Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Di Depan Pura
Angin sawah yang tadi bertiup kencang berhenti dengan mendadak.
Suasana hening, dan nafas berat Saras terdengar dengan begitu jelas, bercampur dengan suara kulit dari Wayan Ratri yang retak-retak karena tertawa dengan keras.
"Bagaimana, Putu Saraswati? Apakah kau sudah putuskan sekarang? Tentang pilihanmu?" desis Wayan Ratri. Nafasnya tampak tersengal, dan suaranya terdengar pecah.
Kedua mata Wayan Ratri melebar dan seperti mirip dengan mata katak yang menonjol keluar, tetapi berwarna merah.
"Anak itu ada berada di bawah pohon Nyuh gading. Ia sudah menangis sejak tiga jam yang lalu."
Wayan Ratri melirik ke arah pohon kelapa gading yang berada tepat di balik Pura tua.
Dua ratus meter dari Pura tua, terdapat Pura yang berdiri di tengah persawahan, dan tempat memuja Dewi Sri. Pura itu masih di gunakan, dan juga sebagai tempat subak (Pembagian mengairi sawah) oleh para petani dan berjaga di Pura.
"Kalau kau datang menyelamatkannya, seluruh desak akan sakit malam ini. Tetapi kalau kau tidak datang, anak ini akan mati sebagai tumbal, dan desa selamat,"
Suara Wayan Ratri terdengar berat, tetapi nada penuh ancaman.
Saraswati menggenggam erat trisula di tangannya. Ia tampak sedang berfikir, mencoba mencari jalan penyelesaiannya, tampa mengorbankan siapapun.
Tangannya terasa dingin, dan ia menatap tajam pada sosok Wayan Ratri yang sedang meremehkan kemampuannya.
"Mengapa harus ada pilihan yang sangat gila seperti itu?"
Wayan Ratri tersenyum menyeringai. Mulutnya tampak robek, dan memperlihatkan gusinya yang menghitam, dan dua taring yang mencuat dari sudut mulutnya.
"Karena ini adalah perjanjian darah dari cucu Mangku Wijaya," suara wanita tua itu sangat serak, tubuhnya membungkuk.
Ia berjalan satu langkah, dan tanah yang di injaknya mengalami retakan, seolah kekeringan selama berbulan-bulan.
"Aku sudah menggadaikan jiwaku selama tiga puluh tahun. Sekarang giliran kau yang akan membayarnya!"
Sosok itu menunjuk ke arah Saraswati, dengan jemari telunjuk yang berkuku panjang dan juga runcing.
Sementara itu, di belakang Wayan Ratri, bayangan pohon Kelapa gading yang terkena sinar rembulan bergerak sendiri.
Dari celah bagian daunnya, terdengar suara anak perempuan yang masih kecil.
"Kak, tolong... Aku taku..."
Saras memejamkan kedua matanya. Ia mendengar suara itu suara yang sama, dan ia dengar di dalam kepalanya sejak semalam.
"Saras... Belajar! Trisula ini memiliki tiga bentuk. Yaitu untuk menahan, untuk memurnikan, dan untuk memutus," Suara Kalandra berbisik di kepalanya.
"Kau mengatakan, jika aku belum siap untuk menggunakan kekuatan penuh!"
Saraswati langsung memotong dengan cepat.
"Kalau aku menggunakan bentuk pertama.. 'menahan', maka apa yang terjadi padaku?" tanyanya pada Kalandra.
Kalandra kembali berbisik. "Kau bisa menahan satu jiwa dari kematian sang bocah,"
"Resikonya?"
"Energinya akan memakanmu. Kau akan demam tinggi selama tiga hari. Jika tubuhmu lemah, maka kau mati sebelum hari selesai,"
Saras menelan salivanya. Sungguh pilihan cukup sulit.
"Dan kalau aku memilih bentuk yang kedua, yaitu memurnikan?" ucapnya dengan suara berbisik.
"Kau dapat membersihkan racun Leak dari tubuh sang anak. Akan tetapi... Kau harus menyerap racunnya kedalam tubuhmu sendiri. Racun itu akan terus berbisik padamu setiap malam. Sampai kau benar gila, sebelum kau dapat membuangnya,"
Trisula di tangan Saraswati kembali bergetar, dan kali ini getarannya semakin kuat. Lalu mengjangat, hingga sampai le lengannya.
"Dan jika bentuk yang ketiga?" tanyanya kembali, dengan suara yang masih pelan.
Kalandra terdiam. Lalu ia tertawa kecil, tetapi suaranya mampu membuat Saraswati merasa tenang.
