Sa’id menoleh padanya. “Tolong jangan sakiti dokter dan para perawat, mereka tidak bersalah apapun.”
----------
Biasanya doa ini dibaca setiap pagi dan petang. Pagi setelah shalat shubuh dan petang setelah shalat ashar atau sebelum Maghrib.
Buat yang muslim silakan dihafal karena sangat bermanfaat 😊