NovelToon NovelToon
GODDESS AGAINST FATE

GODDESS AGAINST FATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: XING YI

​Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.

​Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20:Meloloskan Diri Dari Pengintai

​Dunia pelelangan di Paviliun Awan Surgawi malam itu bukan sekadar tempat pertukaran barang, melainkan sebuah arena bagi para kultivator yang bertarung menggunakan kekayaan, gengsi, dan pengaruh politik yang besar.

Pilar-pilarnya yang menjulang tinggi bukan sekadar penyangga atap, melainkan diukir dari batu giok putih murni yang masing-masingnya menyimpan formasi perlindungan kuno.

Ukiran naga yang melilit pilar tersebut memiliki mata dari batu delima yang seolah-olah hidup, terus memantau setiap gerak-gerik para tamu dengan tatapan menghakimi yang membuat siapa pun dengan niat buruk akan merasa jiwanya terpelintir.

​Udara di dalam aula besar itu terasa berat dan berlapis-lapis, ada sensasi beku yang merayap di lantai marmer yang dipoles hingga mengkilap seperti permukaan danau es, namun di saat yang sama, ketegangan mental antara para peserta membuat suasana terasa membara.

Setiap tarikan napas terasa berat, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh partikel energi spiritual yang siap meledak. Bau dupa cendana yang menenangkan mencoba menutupi aroma keringat dingin dan nafsu keserakahan yang memenuhi ruangan, namun gagal total bagi mereka yang memiliki indra sensitif.

​Di tengah panggung utama yang diterangi oleh formasi batu cahaya yang disusun sedemikian rupa untuk menciptakan efek cahaya surgawi yang dramatis, seorang juru lelang wanita bernama Liu Rumei berdiri dengan keanggunan seorang permaisuri yang memerintah sebuah kekaisaran tanpa mahkota.

...----------------...

Matanya yang tajam dan berkilat menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pemanis panggung, melainkan seorang ahli kultivasi yang kekuatannya tidak bisa diremehkan.

Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh teka-teki, ia perlahan membuka sebuah kotak giok hitam yang memancarkan uap sedingin silet.

​Di dalamnya, tergeletak Fragmen Jantung Es Purba. Kristal itu tidak beraturan, permukaannya kasar dan tajam, namun memiliki fluktuasi energi es yang begitu murni hingga mampu membekukan aliran udara di sekitarnya menjadi butiran salju halus yang menari-nari seperti kunang-kunang perak di bawah cahaya lampu.

​Chen Lin yang duduk di barisan belakang dengan penyamaran sebagai seorang tentara bayaran kasar dengan jubah kulit yang kumal, wajah yang dihiasi bekas luka palsu yang tampak sangat nyata, dan janggut yang sengaja dibuat tidak terawat, merasakan resonansi yang luar biasa kuat di dalam meridiannya. Teknik Napas Es Surgawi yang ia pelajari di Sekte Bing Si seolah-olah terbangun dari tidurnya yang panjang, bergetar dengan penuh kerinduan dan menuntut asupan energi dari fragmen tersebut.

​mengatur napasnya dengan sangat hati-hati, memaksakan ketenangan pada jiwanya agar tidak memicu deteksi dari para ahli di barisan depan. Ia menyembunyikan kilatan ambisi di matanya di bawah tudung jubah yang rendah, membiarkan bayang-bayang menjadi sekutu setianya.

​"Fragmen Jantung Es Purba," suara Liu Rumei berdenting di dalam aula, puitis namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.

"Ditemukan dari kedalaman jurang es abadi yang tidak pernah tersentuh cahaya matahari selama sepuluh ribu tahun. Energi di dalamnya adalah esensi dari musim dingin abadi, sebuah melodi beku yang mampu menghentikan waktu bagi mereka yang tahu cara mendengarnya. Harga pembukaan dimulai dari lima ratus ribu batu roh tingkat rendah."

​Pernyataan itu memicu gelombang bisikan yang riuh di seluruh ruangan, seperti suara dedaunan kering yang tertiup angin badai sebelum hujan turun. Angka tersebut adalah kekayaan yang mustahil bagi kultivator biasa, setara dengan pendapatan sebuah kota kecil selama setahun.

​"Enam ratus ribu!" Seorang tetua dari sekte lokal segera menyambar dengan suara yang tegas, tangannya yang keriput mencengkeram sandaran kursi dengan erat, menunjukkan betapa ia mendambakan benda tersebut untuk memperpanjang usianya yang mulai habis dimakan waktu. Namun, harapan itu hancur hanya dalam hitungan detik.

