NovelToon NovelToon
SISTEM KAYA MENDADAK: SETIAP DETIK MENGHASILKAN UANG

SISTEM KAYA MENDADAK: SETIAP DETIK MENGHASILKAN UANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"

Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]

Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.

Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Darah dan Baja

Guncangan di dalam Nemesis kali ini benar-benar gila. Bukan cuma bikin kopi tumpah, tapi sampai bikin alarm di ruang mesin menjerit nggak berhenti-berhenti. Andra terlempar dari kursinya, bahunya menghantam sudut meja besi. Sakitnya bukan main, tapi dia nggak punya waktu buat mengaduh.

"Vex! Laporkan status!" teriak Andra sambil berusaha berdiri lagi. Napasnya sesak karena asap mulai keluar dari ventilasi udara.

"Perisai kita tinggal sepuluh persen, Andra! Kalau kena satu tembakan lagi dari meriam utama kapal cakram itu, kita semua bakal jadi panggangan di luar angkasa!" Vex membalas sambil tangannya gemetaran menahan tuas kendali.

Andra melihat ke luar jendela. Kapal raksasa milik ayahnya, The Void One, bergerak pelan tapi pasti, seperti hiu yang lagi mengincar mangsa yang sudah sekarat. Di layar komunikasi, wajah Dr. Adrian masih di sana. Wajah itu tenang banget, bahkan cenderung dingin, seolah-olah dia lagi melihat serangga di bawah mikroskop, bukan anaknya sendiri.

"Sudahlah, Andra. Berhenti bertingkah konyol," suara ayahnya lewat radio terdengar sangat jernih di tengah kebisingan. "Kamu cuma membuang-buang energi. Kembalikan Elara, dan aku janji akan memberimu kematian yang cepat dan tanpa rasa sakit. Itu adalah bentuk kasih sayangku sebagai penciptamu."

"Kasih sayang?" Andra meludah ke lantai, darah tercampur di ludahnya. "Ayah macam apa yang tega menjadikan anaknya bahan percobaan? Kamu itu bukan ayahku. Kamu cuma monster yang pakai kulit manusia!"

Andra memejamkan mata, mencoba fokus pada Sistem di kepalanya. Dia butuh sesuatu yang lebih kuat dari sekadar tembakan laser biasa.

[Peringatan! Saldo Kristal Menipis: 24.000 Kristal Tersisa.] [Saran: Gunakan Protokol 'Overclock' Saraf untuk Serangan Terakhir.] [Risiko: Kerusakan Permanen pada Sel Otak.]

"Halah, persetan sama risiko," gumam Andra. "Sistem, lakukan! Gunakan semua saldo yang tersisa buat memperkuat satu tembakan di meriam depan. Masukkan semua energi emas Elara dan aku ke sana!"

Tiba-tiba, Andra merasa ada tangan kecil yang memegang jemarinya. Dia menoleh dan melihat Elara sudah berdiri di sampingnya. Wajah gadis kecil itu pucat, tapi matanya bercahaya emas terang, lebih terang dari biasanya.

"Kakak... Elara mau bantu," bisik anak itu.

"Elara, jangan! Ini terlalu berbahaya buat kamu!" seru Siska yang baru saja masuk ke anjungan dengan luka lecet di keningnya.

"Kalau Kakak mati, Elara juga nggak mau hidup sendirian lagi di dalam tabung," kata Elara dengan suara yang mantap.

Seketika, aura emas di anjungan meledak. Bukan cuma dari tubuh Andra, tapi juga dari Elara. Energi itu mengalir seperti air bah menuju sistem persenjataan kapal. Nemesis yang tadinya hampir mati, tiba-tiba berdengung kencang. Semua monitor di kapal berubah jadi warna emas.

"Semuanya, pegangan!" raung Andra.

Dia mengarahkan tangannya ke arah kapal raksasa ayahnya. Dalam hitungan detik, sebuah pilar cahaya emas raksasa melesat dari ujung kapal Nemesis. Sinar itu begitu besar sampai-sampai menutupi pemandangan bintang di sekitar mereka.

