Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.
Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Menghindar
"YA AMPUN RANIAA!"
Teriakan nyaring itu langsung menghentikan pergerakan Rania. Ia membeku sedikit lalu menoleh secara perlahan ke arah pintu kamar. Ia sekarang sedang berada di depan lemari dan mengacak-acak isinya.
"bu hehe."
"haha hehe haha hehe, ngapain kamu!"
Mendapat pertanyaan seperti itu dari ibunya, Rania langsung melepas baju yang sedang dipegangnya lalu menjauh satu langkah dari lemari.
"nggak ngapa-ngapain kok," jawabnya seolah-olah kamarnya bukan hancur oleh ulahnya.
"terus kenapa kamarmu jadi kapal pecah begini?"
"ibuu," Rania merengek dan berjalan mendekat ke ibunya. Baru satu langkah ia berjalan, kakinya menginjak botol minuman dan hampir saja membuatnya terjatuh.
"nah kan!"
"hehe, ibuu jangan marah-marah terus nanti cepet tua."
Mendengar ucapan seperti itu, Sang Ibu langsung melotot dan menghadiahi Rania sebuah cubitan.
"kurang ajar kamu ya sama orang tua ngomong begitu."
"ah iya ampun ibu ampun, AKH!"
Rania berusaha menghindar dari cubitan maut sang ibu tapi ibunya ternyata tetap mengejarnya.
"AYAHHHH."
Mendengar teriakan Rania, Sang Ayah naik ke lantai dua dan melihat dua wanita kesayangannya sedang main kejar-kejaran.
"ayah tolong!"
"awas kamu kalo ke sini, tidur di luar!"
"emm ayamnya kayanya gosong deh, ayah ke dapur dulu. Nanti kalau sudah selesai turun dan makan ya."
Rania menangis dalam hati, ia tidak tau harus berteriak minta tolong kepada siapa lagi. Habis sudah riwayatnya hari ini.
Di meja makan, suara dentingan sendok dengan piring memenuhi ruang makan. Tidak ada percakapan antara orang tua dan anak. Rania mengambil tisu dan mengelap bibirnya. Mendorong piringnya yang sudah kosong lalu meletakkan tangan di atas meja dengan posisi menyilang.
"aku ingin bicara serius!" ucapnya dengan raut wajah serius.
Ayahnya langsung memperhatikannya sementara sang ibu masih fokus dengan makanannya.
"ibuu dengerin aku."
"ngomong tinggal ngomong, yang makan kan mulut, telinga masih bisa mendengarkan."
Rania sedikit cemberut melihat respon ibunya yang terkesan cuek. "aku merasa Arya itu aneh."
Saat menyebut nama Arya, ibunya langsung ikut menoleh.
"aneh gimana?" tanya sang ibu.
Rania menceritakan apa yang terjadi hari ini termasuk alasannya membuat kamarnya berantakan. Ayah dan ibunya saling berpandangan dengan raut wajah serius tapi sedetik kemudian, mereka terlihat biasa saja.
"jangan asal menuduh, mungkin saja ada yang melihat kalian berdua pergi bersama lalu memberitahu Arya. Lagipula di kamarmu juga tidak ada apa-apa kan?" ucap ibunya dan diangguki oleh sang ayah.
Rania diam sesaat setelah mendengar dan melihat respon dari orang tuanya. Ia merasa tidak ada gunanya melanjutkan percakapan ini. Akhirnya Rania hanya menganggukkan kepala lalu beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke kamar. Ia harus membereskan kamarnya setelah membuatnya berantakan.
Setelah Rania naik, Hanum berpindah posisi menjadi duduk tepat di samping sang suami.
"Arya memang cukup menyeramkan kan?"
"iya tapi itu hanya di dunia bisnis saja. Memang ada beberapa yang menjalankan bisnisnya dengan cara seperti itu agar bisa bertahan di puncak. Tapi kita sendiri juga melihatnya tumbuh dewasa kan, selama ini tidak terlihat sesuatu yang menyimpang dari kepribadiannya," ucap Bagaskara panjang lebar. Ia hanya berusaha melihat situasi secara keseluruhan agar tidak langsung menilai orang lain secara sembarangan.
"tapi Rania tadi bilang begitu, menurutmu bagaimana?"
"ikut keputusan Rania saja, dia sejak kemarin terus menghindari Arya. Kita cukup mengamatinya dari jauh selama Arya tidak melakukan hal di luar batas. Biar anak-anak menyelesaikan urusannya sendiri."
"ya mungkin lebih baik begitu, apalagi tidak ada bukti tentang perilaku Arya."
