"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 18
Siang harinya, Aldo datang ke kos-kosan bahkan ia sempat menanyakan kamar Mila kepada Hasbi yang kebetulan berpapasan di depan pagar.
Hasbi pun membiarkan Aldo yang mengenakan seragam hijau loreng menemui Mila tanpa ditemaninya apalagi Aldo memberitahunya ingin memberikan makanan dari neneknya.
Pintu kamar Mila terbuka, Aldo menyerahkan kantong plastik kepadanya sembari berkata, "Tadi Nenek titip makanan buat Mbak Mila sebelum saya berangkat kerja. Dia mau Mbak Mila cepat sembuh biar bisa jumpa di masjid."
"Ya ampun, Mas Aldo. Jadi, merepotkan begini. Tapi, terima kasih, ya, sudah mau mengantarkan ini. Sampaikan kepada nenek Mas Aldo terima kasih banyak!"
"Nanti saya sampaikan, saya pamit!" Aldo kemudian berlalu.
Sebelum menutup pintunya, Hasbi muncul dan bertanya, "Dia yang menabrakmu kemarin sore?"
"Bukan. Dia yang menolong," jawab Mila.
"Oh," ucap Hasbi kemudian berlalu.
Mila mengernyitkan keningnya, ia semakin heran dengan sikapnya Hasbi.
Sore harinya, Ratih dan Wina datang menjenguknya. Keduanya begitu khawatir apalagi ingat jika Mila sendirian di kota ini. Mereka membawa beberapa bungkus makanan titipan Bu Bagas.
"Kenapa bisa begini, sih, Mil?" tanya Wina.
"Aku juga gak tau, Kak. Mungkin aku kurang fokus dan hati-hati aja," jawab Mila.
"Tapi, syukurlah ada yang mau membawamu berobat," sahut Ratih.
"Iya, Kak. Kebetulan yang menolong aku, warga sini juga," kata Mila.
"Alhamdulillah, deh!" Ratih begitu lega.
Ketiganya lalu mengobrol membahas lainnya mulai masalah keluarga, masa lalu dan mengenali sosok Alan.
Selesai azan Isya, Wina dan Ratih pamit pulang. Para suami mereka telah datang menjemput.
Makanan yang dibawa kawan kerjanya cukup banyak, tak sanggup ia sendiri yang menghabiskannya. Ia lantas membagikannya kepada 2 tetangganya yang di sebelah kanan dan kiri sebab bagian depan pintunya masih tertutup dipastikan penghuninya belum pulang kerja.
Mila sengaja tak menutup pintu kamarnya, ia menunggu Hasbi pulang dari masjid. Setelah Hasbi muncul, Mila menghampirinya dan bertanya, "Mas Hasbi, sudah makan?"
Hasbi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tadi temanku datang, mereka membawa ayam bakar. Mas Hasbi mau?"
"Memangnya kamu sudah makan?" Hasbi balik bertanya.
"Sudah, Mas."
"Simpan aja buat besok sarapan pagi!" Hasbi memberikan sarapan.
"Masih ada lauk lagi buat besok. Aku takutnya gak termakan, akhirnya basi," jelas Mila.
"Ya sudahlah, aku mau!"
Mila tersenyum senang lalu berkata, "Tunggu sebentar!" ia bergegas ke kamar dan mengambil wadah berisi 2 potong ayam bakar beserta sambal dan nasinya.
Mila menyodorkannya kepada Hasbi, "Harus dimakan, ya. Jangan dibuang!"
"Iya, cerewet!" Hasbi menerima wadah itu lalu menuju kamarnya.
***
Pagi harinya, Mila telah bersiap-siap hendak berangkat kerja. Meskipun kaki dan tangannya masih memakai plester luka, ia tetap ingin bekerja.
Hasbi duduk diatas motornya, pandangannya tertuju ke arah Mila yang berjalan. "Mau kerja? Aku antar, ya?"
"Memangnya Mas Hasbi gak kerja?" Mila mendekatinya.
"Ini 'kan hari libur, Mil. Coba kamu lihat di kalender!" kata Hasbi.
"Gak punya kalender, Mas!" Mila tersenyum nyengir.
"Kemarin saya juga libur, cuti bersama!" kata Hasbi lagi menjelaskan.
"Oh, pantas aja Mas Hasbi di rumah!"
"Ya udah, ayo berangkat. Nanti kamu terlambat!" Hasbi memakaikan Mila helm, sekilas mata keduanya saling bertatapan.
Hasbi yang grogi membuang wajahnya secara cepat, ia tak mau Mila mengetahui dirinya salah tingkah.
Motor yang dikendarai Hasbi melaju dengan kecepatan sedang. Mila duduk di belakang sembari memegang baju Hasbi.
Sesampainya, Mila menyerahkan helm dan berkata, "Terima kasih."
