NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 11. Diajak ke pasar malam

“Tinggal bilang aja ke mas Galih, udahlah kalau mau cerai tinggal urus aja sendiri. Aku udah capek, Bu. Udah kali ini mau fokus kerja aja. Kalau nggak jadi ya bilang, kalau jadi ya bilang juga. Aku nggak akan mohon-mohon untuk tidak diceraikan. Aku bersuami dirinya, aku tetep kerja. Aku menjanda juga aku bakal tetep kerja. Jadi tak ada bedanya, Bu. Aku nggak bisa pulang, aku lagi ada rapat di Sumatera soalnya,” ungkapku mencoba pasrah dengan hubungan ini.

Ini adalah pasrah versiku.

Disakiti laki-laki, rasanya sudah samar sakitnya. Karena dia yang menyakitiku juga, aku sendiri yang menyembuhkan sakitnya. Ia tidak berusaha untuk memperbaiki hubungan kami, atau agar aku lupa dengan sakitnya.

“Kamu pergi sejauh itu tanpa bilang-bilang, Nak.” Helaan napas ibuku terdengar berat.

“Ini resiko pekerjaan aku, Bu. Kemarin siang bahkan aku masih di Jawa Timur, dini hari aku udah harus di bandara. Yang penting kan kebutuhan kalian tercukupi, kalian nggak perlu susah di masa tua.” Selain karena suamiku begitu, alasan terbesarku bekerja adalah untuk menghidupi keluargaku.

Aku pusing sekali ketika di rumah tidak ada makanan apapun, kebetulan aku masih menumpang di rumah ibu. Sedangkan suamiku tidak bekerja. Aku tidak bisa jika tidak memegang uang, sedangkan segala kebutuhan rumah tangga aku yang menanggung.

“Kamu tuh gila kerja, sampai lupa kewajiban,” tukas ibu cukup pedas.

“Kalau aku di rumah aja, memangnya siapa yang bakal handle kebutuhan ini itu? Ibu tuh nggak seperti ibu-ibu yang lain loh, tiap hari beli emas juga Ibu bisa kan sekarang? Jangan bilang aku lupa kewajiban, mencukupi kebutuhan kalian pun masuknya berbakti dan kewajiban juga. Jangan kira karena aku nggak ngurusin sakitnya Ibu, sampai aku dibilang lupa kewajiban. Kalau aku ngurusin Ibu, terus biaya untuk ngurus Ibu itu pake apa? Kan aku kerjasama juga sama mas, mas dan mbak yang ngurus Ibu dan Bapak. Tugasku yang menyongkong ekonominya. Ibu tuh tinggal doain yang baik-baik aja aku di rantau orang. Aku dijauhkan dari orang jahat, aku diberi nasib yang beruntung dan aku diberi keselamatan selalu.” Aku nyerocos tanpa henti, karena tidak terima dengan ucapan ibu.

Iya susah dibilangin, itu karakterku. Aku benar menurutku sendiri, aku tidak menerima nasihat.

“Kebiasaan kalau kamu tuh nyerocos aja, makanya Ibu sih males nelpon kamu tuh!” seru ibu, sedetik kemudian panggilan telepon terputus.

Aku tidak terimaan orangnya. Apa-apaan, masa iya aku dibilang lupa kewajiban? Dikiranya mendapatkan pekerjaan itu mudah? Dikiranya gaji besar itu tidak ada konsekuensinya?

Intinya begitu saja, aku sudah pasrah dengan rumah tanggaku. Jika ia benar-benar ingin menceraikanku, ya sudah urus saja sendiri. Ia kira perceraian tak pakai biaya? Atau ia kira dua juta juga cukup, seperti ia menikahiku? Yang jelas, aku akan stop mengirimkannya uang.

Coba, akan jadi apa ia tanpaku? Bukan aku menyombongkan diri, tapi ia seperti lupa ia bisa kenyang begini karena hasil kerjaku. Berapa coba UMK kampungku? Dua juta empat ratus. Ia bekerja tergantung moodnya, tapi tetap bisa bergaya dengan dua kali UMK sana yang aku kirimkan. Bahkan lebih dua ratus ribu.

Ia sering sekali mengatakan, bahwa aku ketika sudah berpenghasilan sombongnya luar biasa. Ya iya memang, orang dia dulu ngasih tak seberapa tapi seolah sudah memberiku dunia dan seisinya.

Setiap ia meminta uang lebih dengan alasan ini itu, aku selalu mengungkit lima juta yang aku kirimkan bersih itu. Sudah dikirimi uang pun tetap minta lebih, kenapa ia tidak berinisiatif menggunakan uang yang ia kirimkan dariku itu untuk keperluan yang katanya mendesak itu? Kenapa harus meminta lagi tanpa malu?

Hingga malam harinya, sudah waktunya aku mengisi perutku lagi. Aku keluar dari penginapan kembali, tapi kali ini berjalan ke arah masjid yang katanya tak jauh di ujung jalan sebelah kiri ini. Katanya banyak orang berjualan di sana.

