Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Malam hari.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Dylan meneguk segelas air putih di ruang kerja.
Ia meletakkan gelas itu di atas meja, lalu menutup layar laptopnya.
Dengan langkah tenang, ia keluar dari ruang kerja menuju koridor.
Saat melewati salah satu pintu kamar, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Tatapannya tertuju pada pintu kamar Viona.
“Mungkin dia sudah tidur,” gumamnya.
Dylan membuka pintu itu perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Ia melangkah masuk.
Tatapannya langsung mengarah ke ranjang.
Namun, ranjang itu kosong.
Dylan mengernyit, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar.
Beberapa detik kemudian, ia menemukan Viona sedang meringkuk di lantai dengan selimut tipis.
“Kenapa malah tidur di lantai? Apakah dia sudah terbiasa sehingga tidak bisa tidur di atas kasur?” gumam Dylan.
Ia berjalan mendekati gadis itu.
Wajah Viona terlihat pucat dan lelah. Bahkan saat tertidur, dahinya masih sedikit berkerut.
Dylan terdiam cukup lama menatap wajah itu.
“Masih kecil sudah dijual oleh orang tuanya. Setelah menjadi pembantu yang bekerja tanpa upah, dia juga diperlakukan seperti hewan. Delvin, kau benar-benar manusia berhati iblis,” batin Dylan.
Ia menghela napas pelan.
Dengan sangat hati-hati, Dylan membungkuk lalu menggendong tubuh Viona.
Tubuh gadis itu terasa begitu ringan hingga membuat hatinya semakin sesak.
Perlahan, ia membaringkan Viona di atas ranjang.
Kemudian ia menarik selimut dan menyelimuti tubuh gadis itu hingga sebatas dada.
Viona sedikit bergerak dalam tidurnya, tetapi tidak terbangun.
Dylan mengulurkan tangan, lalu dengan lembut merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah gadis itu.
“Viona Lin, aku tahu apa yang selama ini kau takutkan. Karena kau adalah penyelamatku, mulai hari ini aku yang akan bertanggung jawab atas hidupmu. Asalkan kau tetap setia berada di sisiku, aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu,” ucap Dylan lirih.
Keesokan harinya.
Viona perlahan membuka matanya.
Saat melihat langit-langit kamar, ia masih tampak mengantuk.
Namun beberapa detik kemudian, matanya langsung membelalak.
“Hah? Kenapa aku... tidur di atas kasur?”
Viona segera duduk dan mengingat-ingat kejadian semalam.
“Seingatku aku tidur di lantai. Kenapa bisa berpindah ke sini?”
Ia langsung turun dari ranjang dengan panik.
“Gawat! Kalau kasurnya sampai kotor, aku pasti dihukum lagi.”
Tanpa membuang waktu, Viona segera merapikan sprei, selimut, dan bantal hingga kembali rapi seperti semula.
Setelah memastikan tidak ada yang berantakan, ia membuka pintu kamar dan berjalan keluar.
Aroma masakan hangat langsung menyambutnya.
Di ruang makan, Bibi Ma sedang menata berbagai hidangan di atas meja.
Melihat Viona datang, wajah wanita paruh baya itu langsung dipenuhi senyum.
“Kau sudah bangun?”
“Iya, Bibi.”
“Kalau begitu cepat cuci tangan. Sarapan sudah siap.”
Viona mengangguk, tetapi langkahnya terhenti saat melihat meja makan.
Di atas meja terdapat dua jenis hidangan yang berbeda.
Satu meja berisi menu Barat, sedangkan di sisi lainnya terdapat bubur hangat, sup ayam, sayuran rebus, telur kukus, susu hangat, dan buah-buahan.
“Bibi... kenapa makanannya dipisah?” tanya Viona bingung.
Bibi Ma tersenyum.
“Itu perintah Tuan Muda. Dokter Fang bilang tubuhmu kekurangan gizi dan masih dalam masa pemulihan. Jadi Tuan Muda meminta koki menyiapkan menu khusus untukmu.”
Viona langsung tertegun.
“Untuk... aku?”
“Iya. Beliau juga berpesan, mulai hari ini kau harus menghabiskan semuanya.”
Viona menatap makanan di hadapannya dengan mata yang mulai memerah.
Selama enam belas tahun tinggal di keluarga Jiang...
Ini adalah pertama kalinya...
Ada seseorang yang secara khusus menyiapkan makanan untuknya.
"Makanannya terlalu mewah," gumam Viona.
Tiga hari kemudian.
Tiba-tiba...
Ding dong...
Viona yang sedang membantu Bibi Ma di dapur langsung berjalan menuju pintu depan.
Saat pintu dibuka, seorang wanita cantik dengan penampilan anggun berdiri di luar.
Ia mengenakan gaun putih elegan, rambut panjangnya tergerai rapi, sementara di tangannya tergenggam sebuah tas bermerek.
Tatapannya langsung tertuju pada Viona.
“Kau siapa?” tanyanya dengan nada datar.
Viona sedikit membungkuk.
“Saya Viona, pelayan baru di rumah ini.”
Wanita itu mengamati Viona dari ujung kepala hingga kaki sebelum kembali bertanya,
“Di mana Dylan?”
“Tuan Muda sedang pergi ke luar kota,” jawab Viona jujur.
“Kalau begitu aku akan menunggunya di dalam.”
Tanpa meminta izin, wanita itu langsung melangkah masuk ke dalam mansion seolah rumah itu adalah miliknya sendiri.
“Saya akan ambilkan minuman,” ucap Viona dengan sopan.
Beberapa saat kemudian, ia kembali membawa segelas teh hangat dan meletakkannya di atas meja di depan wanita itu.
“Silakan, Nona.”
Clara hanya melirik sekilas tanpa mengucapkan terima kasih.
Beberapa saat kemudian, ia bangkit dari sofa dan melangkah menuju koridor.
“Nona, maaf,” ucap Bibi Ma sambil menghentikan langkahnya. “Tuan Muda berpesan tidak seorang pun boleh masuk ke ruang pribadinya tanpa izin.”
Clara langsung menatap Bibi Ma dengan wajah dingin.
“Hanya seorang pelayan rendahan, berani menghalangiku?” sindirnya. “Aku adalah calon istri Dylan. Setelah kami menikah, orang pertama yang akan kupecat adalah kau.”
Viona kemudian melangkah maju dan berdiri di depan Clara.
“Nona, walaupun begitu, sebaiknya Anda menghubungi Tuan Muda terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar beliau,” ucapnya dengan sopan.
Clara mendengus pelan.
“Majikanmu adalah calon suamiku. Artinya, kalian juga pelayanku.”
Tatapannya beralih kepada Viona.
“Pergi siapkan air panas. Aku ingin mandi. Setelah itu, siapkan makan malam untukku.”
Viona tidak langsung bergerak.
Ia justru bertanya dengan hati-hati.
“Maaf, Nona... apakah sebelumnya Anda pernah datang ke rumah ini?”
“Tentu saja pernah,” jawab Clara dengan percaya diri.
“Lalu... apakah Tuan Muda tahu kalau Anda datang hari ini?”
“Dia tidak perlu tahu,” jawab Clara sambil mengangkat dagunya. “Rumah ini juga akan menjadi milikku cepat atau lambat.”
Viona terdiam.
"Bukankah Tuan Muda baru pulang dari luar negeri?" batinnya. "Kalau begitu... bagaimana Nona ini bisa mengatakan pernah datang ke rumah ini?"