NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Lembah Bisu

Jurang itu semakin dalam dan semakin gelap seiring Nana dan Jeno menyelam.

Cahaya dari dunia atas — dari ubur-ubur raksasa, dari ikan-ikan berpendar, dari matahari yang tembus hingga ke dasar laut — perlahan memudar. Bergantian dengan kegelapan absolut. Kegelapan yang tidak hanya menutupi mata, tapi juga menekan.

Nana merasakannya di sekujur tubuhnya. Seperti ada tangan-tangan tak terlihat yang meremas jantungnya, mencoba mengambil sesuatu darinya.

Suaranya.

"Nana," bisik Jeno di sampingnya. Suaranya terdengar aneh — seperti gema yang jauh, padahal ia tepat di sebelah Nana. "Kau merasakannya?"

Nana mengangguk. Ia mencoba berkata, "Aku merasakannya," tapi kata-katanya keluar sebagai desisan yang nyaris tak terdengar.

Lembah Bisu sudah mulai bekerja.

Mereka terus menyelam.

 

Ketika mereka akhirnya mencapai dasar lembah, Nana mengerti mengapa tempat ini disebut Lembah Bisu.

Diam.

Bukan diam seperti di perpustakaan. Bukan diam seperti malam tanpa angin. Tapi diam seperti kematian. Tidak ada suara ombak. Tidak ada suara ikan. Tidak ada suara deburan jantungnya sendiri.

Nana menempelkan tangannya ke dadanya. Jantung Aequoria masih berdenyut — ia bisa merasakannya — tapi ia tidak bisa mendengarnya.

Ia menoleh ke Jeno.

Jeno berdiri di sampingnya, mulutnya bergerak — berbicara sesuatu — tapi tidak ada suara yang keluar. Tidak ada suara yang sampai ke telinga Nana.

Kami sudah bisu.

Nana merasakan panik merambat naik dari perutnya. Bagaimana mereka bisa berkomunikasi? Bagaimana mereka bisa bertahan jika tidak bisa saling mendengar?

Tapi kemudian Jeno meraih tangannya.

Dingin. Tapi hangat.

Ia menatap mata Nana — biru pucat itu masih bersinar di tengah kegelapan — lalu menunjuk ke arah depan.

Ikuti aku. Aku tahu jalannya.

Nana mengangguk. Ia menggenggam balik tangan Jeno — erat — dan mereka berenang berdampingan ke dalam Lembah Bisu.

 

Dasar lembah itu bukan pasir atau karang biasa.

Itu adalah hutan batu — ribuan pilar batu hitam yang menjulang tinggi dari dasar, seperti pohon-pohon raksasa yang membatu. Beberapa pilar itu berbentuk manusia. Atau setidaknya, menyerupai manusia.

Nana berhenti di depan salah satu pilar.

Ia menyentuhnya.

Dingin. Keras. Mati.

Tapi di ujung jarinya — ada getaran. Getaran yang sama seperti yang ia rasakan saat menyentuh patung Lira di gerbang Aequoria.

Ini bukan batu biasa. Ini Siren. Siren yang dikutuk.

Tapi bukan oleh Aramis. Kutukan ini lebih tua. Lebih primitif. Lembah Bisu sendiri yang mengubah mereka menjadi batu.

Jeno menarik tangan Nana pelan. Ia menggeleng.

Jangan sentuh sembarangan. Kita belum tahu apa yang bisa memicu kutukan di sini.

Nana mengangguk. Mereka berenang melewati hutan batu itu — melewati ratusan, mungkin ribuan, patung Siren yang membatu dalam posisi berteriak. Mulut mereka terbuka lebar, mata mereka melotot, tangan mereka terulang ke depan seolah mencoba meraih sesuatu yang tidak pernah bisa mereka raih.

Mereka mati dengan suara di tenggorokan, tapi tidak pernah keluar.

Nana menelan ludah. Jantung Aequoria berdenyut lebih cepat — bukan takut, tapi marah. Marah pada Lembah Bisu. Marah pada Aramis. Marah pada dunia yang membiarkan ini terjadi.

Tapi ia tidak bisa berteriak. Ia tidak punya suara.

