Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Song Dahuan meringis, menatap Kang Yance dengan wajah sedingin Himalaya yang ditutupi gumpalan salju.
Sungguh pemuda tidak tahu malu. Cendikiawan macam apa ini..?
Putri tiri, Zhao Jiao pun sama saja. Begitu bangga nyaman dipelukan pria yang bukan suaminya.
Kesialan, kenapa kau justru datang dimasa tuaku..?
"Yance, apa Jiao jatuh kesungai lagi..?" tanya Song Dahuan dengan suara lelah parau.
Wajah lelaki paruhbaya itu amat suram, seperti rumah tua yang di penuhi sarang laba-laba.
Song Aran melipat bibirnya, menahan tawa yang nyaris ia semburkan.
Gumaman tawa mengejek terdengar dari kerumunan penduduk, menciptakan suasana yang sangat canggung.
Kang Yance menggeleng cepat "Tidak paman, Jiao cuma pingsan karena kelelahan."
Rona pemuda itu ketularan muram. Baru sekarang ia menyadari jika tindakannya sangat tidak pantas. Pria dan wanita tidak boleh saling menyentuh sebelum menikah.
Kemarin, Kang Yance bisa membela diri dengan mengatakan jika itu keadaan darurat karena menyangkut nyawa seseorang. Tapi kalau sekarang...?
Zhao Jie langsung bereaksi, meratap pilu guna mengamankan muka.
"Jiao, putriku yang malang, sekarang bagaimana dengan masa depanmu..?"
"Aku akan bertanggung jawab atas Jiao." sambar Kang Yance, melirik warga desa yang menudingnya dengan bisikan tajam.
"Aku akan segera mencari mak comblang untuk melamar Jiao, bibi tunggu saja." sambung pemuda itu, menurunkan tubuh Jiao, lalu mendorongnya ke pelukan Zhao Jie, sebelum berlari pergi.
"Aku tidak akan membiarkan rubah murahan itu masuk ke rumahku..!" Kang Hua meludah ketanah, berkata dengan garang.
Kang Hua berbalik pergi, menggerutu benci disepanjang jalan.
Song Dahuan menatap istri dan putri tirinya kesal, lalu melenggang masuk kedalam rumah.
Karena tidak ada lagi hal yang seru, terlebih hari sudah mendekati jam makan malam. Warga pun bubar, melanjutkan ghibah dirumah.
Setiap rumah, malam ini obrolannya semua berputar tentang Zhao Jiao yang tidak tahu malu.
Demi menikahi seorang pemuda, mantan tunangan adik tirinya. Gadis itu sampai nekat melakukan sandiwara yang menjijikkan.
Bagaimana jika Kang Yance berhasil lulus ujian kekaisaran..?
Seorang istri sarjana bertingkah konyol tak punya etika, bahkan sejak sebelum menikah. Sungguh memalukan.
"Nyonya Zhao, Jiao, kali ini apa lagi yang kalian ributkan..?"
Song Dahuan sangat marah, memanggil Zhao Jie saja sudah berbeda.
Kebiasaan Song Dahuan, jika terlalu kecewa pada istrinya, panggilan mesra penuh kasih pasti akan hilang.
Melihat situasi yang amat tak kondusif. Song Aran dan Song Qing Bao gegas pergi ke dapur untuk memasak.
"Sepertinya ayah sangat marah..?" kata Song Aran.
"Bagaimana tidak marah jika dipermalukan berkali-kali." decak Qing Bao.
Song Aran mengangguk.
Di ingatan pemilik asli, Song Dahuan pernah mau menceraikan Zhao Jie, ketika wanita itu kepergok memukuli Qing Bao serta Aran kecil.
Wajah Zhao Jie bengkak karena di tampar Dahuan berkali-kali, diseret lalu dilempar kejalan. Tapi pada akhirnya, pria itu membatalkan niatnya, setelah Zhao Jie bersujud dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Hampir satu bulan Zhao Jie dan kedua anaknya di abaikan oleh Dahuan.
Makanya hingga sekarang semarah apa pun wanita itu, ia tak akan berani menjatuhkan tangan ke tubuh Song Qing Bao dan Aran.
Palingan cuma mulut saja merepet berbusa.
"Jalang itu sudah melempar kotoran kerumah keluarga Song, kalau Yance tidak segera melamar. Lihat saja, ayah pasti akan menikahkan Jiao dengan keluarga yang jauh dari sini." oceh Qing Bao.
Alis Song Aran naik tinggi "lalu Kang Yance..?"
Song Qing Bao berdecih kencang "aku tidak yakin kalau bajingan itu bisa menentang keinginan ibunya."
Song Aran manggut-manggut.
"Kolot sekali abad ini, aturan keluarga dan tradisinya terlalu ribet. Ternyata hidup dimana pun dan tahun berapa pun, tetap ada suka dukanya."
Tak lama kemudian makanan siap.
Dimeja makan, Song Aran melihat bagaimana si ibu tiri membujuk sang ayah. Namun semakin wanita itu mencoba, Dahuan malah lebih murka.
