NovelToon NovelToon
Mantan Pemilik Sistem

Mantan Pemilik Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kairon04

"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."

Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.

Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.

Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.

apakah sang penguasa akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Belas

Suara gemericik air yang jernih dari Telaga Teratai Imortal yang baru saja mulai terisi memenuhi udara pagi di pinggiran Desa Jinan. Ao Kun, sang naga laut yang kini ukurannya telah menyusut drastis, terlihat sangat sibuk di tengah telaga. Tubuh birunya yang berkilau meliuk-liuk di bawah permukaan air, menggunakan siripnya untuk mengatur tekanan dasar telaga agar lumpur tidak naik ke permukaan. Sesekali, ia menyemburkan uap dingin dari mulutnya untuk menjaga suhu air tetap ideal bagi benih teratai yang mulai disebar oleh Lin Xiaoqi dari atas perahu kecil.

Di tepian telaga, Lu Han—si pemuda yang baru saja kehilangan akses ke antarmuka gaibnya semalam—berdiri dengan wajah bingung. Ia memegang sebuah papan kayu dan kuas bambu, mencoba mencatat jumlah benih yang keluar. Tanpa layar transparan yang biasanya memberikan data otomatis, otaknya terasa seperti mesin tua yang karatan. Setiap kali ia mencoba memanggil "Status" atau "Inventaris" di dalam pikirannya, yang ia dapatkan hanyalah keheningan yang menyesakkan.

"Lu Han! Jangan melamun! Fokus pada angka-angkanya. Jika hitungan benih teratai ini meleset satu butir saja, itu akan mengacaukan proyeksi panen kita enam bulan ke depan," tegur Feng Mian yang berdiri di sampingnya. Ketua pedagang itu sekarang mengenakan topi caping lebar dan memegang sempoa emasnya dengan lihai. "Di dunia ini, data yang paling akurat adalah yang kau catat dengan matamu sendiri, bukan dengan khayalan di kepalamu."

Lu Han menghela napas, menatap Feng Mian dengan tatapan pasrah. "Maaf, Manajer Feng. Saya hanya... masih belum terbiasa dengan metode manual ini. Rasanya sangat lambat."

"Lambat bukan berarti salah, Nak. Lambat artinya kau memberikan waktu bagi jiwamu untuk memahami apa yang kau kerjakan," sahut Zhou Ji Ran yang muncul dari balik rimbunnya pohon willow. Ia membawa sebuah keranjang berisi pupuk organik yang dibuat dari sisa makanan restoran Chen Long.

Zhou Ji Ran berjalan menuju tepi telaga, memperhatikan cara Ao Kun bekerja. Ia memberikan anggukan kecil sebagai tanda apresiasi. "Ao Kun, kau melakukan pekerjaan yang bagus. Sirkulasi airnya sudah stabil. Tapi ingat, di sudut timur itu, tanahnya sedikit lebih berpori. Berikan sedikit lebih banyak tekanan es di sana agar airnya tidak merembes keluar."

"Siap, Tuan Zhou!" suara Ao Kun bergema dari dalam air, terdengar jauh lebih rendah hati daripada saat ia pertama kali datang dengan badai lautnya.

Zhou Ji Ran kemudian menoleh ke arah Lu Han. Ia bisa merasakan sisa-sisa energi dari sistem yang telah mati di dalam tubuh pemuda itu. "Lu Han, bagaimana rasanya menjadi manusia biasa? Tidak ada lagi misi yang memaksamu, tidak ada lagi suara yang memberitahumu apa yang harus kau lakukan. Bukankah itu sedikit melegakan?"

Lu Han terdiam sejenak, menatap telapak tangannya yang mulai sedikit kasar karena memegang peralatan kayu. "Awalnya saya merasa takut, Tuan. Seperti kehilangan kompas di tengah lautan. Tapi... melihat kedamaian di desa ini, dan melihat bagaimana semua orang hebat ini bekerja keras tanpa status yang mereka banggakan dulu... saya mulai merasa bahwa hidup yang sesungguhnya memang seperti ini."

