Song Jiao, di kehidupan pertamanya dia adalah Jenderal Wanita terkuat yang berhasil menguasai Dunia, tapi hidupnya berakhir begitu cepat karena sebuah penyakit bawaan yang belum ada obatnya.
Tetapi jiwa berdarah-darah Song Jiao tidak diterima di Surga maupun Neraka, hingga pada akhirnya dia harus menjalani kehidupan kedua sebagai Song Jiao yang lain, yaitu putri Raja yang kehilangan statusnya setelah gagal mengkudeta Kekuasaan Kaisar yang tidak lain adalah Kakaknya sendiri.
Terbangun di tubuh gadis muda kurus yang lemah di akhir musim dingin, ingatan asing diterima Song Jiao begitu membuka mata, dan dari dalam ingatan itu dia tau hidupnya tinggal sebatang kara, dimana orangtuanya meninggal sebelum datangnya musim dingin, lalu para pelayan yang tersisa pergi setelah mengambil seluruh harta milik keluarga Song Jiao.
Tanpa harta, tanpa kekuatan, juga tanpa orang yang bisa diandalkan. Sanggupkah Song Jiao menjalani kehidupan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengumpulkan Informasi
Kabar pergerakan pasukan besar kavaleri Harimau Besi belum sampai ke telinga mereka yang ada di Kota Moyan. Seandainya kabar itu sudah terdengar dan disebarluaskan, tidak mungkin suasana Kota masih setenang seperti apa yang terlihat oleh Song Jiao dan ketiga pelayannya.
Tapi justru ketenangan inilah yang diharapkan oleh Song Jiao, hingga nantinya tiba waktunya pasukan yang dipimpin Qin Tianyu merobohkan benteng pertahanan Kota Moyan. Meski kekuatan pertahanan Kota Moyan tangguh, tanpa adanya benteng sekokoh besi, pertahanan Kota tidak akan memiliki cukup kekuatan menahan serangan pasukan di bawah kepemimpinan Qin Tianyu.
Melihat sang Nona terus melangkahkan kaki di jalanan Kota Moyan. Wei Zu, Lu Li dan Cu Yun, mereka terus saja mengekor tepat di belakang Song Jiao.
Semakin malam suasana Kota Moyan bukannya sepi tetapi justru semakin ramai. Ada ribuan orang memenuhi jalanan Kota dari ujung satu ke ujung lainnya. Beberapa kedai juga restoran bahkan mulai buka saat waktu hampir menjelang tengah malam.
Dengan ditiadakannya jam malam sejak bertahun-tahun lalu, suasana di malam hari Kota Moyan terasa lebih hidup dibandingkan saat hari terang.
Setelah berjalan kesana-kemari selama beberapa waktu, Song Jiao mengajak ketiga pelayannya singgah ke salah satu restoran terbesar yang ada di Kota Moyan.
Song Jiao sempat ragu sejenak saat ingin masuk ke restoran yang dipenuhi banyak Nona Muda dan Tuan Muda bangsawan Kota Moyan, tapi mengingat dia butuh informasi tentang apa saja yang ada di Kota Moyan, dia langsung saja masuk ke dalam restoran tanpa adanya keraguan.
Awalnya tidak ada yang memperhatikan Song Jiao dan ketiga pelayannya hingga mereka semua duduk di meja yang sama, tetapi begitu mereka duduk, satu demi satu pasang mata mencuri curi melihat ke arah mereka.
Mengetahui semakin banyak pasang mata melihat ke arahnya, Song Jiao masih saja terlihat tenang seolah tidak peduli dengan pandangan yang mengarah padanya. Dia memang tidak peduli, tapi seorang Song Jiao tidak pernah lengah meski tidak ada tanda-tanda bahaya di sekitarnya.
Begitu makanan yang lebih dulu dipesan datang, Song Jiao dan ketiga pelayannya, satupun dari mereka tidak ada yang menyentuh makanan di atas meja.
"Nona, ada yang ingin bermain-main dengan kita!"
Mendengar suara Cu Yun, ekspresi Song Jiao sedikit berubah. Dia merasa tidak pernah menyinggung siapapun di Kota Moyan, tapi sekarang ada racun di makanannya juga di makanan ketiga pelayannya. Benar-benar sambutan luar biasa dari orang-orang Xue Long.
"Pura-pura makan dan pura-pura tidak tau apa-apa!"
Song Jiao mengatur suaranya supaya hanya bisa didengar ketiga pelayannya, dan setelahnya mereka mulai makan, tapi sebelum makanan masuk ke mulut mereka, Song Jiao memindahkan makanan itu ke dalam ruang ajaibnya.
