NovelToon NovelToon
The File Of B

The File Of B

Status: tamat
Genre:Teen / Misteri / Pembunuhan / Detektif / Eksplorasi-detektif / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:447.8k
Nilai: 5
Nama Author: Robin.Y

VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)

Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.

Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.

Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

File 10 : Mencairkan Hati Pangeran Es

Terimakasih untuk hari ini Kak, tadi sangat menyenangkan!" Ucap Billie sambil tersenyum kikuk saat berdiri di depan pintu kamar asramanya. Beruntung kamarnya dengan Joshua beda lantai. Billie sedikit merasa lega karena akhirnya misi kencan hari ini selesai juga.

"Tidak masalah, Billie... Kakak juga senang menemanimu seharian ini..." Joshua membalas dengan senyuman khasnya.

"Ngomong-ngomong, Kau tidak mau mengundangku masuk?"

"Eeh? Ma-masuk kemana?"

"Iya, melihat-lihat isi kamarmu..." Jawab Joshua dengan santainya. Senyuman lebar penuh percaya diri masih belum meninggalkan wajahnya.

"Deg!" Entah kenapa pertanyaan Joshua membuat Billie mendadak salah tingkah. "Apa maksudnya dia ingin masuk ke kamar ku? Kencannya sudah selesai kan? Apa lagi yang dia inginkan? Apa dia berniat melakukan 'itu' denganku?" Pertanyaan bertubi-tubi dan pikiran kotor muncul di kepala Billie.

"Kau harus jual mahal! Jangan sampai kau mau diajak melakukan 'itu' di kencan pertama!" Kata-kata Ken tempo lalu tiba-tiba terngiang kembali di telinganya. Billie menggigit bibir memutar otaknya keras, berusaha mencari kalimat penolakan yang tepat. Tapi sebelum dia sempat membuka mulut, suara langkah kaki tiba-tiba datang menginterupsi.

"Tap...tap... tap..."

Seorang pria dengan rambut panjang sebahu, dengan acuhnya berjalan melewati Billie dan Joshua. Ekspresi wajahnya begitu datar tak peduli dengan tatapan dua orang yang keheranan melihatnya.

"Kak Ice?? Tumben kau sudah pulang?!" Sambut Billie ramah berusaha mendapatkan perhatiannya. Namun seperti diduga tidak ada respon dari pemuda itu. Tanpa menoleh sedikit pun Ice malah langsung membuka kunci pintu kamar dan melangkah masuk ke dalamnya.

"Yaah! Kak Ice! Tunggu aku! Jangan dikunci!" Panggil Billie sambil spontan mengikuti pemuda gondrong itu, namun kemudian langkahnya terhenti karena Joshua dengan sigap menarik lengannya.

"I-ICE? B-billie, tunggu dulu! Apa kau sekamar dengannya?" Tanya Joshua. Perasaannya antara kaget dan tak percaya saat Billie hendak masuk ke dalam kamar milik Ice.

"Hehe iya!" Cengir Billie sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Ke-kenapa kau tidak bilang sejak awal, Billie?!"

"Ummh.. ceritanya panjang! Lain kali aku ceritakan, pokoknya selamat malam! Sampai ketemu lagi nanti di sekolah ya, Kak Josh! Bye!"

"Ta-tapi!" Joshua masih ingin bicara tapi jantungnya serasa copot dan hatinya hanya bisa mencelos saat pintu kamar Billie sudah ditutup tepat di hadapan wajahnya.

"Ugh! Sial! Aku bahkan belum sempat mendapat kecupannya!" Gerutu Joshua dalam hati. Dia mengacak rambutnya kesal. Baru kali ini dia berkencan tanpa melakukan kontak fisik seperti ciuman bahkan berpegangan tangan sekalipun. Dia merasa semuanya tadi itu bukan kencan melainkan mengajak anak kecil jalan-jalan. Tapi Joshua tak bisa menyalahkan Billie sepenuhnya karena bagaimanapun juniornya itu terlihat masih polos.

***

Di dalam Kamar

"Kak Ice! Kau darimana saja seharian ini?" Dengan nada riang Billie memulai percakapan. Dia mendaratkan bokongnya di kasur, memijat kakinya yang pegal karena habis berjalan seharian. Lagi-lagi respon yang Billie dapatkan hanya kesunyian. Ice duduk di kursi depan meja belajarnya, menyalakan laptopnya tanpa bicara sepatah katapun.

"Hei, Kak! Aku bawa Pizza yang dibelikan Kak Josh tadi, peperoni double cheese masih hangat... apa Kakak mau?" Belum putus asa Billie berusaha sok akrab dan terus mengajak Ice bicara.