KABOOOOMMMMM!

Hantaman itu tepat mengenai pusat energi The Void One. Kapal raksasa itu bergetar hebat. Perisai yang mereka banggakan pecah seperti kaca. Ledakan demi ledakan mulai terjadi di sepanjang badan kapal cakram tersebut.

"Sekarang, Vex! Lompat ke titik pertemuan Jagal!" teriak Andra dengan sisa kekuatannya.

Vex nggak nunggu dua kali. Dia langsung menekan tombol lompatan darurat. Nemesis menghilang tepat sebelum kapal ayahnya sempat membalas.

Mereka muncul kembali di sebuah area sepi di pinggiran sabuk asteroid. Suasana di dalam kapal mendadak jadi sepi, cuma kedengaran suara rintihan para awak yang terluka. Andra jatuh berlutut, napasnya tersengal. Kepalanya rasanya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum panas.

"Kita... kita selamat?" tanya Siska pelan. Dia mendekati Andra dan Elara yang sekarang sudah pingsan lagi di pelukannya.

"Hanya untuk sementara," sahut Vex sambil memeriksa kerusakan kapal. "Tapi kapal ayahnya belum hancur. Ledakan tadi cuma melumpuhkan mesin utama mereka. Mereka bakal balik lagi, dan kali ini mereka nggak bakal main-main."

Andra menatap tangannya yang gemetar. Dia melihat sisa saldonya di sudut mata: 12 Kristal. Dia benar-benar bangkrut sekarang. Semua harta yang dia kumpulkan sejak Bab 1 sampai sekarang habis cuma buat satu tembakan itu.

"Jagal... mana Jagal?" tanya Andra.

"Aku di sini, Tuan," suara Jagal terdengar lewat radio, tapi suaranya nggak seberani biasanya. "Kami kena jebakan di Mars. Pasukanku... banyak yang nggak selamat. Aku cuma bisa bawa balik tiga kapal tempur."

Hati Andra mencelos. Dia baru saja kehilangan hampir semua pasukannya, uangnya habis, dan ayahnya masih mengejarnya.

"Dra," Siska memegang pundaknya. "Jangan menyerah sekarang. Kita masih punya Elara. Dan kita masih punya satu sama lain."

Andra mendongak, melihat ke arah kegelapan ruang angkasa. Dia tahu, mulai sekarang, dia nggak bisa lagi mengandalkan uang atau sistem kaya mendadaknya. Dia harus mulai berpikir seperti manusia asli kalau mau menang.

"Vex," kata Andra sambil berdiri dengan susah payah. "Cari planet terdekat yang punya atmosfer oksigen. Kita mendarat. Kita nggak bisa terus-terusan di angkasa dengan kapal yang hancur begini. Kita harus sembunyi dan membangun ulang semuanya dari nol."

"Tapi Tuan, kalau kita mendarat, kita bakal lebih gampang dikepung," potong Jagal.

"Nggak kalau kita mendarat di planet yang dilarang dikunjungi oleh 'The Void'," jawab Andra. Dia teringat sebuah koordinat yang pernah muncul di file rahasia ayahnya. Planet mati yang dulunya adalah tempat riset pertama mereka. "Kita ke Planet Eris."

Kapal Nemesis yang berasap itu perlahan berbelok, meninggalkan sisa-sisa pertempuran menuju ke sebuah titik kecil yang gelap di peta galaksi.

Andra melihat ke arah Elara yang sedang tidur di tandu medis. Dia berjanji dalam hati, dia nggak akan membiarkan anak ini kembali ke tangan ayahnya. Biarpun dia harus bertarung dengan tangan kosong sekalipun.

1
ラマSkuy
kekayaan diluar nalar coy 🤣🤣
DPras
othor... perasaan uang nya baru 42juta... trus duitnya drmn buat beli mobil... apakah dipinjemin system🙏🙏
Mohd Harmizi: hasil persugihan
total 2 replies
Sebut Saja Chikal
nanti saya mampir.
tintakering: ijin promo, k. kalo suka cerita menegangkan.ampir ke lapaku ada Pulau Eksekusi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!