"Bagus. Kau mulai mengerti," ucap Zhou Ji Ran sambil menepuk bahu Lu Han. "Kekuatan yang diberikan oleh pihak lain adalah pinjaman yang suatu saat akan ditagih. Tapi kekuatan yang kau bangun dari keringatmu sendiri adalah milikmu selamanya. Sekarang, pergilah ke gudang emas. Bantu Jenderal Han untuk menyortir batu-batu kristal yang tersisa dari Gerbang Pemusnahan kemarin. Kita butuh itu untuk melapisi dinding dalam telaga."

Saat Lu Han dan Feng Mian berjalan menjauh, Zhou Ji Ran duduk di akar Pohon Memori yang menjorok ke arah air. Gu Lao sudah ada di sana, sedang memancing dengan sebatang bambu tanpa kail—sebuah kebiasaan aneh yang ia klaim sebagai meditasi tingkat tinggi.

"Ji Ran, kau baru saja menjinakkan seorang anak yang merasa dirinya adalah pusat semesta," gumam Gu Lao tanpa menoleh. "Tapi kau tahu, hilangnya akses sistem pada pemuda itu telah memicu alarm di 'Pusat Kendali Dimensi'. Mereka tidak akan senang jika salah satu unit pengumpul data mereka diputus secara paksa."

"Biarkan saja mereka tidak senang," balas Zhou Ji Ran sambil menuangkan teh pahit dari teko tanah liatnya. "Mereka sudah terlalu lama bermain dengan takdir orang lain seperti mainan kayu. Jika mereka ingin unit mereka kembali, mereka harus datang sendiri ke sini dan mengambilnya dari tanganku. Dan mereka tahu betul apa risikonya."

Aroma bunga melati dari Pohon Memori semakin kuat seiring dengan naiknya matahari. Namun, di tengah aroma yang menenangkan itu, Ye Hua yang berada di puncak bukit tiba-tiba berdiri tegak. Ia menghunus sapu lidinya, namun auranya setajam pedang abadi.

"Tuan! Ada tamu dari 'Sembilan Langit Tertinggi'!" teriak Ye Hua.

Seketika, langit yang tadinya biru jernih mulai bergetar. Sebuah fenomena yang dikenal sebagai "Hujan Bunga Surgawi" mulai jatuh ke seluruh Desa Jinan. Setiap kelopak bunga yang jatuh mengeluarkan suara lonceng yang sangat nyaring, dan pendaran cahayanya cukup kuat untuk membutakan manusia biasa. Dari balik awan putih yang berkilau, sebuah jembatan cahaya pelangi terbentuk, menghubungkan langit dengan halaman rumah Zhou Ji Ran.

Sembilan sosok pria tua dengan jubah yang terbuat dari jalinan awan dan emas turun dengan perlahan. Mereka adalah "Sembilan Tetua Awan", dewan tertinggi yang mengawasi moralitas dan hukum di seluruh Dunia Atas. Di tangan pemimpin mereka terdapat sebuah cermin raksasa yang dikenal sebagai "Cermin Pencari Kebenaran".

"Siapa penghuni lembah terlarang ini yang telah berani menawan Penegak Hukum Zhang Tian dan para Penjaga Batas?!" suara pemimpin tetua, seorang pria dengan janggut putih yang panjangnya mencapai tanah, menggelegar ke seluruh penjuru.

Zhang Tian, yang sedang memegang ember berisi kotoran ayam di dekat kandang, mendongak. Wajahnya menunjukkan campuran antara malu dan peringatan. "Tetua Agung! Saya sarankan Anda untuk menghentikan hujan bunga itu! Anda mengotori area jemuran Tuan Zhou!"

Tetua Agung itu tertegun, menatap Zhang Tian seolah melihat orang gila. "Zhang Tian? Apa yang kau lakukan dengan ember busuk itu? Dan di mana kewibawaanmu sebagai penegak hukum?!"

"Kewibawaan saya sedang diistirahatkan, Tetua. Saat ini saya sedang bertanggung jawab atas kebersihan ekosistem kandang ayam," jawab Zhang Tian dengan nada yang sangat serius.