Billie mengambil satu slice pizza dari kotaknya dan meletakkan sisanya di atas meja belajar Ice, tepat di samping laptopnya. Untuk beberapa saat dengan perasaan harap cemas Billie menunggu reaksi pemuda ini terhadap makanan, namun sekali lagi Billie hanya diacuhkan. Billie sepertinya terlalu menganggap enteng, pria ini tidak bisa dirayu dengan makanan.

"Kalau kau ingin melakukannya dengan pacarmu, bilang saja padaku biar aku tidak perlu pulang!" Celetuk Ice tiba-tiba. Suaranya yang sedingin es membuat suasana ruangan jadi kaku.

"Mmh, yeah?! Melakukan apa?" Tanya Billie tak mengerti. Mulutnya belepotan penuh pizza, dengan cueknya dia menyunyah hingga lelehan keju mozarella yang dipegangnya jatuh ke keyboard milik Ice.

"Ups! Hehe maaf!" Cengir Billie tanpa merasa bersalah. Dari situ Billie bisa lihat perubahan ekspresi Ice yang semula selalu datar berubah menjadi sebal.

"Dilihat dari sifatmu yang jorok, lain kali jika kau ingin melakukannya buanglah ****** pada tempatnya. Dan bersihkan ruangan jika kau sudah selesai... aku tidak mau melihat ada kotoran yang berceceran di kamar ini!" Ujar Ice dengan tatapan tajam.

"APA?! K-******?!" wajah Billie merah padam seperti kepiting rebus.

"Siapa yang berniat melakukannya!?! DASAR OTAK MESUM! BRENGSEK! SIALAN!" Teriak Billie penuh kekesalan sebelum berlari mengurung diri di kamar mandi.

"BLAAAM!"

Suara pintu kamar mandi yang dibanting membuat Ice tersentak dari tempat duduknya. Tapi detik kemudian dia mendengus tertawa, tak sanggup lagi mempertahankan ekspresi datar dan dingin wajahnya.

"Dengan sifat kekanakkan seperti itu. Apa kau benar-benar seorang detektif?" Komentar Ice dalam hati sambil menggelengkan kepala.

...----------------...

Di dalam kamar mandi

"Huh! Brengsek! Menyebalkaan! Apa yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata yang menyebalkan saja, huh? Kenapa semua laki-laki itu berotak mesum!?! Dasar sialaan!" Billie menggosok giginya sambil tak henti berkomat-kamit.

Billie sadar satu minggu sudah berlalu, tapi tetap belum ada kemajuan komunikasi di antara dirinya dengan teman sekamarnya itu. Berbicara dengan Ice seperti bicara dengan tembok. Billie dibuat frustrasi oleh sikapnya. Tapi bukan Billie namanya jika dia mudah menyerah, dia tidak ingin mengecewakan Ayahnya yang sudah mempercayakannya dengan misi ini. Billie masih ingat Ayahnya yang over protektif itu awalnya sangat tidak setuju dengan ide ini, Billie lah yang merengek dan memohon padanya untuk diikutsertakan agar terlibat dalam kasus ini. Lagipula setidaknya hari ini Ice pulang lebih awal, seharusnya Billie bisa memanfaatkan waktu ini untuk melakukan investigasi.

...----------------...

Kembali di kamar asrama

Suara merdu alunan gitar terdengar samar di dalam ruangan. Langkah Billie yang baru keluar dari kamar mandi terhenti, dirinya terpana melihat sosok pemuda berkuncir sedang bersenandung sambil memainkan gitarnya di balkon sana. Alunan melodi gitarnya terdengar begitu indah dan romantis. Billie tak menyangka pria itu memiliki suara yang merdu. Di luar hujan rintik turun membasahi bumi semakin menambah syahdu suasana.

"Ehm..." Billie berdehem. "Waah, keren sekali! Kak Ice ternyata kau jago main gitar!" Seruan Billie yang memujinya malah membuat permainan Ice terhenti. Dia menatap Billie dengan tatapan sebal, seperti yang terganggu oleh kehadirannya

"Aku juga bisa, loh! Bagaimana kalau kita main bersama! Tunggu disana ya Kak! Aku bawa gitarku dulu!"

Billie berlari dengan riang seperti yang baru saja menang lotre. Dia meloncati tempat tidurnya mengambil benda kesayangan yang memang sengaja dia bawa dari rumah.

"Uuh, dimana ya aku menyimpannya?" Gumam Billie, merutuki dirinya yang seringkali ceroboh dan pelupa jika menyimpan sesuatu.

"Aha! Ini dia!" Sorak Billie kegirangan setelah menemukan apa yang dicarinya, sebuah gitar kecil atau biasa disebut ukulele.