Tidak lama kemudian semua makanan di atas meja habis, diikuti oleh senyuman lebar dari sekelompok pria yang sejak awal sudah dicurigai oleh Song Jiao sebagai pelaku yang meletakkan racun di makanannya, sejenis racun yang jika sampi termakan, racun itu bisa melumpuhkan tubuh selama satu hingga dua hari ke depan.
"Kita pergi dari sini, dan tetap pura-pura tidak tau!"
Selesai bicara, Song Jiao memimpin ketiga pelayannya meninggalkan restoran, dan mereka tau jika sedang diikuti.
Bukannya menghindar, Song Jiao justru mengarahkan langkah kaki menuju sebuah gang yang sangat sepi dan gelap.
"Nona-nona sekalian, sepertinya kalian salah jalan!"
Song Jiao tersenyum kecil begitu mendengar suara pria dari arah belakang. Entah sejak kapan sebuah pisau lempar muncul di tangannya, tapi yang jelas pisau itu kini telah melesat cepat ke arah pria yang baru bicara.
"Jleb..."
Pisau tepat menancap diantara kedua alis pria yang tubuhnya perlahan roboh, kejang-kejang, dan sepenuhnya tidak lagi bergerak.
"Ka-kau wanita bodoh! Bagaimana bisa kau membunuh putra Penguasa Kota Moyan?"
Seringaian diperlihatkan Song Jiao begitu tau identitas pria yang ingin meracuninya, pria yang kini hidupnya telah berakhir.
"Tenang saja, kalian akan bernasib sama dengannya!"
Begitu Song Jiao selesai bicara, tiga bayangan berkelebat ke arah ketiga pria. Belum sempat ketiganya merespon apa yang sedang terjadi, tubuh mereka sudah lebih dulu tumbang, sementara kesadaran mereka telah padam sepenuhnya.
Tanpa suara berlebihan di tambah tempat yang gelap juga sepi. Kematian empat pria yang salah satunya merupakan putra Penguasa Kota Moyan sama sekali tidak diketahui orang lain, tentunya selain para pelaku yang begitu saja pergi mengabaikan empat mayat yang tergeletak di jalanan.
Song Jiao dan ketiga pelayannya berjalan menuju sisi benteng Kota Moyan yang sepi, dan tanpa diketahui pihak keamanan mereka dengan mudahnya berhasil meninggalkan Kota Moyan yang tenang, tapi itu adalah ketenangan sebelum terjadinya badai.
Tiba kembali ke tempat perkemahan yang lokasinya tersembunyi. Song Jiao segera menulis surat laporan yang berisi jumlah kekuatan Kota Moyan, dan surat itu dikirim menggunakan burung merpati pos.
Bagitu surat dikirim, Song Jiao berkumpul dengan prajurit wanita yang duduk melingkar di dekat salah satu api unggun, dimana ada beberapa api unggun yang sengaja dibuat untuk menghilangkan rasa dingin di malam hari.
**
**
Beberapa waktu kemudian...
Jauh dari perkemahan yang didirikan Song Jiao, sebuah merpati pos berwarna hitam mendarat sempurna di tangan Qin Tianyu, dan meski belum melihat surat yang tersimpan di dalam tabung bambu kecil, Qin Tianyu sudah tau siapa pihak yang mengirimkan surat itu padanya.
Burung merpati pos diserahkan pada Qin Zixuan begitu Qin Tianyu telah mengambil surat yang ditulis oleh Song Jiao.
"Ayahanda, apa isi surat yang ditulis oleh adik Jiao?"
Qin Zixuan penasaran dengan isi surat yang ditulis oleh Song Jiao, apalagi saat ini dia melihat ekspresi ayahnya yang tampak serius.
"Ini informasi tentang kekuatan musuh di Kota Moyan."
Qin Tianyu menjawab pertanyaan Qin Zixuan begitu selesai membaca keseluruhan isi surat Song Jiao.
"Baca sendiri jika kamu ingin tau detail surat yang ditulis oleh Jiao'er!"
Qin Zixuan dengan senang hati membaca sendiri surat yang ditulis Song Jiao, dan begitu dia selesai membacanya, mengikuti perintah sang ayah, dia langsung membakar surat itu, menghilangkan jejak dari surat yang bisa saja mengungkap kehadiran Song Jiao di Kota Moyan.
Begitu Qin Tianyu selesai menyamping isi surat yang ditulis Song Jiao pada para Jenderal dan para Komandan pasukan, perjalanan kembali dilanjutkan, dan jika semua berjalan lancar, menjelang pagi mereka semua akan tiba di dekat tempat Song Jiao saat ini.
Mereka sudah sangat dekat, dan sengaja malam ini mereka tidak istirahat karena ingin segera tiba di tempat Song Jiao, lalu istirahat selama satu hari satu malam penuh, sebelum di hari selanjutnya melakukan serangan ke Kota Moyan.