"Nanti sore, aku akan menjemputmu!"
"Gak usah, Mas. Aku naik angkot aja!" tolak Mila, ia tak mau terus menerus merepotkan orang lain.
"Mila, kamu belum seratus persen pulih dan sehat. Jadi, biarkan aku menjemput kamu!" kata Hasbi yang tak mau kehilangan kesempatan.
"Baiklah, tapi bukan aku yang minta, ya. Semua karena inisiatif Mas Hasbi sendiri!" Mila tak mau Hasbi mengungkit kebaikan yang dilakukannya dikemudian hari.
"Iya, kamu tenang aja. Kira-kira kalau gak kuat berjalan ke sana kemari, minta izin pulang aja, ya." Hasbi mengingatkan Mila agar terlalu memaksakan diri.
"Insya Allah aku kuat, Mas." Mila sangat yakin dirinya masih sanggup bekerja.
"Ya udah, aku pulang. Jangan lupa makan siang!" Hasbi memakai helm dan melesat kembali ke kos-kosan.
Di kedai, Mila menjadi pusat perhatian meskipun berjalan dengan lambat dan pelan.
"Ya Allah, Mila... kenapa dipaksa masuk, sih?" Bu Bagas tak habis pikir semangat kerja Mila luar biasa.
"Bosan di kos-kosan, Bu!" Mila beralasan padahal dia tak mau gajinya berkurang kalau kebanyakan libur.
"Ibu gak marah kalau kamu libur sampai dua atau tiga hari. Bagaimana kalau Alan tau kamu belum terlalu sehat udah masuk kerja? Pasti dia marah kepada kami!" kata Bu Bagas yang tak mau keponakan suaminya itu protes.
"Ya Allah, Bu. Kenapa harus takut dengan Alan, sih? Memang dia siapa aku?" Mila jadi merasa segan sebab hubungan dirinya dan Alan baru sebatas teman.
"Pasti banyak pertanyaan yang kami terima karena membiarkanmu bekerja," kata Bu Bagas lagi.
"Nanti aku yang bicara dengan Alan, Bu!" janji Mila biar tak salah paham.
-
Sore harinya, Hasbi datang menjemput. Mila mengambil helm dari tangan Hasbi dan memakainya.
"Kita singgah beli makanan, ya!" kata Hasbi.
Mila mengangguk mengiyakan.
Keduanya singgah di warung mie ayam. Memesan 2 porsi mangkok mie ayam komplit. Mereka kembali mengobrol seperti sebelumnya.
"Mila, ada yang mau aku tanyakan?"
"Mas Hasbi jangan tanya masalah jodoh atau calon suami, ya!" Mila langsung memberitahu pria dihadapannya biar tak menyinggung masalah pribadi.
"Kalau aku tanya tentang laki-laki yang bersamamu malam Minggu. Apa kamu mau memberitahu aku?"
"Oh, itu Mas Alan. Aku 'kan sudah cerita." Mila mulai mengaduk mie dengan sambal.
"Hubungan antara kalian berdua, apakah serius?" Hasbi hanya memastikan.
"Cuma teman," Mila perlahan menyantap mie.
"Bagaimana kalau dia menganggap kedekatan kalian serius?" Hasbi bertanya layaknya sedang menginterogasi seseorang.
Mila tertawa kecil.
"Apakah kamu gak memiliki niatan berumah tangga?" tanya Hasbi lagi.
"Punya, sih, tapi belum dalam waktu dekat. Masih fokus bekerja, mencari uang yang banyak," jawab Mila.
"Kalau ada yang serius, kamu tak perlu lagi capek-capek cari uang. Biarkan suamimu yang bekerja," kata Hasbi.
"Ada alasan aku memilih menunda menikah lagi. Aku belum siap memberitahunya," batin Mila.
"Ibuku menyuruhku menikah. Aku belum menemukan yang cocok," Hasbi menceritakan masalah hatinya.
"Mas Hasbi yang terlalu memilih atau belum mendapatkan yang tepat aja!" singgung Mila.
"Mungkin keduanya. Sebenarnya masih punya trauma juga sedikit. Aku takut saat ingin serius, dia malah berulah!" Hasbi mengingat kisah cintanya yang lalu.
"Tandanya dia bukan jodoh Mas Hasbi. Menikah aja banyak yang cerai. Bahkan, mereka menjalin kasih hingga tahunan. Seharusnya bisa mengenal lebih dalam lagi calon pasangan hidupnya."
"Benar juga, sih!"
"Sabar, Mas. Insya Allah jodoh Mas Hasbi udah disiapkan yang terbaik!" kata Mila memberikan kata-kata nasehat.
"Asal kamu tau, aku sebenarnya menyukaimu!" batin Hasbi seraya memandang Mila yang asyik menikmati makanannya.
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