​"Tujuh ratus ribu," sahut Han Zhao dari balkon VIP dengan nada yang begitu meremehkan hingga membuat beberapa peserta di bawahnya mendengus kesal. Ia duduk bersandar di kursi cendana yang mewah, memutar-mutar cincin giok di jarinya dengan gerakan malas yang angkuh.

Matanya menatap kerumunan di bawah seperti seorang singa yang sedang melihat kawanan domba yang tidak berdaya dari atas bukit.

Baginya, nominal setinggi itu hanyalah sekadar angka yang bisa ia buang kapan saja untuk menunjukkan dominasi mutlak klan Han di wilayah ini.

"Jangan membuang waktu kami dengan tawaran recehan seperti itu. Biarkan para bangsawan yang menentukan siapa yang layak memiliki keajaiban ini."

​Chen Lin tetap diam, menjadi bagian dari kegelapan yang tak terlihat di sudut ruangan. Ia membiarkan harga merangkak naik secara perlahan melalui tawaran-tawaran kecil dari berbagai faksi yang ingin mencoba peruntungan.

Ia tahu betul strategi pelelangan, siapa pun yang menunjukkan ketertarikan terlalu dini akan menjadi mangsa empuk, harga yang ingin menjebak lawan dalam hutang. Ketika suasana mulai mendingin pada angka tujuh ratus delapan puluh ribu, dan Liu Rumei mulai mengangkat palunya dengan senyum tipis di bibirnya, barulah Chen Lin mengangkat tangannya dengan gerakan yang sangat santai, hampir seolah-olah ia sedang memesan segelas arak di sebuah kedai kumal di pinggir jalan.

​"Delapan ratus ribu."

​Suaranya yang serak dan rendah, hasil dari teknik pengubah suara, memecah kesunyian aula seperti guntur yang muncul di tengah hari yang cerah. Han Zhao menoleh ke arah sumber suara, matanya menyipit menjadi garis tajam yang penuh dengan niat buruk saat melihat sosok kasar di sudut ruangan berani menantang otoritasnya secara terbuka.

​"Delapan ratus lima puluh ribu! Teman, aku sarankan kau menyimpan batu rohmu untuk membeli peti mati yang bagus daripada membuangnya di sini," ucap Han Zhao, nadanya kini mengandung ancaman yang sangat jelas, membuat suhu di sekitarnya seolah-olah turun beberapa derajat karena niat membunuhnya.

"Beberapa benda hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki darah emas, bukan tentara bayaran yang hidup dari sisa-sisa debu di jalanan."

​Chen Lin mengeluarkan tawa yang sengaja ia buat terdengar mengejek dan penuh tantangan.

"Tuan Muda Han yang terhormat, di tempat yang dipenuhi dengan keajaiban ini, batu roh yang berbicara dengan suara paling keras, bukan silsilah keluarga yang sudah mulai membusuk atau ancaman kosong yang hanya menghiasi udara malam. Jika kau tidak punya uang lagi, lebih baik kau kembali ke pelukan pengasuhmu. Sembilan ratus ribu."

​Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti aula, begitu sunyi hingga suara jatuhnya sebutir salju dari fragmen es itu pun seolah bisa terdengar dengan jelas.

Angka sembilan ratus ribu batu roh adalah harga yang sangat fantastis, sebuah nilai yang bisa membangun kembali sebuah sekte kecil dari puing-puing kehancuran. Han Zhao berdiri dengan kasar, wajahnya merah padam karena merasa dipermalukan di depan umum.

Tangannya mencengkeram pagar balkon hingga kayu cendana yang mahal itu mulai retak dan mengeluarkan suara berderit di bawah tekanan energi spiritualnya yang meledak-ledak.

Ia ingin menawar lebih tinggi, demi harga dirinya yang terluka, namun pelayan tua di sampingnya segera menahan lengannya, membisikkan peringatan tentang rencana klan yang lebih besar yang membutuhkan dana dalam jumlah banyak.

​Dengan wajah yang berubah dari merah menjadi ungu karena menahan amarah yang membakar di dalam dadanya, Han Zhao akhirnya mendesis pelan, suaranya mengandung janji kematian bagi siapa pun yang berani mengambil barangnya.

"Sembilan ratus lima puluh ribu," potong Chen Lin dengan cepat, memberikan pukulan psikologis terakhir bahkan sebelum Han Zhao sempat membuka mulutnya kembali, secara efektif menutup pintu bagi siapa pun untuk mengikuti permainan gila ini.