"Memutus! Kau potong ikatan Leak dengan tumbalnya. Akan tetapi, sekali kau pakai, Leak itu akan tahu siapa kau! Dan ia akan datang untuk membunuhmu secara pribadi! Tanpa perantara, dan ini bukan hal yang dapat kau sepelekan,"
Perlahan, angin kembali bergerak, bertiup dengan semilir, menerbangkan rambut Saraswati yang tergerai dengan begitu indah.
Dari balik belakang Pura, suara tangisan anak itu kembali terdengar, tetapi nadanya cukup lemah, hampir saja habis tertelan rasa takut dan kelelahan.
Saras membuka matanya, dan sosok Wayan Ratri masih berdiri di hadapannya, dengan tatapan yang mengerikan.
Saraswati balik menatap wanita itu. "Kalau aku tidak memilih apa-apa?" tanyanya dengan cukup santai.
"Kalau kau tidak memilih apapun, maka aku yang akan memilih," jawab Wayan Ratri dengan cepat. Ia tak ingin terlalu berdebat cukup lama dengan sang gadis.
Wayan Ratri menyeringai. "Aku akan memilih anak itu. Darahnya bersih, dan sangat cocok untuk upacara besok malam di Pura Dalem,"
Saras mengepalkan tangannya, dengan menggenggam erat trisula, lalu melangkah maju dan melewati Wayan Ratri yang berdiri di depannya.
Wanita tua itu tidak menghalangi langkah Saraswati, hanya saja ia berbisik, dengan suara yang bergetar, hingga terasa ke Pura Dewi Sri.
"Ternyata kau berani juga, Darah Wijaya!" ucapnya dengan seringai, dan matanya merah menyala.
Saraswati berlari ke belakang Pura tua, dan ia menghampiri sang bocah yang berada di bawah nyuh gading.
Anehnya, Nyoman Surya yang berada di Pura Dwi Sri tidak mendengar suara tangisa Ni Luh.
Si bawah pohon nyuh gading, Ni Luh tampak ketakutan. Sudah dua malam ia di sembunyikan oleh Wayan Ratri, dan tidak ada yang dapat menemukannya. Sebab di tutupi oleh pelindung ghaib.
Tubuh gadis itu menggigil menahan lapar, dan juga kedinginan.
Saraswati berdiri menatap tirai ghaib yang berwarna hitam. Ia mengayunkan trisulanya, lalu menghujamkannya ke arah dinding, dan dengan cepat terjadi retakan yang merambat cepat.
Byaaar!
Dinding retak, dan cahaya berpendar. Saraswati bergegas masuk dan memeluk sang gadis kecil
"Jangan takut, kakak, disini. Tidak akan ada yang dapat mengambilmu malam ini." bisiknya pada dengan lembut.
Wuuuussh!
Wayan Ratri muncul dari arah belakang. Tatapannya sangat tajam, dengan senyum menyeringai.
"Sayang sekali kau sudah memilih!" suaranya menggema di langit malam.
Saraswati langsung melindungi Ni Luh, dan berdiri tegak, dengan gadis kecil itu berada di belakangnya.
Trisula di angkat ke atas. Cahaya biru keluar dari setiap ukirannya.
"Kalau aku harus bayar! Maka aku akan membayarnya! Tidak ada hutang yang harus di tanggung oleh orang lain!"
Saraswati mengarahkan ujung trisula ke tanah, dan dengan gerakan yang cepat, ia menghujamkannya le atas tanah.
"Aku memilih untuk yang pertama! Menahan!"
Duaaar!
Cahaya meledak dan berpendar ke segala arah.
Nyoman Surya yang berada di Pura Dewi Sri tersentak kaget, lalu mengintip dari balik pintu pura, dan ia melihat cahaya du kejauhan, membelah kegelapan, dan tanah terasa bergetar.
"Apa itu?" gumamnya dengan rasa bingung beserta rasa penasaran.
Akan tetapi, ia mengendus aroma daging busuk yang sangat menyengat, membuat bulu kuduknya meremang.
"Hih!" ia bergidik ngeri, dan memilih kembali masuk ke dalam Pura, sebab sangat hafal, jika itu ada kehadiran Leak di sekitarnya.
~Pura Dalem adalah Pura di Bali yang berfungsi sebagai tempat memuja Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai pelebur (Pralina).
Pura ini merupakan bagian dari konsep Khayangan tiga yang wajib ada di setiap desa adat. Biasanya Pura ini terletak atau di bangun di dekat setra (Kuburan).
Yang tanya bagaimana wujud Trisula Bali, ini salah satu contohnya.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh