Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasti bukan Sekar!
Kabar tentang penemuan mayat di sumur tua itu menyebar dengan cepat ke seluruh desa.
Tidak butuh waktu lama hingga berita tersebut sampai ke telinga Lindu dan Wulan.
Mereka yang sedang berada di rumah langsung terkejut saat mendengarnya.
Tanpa menunggu lama, keduanya segera berangkat menuju rumah Bu Ratmini.
Sepanjang perjalanan, suasana hati mereka dipenuhi kegelisahan.
Tidak ada yang bicara. Wulan terus menggenggam ujung kerudungnya dengan cemas.
Sementara Lindu berjalan dengan wajah tegang.
Dia berusaha tetap tenang, tetapi kabar itu membuat hatinya tidak nyaman.
Sesampainya di rumah Bu Ratmini, mereka mendapati halaman rumah sudah dipenuhi warga.
Orang-orang berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil sambil berbisik membicarakan kejadian tersebut.
Suasana yang biasanya ramai kini terasa muram.
Beberapa perempuan terlihat menangis, sebagian lainnya hanya duduk diam dengan wajah penuh kecemasan.
Lindu dan Wulan segera menerobos kerumunan warga. Mereka masuk ke dalam rumah panggung itu. Para warga desa hanya menatap mereka.
Di dalam rumah, Bu Ratmini masih terbaring lemah di atas kasur.
Matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Sesekali terdengar isak lirih keluar dari bibirnya.
Namun sebagian besar waktu dia hanya menatap kosong ke arah langit-langit rumah.
Seolah menolak mempercayai kenyataan yang sedang terjadi.
Beberapa ibu-ibu duduk di sekelilingnya untuk menemani dan menenangkan.
Namun tidak ada satu pun kata yang mampu mengurangi kesedihan yang sedang dia rasakan.
Lindu dan Wulan saling berpandangan, hati mereka semakin tidak tenang.
Pandangan Lindu lalu menangkap sosok Pakde Banyu yang duduk di sudut ruangan.
Pria tua itu tampak lesu, wajahnya kusut dan matanya merah.
Seolah dalam beberapa jam terakhir dia telah menanggung beban yang sangat berat.
Lindu segera menghampirinya.
"Pakde..."
Pakde Banyu perlahan mengangkat kepala.
"Di mana Sekar?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Lindu.
Di sampingnya, Wulan juga menatap Pakde Banyu penuh harap.
Mereka ingin mendengar jawaban yang menenangkan.
Mereka ingin mendengar bahwa semua kabar itu hanya kesalahpahaman. Namun Pakde Banyu hanya diam, bibirnya bergerak sedikit, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Dadanya terasa sesak, dia sendiri belum sanggup mengucapkan kemungkinan yang sejak tadi menghantui pikirannya.
Bagaimana jika mayat yang ditemukan di dalam sumur tua itu bukan Sekar? Bagaimana jika itu benar-benar adalah Sekar?
Bagaimana dia harus menyampaikan kepada orang yang bertanya sedangkan dia sendiri belum memiliki jawaban yang pasti atas itu.
Pakde Banyu menundukkan kepala, matanya tampak berkaca-kaca. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa begitu panjang.
Lindu mulai merasa semakin cemas.
"Pakde..." Panggilnya lagi.
Namun Pakde Banyu tetap kesulitan menjawab. Pada akhirnya, dia menarik napas panjang dan berkata dengan suara pelan,
"Kita masih menunggu kabar dari rumah sakit."
Kalimat itu tidak menjawab pertanyaan mereka. Namun, justru membuat hati Lindu dan Wulan semakin dipenuhi kegelisahan.
Karena dari raut wajah Pakde Banyu, mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diucapkan.
Sebuah ketakutan besar, ketakutan yang bahkan pria setegar Pakde Banyu pun tidak sanggup mengatakannya dengan lantang.
"Iya... benar." Lindu mengangguk pelan setelah mendengar ucapan Pakde Banyu.
"Kita nda bisa mengatakan itu Sekar." Suaranya terdengar berat.
"Karena pasti itu bukan Sekar."
Tidak ada yang menjawab.
Namun semua orang yang berada di ruangan itu dapat merasakan bahwa kalimat tersebut lebih terdengar seperti harapan daripada keyakinan.
Lindu sendiri tidak sanggup menerima kemungkinan yang sedang menghantui pikiran semua orang.
Sejak mendengar kabar penemuan mayat di sumur tua itu, hatinya terus dipenuhi kegelisahan.
Namun jauh di dalam dirinya, dia terus menolak untuk mempercayainya.
Menolak membayangkan bahwa jasad yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan itu adalah Sekar.
