NovelToon NovelToon
KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.

- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.

- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: JEJAK DARAH YANG TERSISA

Setelah semua penjahat dibawa pergi dan suasana mulai tenang, Ain masih tidak bisa menenangkan hatinya. Kata-kata ancaman pria tua itu terus berputar di kepalanya: “Masih banyak rahasia lain…” Ia kembali mengambil buku catatan Hamid yang tergeletak di lantai, membersihkan debu dan noda di sampulnya, lalu mulai membaca lagi dari bagian yang belum selesai dibaca.

Nova, Sari, dan Lira duduk di sebelahnya dengan wajah masih pucat dan cemas. Rian berdiri di belakang mereka, tangannya siap membantu kapan saja, matanya waspada mengawasi sekitar.

“Baca terus Bu, kita harus tahu semuanya sampai habis. Tidak ada lagi yang boleh disembunyikan, kalau tidak kita tidak akan pernah aman,” kata Rian tegas.

Ain mengangguk pelan, lalu membalik lembar demi lembar dengan tangan yang masih gemetar. Semakin ke belakang, tulisan Hamid semakin kacau dan penuh ketakutan, seakan ia menulis itu saat sedang dikejar kematian.

Ternyata hutang narkoba dan judi itu bukan satu-satunya masalah besar. Di halaman selanjutnya tertulis hal yang jauh lebih mengerikan:

“Ain, Nova, Sari… ada satu dosa terbesar yang aku lakukan, yang membuat jiwaku tidak akan pernah tenang bahkan di dalam kubur sekalipun. Lima tahun sebelum aku kenal kalian, aku pernah bekerja sama dengan kelompok penjahat itu untuk melakukan pencurian besar di sebuah rumah orang kaya. Saat itu kami tidak sengaja membunuh sepasang suami istri karena mereka berteriak meminta tolong. Kami kabur membawa semua harta, dan aku dapat bagian yang cukup besar. Tapi saat itu kami tidak tahu… pasangan yang kami bunuh itu meninggalkan dua anak kecil yang masih bayi, yang bersembunyi di bawah tempat tidur dan melihat semuanya dengan mata kepala sendiri.

Anak-anak itu sekarang sudah besar, mereka tumbuh dengan dendam yang membara di hati. Mereka bersumpah akan membalas darah orang tua mereka, membunuh semua orang yang terlibat dalam pembunuhan itu. Aku sudah mati, tapi mereka tidak akan berhenti sampai semua orang yang berkaitan denganku juga binasa. Aku takut… aku takut mereka akan mencampakkan kalian yang tidak bersalah ke dalam masalah ini. Salah satu dari dua anak itu… namanya Dimas, dia adalah orang yang paling berkuasa dan paling kejam di dunia kejahatan sekarang. Kalian sudah bertemu dengannya tadi… pria tua berambut putih yang memimpin mereka itu adalah orang kepercayaannya, tapi Dimas sendiri belum datang. Kalau dia datang… tidak ada yang bisa selamat, tidak ada yang bisa menghentikannya.”

Ain, Nova, dan Sari saling pandang dengan mata melotot penuh ngeri. Pria tua yang baru saja ditangkap itu ternyata hanya bawahan, bosnya yang paling berbahaya belum muncul sama sekali. Dan yang lebih mengerikan… dua anak yang menjadi korban pembunuhan itu sekarang sudah tumbuh menjadi pembalas dendam yang haus darah.

“Ya Tuhan… kita benar-benar terjebak dalam masalah yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan,” isak Nova menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kita tidak ada hubungannya sama sekali dengan pembunuhan itu, kenapa kita harus menanggungnya juga?!”

“Karena kita pernah berhubungan sama Hamid, itulah satu-satunya alasan,” jawab Sari pelan, wajahnya penuh keputusasaan. “Bagi mereka, semua orang yang pernah dekat dengan Hamid adalah musuh yang harus dimusnahkan.”

Tiba-tiba Lira yang diam saja dari tadi, wajahnya berubah sangat aneh. Pucatnya hilang, digantikan dengan warna merah padam yang menakutkan. Matanya yang tadi penuh kesedihan, sekarang tajam dan dingin, sama persis seperti tatapan pria tua itu tadi.

“Lira… kamu kenapa?” tanya Ain khawatir, menyentuh bahu gadis itu.

Lira menepis tangan Ain dengan kasar, lalu berdiri tegak, tersenyum sinis yang membuat darah sekujur tubuh mereka membeku.

“Kalian benar-benar polos ya… kalian pikir aku datang ke sini cuma untuk menyampaikan pesan dan memberikan buku ini? Kalian pikir aku benar-benar anak Ratih yang malang? Kalian terlalu mudah percaya sama orang asing,” katanya dengan suara yang sama sekali berbeda, tidak lagi lembut dan gemetar, tapi tegas, dingin, dan penuh kejahatan.

Semua orang terkejut hebat, Rian langsung maju ke depan melindungi ibunya.

“Siapa kamu sebenarnya?!” bentak Rian.

