menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Pagi itu suasana kantor divisi marketing PT Dhamar terasa cukup ramai. Bunyi ketikan keyboard bercampur dengan obrolan santai para pegawai yang sesekali terdengar dari beberapa meja. Aroma kopi dari pantry kecil di ujung ruangan juga mulai menyebar memenuhi ruangan. Tempat itu jauh berbeda dari bayangan Shinta sebelumnya.
Awalnya dia mengira kantor besar akan penuh suasana tegang dan pegawai yang sibuk tanpa sempat mengobrol. Namun kenyataannya justru cukup santai. Orang-orang tetap bekerja, tetapi masih sempat bercanda dan berbicara ringan.
Shinta duduk di mejanya sambil memperhatikan layar komputer dengan serius. Dia sedang mencoba memahami laporan data pemasaran yang tadi diberikan Rara. Sesekali dahinya berkerut ketika melihat beberapa istilah yang belum terlalu dipahaminya.
Rara yang duduk di sebelahnya melirik layar komputer Shinta lalu menggeser kursinya sedikit mendekat.
“Bagian ini salah input,” ucap Rara sambil menunjuk layar monitor. “Kalau target pasar usia dua puluh sampai tiga puluh tahun, datanya jangan dimasukkan ke kategori umum.”
Shinta langsung mengangguk cepat.
“Maaf, Kak. Saya tadi salah lihat.”
“Tidak usah tegang begitu,” balas Rara santai. “Hari pertama memang biasanya kepala rasanya seperti habis dipukul map laporan.”
Shinta tertawa kecil mendengar itu.
Rara kembali bersandar di kursinya sambil meminum kopi dingin miliknya.
“Marketing itu sebenarnya tidak terlalu ribet,” lanjutnya. “Yang penting kemampuan adaptasi.”
“Maksudnya?”
“Kamu harus cepat membaca situasi. Konsumen maunya apa, tren lagi seperti apa, cara pendekatannya bagaimana. Kalau terlalu kaku biasanya malah susah berkembang.”
Shinta mengangguk pelan. Penjelasan itu cukup masuk akal baginya.
“Berarti di sini tidak terlalu formal ya?”
Rara terkekeh.
“Kalau formal terus nanti pegawainya stres semua. Apalagi bagian marketing. Otak bisa matang sebelum deadline.”
Shinta tersenyum tipis. Sedikit demi sedikit rasa gugupnya mulai berkurang.
Namun saat tanpa sadar matanya bergerak ke arah meja seberang, suasana hatinya langsung berubah.
Andika duduk santai di kursinya sambil memainkan ponsel. Dari jarak itu Shinta bahkan bisa melihat laki-laki itu sedang menonton video pendek di media sosial.
Shinta langsung menyipitkan mata.
Dalam hati dia benar-benar ingin melempar sesuatu ke arah kepala Andika.
Komputer kantor misalnya.
Atau keyboard.
Atau monitor sekalian kalau perlu.
Bagaimana bisa laki-laki itu terlihat setenang itu?
Mereka baru saja bertemu lagi setelah sekian lama. Bekerja di kantor yang sama pula. Namun Andika justru tampak seperti tidak terjadi apa-apa.
Shinta menggertakkan giginya pelan.
“Dasar manusia tidak punya perasaan,” batinnya kesal.
Rara yang melihat ekspresi Shinta sempat melirik heran.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa,” jawab Shinta cepat.
Dia kembali menatap layar komputer, walaupun sebenarnya isi pikirannya sudah kacau.
Andika yang masih duduk santai akhirnya mengangkat pandangan. Matanya bertemu dengan mata Shinta selama beberapa detik.
Shinta langsung menegang.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Dia yakin laki-laki itu akan datang lalu mulai membahas masa lalu mereka.
Tentang hubungan mereka dulu.
Tentang alasan mereka putus.
Atau mungkin sekadar bertanya kabar dengan wajah menyebalkan itu.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan.
Andika berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekat dengan santai.
Shinta refleks duduk lebih tegak.
Rara melirik keduanya bergantian seperti sedang menonton drama kantor gratis di jam kerja. Hiburan murah memang selalu dicari manusia. Peradaban modern dibangun dengan teknologi tinggi hanya agar orang bisa kepo lebih efisien.
Andika berhenti di samping meja Shinta.
“Aku mau pesan minuman,” katanya santai. “Pak Radit lagi baik hari ini. Katanya bebas pilih kopi.”
Rara langsung mengangguk.
“Iya, biasanya tiap senin suka ditraktir.”
Shinta sedikit bingung.
“Hah?”
“Pak Radit memang begitu,” jelas Rara. “Kadang kalau mood-nya bagus semua dibelikan kopi.”
Andika menatap Shinta sebentar.
“Kamu mau apa?”
Shinta sempat terdiam.
Entah kenapa situasi sederhana seperti itu justru membuatnya lebih gugup daripada wawancara kerja tadi pagi.
Andika lalu tersenyum kecil.
“Vanilla latte seperti biasa?”
Kalimat itu langsung membuat wajah Shinta berubah.
Dia kesal.
Sangat kesal.
Kenapa Andika masih mengingat minuman favoritnya?
Bukankah seharusnya mereka sudah selesai?
Bukankah laki-laki itu harusnya melupakan hal-hal kecil tentang dirinya?
Shinta segera memalingkan wajah.
