NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Suasana rumah utama keluarga Andana pagi itu terasa berbeda. Lebih ramai dan lebih hidup.

Halaman luas yang biasanya tenang kini dipenuhi mobil-mobil yang terparkir rapi. Para tamu berdatangan dengan pakaian terbaik mereka, suara salam dan tawa saling bersahutan, menciptakan kehangatan yang khas dalam setiap pertemuan keluarga besar.

Hari itu, acara makan bersama sekaligus pesta kecil kembali diadakan. Rutinitas yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Dan seperti biasa, semua orang hadir. Termasuk Fania dan Ronald.

Sementara di belahan bumi yang lain, di dalam kamar, Fania berdiri di depan cermin.

Gaun panjang berwarna lembut membalut tubuhnya dengan anggun. Tidak berlebihan, namun cukup untuk menarik perhatian siapa pun yang melihatnya.

Rambutnya ditata sederhana dengan make-up tipis. Semuanya terlihat sempurna, ia menatap bayangannya. Cukup lama dalam keterdiaman, tidak ada yang kurang. Namun juga tak ada yang terasa utuh. Seolah semua hanya tampilan luar.

“Akan terlambat, bila tak berangkat sekarang”

Suara itu terdengar dari arah pintu. Fania menoleh, Ronald berdiri di sana. Dengan setelan jas rapi, pria itu terlihat seperti biasanya tenang, dingin, sulit ditebak. Tatapannya singkat, hanya sekilas dan tanpa ekspresi.

Fania mengangguk pelan. “Iya"

Hanya itu, tak ada pujian, tak ada komentar, dan tak ada kalimat sederhana seperti dulu

“Kamu cantik”

Padahal dulu hal kecil seperti itu tidak pernah ia lewatkan. Fania mengalihkan pandangannya, cepat. Seolah tidak ingin tinggal terlalu lama dalam perbandingan itu.

Mereka berjalan berdampingan keluar kamar.

Langkah mereka seirama. Dekat, namun terasa jauh. Seperti dua orang yang tahu arah yang sama. Namun tidak benar-benar berjalan bersama.

Sesampainya di lokasi acara, suasana hangat langsung menyambut. Tawa keluarga terdengar dari berbagai sudut. Anak-anak berlarian di halaman. Orang-orang dewasa berbincang santai, membicarakan hal-hal ringan hingga topik yang lebih serius.

“Kalian akhirnya datang juga!”

Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dengan senyum lebar. Ibu Ronald.

Fania membalas dengan senyum sopan.

“Maaf, Ma sedikit terlambat”

Wanita itu menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

Namun matanya sempat memperhatikan keduanya. Sekilas, lebih lama dari biasanya.

Seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak terlihat. Ada yang berbeda, namun ia tidak mengatakannya.

Ronald menyalami beberapa anggota keluarga. Fania mengikuti di sampingnya. Tampak anggun dan tenang, mereka tampak normal. Dan serasi, seperti pasangan yang baik-baik saja.

Namun bagi yang cukup peka, ada jarak tipis. Namun nyata.

“Fan, sini duduk sama Tante” ajak salah satu kerabat.

Fania mengangguk. Lalu duduk di antara para wanita. Sementara Ronald bergabung dengan para pria. Seperti biasa, rerpisah.

Obrolan di meja wanita berlangsung hangat.

Topik berpindah dengan cepat, dari kabar keluarga, pekerjaan, hingga hal-hal ringan yang memancing tawa.

Fania ikut tersenyum, mengangguk menjawab seperlunya. Namun perlahan arah pembicaraan berubah.

“Fania, bukannya kalian sudah tiga tahun menikah?” tanya salah satu dari mereka.

Fania tersenyum tipis. "Benar, Tan"

“Belum ada kabar bahagia?” sahut yang lain, senyum mereka penuh arti.

Fania terdiam sejenak. Pertanyaan itu, selalu sama, selalu datang. Dalam bentuk yang berbeda. Namun dengan maksud yang sama.

Ia mengulas senyum sopan.

“Belum, Tan.”

“Wah, jangan ditunda terus, nanti keburu sibuk” canda mereka.

Tawa kecil terdengar, ringan. Namun terasa berat bagi Fania. Ia hanya mengangguk kecil, tidak menanggapi lebih jauh. Namun di dalam dirinya ada sesuatu yang bergerak. Halus, namun terasa.