 

Di tengah hutan batu, ilusi mulai menyerang.

Nana melihat Mira — ibunya di darat — berdiri di antara dua pilar batu. Mira tersenyum, mengulurkan tangan, memanggilnya.

"Nana... pulanglah... aku rindu..."

Nana hampir berenang ke arahnya. Tapi Jeno menahannya.

Jeno menggeleng keras. Matanya biru pucat itu menyipit — waspada.

Itu tidak nyata.

Nana menatap Mira lagi. Sosok itu masih tersenyum. Tapi senyumnya terlalu lebar. Matanya terlalu kosong.

Ilusi.

Nana menutup mata. Ia memikirkan Mira yang sesungguhnya — Mira yang menangis di dapur setiap malam, Mira yang memukul Jeno dengan sendok kayu, Mira yang nyata.

Ketika ia membuka mata, sosok Mira sudah lenyap.

Tapi ilusi berikutnya langsung muncul.

Jeno.

Bukan Jeno yang di sampingnya. Tapi Jeno yang lain — Jeno dengan mata merah, sisik hitam, dan trisula yang mengarah ke dadanya.

"Aku akan membunuhmu, Nana. Seperti ayahku membunuh ibumu. Darahku jahat. Tidak bisa kau sembuhkan dengan cinta."

Nana merasakan dadanya sesak. Ia menoleh ke Jeno asli di sampingnya — Jeno dengan mata biru pucat, wajah panik, bibir bergerak-gerak membentuk kata-kata yang tidak bisa ia dengar.

Jangan percaya. Itu tidak nyata. Aku di sini. Aku tidak akan pernah menyakitimu.

Tapi ilusi itu terus berbicara. Terus menusuk. Terus meracuni pikirannya.

"Kau tahu itu benar. Suatu hari, aku akan berubah. Darah jahat tidak bisa dihilangkan. Kau buang-buang waktu mencintaiku."

Nana menggigit bibirnya sampai hampir berdarah.

Ia memejamkan mata.

Ia memikirkan ciuman pertama mereka di ruang latihan. Dinginnya bibir Jeno. Hangatnya lidahnya.

Ia memikirkan pelukan di taman laut di samping mawar biru. Detak jantung Jeno yang berdetak seirama dengan Jantung Aequoria.

Ia memikirkan janji Jeno: "Aku akan menjaganya sampai napas terakhirku."

Ketika Nana membuka mata, ilusi Jeno jahat itu sudah lenyap.

Jeno asli masih di sampingnya, masih memegang tangannya, masih menatapnya dengan mata biru pucat yang penuh ketakutan — bukan takut pada ilusi, tapi takut kehilangan Nana.

Nana tersenyum kecil.

Ia mengangkat tangan mereka yang tergenggam, dan menempelkan punggung tangan Jeno ke pipinya.

Aku di sini. Aku tidak akan pergi.

Jeno menghela napas lega. Dahinya menyentuh dahi Nana — dan di dalam keheningan Lembah Bisu, sentuhan itu terasa lebih keras dari seribu kata.

 

Mereka berenang lebih dalam.

Hutan batu mulai jarang. Bergantian dengan padang pasir putih — pasir yang tidak terbuat dari batu hancur, tapi dari tulang. Tulang-tulang Siren yang gagal melewati Lembah Bisu.

Nana tidak mau melihat terlalu dekat. Ia menatap lurus ke depan, ke satu-satunya titik terang di kegelapan: sebuah cahaya keemasan yang berdenyut di kejauhan.

Sumur Kenangan.

Tapi di depan sumur itu, ada sesuatu yang duduk.

Bentuk manusia. Tapi terlalu besar untuk manusia biasa. Sisiknya berwarna abu-abu — bukan biru, bukan hitam, tapi abu-abu seperti debu. Matanya tidak ada. Hanya dua lubang kosong di wajahnya yang menua.

Penjaga Lembah Bisu.

Nana dan Jeno berhenti beberapa meter dari makhluk itu. Mereka saling berpandangan.

Bagaimana kita bisa lewat? Kita tidak punya suara untuk bernegosiasi.

Tapi ternyata, mereka tidak perlu bersuara.

