NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Langit yang Sama

Pagi itu, Jakarta seolah memberikan kado pernikahan yang tidak biasa: langit biru tanpa kepungan polusi yang mencekik. Mungkin alam tahu bahwa hari ini, di sebuah taman tersembunyi di sudut Jakarta Selatan, dua jiwa yang sempat hancur oleh konspirasi sedang mencoba merajit masa depan mereka kembali.

Pernikahan kami tidak digelar di hotel bintang lima dengan lampu kristal yang harganya bisa membangun satu gedung sekolah. Tidak ada karpet merah sepanjang satu kilometer atau tamu undangan dari kalangan pejabat tinggi yang hanya datang untuk setor wajah. Sebaliknya, halamannya dipenuhi dengan bunga-buku liar, kursi-kursi kayu sederhana, dan aroma sate lilit yang tercium dari area prasmanan.

Aku berdiri di depan cermin besar di sebuah ruangan kecil di panti asuhan. Ya, aku memilih bersiap di sini, di kamar lamaku yang sekarang sudah disulap menjadi ruang ganti sementara. Aku mengenakan kebaya putih modern yang simpel, tanpa payet berlebihan. Rambutku hanya disanggul rendah dengan selipan bunga melati segar.

"Nara, kamu cantik sekali," bisik Ibu Lastri yang masuk sambil membawa segelas teh hangat. Matanya berkaca-kaca. "Ibu tidak pernah menyangka, anak kecil yang dulu sering menangis di pojokan karena bukunya sobek, sekarang akan menjadi pengantin seorang pria hebat."

Aku memeluk Ibu Lastri erat. "Ini semua berkat Ibu. Kalau Ibu tidak menyemangatiku untuk terus menulis, mungkin aku tidak akan pernah bertemu Bimo."

"Sudah, jangan menangis, nanti riasannya luntur," canda Ibu Lastri sambil mengusap pipiku. "Ayo, Ayahmu sudah menunggu di luar."

Di teras, Ayah berdiri dengan setelan jas hitam yang tampak sangat pas di tubuhnya yang kini lebih berisi. Dia terlihat gagah. Saat melihatku, bibirnya gemetar. Dia tidak berkata apa-apa, hanya mengulurkan lengannya untuk kugandeng. Kami berjalan perlahan menuju area taman.

Di ujung altar kayu yang dihiasi daun-daun hijau, Bimo berdiri. Dia tidak memakai setelan jas kaku seperti biasanya. Dia memakai kemeja putih dengan rompi abu-abu, tanpa dasi. Penampilannya sangat santai, sangat "Bimo yang sebenarnya". Saat mata kami bertemu, aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Pria yang biasanya mengendalikan miliaran rupiah dengan tangan dingin itu, kini tampak sangat rapuh sekaligus sangat bahagia.

Acara akad nikah berlangsung dengan sangat khidmat. Suara Ayah saat menikahkan kami terdengar mantap, meski ada sedikit nada serak menahan tangis. Ketika Bimo mengucapkan ijab kabul dalam satu napas, aku merasa beban seberat gunung yang selama ini kupikul mendadak menguap ke udara.

"Sah?" tanya penghulu. "SAH!" jawab Panji dan para saksi lainnya dengan suara yang sangat kencang, memecah kesunyian taman.

Resepsinya berlangsung sangat cair. Tidak ada pelaminan tinggi yang membuat pengantin seperti pajangan. Kami berbaur dengan tamu—yang sebagian besar adalah anak-anak panti, teman-teman penulisku, dan beberapa staf inti Wijaya Group yang selama ini setia pada Bimo.

Aku melihat Panji sedang dikerubungi anak-anak panti yang memintanya memeragakan jurus bela diri yang dia gunakan untuk menangkap Om Bram tempo hari. Panji tampak kewalahan tapi tertawa lebar. Sementara itu, Ayah duduk di pojokan, asyik mengobrol dengan beberapa pensiunan akuntan yang dulu pernah bekerja bersamanya.

"Gimana rasanya jadi Nyonya Bimo?" bisik Bimo sambil melingkarkan lengannya di pinggangku. Kami sedang berdiri di dekat pohon kamboja besar, sedikit menjauh dari keramaian.

"Rasanya... aneh," jawabku jujur. "Masih berasa seperti plot novel yang belum selesai aku tulis. Aku takut kalau aku bangun besok, aku masih di kamar kostku yang sempit, dikejar tagihan listrik."

