"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."
Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.
Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.
Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retaknya Topeng Sang Ratu
Suasana di dalam mobil Rolls-Royce itu terasa mencekam. Kenzo mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, sementara Nabila hanya bisa terpaku menatap amplop cokelat di pangkuannya. Kebenaran yang baru saja terungkap di kafe tadi terasa seperti belati yang menusuk jantung mereka berdua. Bukan ayah Nabila yang membunuh ayah Kenzo, melainkan ada pengkhianatan dari dalam lingkaran terdalam keluarga Aditama.
"Kenzo, kau yakin ingin melakukan ini sekarang?" tanya Nabila lirih saat mobil memasuki gerbang mansion besar keluarga Aditama yang tampak dingin di bawah guyuran hujan.
"Aku tidak bisa tidur dengan ular di dalam rumahku, Nabila," jawab Kenzo dingin. Suaranya datar, tapi Nabila tahu ada badai yang sedang mengamuk di balik mata elang itu.
Begitu pintu rumah terbuka, Ibu Sofia sudah berdiri di tengah ruang tamu yang megah, memegang segelas anggur dengan keanggunan yang mengintimidasi. "Kalian pulang lebih awal dari yang kuduga. Bagaimana acaranya? Menyenangkan?"
Kenzo tidak menjawab. Ia melangkah maju dan melemparkan amplop cokelat itu tepat ke atas meja marmer di depan ibunya. BRAK! Suara hantaman itu menggema di ruangan yang sunyi.
"Jelaskan ini, Ma," desis Kenzo.
Sofia melirik amplop itu dengan tenang, lalu tertawa kecil—sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Nabila berdiri. "Kenzo, jangan biarkan emosimu dikendalikan oleh asisten rendahan ini. Dia hanya ingin mengadu domba kita agar keluarganya terbebas dari kesalahan masa lalu."
"Data ini tidak berbohong!" bentak Kenzo, suaranya menggelegar hingga para pelayan di kejauhan tertunduk takut. "Sepuluh tahun lalu, Mama yang menyabotase rem mobil Papa karena Papa ingin membagi saham perusahaan kepada keluarga Nabila sebagai bentuk kompensasi proyek yang gagal! Mama tidak rela kekuasaan Mama berkurang, kan?"
Wajah Sofia yang semula tenang perlahan berubah. Topeng keibuannya retak, menampilkan sosok wanita ambisius yang haus kekuasaan. Ia meletakkan gelas anggurnya dan menatap Kenzo dengan mata yang tajam. "Jika aku tidak melakukannya, perusahaan ini sudah hancur di tangan ayahmu yang terlalu lembek! Aku melakukan ini untukmu, Kenzo! Agar kau bisa berdiri di puncak dunia ini!"
"Dengan cara membunuh Papa dan memfitnah orang yang tidak bersalah?!" seru Kenzo. Ia melangkah mendekat, auranya begitu mengancam. "Mulai detik ini, Mama tidak punya hak lagi atas Aditama Group. Tim audit dan kepolisian sudah dalam perjalanan."
Sofia terbelalak. "Kau berani melaporkan ibumu sendiri demi gadis ini?!" Ia menunjuk Nabila dengan penuh kebencian.
"Aku melakukannya demi keadilan yang sudah Mama curi selama sepuluh tahun," jawab Kenzo tegas.
Polisi benar-benar datang tak lama kemudian. Nabila hanya bisa berdiri terpaku saat melihat wanita yang paling berkuasa di Aditama Group itu digiring keluar dari mansion mewahnya sendiri. Sebelum pergi, Sofia sempat menoleh ke arah Nabila dan membisikkan sesuatu yang nyaris tak terdengar namun sangat tajam: "Kau pikir ini sudah berakhir? Kau hanyalah pembawa sial bagi anakku."
Setelah kepergian polisi, rumah itu terasa sangat kosong dan sepi. Kenzo berdiri mematung di tengah ruangan, punggungnya terlihat sangat rapuh di bawah lampu kristal yang mahal. Nabila mendekatinya perlahan, ia tahu beban yang dipikul Kenzo saat ini sangatlah berat. Ia baru saja kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa, meskipun keluarga itu adalah racun.
Nabila mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Kenzo dengan lembut. "Kenzo..."
Tanpa diduga, Kenzo berbalik dan langsung memeluk Nabila dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di bahu Nabila, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada gadis itu. Nabila bisa merasakan tubuh Kenzo yang gemetar hebat. Di balik sikap dingin dan kejamnya selama ini, Kenzo hanyalah seorang anak yang hancur karena pengkhianatan orang tuanya sendiri.
"Jangan pergi, Nabila," bisik Kenzo, suaranya terdengar pecah. "Hanya kau yang tersisa sekarang. Jangan pernah berani lari dariku."
Nabila terdiam, tangannya perlahan membalas pelukan Kenzo, mengusap punggung pria itu untuk memberikan ketenangan. "Aku di sini, Kenzo. Aku tidak akan ke mana-mana."
Malam itu, di tengah kehancuran keluarga Aditama, sebuah ikatan baru yang lebih nyata dari sekadar sandiwara mulai tumbuh. Namun, saat mereka sedang dalam momen emosional itu, ponsel Nabila yang terjatuh di lantai menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal—nomor yang berbeda dari si pengancam sebelumnya.
Satu singa sudah tumbang, tapi apakah kau siap menghadapi pemburu yang sebenarnya? Ayahmu masih hidup, Nabila. Dan dia sedang menunggumu di tempat semuanya bermula.'
Nabila menelan ludah. Ternyata, ini bukan akhir. Ini hanyalah permulaan dari konspirasi yang jauh lebih besar yang akan menyeretnya kembali ke masa lalu yang paling kelam.