“Tidak usah,” jawabnya cepat. “Saya mau espresso saja.”
Andika malah tertawa kecil.
“Kamu masih ingat kesukaanku dulu berarti.”
Shinta langsung menatap tajam.
“Itu cuma kebetulan.”
Rara yang duduk di samping mulai menaikkan alis pelan. Tatapannya bergantian antara Shinta dan Andika.
Suasana mendadak terasa aneh.
Shinta langsung panik sendiri.
“Eh maksud saya...” dia buru-buru mengubah ucapan. “Bukan espresso. Saya mau cappuccino.”
Andika terlihat sama sekali tidak terganggu.
“Oke.”
Jawabannya singkat dan santai seolah tidak ada yang aneh.
Lalu dia berjalan pergi menuju meja pegawai lain sambil menanyakan pesanan mereka satu per satu.
Shinta menghembuskan napas panjang setelah laki-laki itu menjauh.
Rara menatapnya sambil tersenyum tipis.
“Kalian saling kenal?”
“Tidak.”
Jawaban Shinta terlalu cepat.
Rara malah semakin curiga.
“Baru kenal hari ini?” tanyanya santai.
“Iya.”
Rara mengangguk pelan, tetapi jelas wajahnya menunjukkan dia tidak percaya sedikit pun.
Shinta langsung kembali pura-pura fokus mengetik.
Beberapa detik berlalu dalam diam sebelum akhirnya Rara kembali bicara.
“Kalau baru kenal hari ini, kenapa dia tahu minuman favoritmu?”
Jari Shinta langsung berhenti di atas keyboard.
“Saya...” dia mulai gugup. “Mungkin cuma nebak.”
“Dan kebetulan benar?”
“Iya.”
Rara tertawa kecil.
“Hebat juga nebaknya.”
Shinta mulai merasa kepanasan walaupun AC kantor cukup dingin.
Rara sebenarnya bukan tipe orang yang terlalu ikut campur urusan pribadi orang lain. Namun ekspresi Shinta tadi terlalu jelas untuk diabaikan.
Apalagi Andika termasuk pegawai lama yang cukup dekat dengannya.
“Tenang saja,” kata Rara santai. “Saya tidak suka kepo urusan orang.”
Shinta sedikit lega mendengarnya.
“Tapi...” lanjut Rara sambil tersenyum jahil, “untuk Andika beda cerita.”
Wajah Shinta langsung pucat.
“Maksudnya?”
“Kami sudah kenal lama. Jadi nanti saya tanya langsung ke dia.”
Shinta spontan menoleh cepat.
“Tidak usah!”
Suara Shinta terdengar lebih keras dari yang dia inginkan.
Beberapa pegawai sampai melirik sebentar ke arah mereka.
Shinta langsung menunduk malu.
Rara kini benar-benar yakin ada sesuatu di antara mereka.
“Kenapa panik begitu?” godanya pelan.
“Tidak panik.”
“Terus?”
Shinta menggigit bibir pelan sebelum akhirnya menyerah.
“Kami cuma teman kuliah.”
Rara bersandar di kursinya sambil melipat tangan.
“Cuma teman?”
“Iya.”
“Tidak lebih?”
“Tidak.”
Rara tersenyum kecil.
Ekspresi itu justru membuat Shinta semakin gugup.
Karena senyum seperti itu adalah senyum orang yang sama sekali tidak percaya.
“Kalau cuma teman,” ucap Rara santai, “biasanya tidak sampai hafal minuman favorit.”
Shinta langsung kehabisan jawaban.
Di sisi lain ruangan, Andika terlihat sedang berbicara santai dengan pegawai lain sambil sesekali tertawa kecil. Laki-laki itu tampak begitu biasa saja.
Dan itu membuat Shinta semakin kesal.
Bagaimana mungkin hanya dirinya yang merasa canggung?
Beberapa menit kemudian Andika kembali sambil membawa beberapa gelas minuman.
Satu per satu dia membagikannya ke meja pegawai.
Ketika sampai di meja Shinta, laki-laki itu meletakkan gelas kopi di depannya.
“Cappuccino.”
“Terima kasih,” jawab Shinta datar.
Namun saat melihat gelas itu, dia langsung menyadari sesuatu.
Bukan cappuccino.
Itu vanilla latte.
Shinta langsung mendongak.
“Andika.”
“Hm?”
“Saya tadi pesan cappuccino.”
Andika terlihat berpikir sebentar lalu mengangguk santai.
“Benarkah?”
“Jangan pura-pura lupa.”
“Kalau begitu mungkin aku salah dengar.”
Shinta menyipitkan mata curiga.
Dia yakin laki-laki itu sengaja.
Namun Andika sudah berjalan pergi lagi menuju mejanya sendiri tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Rara yang memperhatikan sejak tadi akhirnya menahan tawa.
“Teman kuliah biasa ya?”
Shinta memijat pelipisnya pelan.
“Memangnya kenapa?”
“Tidak ada.” Rara tersenyum lebar. “Saya cuma merasa kantor ini bakal lebih menarik mulai hari ini.”
Shinta benar-benar ingin menghilang saat itu juga.
Hari pertamanya bekerja baru berjalan beberapa jam, tetapi rasanya sudah seperti masuk ke dalam drama yang bahkan belum siap dia hadapi.
Dan yang paling menyebalkan...
Sebagian kecil dari dirinya masih terlalu hafal cara Andika memperlakukannya dulu.