NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sap 13

Raka keluar dari kamar Nanda.

Nadia masih duduk di sofa ruang tamu, menatap televisi tanpa benar-benar memperhatikan apa yang sedang tayang.

Tatapannya kosong.

Pikirannya melayang ke mana-mana.

Raka memandang istrinya sekilas, lalu masuk ke kamar utama.

Tak lama kemudian, ia keluar dengan pakaian tidur.

“Nad,” panggilnya pelan. “Nanda ingin ditemani kita berdua.”

Nadia tidak menjawab.

Namun, ia bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Raka.

Sekecewa apa pun hatinya, Nadia tidak ingin membuat Nanda kecewa.

Di kamar, Nanda sudah duduk di atas tempat tidur dengan wajah sumringah.

Begitu melihat kedua orang yang paling ia cintai datang bersamaan, gadis kecil itu langsung merentangkan tangan.

Raka lebih dulu memeluk putrinya.

“Anak Papah sudah siap tidur?”

Nanda tersenyum lebar.

“Tentu dong. Kan Bundanya cantik.”

Ucapan polos itu membuat Raka tertawa kecil.

Sementara Nadia hanya tersenyum tipis.

Lalu Nanda menarik tangan Nadia.

“Bunda sini.”

Nadia berbaring di sisi kiri.

Raka di sisi kanan.

Nanda berada di tengah-tengah mereka.

Posisi yang sudah bertahun-tahun menjadi rutinitas kecil keluarga mereka.

“Nanda senang sekali Papah pulang cepat,” celoteh Nanda. “Nanda ingin begini terus. Ada Papah dan Bunda.”

Senyum Nadia perlahan memudar.

Dadanya terasa sesak.

Jika rumah tangga ini benar-benar berakhir...

Akankah Nanda sanggup menerima kenyataan itu?

Nadia menoleh sekilas ke arah anak itu.

Melihat wajah bahagianya membuat hati Nadia terasa semakin nyeri.

Raka mendapat giliran pertama mendongeng.

Dengan suara antusias, ia membaca kisah dalam buku cerita hingga membuat Nanda berkali-kali bertanya.

Sesekali Raka mengubah nada suaranya mengikuti karakter dalam cerita.

Membuat Nanda tertawa geli.

Setelah selesai, Nanda tersenyum puas.

“Sekarang giliran Bunda.”

Nadia mengambil buku yang sama.

Dengan suara lembut dan tenang, ia mulai bercerita.

Jemarinya membalik halaman demi halaman dengan hati-hati.

Perlahan-lahan, suara Nanda menghilang.

Kelopak mata anak itu semakin berat.

Tak lama kemudian, terdengar dengkuran halus.

Nanda tertidur.

Nadia menutup buku dan meletakkannya di meja kecil.

Saat mengangkat wajah, ia mendapati Raka sedang menatapnya.

Pria itu tersenyum.

Dulu, senyum itu mampu meluluhkan seluruh kemarahan Nadia.

Namun malam ini, senyum itu terasa seperti topeng.

Penuh kepura-puraan.

“Nadia, aku mau bicara.”

Nadia langsung berdiri.

“Di ruang tamu saja.”

Ia tidak ingin pembicaraan mereka membangunkan Nanda.

Atau lebih buruk, berubah menjadi pertengkaran.

Raka mematikan lampu kamar Nanda, lalu menyusul istrinya.

Di ruang tamu, Nadia sudah duduk dengan tenang.

Kedua tangannya bertaut di atas pangkuan.

Raka mengambil tempat di hadapannya.

Suasana terasa hening.

Dingin.

Canggung.

Raka berdeham.

“Nadia, maafkan aku. Kemarin aku terlalu sibuk. Aku mengabaikan kamu. Aku sedang banyak pekerjaan, Nad. Dan untuk yang kemarin, kantor memang hanya menyediakan tiga orang, Nad,” Raka berkata pelan merasa bersalah.

“Masih saja kamu berbohong, Mas,” ucap Nadia dalam hati.

Andai saja dia tidak sedang mengumpulkan bukti untuk bercerai dengan Raka, mencari bukti kesalahan Raka agar hak asuh Nanda ada padanya, Nadia akan langsung meledak marah dan membongkar segalanya.

Namun Nadia hanya menahan diri.

Kuku jemarinya menekan telapak tangan sendiri di balik lipatan rok.

“Tak masalah. Aku sudah maafkan kamu,” ucap Nadia tanpa ekspresi.

Jawaban itu justru membuat Raka merasa tidak nyaman.

Biasanya Nadia akan bertanya banyak hal.

Sekarang perempuan itu terlalu tenang.

Terlalu dingin.

Raka kembali berdeham.

“Nad, aku boleh pinjam uang kamu tidak?”

Sudut bibir Nadia hampir terangkat sinis.

“Oh, rupanya ada maunya?”

Tentu saja kata-kata itu hanya ada di benak Nadia.

“Uang yang mana?” tanya Nadia datar.

“Uang yang lima juta tadi.”

“Untuk apa?”

“Biaya study tour Nanda.”

“Uangku sudah habis,” jawab Nadia enteng.

“Masa sudah habis, Nad?” Raka tak percaya.

Alisnya langsung berkerut.

Nadia tak banyak bicara.

