Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retorika di Atas Meja Kaca
Pena bermata emas itu tertahan beberapa senti di atas permukaan kertas dokumen. Jevandra menatap draf perjanjian di atas meja kaca dengan rahang yang mengatup rapat, hingga urat-urat di lehernya menegang. Di hadapannya, Alana masih berdiri tegak, melipat kedua lengan di bawah dada, menatapnya dengan sepasang mata yang tak lagi menyisakan ruang untuk negosiasi.
"Tanda tangan, Jevandra. Jangan membuang waktu saya yang berharga," suara Alana memecah keheningan, begitu datar, seolah ia sedang mendikte daftar belanjaan bulanan, bukan masa depan sebuah aliansi korporasi bernilai miliaran rupiah.
Jevandra mendongak, tatapan matanya berkilat tajam penuh penolakan. "Kamu memeras saya, Alana. Memanfaatkan kondisi kesehatan ayahmu untuk menjebak saya dalam perjanjian konyol ini? Ini bukan cara bermain yang elegan."
"Elegan?" Alana tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar begitu asing di telinga Jevandra. "Seseorang yang mengirim tim audit untuk mencekik urat nadi perusahaan mertuanya sendiri demi membungkam istrinya, sama sekali tidak punya hak untuk bicara tentang kata 'elegan'. Kamu yang memulai permainan kotor ini, Jevandra. Saya hanya memastikan kita selesai dengan aturan yang adil."
Jevandra berdiri, mendorong kursi di belakangnya hingga berderit keras di atas lantai kayu. Ia memangkas jarak di antara mereka, mencoba menggunakan tinggi badannya untuk mengintimidasi Alana, seperti yang biasa ia lakukan di ruang rapat direksi. "Kamu pikir dengan memegang beberapa foto dan rekaman, kamu bisa mendikte Pratama Group? Papa mungkin akan marah, tapi dia tidak akan pernah mendepak saya hanya karena urusan wanita. Saya adalah satu-satunya penerus yang dia miliki."
Alana tidak mundur satu inci pun. Ia justru maju setengah langkah, menantang langsung manik mata hitam Jevandra yang kelam. "Kamu terlalu percaya diri, Jev. Papamu tidak pernah mencintaimu sebagai seorang putra; dia mencintaimu sebagai perpanjangan dari ambisi bisnisnya. Apa yang terjadi jika nama baik Pratama Group jatuh di lantai bursa besok pagi karena skandal perselingkuhan ahli warisnya? Apa yang terjadi pada rencana merger divisi properti bulan depan jika investor Singapura tahu bahwa CEO mereka adalah pria yang tidak bisa memegang komitmen paling dasar dalam hidupnya?"
Alana tersenyum tipis, sangat tipis hingga menyerupai sebuah seringai. "Jangan lupa, tiga puluh persen saham di konsorsium baru itu dipegang oleh keluarga Pratama. Jika saya menarik diri dan membuka semuanya ke media, papamu tidak akan mendepakmu karena kamu berselingkuh, Jevandra. Dia akan mendepakmu karena kamu gagal menjadi bidak yang menguntungkan."
Kata-kata Alana menghantam ego Jevandra tepat di pusatnya. Pria itu terpaku. Untuk pertama kalinya, ia melihat Alana bukan sebagai wanita rumahan yang bisa ia abaikan, melainkan sebagai seorang putri dari Raden Wijaya—seorang pengusaha kawakan yang darah taktisnya ternyata mengalir deras di dalam nadi wanita di depannya ini. Alana tahu persis di mana letak titik lemah keluarga Pratama.
"Tanda tangan," ulang Alana, menyodorkan kembali pena ke tangan Jevandra. "Atau kita hancur bersama malam ini juga. Saya tidak rugi apa-apa, Jevandra. Ayah saya sudah di rumah sakit, perusahaan kami sudah di ujung tanduk. Tapi kamu? Kamu punya seluruh dunia yang akan runtuh dari genggamanmu."
Napas Jevandra memburu. Keheningan di dalam apartemen mewah itu mendadak terasa begitu mencekik. Detik demi detik berlalu seperti hitungan mundur bom waktu. Akhirnya, dengan tangan yang bergetar karena amarah yang tertahan, Jevandra menyambar pena tersebut. Ia menorehkan tanda tangannya di atas tiga rangkap dokumen di atas meja kaca dengan tarikan garis yang kasar, hampir merobek kertas mahal tersebut.
Sret! Sret!