Zhou Ji Ran berdiri dari akar pohon, membersihkan debu dari celananya. Ia berjalan ke tengah halaman dengan langkah malas. "Kalian orang-orang dari atas benar-benar tidak punya sopan santun. Datang tanpa izin, membuang bunga sembarangan, dan sekarang berteriak-teriak membangunkan bayi naga yang baru saja tidur di telaga. Apakah kalian ingin bergabung dengan murid-murid di tebing untuk mencabut rumput?"

Tetua Agung itu menatap Zhou Ji Ran dengan tatapan yang penuh dengan penghinaan. Ia mengangkat Cermin Pencari Kebenaran ke arah Zhou Ji Ran. "Anak muda, kau telah melakukan dosa besar dengan menghasut para ahli kami untuk menjadi buruh tani. Dengan cermin ini, aku akan menunjukkan pada dunia siapa kau sebenarnya! Kau pasti iblis dari dimensi kuno yang sedang menyamar!"

Cermin itu mulai bersinar dengan cahaya perak yang sangat menyilaukan, memancarkan sinar pemurnian yang secara teori bisa menghancurkan penyamaran apa pun, bahkan milik dewa kuno sekalipun. Sinar itu menghantam tubuh Zhou Ji Ran secara langsung.

Seluruh penghuni desa menahan napas. Lin Xiaoqi dan Su Ruo bersiap untuk bertindak, namun mereka berhenti saat melihat ekspresi Zhou Ji Ran.

Zhou Ji Ran hanya berdiri diam, membiarkan sinar itu menyelimuti tubuhnya. Di dalam pantulan cermin, sosok Zhou Ji Ran tidak berubah menjadi iblis atau monster. Sebaliknya, cermin itu justru mulai retak. Gambaran yang muncul di dalam cermin adalah sebuah kehampaan yang begitu dalam, sebuah ruang gelap yang dipenuhi oleh miliaran bintang yang sudah mati, dan di tengahnya, sebuah sosok yang duduk di atas takhta yang terbuat dari hukum semesta yang paling dasar.

*PRAAAK!*

Cermin Pencari Kebenaran hancur berkeping-keping menjadi debu perak. Tetua Agung itu terlempar ke belakang, memuntahkan darah emas dari mulutnya. Delapan tetua lainnya segera menangkapnya, wajah mereka dipenuhi oleh ketakutan yang belum pernah mereka rasakan selama puluhan ribu tahun.

"Kau... kau... mustahil... Kekuatan itu... itu adalah..." Tetua Agung terbata-bata, tangannya yang gemetar menunjuk ke arah Zhou Ji Ran.

"Sudah kubilang, jangan gunakan mainanmu padaku," ucap Zhou Ji Ran dingin. Ia mengambil sebuah sapu lidi yang tergeletak di dekatnya. "Cerminmu baru saja mengotori halamanku dengan pecahan kaca perak. Dan karena kau adalah pemimpinnya, kau akan bertanggung jawab untuk membersihkannya secara manual."

"Beraninya kau!" salah satu tetua lainnya berteriak, mencoba memanggil "Petir Penghukuman Surgawi".

Namun, sebelum petir itu sempat menyentuh atmosfer Desa Jinan, Zhou Ji Ran hanya mengibaskan sapu lidinya ke arah langit. Kibasan itu menciptakan gelombang tekanan yang begitu padat hingga awan-awan surgawi di atas desa seketika buyar, dan petir tersebut berbalik arah, menghantam kapal-kapal kecil milik para tetua yang masih melayang di atas.

"Turunlah. Langit di atas rumahku bukan tempat untuk parkir," perintah Zhou Ji Ran.

Gravitasi di seluruh wilayah desa seketika meningkat seribu kali lipat hanya untuk sembilan tetua tersebut. Mereka jatuh dari jembatan pelangi dengan suara yang sangat keras, mendarat tepat di area pembuangan pupuk di samping kandang kuda Napas Api.

"Xin Yan! Berikan mereka masing-masing sebuah sapu dan sekop! Mulai hari ini, tugas Sembilan Tetua Awan adalah mengurus sanitasi seluruh desa. Aku ingin jalan setapak dari gerbang hingga ke telaga selatan bersih dari debu dan kotoran hewan setiap pagi," Zhou Ji Ran memberikan instruksi dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Panglima Xin Yan berjalan mendekat dengan senyum tipis. "Siap, Tuan Zhou! Saya akan memastikan para Tetua Agung ini memahami arti dari kebersihan yang sesungguhnya."