Tidak banyak, ada beberapa gerobak dan kebanyakan jajanan anak-anak. Hanya ada siomay yang menurutku cukup mengenyangkan.

“Mau satu, Pak,” ucapku dengan tersenyum ramah.

Di mana ya membeli baju tidur? Aku tanpa persiapan jika menginap lama di sini.

Di penjual siomay ini tidak banyak mengantri, hanya dua orang. Aku dan satu perempuan sebayaku sepertinya.

Ia melihatku dan tersenyum padaku. “Karyawan Putra Berintan ya kak?” tanyanya lebih seperti memastikan.

“Iya, Kak,” jawabku dengan membalas senyumannya. Sepertinya sih iya menurutku, karena coffee shop yang aku kelola masuk dalam naungannya.

Banyak kendaraan bermotor lalu lalang di sini. Sampai ada satu motor besar yang berhenti di depan perempuan tersebut.

“Minta uang, Dek,” ucapnya dengan suara khas yang aku kenal.

Aku bergeser sedikit agar bisa melihat laki-laki tersebut. Namun, gadis kecil yang berisik itu ada di depan motornya dan melambaikan tangannya padaku.

“Dak-dek, dak-dek!” seru perempuan tersebut.

“Tan, bagi duit, Tan,” ucap ulang laki-laki yang belum ngeh jika aku ada di tempat yang sama dengannya.

“Kerja tak sih kau! Minta duit teros!” seru perempuan tersebut dengan mengulurkan selembar uang berwarna merah.

“Kerja sih, ada uang juga. Cuma lihat kau sendirian, bawaannya pengen malak,” sahut mas Barraq dengan tawa nada jahat.

“Ohh, Abang pun suka malakin ya? Jangan-jangan Tante itu dipalak Abang juga pagi-pagi tadi nangis tuh,” tukasnya polos dengan menunjuk ke arahku yang tidak terlihat mas Barraq.

Ia tidak menyahuti, diam dengan mata terbuka lebar. Lalu, sedetik kemudian ia memamerkan giginya dengan raut wajahnya yang seperti tidak percaya aku ada di sini.

“Dea…” panggilnya kemudian.

Aku hanya mengangguk dan membalasnya dengan senyuman saja. Ia di sini terlihat masih kecil, seperti pemuda kampung biasa. Tidak seperti di sana, yang pembawaannya dewasa dan kedudukannya sebagai owner.

“Ayo jalan-jalan yuk,” ajaknya dengan menepuk jok belakang motornya.

“Jangan mau kak, kelaparan nanti jalan-jalan sama dia,” ledek kakak yang sepertinya saudara dekat dari mas Barraq ini.

“Ya sangu siomay dari sini lah biar tak kelaparan,” sahutnya enteng dengan kekehan kecil.

“Betul, Bang. Ngirit ya, Bang?” timpal pedagang siomay dengan memberikan pesanan kakak-kakak tersebut.

“Jangan malam-malam, Raq. Aku bilangin ke ayah loh,” ujar kakak tersebut dengan berjalan pergi.

“Udah biasanya juga dimarahi,” gerutu mas Barraq dengan melirik ke arah saudaranya itu pergi.

“Ayo, Dea,” ajaknya kembali.

Kenapa harus bertemu dengannya sih? Ini ruang lingkup keluarganya, aku tidak mau mendapat teguran.

“Aku mau makan dulu.” Aku hanya mencari alasan saja.

“Ya makannya sekalian makan jajanan nanti, ayo ke pasar malam,” ajaknya kembali yang membuatku geleng-geleng kepala.

Ini pertama kalinya ia mengajakku ke pasar malam. Biasanya mengajak party, mengajak ke mall, atau makan di resto ternama.

“Ayo sih, Tan. Keburu malam nanti pada tutup orang jualannya,” ucap gadis kecil itu tampak sedikit sewot.

“Tante nggak ikut, Cantik. Tante masih ada kerjaan,” elakku kemudian.

Aku tidak berbohong kok, laporan harian tetap dikirim ke emailku. Aku tetap harus mengeceknya setiap hari, meskipun sedang izin sakit.

“Nanti dibantuin, udah coba tinggal naik aja tuh!” seru mas Barraq sedikit lepas.

Namun, nampaknya ia memang ingin mencari gara-gara. Memang pantas disebut biang kerok. Bagaimana tidak dimarahi saja? Sepulang jajan di pasar malam saja ia malah membawaku pulang ke rumah keluarga.

Omegat, aku mematung kaku setelah motornya berhenti di halaman yang amat luas.

“Kok udah sepi sih?” ujar gadis kecil itu dengan berlari ke arah teras rumah tersebut dengan tentengannya yang cukup banyak.

“Kakek… titipan Deena gimana ini, Kek?” teriaknya lepas di teras rumah sebesar itu.

“Anterin sana sama Abang!” seru seorang laki-laki yang melangkah keluar dari dalam rumah.

1
Fitri Ristina
rer the best pokoknya...ga pernah bosan dengan cerita keluarga mamah dinda
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Rini qi: jgn anggap remeh dea...
total 1 replies
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!