Perempuan yang pernah begitu berarti dalam hidupnya.
Perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Lindu mengepalkan tangannya perlahan. Pandangannya tertuju ke lantai kayu di bawah kakinya.
Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Mungkin warga terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Apa pun kemungkinannya, dia ingin mempercayai hal itu.
Karena ada satu kenyataan yang tidak sanggup dia terima.
Yaitu jika mayat yang ditemukan di dasar sumur tua itu benar-benar Sekar.
Bahkan setelah semua yang terjadi di masa lalu, setelah rasa sakit dan kekecewaan yang pernah dia rasakan, Lindu menyadari satu hal.
Dia lebih sanggup menerima kenyataan jika Sekar benar ditemukan hidup bersama laki-laki lain.
Lebih sanggup menerima bahwa perempuan itu memilih menjalani hidup bersama orang yang dahulu membawanya pergi.
Meski kenyataan itu pahit, meski mungkin akan membuka kembali luka lama yang selama ini telah berusaha dia kubur. Namun setidaknya Sekar masih hidup.
Sebaliknya, jika mayat itu benar-benar Sekar, Lindu bahkan tidak berani membayangkannya.
Bagaimana jika semua harapan itu berakhir dengan sebuah kabar duka?
Bagaimana jika yang kembali bukan Sekar yang hidup, melainkan jasad yang telah kehilangan wajah dan cerita hidupnya?
Pikiran itu membuat dada Lindu terasa sesak. Dia menggeleng pelan seolah ingin mengusir bayangan buruk tersebut.
"Nda..." Gumamnya hampir tak terdengar.
"Itu bukan Sekar."
Di dekatnya, Wulan menatap wajah suaminya.
Dia bisa melihat dengan jelas bahwa Lindu sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Berusaha bertahan pada secercah harapan yang masih tersisa.
Sementara di sudut ruangan, Pakde Banyu hanya menunduk diam.
"Iya, aku juga yakin itu bukan Sekar." Suara Wulan terdengar lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sekar nda mungkin meninggalkan kita seperti itu." Satu tetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Dia segera mengusapnya, tetapi air mata berikutnya kembali mengalir. Wulan akhirnya menundukkan kepala.
Dadanya terasa sesak sejak mendengar kabar tentang mayat yang ditemukan di sumur tua itu.
Namun sama seperti Lindu, dia juga menolak menerima kemungkinan terburuk tersebut.
Dalam benaknya, Sekar masih hidup. Meskipun entah di mana. Dan, entah dalam keadaan seperti apa, tetapi sahabatnya itu pasti masih hidup.
Wulan masih mengingat begitu banyak kenangan bersama Sekar.
Karena itulah sulit bagi Wulan untuk membayangkan bahwa semua kenangan itu berakhir begitu saja. Apalagi dengan cara yang begitu tragis.
"Nda..." Gumamnya pelan sambil menggeleng.
"Itu bukan Sekar." Air matanya kembali jatuh.
Dia teringat wajah sahabatnya yang selalu ceria. Teringat suara tawanya.
Teringat bagaimana dia dan Sekar sering mengobrol berjam-jam tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting.
Kenangan-kenangan itu terasa begitu hidup, terlalu hidup untuk diakhiri oleh kabar kematian yang mendadak.
"Dia pasti masih hidup." Suara Wulan bergetar.
"Dia pasti masih ada di suatu tempat." Tidak ada yang menyahut.
Namun beberapa orang di dalam ruangan menundukkan kepala.
Mereka memahami perasaan Wulan. Karena jauh di dalam hati, sebagian dari mereka juga masih berharap hal yang sama.
Wulan menyeka air matanya lagi. Kemudian dia menoleh ke arah Bu Ratmini yang masih terbaring lemah di atas kasur.
Melihat perempuan tua itu membuat dadanya semakin terasa perih. Dia tahu bagaimana perempuan itu menunggu kepulangan anaknya.
Dan kini, ketika harapan itu seolah berada di ujung tanduk, Wulan tidak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya hati seorang ibu jika kabar tersebut benar.
Karena itulah ia terus berpegang pada keyakinannya.
Sekar masih hidup.
Sekar pasti masih hidup.
Mungkin suatu hari dia akan pulang. Mungkin suatu hari dia akan berdiri di depan pintu rumah itu lagi.
Sampai saat itu tiba, Wulan memilih untuk percaya. Percaya bahwa sahabatnya belum pergi untuk selamanya.
Dan selama belum ada kepastian, dia akan terus berharap bahwa Sekar itu masih bernapas di suatu tempat, menunggu waktu untuk kembali ke rumah.