Ia mengambil ponselnya lalu menunjukkan bukti pembayaran.

“Baca saja sendiri berapa uang yang sudah aku keluarkan.”

Raka meraih ponsel Nadia dan melihat satu per satu bukti pembayaran itu.

Semakin lama ia melihat, semakin dalam kerutan di dahinya.

“Nadia, kamu yang bayar gaji Mbak Tari, listrik, dan SPP Nanda?”

“Ya, lihat saja akun pengirimnya siapa.”

Rahang Raka mengeras.

Dadanya mendadak terasa sesak.

Tanpa berkata apa-apa, ia langsung bangkit lalu melangkah cepat ke kamar mamahnya.

“Mah! Mamah!”

Suara Raka sedikit meninggi.

Yuni yang sedang berbaring langsung mengernyit kesal.

“Ada apa sih? Ganggu orang istirahat saja.”

“Mah, aku mau ngomong. Ada beberapa hal yang harus Mamah luruskan dengan Nadia, Mah.”

“Kenapa lagi dia?” Yuni kesal.

Yuni turun dari tempat tidur lalu melangkah menuju ruang tamu.

Nadia masih duduk dengan tenang.

Ekspresinya datar.

Seolah pembicaraan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.

“Bu, kenapa Nadia yang membayarkan gaji Mbak Tari, listrik, air, dan seluruh pengeluaran rumah termasuk SPP Nanda, Bu?”

Yuni langsung menatap tajam pada Nadia.

“Oh, sudah pandai mengadu rupanya kamu.”

“Aku tidak pernah mengadu. Tanyakan saja pada anak Ibu,” jawab Nadia.

“Mah, aku kan sudah ngasih Mamah uang untuk SPP Nanda, bayar listrik, dan keperluan rumah. Kenapa jadi Nadia yang bayar?”

“Raka,” ucap Yuni dengan marah, “Nadia ini sudah beruntung tinggal di sini, tinggal duduk diam, makan tanpa kekurangan. Dan kamu kebanyakan memberi Nadia uang, sepuluh juta.”

“Aku hanya diberi uang lima juta, Bu,” potong Nadia.

“Jangan bohong kamu, Nadia. Raka bilang ke Ibu kamu diberi uang sepuluh juta.”

“Apa aku harus tunjukkan mutasi rekeningku setiap bulan Mas Raka transfer berapa?” ucap Nadia tenang.

Yuni langsung menoleh pada putranya.

“Raka?”

“Iya-iya, aku ngasih Nadia lima juta.”

“Terus yang lima juta lagi ke mana?” tanya Yuni kecewa.

Raka terdiam.

Lidahnya terasa kelu.

Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

Ia mencari jawaban yang belum pernah dipersiapkan.

“Apa kamu tabung, Raka?” Yuni mencari jalan keluar.

Dia sudah bisa menebak ke mana uang itu pergi.

“Iya, Mah. Aku tabung untuk biaya pendidikan Nanda,” jawab Raka.

“Kalau Mas ada tabungan, kenapa minta uang dua juta padaku? Gunakan saja tabungan itu.”

Kalimat Nadia membuat napas Raka tertahan.

Ia refleks menggaruk belakang kepalanya.

Uang itu sama sekali tidak ada.

“Nadia, kenapa kamu jadi perhitungan seperti ini?” tanya Yuni.

“Aku tidak perhitungan. Kalau aku mau perhitungan, mari kita hitung berapa biaya pengeluaran rumah ini, di atas lima juta atau di bawah lima juta.”

“Sudahlah, kamu ini banyak omong, sedikit kontribusi.”

Kalimat itu membuat dada Nadia terasa panas.

Apanya yang sedikit kontribusi?

Bertahun-tahun Nadia menomboki pengeluaran rumah.

Bertahun-tahun pula ia memilih diam.

Dan sekarang ia tetap dianggap tidak berkontribusi.

Raka segera mengalihkan pembicaraan.

Semakin lama masalah ini dibahas, semakin banyak kebohongannya yang terbuka.

“Mamah,” Raka berkata frustrasi, “dulu Mamah yang bilang akan ambil alih seluruh pengeluaran rumah. Kenapa jadi Nadia yang bayar?”

“Terus kenapa kalau Mamah enggak bayarkan?” bentak Yuni.

“Aku enggak bayarkan, uangnya aku tabung. Kamu tak selamanya bisa kerja, Raka. Aku sedang mempersiapkan masa depan kamu. Gaji kamu selalu habis. Kalau enggak Mamah tabung, nanti bagaimana masa depan kamu? Mamah enggak mau kita jatuh miskin lagi.”

“Mah, tapi kita sudah sepakat kalau uang Nadia untuk Nadia.”

“Diam kamu, Raka!” ucap Yuni keras.

Wanita tua itu menunjuk wajah putranya dengan tangan gemetar.

“Uang sepuluh juta yang kamu berikan pada Mamah itu tak sebanding dengan setetes darah yang Mamah keluarkan saat melahirkan kamu.”

Ruangan kembali hening.

Nadia memandang keduanya bergantian.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa seperti orang luar yang sedang menyaksikan sebuah sandiwara keluarga.

Dan semakin lama ia melihat, semakin yakin bahwa rumah tangga yang selama ini ia pertahankan ternyata dibangun di atas terlalu banyak kebohongan.

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!