Jevandra melemparkan pena itu hingga berdenting di atas meja. "Sudah. Puas?" desisnya dengan suara bariton yang sarat akan kebencian. "Dana pasokan untuk perusahaan ayahmu akan dicairkan besok pagi pukul sembilan. Sekarang, hapus semua bukti yang ada di tanganmu dan jangan pernah sebut nama Silvia lagi dari mulutmu."
Alana mengambil dokumen itu dengan tenang, memeriksa keabsahan tanda tangan Jevandra, lalu memasukkannya ke dalam map kulit hitam. "Bukti-bukti itu akan tetap aman bersama pengacara saya, Jevandra. Selama kamu menepati bagianmu dari perjanjian ini, dunia tidak akan pernah tahu seberapa busuknya pernikahan kita. Besok malam, ada acara peresmian galeri seni milik rekan Mama di Grand Indonesia. Pastikan kamu menjemput saya tepat jam tujuh malam dengan senyum terbaikmu."
Tanpa menunggu jawaban, Alana berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Setiap ketukan tumit sandalnya di atas lantai terdengar seperti pukulan genderang perang yang menandai babak baru kehidupan mereka.
...****************...
Keesokan malamnya, panggung sandiwara itu kembali digelar dengan begitu megah.
Lampu kilat dari para pemburu berita langsung menyambar begitu pintu mobil sedan mewah itu terbuka di depan lobi Grand Indonesia. Jevandra turun lebih dulu, mengancingkan satu kancing jas abu-abu gelapnya, lalu berbalik dengan gerakan yang sangat natural untuk mengulurkan tangannya kepada Alana.
Alana menyambut uluran tangan itu. Ia tampil memukau dengan gaun malam berbahan satin berwarna merah marun yang mempertegas lekuk tubuhnya yang anggun, dipadukan dengan kalung berlian minimalis yang melingkar di leher jenjangnya. Senyumnya begitu merekah, memancarkan aura kebahagiaan seorang istri yang sangat dicintai oleh suaminya.
"Jevandra, Alana! Tolong lihat ke arah kamera kiri!" teriak salah seorang fotografer media bisnis.
Jevandra melingkarkan tangan kirinya di pinggang Alana, menarik tubuh wanita itu agar merapat ke dadanya. Dari luar, mereka terlihat seperti pasangan ideal dari kalangan papan atas Jakarta—muda, rupawan, dan berkuasa. Namun, di balik riuh rendah jepretan kamera dan senyuman yang merekah, bisikan di antara mereka berdua sedingin es di kutub.
"Jangan terlalu rapat, Jevandra. Parfum vanila milik wanita itu masih samar menempel di jas punyamu," bisik Alana tanpa mengubah sedikit pun arah senyumannya ke kamera depan.
Cengkeraman tangan Jevandra di pinggang Alana mengencang, memberikan tekanan yang sedikit menyakitkan namun tak kasat mata dari luar. "Ini bagian dari perjanjian, Alana. Bukankah kamu ingin saya terlihat seperti suami yang posesif?"
"Tentu. Tapi pertahankan batasanmu," balas Alana manis, melambaikan tangannya kepada salah satu sosialita yang menyapanya dari kejauhan.
Mereka melangkah masuk ke dalam ruang galeri yang dipenuhi oleh karya seni bernilai ratusan juta rupiah. Di dalam, Siska Wijaya sudah berdiri bersama beberapa rekan sosialitanya. Begitu melihat kedatangan putra dan menantunya, wajah Siska langsung cerah.
"Oh, lihatlah kalian berdua. Merah dan abu-abu, sangat serasi," puji Diana sambil mengecup kedua pipi Alana. Ia kemudian melirik Jevandra dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Jevandra, Mama dengar dari sekretaris Papa, kamu sudah menandatangani pencairan dana untuk proyek Pratama Group pagi ini? Tanpa melalui rapat direksi?"
Jevandra sempat tertegun selama satu detik. Ia melirik Alana yang saat ini sedang menatapnya dengan mata yang berkedip polos, seolah menanti jawaban apa yang akan keluar dari mulut sang CEO.
"Ah... iya, Ma," Jevandra berdeham, menguasai intonasi suaranya agar tetap terdengar meyakinkan di depan ibunya. "Setelah saya tinjau kembali semalam bersama Alana, penundaan itu hanya karena masalah miskomunikasi di tim audit. Perusahaan Papa Tumpal memiliki performa yang sangat baik, jadi tidak ada alasan untuk menahannya lebih lama. Lagipula... ini demi ketenangan Alana juga. Saya tidak ingin istri saya stres memikirkan kondisi kesehatan Papanya."