Pemandangan di Desa Jinan kini benar-benar menjadi sesuatu yang melampaui imajinasi siapa pun. Sembilan Tetua Awan, yang biasanya duduk di singgasana awan memberikan keputusan hukum bagi tujuh kerajaan, kini terlihat sedang membungkuk di atas tanah, memunguti pecahan cermin perak mereka sendiri dengan tangan yang gemetar. Di dekat mereka, Zhang Tian memberikan beberapa tips tentang cara menggunakan sapu lidi yang efektif agar punggung tidak cepat pegal.

"Selamat datang di tanah realitas, Tetua," bisik Zhang Tian sambil tersenyum kecut.

Sore harinya, Zhou Ji Ran kembali ke ladang Padi Surgawi. Ia melihat bulir-bulir padi itu semakin besar dan mulai mengeluarkan aroma nasi yang sangat harum, bahkan sebelum dipanen. Su Ruo sedang duduk di dekatnya, memainkan kecapinya dengan melodi yang sangat lembut, seolah-olah sedang menyanyikan nina bobo bagi padi-padi tersebut.

"Tuan Zhou, apakah menurut Anda Aliansi akan mengirimkan sesuatu yang lebih kuat lagi? Sembilan Tetua Awan adalah otoritas tertinggi yang kita kenal. Di atas mereka hanya ada 'Sang Pencipta Hukum' yang konon tidak pernah menampakkan diri," tanya Su Ruo sambil tetap memetik senarnya.

Zhou Ji Ran menatap langit yang mulai berubah warna menjadi ungu kemerahan. "Sang Pencipta Hukum itu... aku mengenalnya. Dia adalah murid dari salah satu bawahanku dulu saat aku masih memimpin Pasukan Bintang. Jika dia cukup pintar, dia tidak akan datang ke sini. Dia tahu bahwa di Desa Jinan, hukum buatannya tidak lebih berguna daripada kulit bawang."

Ia kemudian mengambil segenggam tanah, merasakannya di antara jari-jarinya. "Masalahnya bukan pada siapa yang akan datang, Ruo. Masalahnya adalah ketika Padi Surgawi ini panen. Energinya akan begitu besar sehingga ia akan membuka gerbang bagi mereka yang selama ini kelaparan di 'Lembah Kematian'. Para Dewa Kuno yang hanya memiliki sisa-sisa kesadaran akan mencoba datang untuk merebut esensi kehidupan ini."

"Apakah kita cukup kuat untuk menghadapi mereka semua, Tuan?" tanya Su Ruo dengan nada khawatir.

Zhou Ji Ran berdiri, menatap ribuan murid sekte, jenderal, pangeran, dan tetua yang kini sedang bekerja keras di seluruh desanya. "Lihatlah mereka, Ruo. Mereka bukan lagi sekadar ahli kultivasi yang sombong. Mereka sedang belajar cara menjadi bagian dari bumi. Ketika waktunya tiba, mereka tidak akan bertarung sebagai pahlawan individu, mereka akan bertarung sebagai satu kesatuan ekosistem. Dan itulah kekuatan yang tidak akan bisa dikalahkan oleh dewa mana pun."

Malam mulai turun, membawa ketenangan yang unik. Di restoran Chen Long, aroma sup iga naga (tentu saja bukan naga asli, melainkan ikan besar yang memiliki rasa mirip naga) mulai menyebar, memberikan rasa lapar yang sehat bagi para pekerja. Sembilan Tetua Awan duduk di pinggir jalan setapak, makan dari mangkuk kayu sederhana. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, makanan yang tidak mengandung energi spiritual murni terasa begitu nikmat karena mereka memakannya setelah seharian bekerja keras.

Lu Han duduk di samping mereka, memberikan beberapa pengarahan tentang cara mencatat inventaris pupuk untuk besok pagi. "Jangan khawatir, Tetua. Hari ketiga adalah yang paling berat. Setelah itu, otot kalian akan terbiasa, dan kalian akan mulai menyukai aroma tanah ini."