Ia melirik sekilas ke arah Ronald. Pria itu sedang berbicara dengan keluarganya. Tenang terkendali, seolah tak ada yang mengganggu. Seolah semuanya baik-baik saja.

Fania mengalihkan pandangannya. Dadanya terasa sedikit sesak. Bukan karena pertanyaan tadi. Namun karena, ia tidak tahu lagi apa yang sebenarnya ia rasakan.

Di sisi lain, Ronald juga tidak sepenuhnya fokus. Meski terlihat terlibat dalam percakapan, sesekali matanya bergerak.

Mencari satu sosok, Fania.

Dan saat menemukannya, ia hanya melihat sekilas. Lalu mengalihkan pandangan, seperti biasa. Menjaga jarak namun tetap memperhatikan.

Acara berlanjut dengan makan bersama.

Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan.

Suasana semakin ramai, Fania duduk di satu sisi. Ronald di seberangnya, pola yang sama.

Dekat namun jauh.

Fania mengambil makanan secukupnya. Ronald pun sama, tak ada interaksi. Tak ada percakapan. Namun saat Fania hampir meraih gelas airnya, Ronald lebih dulu mendorong gelas itu sedikit ke arahnya.

Gerakan kecil dan cepat, hampir tak terlihat oleh siapapun. Membuat Fania terdiam menatap gelas itu sejenak lalu melirik Ronald.

Namun pria itu sudah kembali fokus pada makanannya. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Fania menggenggam gelas itu perlahan.

Dan di dalam dirinya perasaan itu muncul lagi. Hangat namun terasa menyakitkan.

Di tengah makan, salah satu sepupu Ronald tiba-tiba bersuara.

“Hm kalian terlihat beda sekarang?”

Semua perhatian tertuju, Fania terdiam. Ronald mengangkat pandangannya.

“Beda?” ulangnya datar.

“Iya dulu begitu mesra sekali” sahut yang lain sambil tertawa kecil.

Suasana berubah dan sedikit canggung, ada ketegangan di sana. Fania tersenyum tipis.

“Kami masih mesra” jawabnya ringan. Sebuah kebohongan kecil. Yang terdengar cukup meyakinkan.

Ronald tidak menambahkan apa pun. Namun rahangnya sedikit mengeras. Reaksi kecil yang hanya bisa ditangkap oleh orang yang benar-benar memperhatikan.

***

Setelah makan selesai, beberapa orang berkumpul di halaman. Udara sore terasa segar. Angin berhembus pelan, Fania berdiri di sudut taman. Menatap bunga-bunga yang tertata rapi dalam kesendirian.

“Hm”

Suara itu membuatnya menoleh. Ronald. Pria itu berdiri tak jauh darinya. Fania sedikit terkejut. Namun segera menetralkan ekspresinya.

“Ada apa?”

Ronald menatapnya sejenak, lebih lama dari biasanya. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan. Namun tertahan.

“Jangan terlalu lama di luar” ujarnya akhirnya.

Sederhana dan datar, namun tidak sekosong itu. Fania mengangguk pelan.

“Ya.”

Setelah itu, tak ada yang bergerak. Mereka berdiri di sana. Dekat, namun tetap menjaga jarak yang tidak terlihat.

Angin kembali berhembus. Membawa keheningan di antara mereka. Fania menatap ke depan, Ronald pun sama. Dua orang, dengan banyak hal yang tidak terucap. Namun sama-sama memilih diam.

Beberapa detik berlalu, Ronald akhirnya berbalik. Melangkah pergi seperti biasa.

Namun sebelum benar-benar menjauh langkahnya sempat terhenti sesaat seolah ragu.

Namun ia tetap berjalan tanpa menoleh. Fania menatap punggungnya lama. Ada sesuatu yang ingin ia katakan. Ingin ia panggil, namun tidak keluar. Lidahnya kelu dan sekali lagi ia memilih diam.

Fania dapat melihat dengan jelas, Ronald kembali bergabung dengan kerabat-kerabat dari orangtuanya. Sementara dirinya masih betah termenung di taman menikmati angin sore yang terasa sejuk dan menyegarkan pikirannya meskipun sedikit.

"Ini lebih baik" gumamnya merasakan kesejukan itu.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!