NovelToon NovelToon
Langit Tersegel: Rise Of Fengxuan

Langit Tersegel: Rise Of Fengxuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dan budidaya abadi / Epik Petualangan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: LEVIATHAN_M.S

“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”

Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.

“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”

Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.

“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”

“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”

“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”

Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 26 - Tiga Puluh Enam Meridian

Malam di Puncak Awan Pengembara terasa sedikit lebih ramai dibanding biasanya setelah hari pembagian gaji selesai. Lentera merah digantung di beberapa sudut halaman dapur umum dan suara tawa para murid luar terdengar bercampur dengan aroma daging panggang yang memenuhi udara pegunungan. Sebagian murid duduk mengelilingi api unggun sambil membawa mangkuk sup hangat, sementara yang lain sibuk membandingkan jumlah batu spiritual yang mereka dapat bulan ini.

Namun suasana hangat itu tetap diiringi keluhan yang sama.

“Hantu ayam sialan itu lagi…”

“Aku kehilangan hampir seperlima bonusku.”

“Dan jangan lupa roh api penunggang babi.”

“Kalau sampai kutangkap pelakunya, akan kusuruh dia membersihkan kandang seumur hidup.”

Bai Fengxuan yang duduk di dekat Han Gu langsung ikut mengangguk serius sambil menggigit daging panggang di tangannya, seolah dirinya juga korban dari semua kekacauan itu. Bahkan sesekali ia ikut mendecakkan lidah bersama murid lain ketika pembicaraan mulai mengarah pada rumor ayam dan babi spiritual yang hilang.

Han Gu di sampingnya beberapa kali hampir tertawa, namun pria itu cukup pintar untuk menundukkan wajah sambil pura-pura sibuk makan.

Pesta kecil malam itu sebenarnya sederhana saja. Tidak ada arak mahal atau makanan tingkat tinggi seperti milik para murid dalam. Hanya beberapa potong daging spiritual, sup hangat, nasi, dan suasana santai setelah bekerja keras selama sebulan penuh. Meski begitu, bagi murid luar seperti mereka, malam seperti ini sudah cukup menyenangkan.

Xu Liang bahkan sempat berdiri di atas bangku kayu sambil mengangkat mangkuk supnya tinggi-tinggi.

“Aku bersumpah suatu hari nanti akan menangkap hantu ayam itu!”

“Duduk sana sebelum kau jatuh!” teriak seseorang dari belakang.

Gelak tawa langsung memenuhi halaman.

Namun bagi Bai Fengxuan sendiri, makanan malam itu terasa biasa saja. Setelah beberapa kali memasak menggunakan wajan hitam, lidahnya perlahan mulai terbiasa dengan rasa makanan spiritual yang jauh lebih kaya. Daging panggang di pesta ini memang enak, tetapi tetap terasa berbeda dibanding sup babi spiritual buatannya sendiri. Karena itulah ia tidak bertahan terlalu lama di sana.

Sebelum tengah malam tiba, Bai Fengxuan sudah lebih dulu pamit lalu berjalan kembali menuju gubuk kayunya di lereng bawah. Kabut malam bergerak perlahan di antara pepohonan pinus, sementara cahaya bulan menyinari jalan setapak batu yang sunyi.

Begitu masuk ke dalam gubuk, suasana langsung berubah tenang. Cahaya lampu minyak kecil menerangi meja kayu sederhana di dekat jendela, sementara wajan hitam tua masih terdiam di atas tungku batu seperti benda biasa.

Bai Fengxuan segera duduk lalu membuka buku tipis tua yang ia dapat dari Paviliun Kitab Awan. Semakin dibaca, semakin ia menyadari bahwa buku itu jauh lebih penting dibanding tampilannya yang sederhana.

Tulisan di dalamnya memang tidak menggunakan istilah rumit seperti manual kultivasi lain. Tidak ada pembahasan dao langit atau teknik rahasia yang terdengar hebat. Namun justru karena itu isi buku tersebut terasa sangat mudah dipahami.

Malam itu Bai Fengxuan akhirnya memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dijelaskan secara rinci di kelas Tetua Ji.

Manusia memiliki tiga puluh enam meridian utama di dalam tubuh mereka. Meridian-meridian itu adalah jalur tempat qi spiritual mengalir. Semakin banyak meridian yang terbuka, semakin cepat seseorang menyerap energi spiritual langit dan bumi, dan semakin besar pula potensi masa depan mereka.

Namun masalahnya tidak semua orang mampu membuka seluruh meridian tersebut.

Bahkan sebagian besar kultivator hanya berhasil membuka sebagian kecil selama hidup mereka. Yang paling penting, proses membuka meridian hanya benar-benar efektif ketika seseorang masih berada di tahap Qi Gathering.

Karena setelah memasuki Foundation Establishment, tubuh kultivator akan mulai mengalami perubahan besar. Meridian yang masih tertutup akan mengeras dan hampir mustahil dibuka kembali.

Tatapan Bai Fengxuan perlahan menjadi serius. Ia menunduk memandang telapak tangannya sendiri sambil merasakan qi spiritual tipis yang bergerak di dalam tubuhnya.

Saat ini ia baru membuka satu meridian. Dan itu saja sudah cukup membuatnya memasuki Qi Gathering level 1.

Buku itu terus menjelaskan bahwa untuk membuka meridian yang tersumbat, seorang kultivator membutuhkan energi spiritual yang selaras dengan akar spiritual miliknya sendiri.

Bai Fengxuan langsung mengingat hasil pengujian bakatnya dulu.