​Tok! Tok! Tok!

Palu diketuk dengan cepat oleh Liu Rumei, yang tampaknya sangat puas dengan hasil pelelangan tersebut. "Dijual kepada tuan di barisan belakang!"

​Fragmen Jantung Es Purba resmi menjadi milik 'Tuan Ini'. Namun, di balik penyamarannya, Chen Lin tidak merasakan sedikit pun kegembiraan yang meluap, ia justru merasakan dinginnya maut yang mulai merayap di sekelilingnya.

Begitu ia keluar dari ruang administrasi setelah menyelesaikan pembayaran dengan ribuan batu roh murni, ia bisa merasakan setidaknya lima pasang mata yang berbeda mengunci posisinya dari balik pilar-pilar paviliun yang megah. Mereka adalah pemburu yang sedang menunggu mangsanya keluar dari zona aman.

​Ia berjalan keluar dari paviliun, langkah kakinya yang berat di atas jalanan batu Kota Anggrek Hitam disengaja untuk membangun citra seorang kultivator kasar yang sedang panik dan ingin segera melarikan diri.

Ia memasuki penginapan melalui pintu depan yang diterangi oleh lampu lampion merah, sengaja membiarkan mata-mata Han Zhao melihat jubah kumalnya menghilang di balik tangga menuju lantai dua.

Begitu pintu kamar terkunci dan ia mengaktifkan segel isolasi suara tingkat tinggi, atmosfer di sekeliling Chen Lin berubah seketika menjadi sangat dingin dan penuh perhitungan.

​Ia mengeluarkan boneka jerami dari kantong spasialnya, sebuah artefak formasi sederhana yang ia selimuti dengan jubah luar yang ia kenakan tadi.

Dengan sedikit tetesan darah di bagian jantung boneka dan suntikan energi spiritual yang halus namun stabil, boneka itu mulai memancarkan aura kehidupan yang identik dengan dirinya dalam kondisi bermeditasi.

Dari luar, siapa pun yang menggunakan indra spiritual akan mengira 'Lin Chen' sedang duduk bersila di sana, mencoba menyerap kekuatan dari fragmen es yang baru saja ia menangkan.

Kini Saatnya untuk kembali menyamar, Chen Lin duduk Bersila di lantai dan menggunakan teknik yang sempat dia pelajari di sekte Bing Si sebelumnya, hanya untuk menyamar menjadi gadis polos biasa dengan pakaian yang sedikit kumuh.

​Wajah Chen Lin yang penuh bekas luka perlahan-lahan melunak, rahangnya yang tegas meruncing dengan anggun, tulang pipinya bergeser kembali ke posisi aslinya, dan pigmentasi kulitnya yang kasar mengelupas seperti kulit ular yang berganti, memperlihatkan lapisan kulit baru seputih salju dan sehalus giok murni yang tidak ternoda.

Dalam waktu kurang dari lima belas menit, sosok pria kekar yang tadi membuat kegaduhan di pelelangan telah lenyap tanpa jejak, digantikan oleh seorang gadis remaja dengan wajah polos dan sepasang mata jernih yang tampak sangat rapuh, seorang pelayan yang tidak akan pernah dilirik dua kali oleh siapa pun di kota yang keras ini.

​Ia segera mengenakan gaun biru pucat yang sederhana dan sedikit lusuh, pakaian yang biasa dikenakan oleh pelayan rendahan atau warga kelas bawah. Ia mengoleskan sedikit debu di pergelangan tangannya untuk mengaburkan tekstur kulitnya yang terlalu mulus, lalu menyembunyikan kotak giok fragmen itu di dalam kompartemen rahasia di dasar keranjang bambu yang berisi sayuran segar dan beberapa potong roti keras yang ia beli sebelumnya sebagai persiapan.

​Di luar penginapan, kapten Wei dan para pengintai klan Han terus mengawasi jendela kamar dengan kesabaran seorang predator. Mereka melihat siluet di balik tirai tetap tak bergerak, memberikan kesan yang sangat kuat bahwa target sedang mencoba memulihkan energi.

Di saat itulah, pintu belakang penginapan yang digunakan untuk pengiriman bahan makanan dan pembuangan limbah terbuka perlahan.

Chen Lin, dalam wujud gadis polos, keluar dengan langkah yang sedikit diseret dan bahu yang merosot, menunjukkan rasa lelah seorang pekerja malam yang sangat merindukan tempat tidurnya yang keras. Ia bahkan sempat menabrak salah satu pengintai yang bersembunyi di gang gelap yang lembap.