Penjaga itu bangkit. Tubuhnya menjulang dua kali lipat tinggi Jeno. Kepalanya yang botak dan bermata kosong menunduk ke arah Nana.

Dan kemudian — di dalam kepala Nana, sebuah suara.

Bukan suara yang didengar telinga. Tapi suara yang dirasakan langsung di otak, seperti paku yang ditusukkan ke dalam pikirannya.

"Kau datang untuk Sumur Kenangan, anak kecil."

Nana tidak bisa menjawab. Tapi pikirannya — pikirannya berteriak: "YA."

"Kau tahu harga yang harus kau bayar?"

"Apa?"

"Suara."

Nana merasakan jantungnya berhenti sedetik.

"Untuk masuk ke Sumur Kenangan, kau harus meninggalkan suaramu di sini. Selamanya. Kau tidak akan pernah bisa bernyanyi lagi."

Nana menoleh ke Jeno. Jeno — yang juga mendengar suara itu di kepalanya — memucat. Mulutnya bergerak membentuk kata: "JANGAN."

Tapi Nana kembali menatap penjaga itu.

"Jika aku meninggalkan suaraku... apakah orang lain yang ikut denganku juga kehilangan suaranya?"

Penjaga itu menggeleng pelan.

"Hanya yang masuk ke Sumur. Yang menunggu di luar akan selamat."

Nana mengambil keputusan.

Ia melepaskan tangan Jeno.

Jeno meraihnya kembali — panik — matanya basah.

"Jangan lakukan ini, Nana. Aku tidak bisa— aku tidak bisa kehilangan suaramu. Aku tidak bisa kehilangan lagumu."

Nana tersenyum.

Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Jeno, dan membentuk kata dengan bibirnya — pelan, jelas, meski tidak ada suara yang keluar.

"Kau tidak akan kehilangan aku. Aku hanya kehilangan suara. Tapi aku masih di sini."

Jeno menggeleng keras. Air matanya jatuh — mengambang di air laut seperti mutiara kecil.

"Tapi lagumu—"

"Lagu," bentuk Nana dengan bibirnya, "bukan hanya dari suara. Tapi dari hati. Dan hatiku... akan selalu bernyanyi untukmu."

Ia mengecup Jeno — sekali, cepat, di bibir — lalu berbalik dan berenang menuju Sumur Kenangan.

 

Sumur Kenangan bukanlah sumur seperti di darat.

Ia adalah pusaran cahaya — sebuah lubang di dasar laut yang berputar dengan cahaya keemasan, seolah-olah matahari terbenam di bawah tanah. Pusaran itu tidak menyedot air atau benda di sekitarnya. Tapi ia menyedot ingatan.

Nana berdiri di tepi pusaran itu.

Ia bisa merasakan suaranya — sesuatu yang selama ini ia anggap remeh — mulai lepas dari tenggorokannya, seperti benang yang ditarik perlahan dari sebongkah kain.

Ini saatnya.

Ia melompat ke dalam pusaran.

 

Dunia terbalik.

Nana tidak lagi berada di Lembah Bisu. Ia berada di... ruang kosong. Ruang yang dipenuhi dengan potongan-potongan ingatan — bukan ingatannya, tapi ingatan orang lain.

Ia melihat Ratu Ruenna — ibunya — menari di taman laut bersama Mira (masih muda, masih ceria).

Ia melihat Jenderal Valdris — ayah Jeno — menangis di kamar tidurnya, memeluk sebuah sisik biru (milik Ruenna? Milik Jeno? Nana tidak tahu).

Ia melihat Aramis — masih muda, masih cantik, tanpa mata merah — memekik histeris saat Jantung Aequoria menolaknya.

"Kenapa bukan aku?! Aku lebih tua! Aku lebih kuat! Aku lebih pantas!"

Dan kemudian Nana melihat dirinya sendiri.

Bayi mungil dengan rambut hitam tipis, digendong oleh Ratu Ruenna yang berlumuran darah.

"Jeno," bisik Ruenna pada pemuda Siren berusia tujuh belas tahun yang berdiri di depannya, gemetar. "Bawa dia. Larilah. Jangan pernah biarkan Aramis menemukannya."