Akar spiritual bintang lima Elemen kayu.

Artinya, ia membutuhkan energi spiritual berelemen kayu untuk membuka meridian berikutnya. Namun setelah memikirkan itu beberapa saat, ekspresinya perlahan berubah suram.

Di mana ia bisa mendapatkan energi seperti itu?

Ia hanyalah murid biasa di Puncak Awan Pengembara. Bahkan membeli buku murah lima batu spiritual saja sudah membuat kantungnya terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Mencari harta elemen kayu terdengar terlalu jauh dari kehidupannya sekarang.

Bai Fengxuan akhirnya bersandar pelan sambil menghela napas panjang. Angin malam bergerak melewati sela papan kayu gubuknya sementara api kecil di tungku mulai mengecil perlahan.

Dan tepat ketika pikirannya mulai dipenuhi kebingungan—

cepak… cepak…

Suara air kecil tiba-tiba terdengar dari sudut ruangan.

Bai Fengxuan langsung menoleh. Ikan kecil bersisik emas di dalam ember kayu kembali bergerak liar sambil memercikkan air ke lantai.

Untuk sesaat Bai Fengxuan hanya berkedip bingung sebelum akhirnya menepuk dahinya sendiri.

“…Aku lupa memberimu makan lagi.”

Ia segera berdiri lalu mendekati ember tersebut. Ikan kecil itu terus membuka mulut mungilnya sambil bergerak gelisah di dalam air.

Bai Fengxuan langsung merasa sedikit bersalah. Bagaimanapun juga, ikan itu adalah “saksi pertama” kehidupannya sebagai kultivator tenang di tepi sungai beberapa hari lalu. Kalau dipikir-pikir, sejak membawanya pulang ia justru lebih sering melupakannya dibanding merawatnya.

“Baiklah, baiklah…” gumamnya pelan. “Aku akan mencarikan makanan.”

Masalahnya ia sama sekali tidak punya makanan ikan. Pada akhirnya Bai Fengxuan hanya bisa mengambil keranjang bambu kecil lalu keluar diam-diam menuju ladang herbal dekat danau spiritual. Malam sudah cukup larut sehingga sebagian besar murid luar mulai tertidur. Kabut tipis bergerak pelan di sekitar lereng gunung, sementara suara jangkrik terdengar samar dari balik rerumputan.

Malam itu ia kembali keluar menuju area danau spiritual.

Kabut malam terlihat jauh lebih tebal sekarang. Permukaan air danau memantulkan cahaya bulan samar seperti cermin besar yang tenang. Di tepian danau tumbuh beberapa tanaman air herbal tipis yang biasa digunakan murid dapur untuk membuat sup spiritual ringan.

Bai Fengxuan berjongkok pelan lalu mulai memetik beberapa tangkai.

“Aku hanya mengambil sedikit…” bisiknya seperti sedang membela diri sendiri. “Lagipula tanaman sebanyak ini tidak mungkin langsung ketahuan hilang.”

Tiga tangkai tanaman air spiritual akhirnya masuk ke dalam keranjang bambunya.

Begitu kembali ke gubuk dan menjatuhkan tanaman itu ke dalam ember, ikan kecil emas tersebut langsung berenang cepat lalu mulai menggigit daun-daun spiritual tersebut dengan lahap.

Mata Bai Fengxuan sedikit membesar.

“Kau benar-benar makan tanaman spiritual…”

Ia memperhatikan ikan itu cukup lama. Dan entah kenapa, dibanding kemarin tubuh ikan kecil itu memang tampak sedikit lebih besar. Atau mungkin hanya perasaannya saja?

Namun melihat ikan tersebut akhirnya tenang membuat Bai Fengxuan ikut menghela napas lega. Bahkan jauh di dalam hati, ia merasa sedikit bangga pada dirinya sendiri karena berhasil “menyelamatkan” seekor ikan kecil malang.

Malam akhirnya berlalu dalam suasana tenang.

Dan ketika lonceng pagi Puncak Awan Pengembara mulai bergema keesokan harinya, Bai Fengxuan segera bangun lalu kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Kabut pagi masih menggantung di antara lereng gunung ketika ia berjalan menuju kandang bersama murid luar lain. Udara terasa dingin dan segar sementara suara ayam spiritual mulai memenuhi seluruh area kandang.

Namun di tengah perjalanan, telinganya tiba-tiba menangkap percakapan beberapa murid perempuan di depan.

“Kau dengar belum?”

“Tentang apa?”

“Tanaman air spiritual di dekat danau terus hilang setiap malam.”

“Serius?”

“Salah satu murid jaga bilang mungkin ada roh air tinggal di sana.”

Bai Fengxuan langsung membeku beberapa langkah di belakang mereka.

“Katanya tanaman itu seperti dimakan sesuatu…”

“Aku juga dengar ada suara cipratan air tengah malam.”

“Jangan-jangan hantu air?”

Salah satu gadis langsung memeluk lengannya sendiri dengan wajah pucat.

“Jangan bicara begitu pagi-pagi…”

Bai Fengxuan perlahan memalingkan wajah ke arah lain sambil berkeringat dingin. Untuk beberapa detik ia benar-benar tidak tahu harus merasa malu atau takut.

Dulu ada hantu ayam.

Lalu roh api penunggang babi.

Dan sekarang—

hantu air.

Entah kenapa, semakin lama Bai Fengxuan merasa seluruh Puncak Awan Pengembara perlahan dipenuhi rumor aneh gara-gara dirinya sendiri.

1
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!