"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."
Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.
Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.
Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bidak Catur Sang Tetua
Hening yang mencekam kembali menguasai ruang kerja megah di lantai teratas gedung Aditama Group. Kata-kata Ardiansyah barusan rasanya lebih ngeefek daripada ledakan bom di pabrik tua kemarin. Kenzo berdiri mematung di samping sofa, matanya natap lurus ke arah jendela besar yang nampilin pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Pikiran sang CEO bener-bener kacau.
"Kakek... masih hidup?" suara Kenzo kedengan rendah, tapi ada getaran amarah yang kuat di dalamnya. "Om Ardi jangan bercanda. Sepuluh tahun lalu, gue sendiri yang dateng ke pemakamannya. Gue liat jasadnya masuk ke tanah!"
Ardiansyah ngehela napas berat, dia naruh HP-nya di meja kaca. "Itu peti mati kosong, Kenzo. Kakekmu, Tuan Wijaya Aditama, sengaja memalsukan kematiannya karena dia tahu Sofia dan Bram udah mulai ngerencanain hal busuk buat ngerebut perusahaan. Dia milih buat menghilang ke luar negeri, pura-pura mati, dan ngebangun jaringan finansial gelap yang dinamakan 'Tuan Agung' buat mantau pergerakan kalian semua."
Nabila langsung berdiri dan ngerangkul lengan Kenzo. Dia bisa ngerasa badan suaminya itu tegang banget, kayak busur panah yang siap dilepas. "Tapi Yah... kenapa harus pakai cara sekotor ini? Kenapa Kakek harus nyuruh pria bertopeng itu buat ngefitnah Kenzo sebagai anak haram di depan seluruh media? Itu kan ngerusak nama baik Aditama sendiri!"
"Karena bagi Wijaya Aditama, nama baik bisa dibeli kembali dengan uang, Nabila," jawab Ardiansyah dengan tatapan prihatin. "Tapi mental seorang pemimpin nggak bisa dibeli. Dia mau liat, apakah Kenzo bakal hancur dan nangis-nangis pas identitasnya diserang, atau justru sanggup balik menyerang kayak yang dia lakuin di konferensi pers tadi. Dan ternyata... Kenzo lolos ujian pertama."
"Gila. Tua bangka itu bener-bener gila," desis Kenzo, giginya gemertak menahan geram. Dia ngerasa dilecehin. Selama sepuluh tahun ini dia berdarah-darah mempertahankan Aditama Group dari rongrongan Paman Bram dan Ibunya sendiri, tapi ternyata dia cuma dianggap sebagai bidak catur yang lagi diuji kelayakannya dari balik kegelapan.
Kenzo langsung jalan ke arah mejanya, dia nyamber telepon kabel khusus. "Surya! Batalkan semua jadwal gue sore ini. Siapkan helikopter pribadi di atap gedung. Kita ke Singapura sekarang juga!"
"Kenzo, stop!" Nabila langsung lari dan berdiri di depan meja Kenzo, ngalangin suaminya yang udah mode emosi tingkat dewa. "Kamu mau ke mana? Kamu bahkan nggak tahu Kakek kamu ada di mana di Singapura!"
"Gue bakal acak-acak seluruh aset gelap Tuan Agung sampai tua bangka itu keluar nemuin gue, Bil! Gue bukan mainan dia!" teriak Kenzo frustrasi. Ini pertama kalinya Nabila liat Kenzo bener-bener kehilangan kendali atas emosinya sendiri.
Nabila nggak takut. Dia justru maju selangkah, nangkep kedua tangan Kenzo yang ngepal kuat, lalu menempelkannya ke pipinya sendiri. "Kenzo, dengerin aku. Kalau kamu berangkat sekarang dalam kondisi marah kayak gini, itu artinya Kakek kamu menang. Dia berhasil ngebikin kamu emosi. Dia mau liat kamu bertindak ceroboh!"
Mata elang Kenzo natap mata Nabila yang bening dan penuh ketenangan. Perlahan, napas memburu Kenzo mulai agak teratur. Sentuhan tangan Nabila di pipinya selalu berhasil jadi pawang paling ampuh buat singa yang lagi ngamuk kayak dia.
"Terus gue harus diem aja setelah dihina kayak gini, Bil?" tanya Kenzo lirih, rahangnya masih mengeras.
Nabila ngegeleng pelan, dia senyum manis banget. "Enggak diem aja. Kita tunggu hasil tes DNA tiga jam lagi keluar. Begitu nama kamu bersih secara hukum, saham Aditama bakal meroket lebih tinggi dari sebelumnya. Kita tunjukin sama Kakek kamu, kalau tanpa bantuan jaringan 'Tuan Agung' pun, kamu udah jadi raja di sini. Kita buat dia yang dateng nyembah kamu, bukan kamu yang nyari dia."
Mendengar omongan istrinya yang makin cerdas semenjak nikah, Kenzo narik napas dalem-dalem, lalu ngebuang napas itu kasar. Dia narik Nabila ke dalam pelukannya, meluk pinggang gadis itu erat-erat di depan Ardiansyah yang cuma bisa senyum-senyum nahan tawa di sofa.
"Istri gue ternyata pinter banget ya kalau lagi mode penasihat," bisik Kenzo di pucuk kepala Nabila, suaranya udah balik seksi lagi.
"Ya dong, asisten pribadinya siapa dulu," sahut Nabila bangga di dalam dekapan Kenzo.
Ardiansyah berdehem kenceng, ngebuyarin momen pelukan pengantin baru itu. "Ekhem! Ayah masih di sini ya, tolong hargai yang jomblo ditinggal mati ini."
Nabila langsung ngelepas pelukannya dengan muka merah padam, sementara Kenzo cuma cuek aja sambil tetep ngrangkul pundak Nabila posesif.
"Om Ardi," panggil Kenzo ke bapak mertuanya. "Terima kasih informasinya. Tapi saya mau tahu satu hal lagi. Di mana pria bertopeng yang nyiarin video palsu itu sekarang?"
Ardiansyah berdiri, dia ngerapihin jasnya. "Dia ada di salah satu gudang kontainer milik X-Corp di pelabuhan. Anak buah saya udah ngeringkus dia pas siaran langsungnya selesai setengah jam yang lalu. Dia cuma kurir IT yang dibayar sama asisten pribadinya Wijaya Aditama. Kamu mau samperin?"
Tatapan mata Kenzo langsung berubah jadi dingin dan mematikan lagi. "Tentu saja. Gue mau kirim pesen balik buat Kakek lewat orang itu. Bil, lo tunggu di sini bareng Surya ya?"
Nabila nggenggam jas Kenzo kenceng. "Nggak. Aku ikut. Aku nggak mau kamu kelepasan bunuh orang di sana."
Kenzo natap Nabila sebentar, lalu dia senyum miring—senyuman nakal khas CEO Aditama. "Oke, lo ikut. Tapi nanti di mobil, lo harus kasih gue 'hadiah' yang tertunda tadi di ruang kerja."
Pipi Nabila langsung panas lagi sampai ke telinga. "Kenzo! Ada Ayah!"
Ardiansyah cuma bisa geleng-geleng kepala sambil jalan duluan keluar ruangan. "Ayah nggak denger, Ayah pakai headset gaib."
Mereka bertiga akhirnya jalan menuju lift pribadi buat langsung meluncur ke pelabuhan. Badai besar emang lagi nunggu mereka di depan mata, tapi kali ini Kenzo dan Nabila berangkat sebagai satu tim yang utuh. Mereka siap ngebongkar permainan catur sang kakek dan nunjukin kalau generasi baru Aditama nggak bisa diremehkan.