“Aku? Aku adalah orang yang paling kalian takutkan. Aku adalah adik kandung Dimas! Aku adalah anak bungsu dari pasangan yang dibunuh Hamid dan kawan-kawannya dua puluh lima tahun yang lalu! Aku sengaja menyamar sebagai anak Ratih untuk masuk ke sini, untuk mengawasi kalian, untuk mengetahui semua kelemahan kalian, dan untuk menghancurkan kalian satu per satu dari dalam!” jawab Lira dengan tawa yang menyeramkan, membuat seluruh ruangan terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Dunia serasa runtuh kembali di depan mata Ain dan yang lainnya. Gadis muda yang mereka kasihi, yang mereka sayangi, yang mereka anggap sebagai anak dan keluarga sendiri selama ini… ternyata adalah musuh paling utama yang datang untuk menghancurkan mereka. Pengkhianatan ini jauh lebih menyakitkan daripada apa pun yang pernah mereka alami seumur hidup.

“Kenapa… kenapa kamu lakukan ini? Kami tidak bersalah sama sekali! Kami bahkan tidak tahu ada pembunuhan itu, kami baru kenal Hamid bertahun-tahun setelah kejadian itu!” teriak Ain dengan suara parau, hatinya terasa tercabik-cabik. “Kami juga korban sama seperti kamu dan kakakmu! Hamid juga hancurkan hidup kami!”

“KORBAN?!” teriak Lira balik, matanya menyala merah penuh amarah dan dendam yang tidak terbendung. “Kalian hidup bahagia, hidup tenang, dihormati orang, punya anak dan keluarga! Sementara aku dan kakakku tumbuh di panti asuhan yang penuh kekerasan, sering dipukul, sering kelaparan, tidak ada yang sayang sama kami! Kami melihat orang tua kami dibunuh dengan mata kepala sendiri, kami hidup dalam ketakutan dan kesedihan setiap hari! Semua karena Hamid! Dan kalian… kalian adalah wanita yang dicintainya, yang disayangnya, yang mendapat bagian dari semua harta curian itu! Bagi kami, kalian sama saja dengan dia! Kalian semua harus membayar hutang darah orang tua kami!”

“Kami tidak dapat apa-apa! Kami habiskan harta kami sendiri untuk dia, kami malah jadi miskin dan hancur!” bentak Sari dengan air mata mengalir deras. “Kami juga benci Hamid sama seperti kalian! Kami juga ingin dia mati dan menanggung dosanya! Kenapa kalian lampiaskan kemarahan sama kami yang tidak bersalah?!”

“Karena kalian masih hidup! Karena kalian bahagia! Sementara orang tuaku sudah mati dan tidak bisa kembali lagi! Itu saja alasan yang cukup!” jawab Lira dingin, lalu ia menarik sebuah senjata tajam kecil dari balik bajunya, mengarahkannya tepat ke dada Ain. “Dan yang paling utama harus mati duluan adalah kamu Ain! Kamu wanita yang paling lama bersamanya, kamu yang paling dia cintai, kamu yang paling banyak dapat keuntungan darinya!”

“JANGAN SAKITI IBUKU!” teriak Rian, langsung menerjang Lira dengan cepat. Terjadi perkelahian sengit di tengah ruangan. Meskipun Lira wanita, gerakannya sangat lincah dan terlatih, ternyata ia sudah belajar ilmu bela diri dan cara bertarung sejak kecil demi membalas dendam. Rian yang juga kuat dan berani, akhirnya berhasil menendang senjata itu jatuh, lalu menahan kedua tangan Lira agar tidak bisa bergerak.

“Lepaskan aku! Kalian semua akan mati! Kakakku Dimas sedang dalam perjalanan ke sini, dia akan datang dengan pasukan yang jauh lebih banyak dan lebih kuat! Tidak ada polisi yang bisa menghentikannya! Dia adalah raja dunia gelap sekarang!” teriak Lira sambil terus memberontak, matanya penuh kebencian yang tidak akan pernah hilang.

Saat itu terdengar suara deru kendaraan yang sangat keras dari luar, ratusan motor dan mobil datang dengan kecepatan tinggi, mengelilingi seluruh area Rumah Harapan. Suara teriakan dan tembakan peringatan bergema di mana-mana, membuat semua wanita dan anak-anak di dalam bersembunyi ketakutan.

“TERIMA KASIH LIRA! KERJA BAGUS! KAMU SUDAH BERHASIL MEMBAWA KITA SAMPAI KE SARANG MUSUH!” suara berat dan menggelegar terdengar dari pintu masuk utama.

Masuklah seorang pria muda sekitar 30 tahun, berwajah sangat tampan tapi dingin dan mengerikan, matanya tajam seperti elang, seluruh tubuhnya memancarkan aura kekuasaan dan kejahatan yang luar biasa. Di belakangnya masuk puluhan orang berbadan kekar lengkap dengan senjata, mengunci semua jalan keluar sehingga tidak ada yang bisa lari.

“Aku Dimas… kakak kandung Lira. Dan hari ini… adalah hari pembalasan dendam yang kami tunggu selama dua puluh lima tahun,” katanya pelan tapi penuh ancaman yang membuat seluruh ruangan hening seketika.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!