Bimo mencium pelipisku. "Kalau itu mimpi, kita akan bangun bersama-sama di rumah baru kita. Tidak ada lagi tagihan yang perlu kamu khawatirkan, kecuali mungkin tagihan kreativitas dari editormu."

"Bicara soal editor, dia tadi datang lho. Dia bilang kalau aku nggak kirim draf terakhir minggu depan, dia bakal boikot pernikahan kita," aku tertawa.

"Biarkan saja. Bilang padanya, penulisnya sedang dalam misi penting: bulan madu tanpa internet," balas Bimo.

Sore harinya, saat tamu-tamu mulai pulang, aku duduk di bangku taman sendirian sebentar, menikmati semilir angin. Bimo sedang membantu Panji mengurus beberapa hal administratif terkait keberangkatan Ratih ke Swiss besok pagi. Ya, meski hari ini adalah hari bahagia kami, Bimo tetap memastikan ibunya mendapatkan perawatan terbaik.

Tiba-tiba, seorang anak kecil bernama Dito, salah satu penghuni panti yang paling nakal sekaligus paling pintar, mendekatiku. Dia membawa sebuah kotak kado kecil yang dibungkus kertas koran.

"Mbak Nara, ini buat Mbak. Dari kami semua," kata Dito malu-malu.

Aku membuka kado itu. Isinya adalah sebuah kumpulan cerita pendek yang ditulis tangan oleh anak-anak panti. Judulnya: Mbak Nara dan Pangeran Lego. Di halaman pertama, ada gambar Bimo memakai mahkota dari Lego dan aku sedang memegang pena raksasa.

Air mataku benar-benar tumpah kali ini. Inilah alasan kenapa aku berjuang. Inilah alasan kenapa Bimo meruntuhkan kerajaannya sendiri. Bukan untuk kemewahan, tapi untuk senyum anak-anak seperti Dito.

Bimo datang menghampiriku, melihat buku itu, dan tersenyum haru. "Ini hadiah terbaik yang pernah aku lihat," katanya pelan.

"Bimo," kataku sambil menatap matanya. "Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk menjadi nyata. Untuk tidak membiarkanku menulis cerita ini sendirian."

Bimo menggenggam tanganku, memperlihatkan cincin pernikahan kami yang kini bersanding dengan cincin pertunangan kemarin. "Kita akan menulis banyak volume setelah ini, Nara. Mungkin ada bab yang sulit, mungkin ada konflik baru, tapi aku janji, aku tidak akan pernah melepaskan penanya."

Malam mulai turun menyelimuti Jakarta. Lampu-lampu taman yang hangat mulai menyala, memberikan kesan magis pada sisa-sara hari pernikahan kami. Aku tahu perjalanan kami tidak akan selalu mulus. Wijaya Group masih dalam masa transisi, Bram masih harus menghadapi pengadilan, dan rehabilitasi Ratih akan memakan waktu lama.

Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar pulang. Tidak ada lagi rahasia di balik kabut, tidak ada lagi surat misterius, dan tidak ada lagi kontrak yang membelenggu.

Aku mengambil ponselku, membuka aplikasi catatan untuk terakhir kalinya hari ini. Aku ingin menuliskan kalimat penutup untuk bab pernikahan ini, sebelum aku benar-benar mematikan ponselku selama satu minggu ke depan.

Dulu aku pikir, akhir yang bahagia adalah ketika semua musuh kalah dan kita hidup dalam kemewahan. Ternyata aku salah. Akhir yang bahagia adalah ketika kita bisa menatap masa lalu tanpa rasa benci, dan menatap masa depan tanpa rasa takut. Hari ini, aku menutup buku tentang 'Istri Kontrak' dan membuka buku baru tentang 'Nara yang Bebas'. Dan percayalah, bagian terbaik dari cerita ini baru saja dimulai.

Aku menekan tombol save, mematikan ponsel, dan menyelipkannya ke dalam tas. Aku menoleh ke arah Bimo yang sedang menungguku di dekat mobil. Dia melambaikan tangannya, mengajakku untuk segera berangkat menuju babak baru kehidupan kami.

Aku berlari kecil menuju arahnya, meninggalkan taman panti asuhan yang penuh kenangan itu. Di bawah langit Jakarta yang kini bertabur bintang, aku tahu satu hal: selama ada cinta yang jujur, tinta kehidupan tidak akan pernah kering.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!