Diana tersenyum lega, menepuk bahu putranya dengan bangga. "Baguslah kalau begitu. Kamu memang harus memprioritaskan keluarga Alana sekarang. Mama bangga sama kamu, Jev."
Alana yang mendengar itu merasakan perutnya mendadak mual. Kebohongan yang keluar dari mulut Jevandra terdengar begitu mulus, begitu terlatih, hingga Alana menyadari betapa berbahayanya pria yang saat ini sedang merangkul pinggangnya. Pria ini bisa menjadi malaikat yang paling manis dan iblis yang paling kejam dalam satu tarikan napas yang sama.
.
.
.
Makan malam selesai pukul sepuluh malam. Perjalanan pulang ke apartemen kembali berganti menjadi keheningan yang sunyi, namun kali ini ada ketegangan baru yang berbeda. Jevandra tidak lagi mengemudi dengan santai; ia memacu mobilnya membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang dengan kecepatan di atas rata-rata.
Begitu pintu apartemen tertutup, Jevandra langsung melepaskan jasnya dan melemparkannya ke atas sofa dengan gusar. Ia berbalik, menatap Alana yang sedang melepas anting berliannya di depan cermin ruang tengah.
"Saya sudah melakukan semua yang kamu minta, Alana," kata Jevandra, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak semenjak di galeri seni tadi. "Saya berbohong di depan Mama, saya mencairkan dana itu, dan saya berpura-pura menjadi suami yang bodoh di depan kamera media. Sekarang, kembalikan salinan dokumen itu kepada saya."
Alana berbalik perlahan, menaruh antingnya di atas meja konsol. "Saya sudah bilang, dokumen itu akan tetap berada di tangan pengacara saya sebagai jaminan. Perjanjian kita berlaku selama pernikahan ini berjalan, Jevandra. Bukan hanya untuk satu hari."
"Kamu benar-benar keterlaluan!" Jevandra melangkah cepat, mencengkeram kedua bahu Alana dengan kasar, memojokkan tubuh wanita itu hingga punggungnya membentur dinding es apartemen. Matanya memerah, menatap Alana dengan pandangan yang sarat akan frustrasi yang mendalam. "Kamu mengubah rumah ini menjadi neraka bagi saya!"
Alana tidak menjerit. Ia membiarkan rasa sakit di bahunya menjalar, menatap lurus ke dalam mata Jevandra yang goyah. "Neraka? Kamu baru merasakan percikan apinya, Jevandra. Sementara saya? Saya sudah terbakar di dalam neraka yang kamu ciptakan sejak hari pertama kita menginjakkan kaki di apartemen ini."
Alana mengangkat tangannya, perlahan melepaskan cengkeraman tangan Jevandra dari bahunya dengan kekuatan yang mengejutkan. "Mulai malam ini, biasakan dirimu dengan neraka baru ini, Jevandra Wijaya. Karena kita berdua... akan tinggal di dalamnya untuk waktu yang sangat lama."
Tepat saat Alana hendak melangkah pergi, ponsel di saku celana Jevandra kembali bergetar. Layarnya menyala, menampilkan pesan teks dari Silvia yang tampaknya dikirim bertubi-tubi semenjak mereka berada di acara tadi.
Alana melirik sekilas ke arah layar ponsel itu, lalu menatap wajah Jevandra yang mendadak kembali tegang. Kali ini, Alana tidak merasa sedih atau cemburu. Ia hanya memberikan sebuah senyuman tipis yang penuh dengan kepuasan yang dingin.
"Angkatlah, Jevandra. Kekasihmu pasti sedang merindukan pria sejatinya yang sekarang sedang terjebak di dalam sangkar emas bersamaku," ucap Alana dengan nada mengejek yang sempurna sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu dengan bunyi klik yang menggema di keheningan malam.
Jevandra berdiri mematung di ruang tengah yang luas dan dingin itu. Ponsel di tangannya terus bergetar, menampilkan pesan dari Silvia: “Jev, kamu di mana? Kenapa foto-fotomu dengan Alana di galeri seni bermunculan di media? Kamu bilang kamu terpaksa...”
Jevandra meremas ponselnya dengan kuat hingga jemarinya memutih. Di dalam dadanya, rasa tidak nyaman yang asing itu kini bertransformasi menjadi sebuah pusaran keputusasaan yang pekat. Papan catur telah berbalik, kendali telah lepas dari tangannya, dan ia menyadari satu hal yang paling menakutkan malam itu. Alana tidak lagi bisa ia kendalikan.