Sementara itu, Rania membereskan kamarnya dengan kepala yang terus berfikir. Ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang sudah terjadi. Secara otomatis ia mencocokkan perilaku Arya di masa lalu dan masa sekarang. Ada beberapa yang ternyata berbanding terbalik dari yang ia ketahui.
Setelah membereskan kamarnya, Rania tiduran dengan posisi telentang di atas kasur. Ia mengingat lagi apa yang pernah terjadi di masa lalu.
Seingatnya tepat di hari ulang tahunnya Arya akan membuat sebuah pesta kejutan. Dan di sana ada Dona serta Salsa. Dulu Salsa dipengaruhi oleh Dona untuk membuat kekacauan, sekarang Salsa berada di pihaknya.
"kemungkinan Dona sendiri yang berbuat ulah atau ada kambing hitam baru," ucapnya lirih.
Tanpa ia sadari, ada seseorang yang mendengarkan setiap ucapannya. Di ruang kerjanya yang temaram, Arya mengetuk mejanya dengan wajah serius. Laptop di depannya menyala dengan isi sebuah rekaman langsung yang terhubung ke kamar Rania. Penyadap yang dulu sempat ia pasang tepat di bawah kasur Rania, menempel di dipan. Tidak akan ada yang menyadarinya kecuali ada yang pergi ke bawah ranjang dan melihatnya langsung.
"kambing hitam?" Arya merasa tindakan Rania akhir-akhir ini sangat tidak masuk akal. Dia sepertinya mengetahui sesuatu yang membuatnya berubah drastis.
Arya mulai merasa terancam dengan sikap Rania yang semakin dingin dan berusaha menjauhinya terus. Ia adalah pasangan sempurna untuk Rania, sampai kapanpun Rania tidak boleh lepas dari genggamannya.
.
Keesokan harinya, Rania berangkat seperti biasa diantar oleh supir. Arya melihat itu dari kejauhan tanpa sempat memberikan tawaran untuk berangkat bersama.
Sesampainya di kampus, Rania langsung pergi bersama dengan Dewi. Lagi-lagi ia tidak memiliki kesempatan untuk menemuinya secara langsung.
"Arya! ayo ke perpustakaan, ada tugas yang harus diselesaikan," ucap seorang teman kelasnya.
Arya mengangguk lalu berjalan mengikuti temannya menuju ke perpustakaan. Selesai mengerjakan tugas, ia bergegas menuju ke ruang kelas Rania dan ternyata gadis itu sudah tidak ada di sana. Lalu ia membuka ponselnya dan melihat titik lokasi Rania tidak jauh dari kampus.
Sementara itu, Rania kini tengah berada di sebuah kafe. Tempatnya cukup tersembunyi, bisa dibilang ini adalah kafe terenak yang tersembunyi. Karena meskipun tempatnya tidak terlalu jauh dari kampus, tapi lokasinya yang masuk ke gang membuat hanya beberapa orang saja yang mengetahui lokasinya.
Hari sudah sore dan jam menunjukkan pukul lima sore. Rania sudah duduk cukup lama bersama dengan Dewi untuk mengerjakan tugas. Baru hari ini ia merasa dunianya begitu tenang tanpa melihat Arya.
"Rania!" panggilan itu membuat Rania dan Dewi menoleh secara bersamaan.
Di hidup kali ini, Salsa belum sempat menyinggung Dewi, oleh karena itu Dewi menyambut kehadirannya dengan baik.
"Dewi" Ucap Dewi memperkenalkan dirinya sendiri saat bersalaman dengan Salsa. Begitu juga dengan Salsa, "Salsa."
Keduanya tersenyum dengan begitu ramah. Rania yang melihat itu pun merasa situasinya cukup aneh karena ia masih membawa ingatan kehidupan sebelumnya.
"katanya kamu seorang penulis novel ya?"
"hanya penulis kecil untuk mengisi waktu luang."
"tapi kata Rania novel sebentar lagi terbit."
Salsa menyenggol lengan Rania dan menatapnya tajam seolah mengatakan kalau dia terlalu banyak bicara. Sementara Rania hanya tersenyum menampilkan deretan giginya.
"dia calon penulis hebat, sebaiknya kamu minta tanda tangannya sekarang sebelum dia jadi sombong karena terkenal."
Ucapan Rania disambut gelak tawa oleh Dewi dan sikutan oleh Salsa. Mereka bertiga berkumpul hingga malam hari. Tidak ada pembahasan berat, hanya ada candaan dan obrolan ringan. Setelah selesai, Dewi pulang terlebih dahulu menyisakan Rania dan Salsa.
"ulang tahunku sepuluh hari lagi."
Salsa menoleh lalu ia teringat dengan kejadian di kehidupan sebelumnya.
"apa rencanamu?" tanya Salsa dengan raut wajah yang sangat serius.