​"Maafkan saya, Tuan... saya tidak melihat jalan karena mata saya sudah sangat mengantuk," ucap Chen Lin dengan suara gemetar dan nada bicara yang sangat meyakinkan.

​Pengintai itu hanya melirik gadis itu sekilas dengan tatapan penuh kejijikan sebelum mengabaikannya sepenuhnya.

Ia tidak merasakan fluktuasi energi spiritual sedikit pun dari tubuh gadis itu, sebuah hasil dari teknik penyembunyian aura tingkat tinggi yang ia pelajari dari catatan rahasia di Sekte Bing Si.

Baginya, gadis ini hanyalah sampah masyarakat yang tidak ada harganya dibandingkan dengan target yang ia tunggu di lantai atas.

​Chen Lin terus berjalan menembus kabut pagi di kota yang mulai menebal, menyelimuti jalanan dengan misteri yang sunyi.

Ia tidak langsung menuju gerbang kota yang dijaga ketat oleh prajurit klan Han, melainkan berputar melalui area pemukiman kumuh, melewati gudang-gudang tua yang berbau apek, dan menyeberangi jembatan kayu yang sudah mulai lapuk.

Ia memastikan tidak ada ekor yang mengikuti melalui jalur spiritual maupun fisik dengan melakukan beberapa gerakan memutar yang cerdas.

​Setelah melewati labirin gang yang rumit, ia sampai di tembok pembatas utara yang jarang dijaga karena medannya yang curam dan dianggap mustahil untuk dilewati tanpa alat bantu. Dengan kelincahan seekor kucing di tengah malam, ia memanjat dinding tersebut tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu melompat ke arah hutan bambu yang terletak di luar batas kota.

Begitu kakinya menyentuh tanah hutan yang lembap, ia tidak lagi berjalan lambat. Penyamaran gadis lemah itu seketika menghilang dari cara bergeraknya.

Ia menggunakan teknik Langkah Bayangan Salju, bergerak secepat kilat yang meluncur di atas dedaunan kering tanpa meninggalkan satu pun jejak kaki atau mematahkan ranting kayu yang rapuh.

​Perjalanan kembali ke pegunungan salju yang menjadi markas sekte memakan waktu beberapa jam yang penuh dengan kewaspadaan tingkat tinggi.

Medan di sekitarnya perlahan berubah dari hutan hijau yang rimbun menjadi daratan yang mulai ditutupi kristal es abadi yang tajam seperti ujung pedang yang baru diasah.

Udara menjadi semakin tajam dan menusuk paru-paru, namun bagi Chen Lin, ini adalah aroma kebebasan yang paling manis setelah terperangkap di dalam kepulan asap kota.

Ia mencapai perbatasan formasi pelindung Sekte Bing Si tepat saat fajar menyingsing, mewarnai langit dengan palet warna ungu, biru tua, dan emas yang megah, memberikan kesan kemegahan yang tak tertandingi.

​Ia mengeluarkan lencana giok biru tua dari balik pakaian pelayannya yang kini sudah tertutup salju halus. Dinding es transparan yang merupakan gerbang utama sekte bergetar pelan, mengeluarkan suara seperti nyanyian kuno yang menyambut kepulangan pahlawannya sebelum memberikan jalan bagi murid intinya.

Beberapa murid luar yang sedang bertugas menyapu salju di depan gerbang hanya melihat seorang gadis berpakaian pelayan lewat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, namun mereka segera menundukkan kepala dengan hormat saat mereka merasakan otoritas yang tak terbantahkan terpancar dari lencana di tangannya.

​Begitu ia sampai di paviliun pribadinya yang terisolasi di puncak tebing yang paling dingin, tempat di mana angin bersiul seperti lagu duka, Chen Lin akhirnya melepaskan napas panjang yang telah ia tahan sejak pelelangan dimulai.

Penyamarannya perlahan luruh saat ia mengalirkan kembali energi spiritual ke seluruh tubuh, mengembalikan bentuk aslinya yang tinggi seperti pria.

Dan dia segera menuju ke tempat Penatua Lu berada untuk memberikan Fragmen Jantung Es Purba itu.

1
Milk Lk
udh nabung 2 minggu lebih gas momentum walau cuman 20 chapter, semangat terus thor up nya
Milk Lk
Wah bagus sih ini, gas next chpter tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!