Senyuman lebar Billie dalam sekejap hilang setelah mengetahui pria itu sudah kembali dari balkon. Kini Ice malah tampak bersiap-siap untuk tidur. Dia sudah berbaring di kasur dan menarik selimutnya hingga menutupi leher. Satu tangannya meraih saklar untuk mematikan lampu mejanya. Billie yang melihat hanya berdiri termenung dengan ukulele di tangannya.

"WOOYYY! KAK! KAK ICE! Aku bilang kan dengar dulu permainanku?! Kenapa kau malah tidur?!" Panggil Billie dengan nada emosi. Tidak ada jawaban dari Ice tak membuat Billie hilang akal. Gadis itu sengaja duduk di kasur tepat di samping Ice yang memunggunginya. Billie yakin orang ini hanya pura-pura tidur saja.

"Kalau kau senang hati injak bumi!" 

"DUG! DUG! DUG!"

Billie dengan keusilannya sengaja memainkan ukulelenya dan bersenandung ria sambil berjingkrak di atas tempat tidur Ice. Untuk beberapa saat Ice tampak tidak bereaksi dia memilih untuk bergulung dibawah selimut. Melihat reaksi acuhnya itu Billie sengaja memperkeras volume suara nyanyiannya.

"Kalau kau senang hati menggonggonglah! GUK! GUK! GUK!" Billie sengaja menggonggong sangat keras di telinga Ice.

"Kalau kau senang hati ya memangnya begitu... kalau kau senang hati mengeonglah! MEOOOONG!!!"

"BERISIK! Dasar bocah! Kau belajar lagu itu dari mana, huh? Dari TK?!" Bentak Ice yang akhirnya hilang kesabarannya. Mendengar teriakan pria itu Billie tersentak kaget, baru kali ini melihat ekspresi lain pria ini selain wajah dingin dan datar. Aneh sepertinya suara eongan kucing lebih sangat menganggu Ice dibandingkan berisiknya gong-gongan anjing.

"Maaf... hehehe." Billie menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil memberi cengiran tanpa dosa.

Malam semakin larut, akhirnya Billie menyerah dengan usahanya menjalin komunikasi dengan Ice. Pria itu sangat tertutup dan tidak bisa diajak kompromi. Dia sangat berbeda dengan Joshua, Billie pikir mungkin lebih baik dirinya mengganti target untuk investigasi. Selain Ice, ada pemuda lain yang juga menggugah rasa penasarannya. Pikiran Billie melayang pada pria tinggi tampan nan arogan, Godfrey.

"Hhh... Semoga saja pria itu tidak menyulitkan seperti si gondrong ini!" Pikir Billie yang sudah kembali ke tempat tidurnya. Dia kemudian meringkuk dibalik selimutnya dan menghela nafas dalam sebeoum memejamkan mata. Hari ini lumayan melelahkan baginya dan otaknya terlalu lelah berpikir. Tidak lama akhirnya terlelap ke alam mimpi.

TBC

1
Akari Yukiya
berarti Billie cewe nih?
Akari Yukiya
gimana itu di cek nya 😭
Dwi Nuryani
Luar biasa
blueface
ceritanya keren, plotnya seperti yang rumit dan berat tapi pembawaannya ringan, cocok untuk bacaan remaja. setiap bab selalu bikin penasaran, plot twistnya juga tidak mudah ditebak.
Clara Safitri
sara kali pembunuhnya?
Clara Safitri
uhh. penasaran kali siapa sebenarnya pembunuhannya..huuu sara?godfre???ntahlah
Clara Safitri
jangan2 si sara. sara mau balas dendam..mungkin mayat gadis 13 tahun itu adiknya..lanjut thor
Clara Safitri
ice kali yang membunuh atau angelena. ahhh lanjut thor seru
Clara Safitri
lanjut thor
Derza Sister
Bagaimana dengan kelanjutan Thor...
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh
robin.y: makasih sudah mampir disini
total 1 replies
Nor Aida irliyanti
ceritanya bagus,penulisannya rapi,bagi yg suka cerita detektif, aku rekomen banget cerita ini
Nor Aida irliyanti: ada karya kamu yg lain kah??
total 2 replies
Nor Aida irliyanti
ceritanya baaaaguuuuus banget....kenapa aku baru Nemu cerita ini
robin.y: makasih udah mampir disini
total 1 replies
Diii
ternyata kakeknya yang berperan di eyes
Diii
yaaaaakkkkm kenapa ikut terjun
Diii
keren...selamat ya Thor....tetep semangat berkarya💪💪💪
Diii
hidup ice jadi penuh selidik dan hampa jadinya
Diii
eh mas es kenalan dong
Diii
keren abis deh....jempol top markotop
Diii
dia yang nyatain cinta...aku yg deg deg an
Diii
ternyata devian otak semuanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!