Qing Bao dan Aran bertukar tatapan, lalu tersenyum miring.
Selama makan, Song Aran menuangkan semangkuk mata air spiritual untuk Song Qing Bao, Dahuan dan dirinya sendiri.
Aran mengaturnya dengan baik, memastikan agar ibu dan saudari tiri tidak mendapatkan minuman berharga itu.
Makan malam berlangsung dalam hening, bahkan Zhao Jie yang iri dengan mahar Song Aran, tidak berbicara sepatah kata pun.
Setelah makan, Song Aran langsung pergi ke kamar.
Seperti tidak mengenal lelah, Zhao Jiao langsung menyerang Aran, setelah menutup pintu dengan rapat.
"Kau sudah melihatnya kan..? Bagaimana kakak Yance begitu membelaku didepan ibunya." ucap sombong Jiao.
Satu alis Song Aran naik tinggi. Ia menoleh, melirik benci wanita tak tahu malu didepannya itu.
"Kakak Yance sangat menyukaiku, menempatkan aku di atas segalanya. Kau pasti sakit hati sekali ya..?"
"Pffft...!"
Song Aran terbahak-bahak, menepuk meja berulang kali dengan gemas. Perutnya bahkan sampai kaku karena tertawa terpingkal-pikal.
Zhao Jiao kesal, menghentakkan kakinya kelantai.
"Apa kau sudah gila..?" pekik Jiao.
Song Aran melipat kedua tangan didada, menatap penuh ejekan pada saudara tirinya itu.
"Kalau Yance sangat menyukaimu, kenapa sampai sekarang dia belum datang melamarmu..?" tanya sindiran Aran.
Tinju Jiao mengepal erat.
"Kalau kau memang segalanya bagi Yance, kenapa kau cuma dijadikan selingkuhan..? dijadikan bayang-bayang yang pada akhirnya sekarang menjadi bahan gunjingan."
Aran menjeda ucapannya hanya untuk terkekeh.
"Kau tahu apa artinya itu..?" tanya Aran menyeringai, mencondongkan kepala kedepan, menatap bengis tepat dikornea Jiao.
"Artinya, kau cuma sekedar selingan dikala dia bosan, kau cuma wanita murahan yang tidak memiliki keistimewaan. Kau cuma boneka mainannya."
"Diam, jalang sialan..!" teriak Jiao mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
PLAK
Aran menepis keras tangan Jiao. Sampai saudari tirinya itu terhuyung mundur.
"Kau..!" Jiao meringis, tangannya pedih dan kebas.
Kekuatan macam apa yang dimiliki gadis gemuk itu..?
Cuma menangkis saja tapi bisa sesakit ini.
"Gunakan tanganmu dengan benar, jika kau masih ingin memilikinya." ancam Aran rendah penuh penekanan.
Jiao menggigil, sekujur tubuhnya bergidik ngeri. Tatapan Aran sungguh mengerikan, wajah bulat itu bengis sekali.
Sejak kapan gadis bodoh dan lemah ini jadi sekuat itu..?
"Kakak Yance akan datang melamar besok, lalu menikahiku secepat mungkin, dan aku akan mengalahkanmu. Kau akan menangis darah karena melihat kebahagiaan kami." lawan Jiao dengan suara bergetar.
Song Aran mengangguk berulang kali, menampilkan wajah yang dibuat-buat guna meledek.
"Aku sangat menantikan hari itu, kakak tiri..!"
Song Aran terkekeh, berbalik menuju ke ranjangnya.
Emosi Jiao kembali tersulut.
"Kau sudah merampas maharku, sebaiknya cepat kembalikan. Dasar jalang pencuri..!"
Aran berbalik, melotot marah penuh ancaman.
Jiao kicep, beringsut mengkeret, meremas ujung bajunya.
"Apa kau belum puas juga..? mau aku tampar mulutmu itu sampai berubah bentuk..?" ujar Aran mengangkat tangannya yang besar.
"Tidak perlu banyak, satu kali saja sudah mampu membuat mulutmu berpindah posisi."
Jiao menelan ludah kecut dengan susah payah. Punggungnya sudah dibanjiri keringat dingin, dahinya berembun tebal.
Song Arah meludah ketanah.
"Aku masih berbaik hati, jadi jaga sikapmu itu jika kau tidak mau aku buat menyesal." hardik Aran tajam.
Sungguh menjijikkan, persis sekali dengan sahabatnya didunia modern. Tidak tahu malu, murahan.
Yang membedakan mereka Jiao licik, bermulut besar tapi nyalinya kecil. Sahabatnya dulu berani dan kejam.
Kalau tidak kejam, Pamela tak akan kehilangan nyawa dan bayinya.
Mengingat itu, hati Aran menjadi perih teriris, dadanya sesak mencekik. Bayi yang amat ia nantikan kehadirannya, harus pergi tanpa bisa ia rengkuh selamanya.
"Semoga kalian mendapatkan balasan yang setimpal. Tuhan, kirimkan seseorang untuk membalaskan dendamku, memberi kedua bajingan terkutuk itu hukuman menyakitkan."