Salah satu tetua menatap Lu Han dengan pandangan bingung. "Kenapa kau tampak begitu tenang, anak muda? Kau kehilangan kekuatanmu, kau kehilangan masa depanmu di Dunia Atas, dan sekarang kau hanya seorang asisten gudang."

Lu Han tersenyum, sebuah senyuman yang jauh lebih dewasa daripada usianya. "Karena di Dunia Atas, saya hanyalah sebuah angka dalam permainan orang lain. Di sini, saya adalah Lu Han, asisten gudang Tuan Zhou. Dan setiap butir gandum yang saya catat adalah nyata. Masa depan yang nyata jauh lebih baik daripada keabadian yang palsu."

Di bawah sinar rembulan, Zhou Ji Ran berjalan menuju tepi Telaga Teratai. Ao Kun muncul dari permukaan air, kepalanya yang biru bersinar redup. "Tuan, airnya sudah penuh. Teratainya akan mekar besok pagi."

"Bagus. Besok pagi kita akan memiliki pemandangan yang indah," jawab Zhou Ji Ran.

Ia berdiri di sana cukup lama, menatap bayangan dirinya di atas permukaan air telaga yang tenang. Tanpa sistem yang memberikan perintah, tanpa misi yang memberikan tekanan, ia merasa benar-benar hidup. Ia bukan lagi sang Penguasa Multisemesta yang ditakuti; ia adalah Zhou Ji Ran, seorang petani di Desa Jinan yang sedang menantikan mekarnya bunga teratai.

Namun, di kedalaman hutan yang gelap, di luar batas perlindungan desa, sepasang mata merah raksasa perlahan terbuka. Sebuah entitas yang dikenal sebagai "Penjaga Kelaparan" telah mencium aroma Padi Surgawi yang hampir matang. Makhluk itu mengeluarkan geraman yang membuat tanah bergetar secara frekuensi rendah, sebuah peringatan bahwa masa damai ini akan segera diuji oleh kekuatan yang tidak mengenal belas kasihan.

Zhou Ji Ran tidak menoleh, namun ia menggenggam cangkulnya sedikit lebih erat. "Datanglah. Ladang jagungku masih butuh banyak pupuk organik dari sisa-sisa kegelapan."

Suasana malam di Desa Jinan kembali menjadi sunyi, namun dengan ketegangan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki jiwa yang peka. Roda takdir terus berputar, dan di bawah bimbingan sang mantan pemilik sistem, setiap tantangan yang datang hanya akan memperkuat akar kedamaian yang sedang ia tanam.

Pagi akan segera tiba, dan bersamaan dengan mekarnya bunga teratai pertama, sebuah babak baru dalam sejarah benua ini akan dimulai. Bukan sejarah tentang perang antar sekte, melainkan sejarah tentang bagaimana sebuah desa kecil menjadi benteng terakhir bagi kehidupan yang sesungguhnya.

"Tuan, apakah Anda ingin teh lagi?" suara lembut Lin Xiaoqi memecah lamunannya.

"Ya, Xiaoqi. Satu cangkir lagi. Malam ini akan menjadi malam yang panjang," jawab Zhou Ji Ran dengan senyum tenang.

Dan di kegelapan malam, Padi Surgawi terus bersinar, menjadi mercusuar bagi harapan yang tidak akan pernah padam selama sang petani legenda masih berdiri menjaga ladangnya. Kehidupan ini, dengan segala kekacauan dan keajaibannya, memang benar-benar luar biasa. Tanpa instruksi apa pun, Zhou Ji Ran telah menciptakan naskah hidupnya sendiri di atas tanah yang subur ini. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun merusaknya.

1
anggita
pernah baca novel terjemahan yg ceritanya mirip ini di platform lain. tapi lupa judulnya🤭. dukung like👍, 2iklan☝☝.
anggita: oke👌Thor.
total 2 replies
anggita
Zhou Ji Ran.... joss 💪😊. moga lancar novelnya.
anggita
cerita yg cukup menarik..👍☝👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!