Jeno muda — dengan mata biru pucat yang sama, tapi tanpa bekas luka di pipi — mengangguk. Tangannya gemetar saat menerima bayi Nana.

"Aku akan menjaganya, Yang Mulia. Sampai napas terakhirku."

Ratu Ruenna tersenyum.

"Aku tahu. Karena kau sudah mencintainya, meski kau belum menyadarinya."

Jeno muda membeku. "Apa?"

"Kau lihat dia, Jeno. Bukan sebagai tugas. Tapi sebagai... sesuatu yang lebih. Suatu hari, kau akan mengerti."

Ruenna menyentuh pipi Jeno — lembut, seperti seorang ibu.

"Sekarang pergilah. Dan jaga anakku."

Ingatan itu lenyap.

Nana berdiri di ruang kosong itu, air mata mengalir di pipinya.

Ia tidak kehilangan suaranya untuk sia-sia.

Ia kehilangan suaranya untuk kebebasan — untuk Lira, untuk para Siren yang membatu, untuk ibunya, dan untuk dirinya sendiri.

Ia mengulurkan tangannya ke pusaran cahaya.

Dan ia mengambil air kenangan.

 

Ketika Nana membuka mata, ia sudah berada di luar Sumur Kenangan.

Sebuah botol batu kaca kecil berisi cairan keemasan mengambang di depannya — air Sumur Kenangan.

Ia meraihnya.

Tapi sesuatu yang lain juga mengambang di depannya.

Suaranya.

Berbentuk gelembung cahaya keperakan — berdenyut lembut, seperti jantung kecil yang terlepas dari tubuhnya. Gelembung itu melayang-layang, lalu perlahan naik ke atas, ke luar Lembah Bisu, menghilang di kegelapan.

Nana tidak akan pernah bisa bernyanyi lagi.

Ia menatap gelembung cahaya itu sampai lenyap. Lalu ia menutup mata, menarik napas, dan berbalik.

Jeno masih di tempat ia meninggalkannya. Masih menunggu. Masih dengan mata biru pucat yang basah.

Ketika Nana berenang mendekat, Jeno langsung menariknya ke dalam pelukan — erat, hampir menyakitkan.

"Kau bodoh," bentuk Jeno dengan bibirnya, gemetar. "Kau sangat bodoh."

Nana tersenyum. Ia membalas pelukan Jeno, dan menempelkan kepalanya di dada Jeno — di tempat jantungnya berdetak.

Thump. Thump. Thump.

Detak jantung Jeno adalah suara terindah yang tidak perlu ia dengar dengan telinga.

 

Mereka meninggalkan Lembah Bisu dalam diam.

Bukan diam karena tempat itu — mereka sudah keluar dari lembah, sudah melewati Hutan Karang Beracun (kali ini tanpa ilusi, karena racunnya hanya bekerja saat masuk, bukan saat keluar), sudah kembali ke perairan Aequoria.

Tapi diam karena Nana tidak bisa bicara.

Ia bisa mendengar sekarang. Telinganya kembali normal setelah keluar dari Lembah Bisu. Tapi pita suaranya — kosong. Tidak ada getaran. Tidak ada nada. Tidak ada lagu.

Jeno berenang di sampingnya, sesekali menatapnya dengan mata yang masih sembab.

"Kau menyesal?" bentuk Jeno dengan bibirnya.

Nana menggeleng.

"Tidak. Tidak pernah."

Ia mengangkat botol berisi air Sumur Kenangan.

"Ini akan membebaskan mereka, Jeno. Lira. Para Siren yang membatu. Mereka akan bernyanyi lagi. Dan itu... lebih berharga daripada seribu laguku."

Jeno tersenyum — pahit, tapi tulus.

"Kau ratu yang baik, Nana. Lebih baik dari yang kau sadari."

Nana tersenyum balik.

Mereka berenang berdampingan, dalam diam, di mana diam itu tidak lagi menakutkan.

Karena diam mereka sekarang bukan diam yang sunyi.

Tapi diam yang penuh — penuh dengan pengertian, penuh dengan kepercayaan, penuh dengan cinta yang tidak perlu diucapkan.

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!