NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Morning After

Aroma mentega dan kopi hangat membangunkan Serena pagi itu. Perlahan, perempuan itu membuka mata sambil mengerjap pelan menyesuaikan cahaya matahari yang masuk dari jendela besar kamarnya. Kepalanya masih sedikit berat akibat whiskey semalam.

Namun ada sesuatu yang terasa aneh. Kasur di sampingnya kosong, tetapi masih hangat. Serena langsung menegakkan tubuh perlahan. Dan detik berikutnya, ia mengingat semuanya.

Bar.

Axel.

Damien datang ke mansion.

Tatapan gelap pria itu.

Tangannya di pinggang Serena.

Sial.

Serena mengusap wajahnya kasar sebelum turun dari tempat tidur dengan kemeja putih kebesaran yang jelas bukan miliknya.

Kemeja Damien.

Tentu saja. Sepuluh tahun bersama membuat mansion ini lebih terasa seperti rumah mereka dibanding hanya milik Serena sendiri.

Begitu keluar kamar, aroma makanan langsung semakin terasa. Entah kenapa, dada Serena langsung mengencang. Mungkin karena ia sudah tahu siapa yang ada di dapur bahkan sebelum melihatnya.

Damien Knox berdiri di depan kitchen island dengan kemeja hitam yang lengannya digulung santai sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan, sementara satu tangannya sibuk menuang kopi ke cangkir putih.

Pemandangan yang terlalu familier. Terlalu domestik juga berbahaya.

Dulu, pagi-pagi seperti ini adalah favorit Serena. Hari-hari di mana Damien tampak lebih seperti pria biasa dibanding pewaris keluarga Knox yang selalu muncul di berita bisnis.

Damien menoleh begitu mendengar langkah Serena. Tatapannya langsung bergerak naik turun memperhatikan perempuan itu beberapa detik. Serena membenci fakta bahwa pria itu masih bisa membuatnya gugup hanya dengan satu tatapan.

“Kau sudah bangun.” Suara Damien rendah dan tenang seperti biasa. Seolah semalam mereka tidak hampir saling menghancurkan lagi.

Serena berjalan pelan mendekat sambil menyilangkan tangan di dada. “Kau menginap?”

“Kau tertidur di lenganku sepanjang malam,” jawab pria itu sembari tersenyum. Terdengar amat natural, seolah itu hal paling biasa di dunia.

Memang dulu begitu.

Serena memperhatikan meja makan yang sudah dipenuhi sarapan sederhana namun sempurna. Roti panggang, telur, buah, dan kopi panas yang masih mengepul.

“Kau masih ingat aku tidak suka sarapan manis.”

Damien menarik kursi untuk Serena tanpa menjawab. Gestur kecil itu langsung membuat dada Serena terasa aneh. Karena Damien selalu seperti ini. Pria itu mengingat semua hal kecil. Hal-hal bodoh.

Damien tahu Serena tidak suka timun. Tahu perempuan itu sulit tidur kalau hujan terlalu deras. Tahu Serena selalu minum kopi tanpa gula setiap kali suasana hatinya buruk.

Namun anehnya, pria itu tetap memilih perempuan lain.

“Kau menatapku seperti ingin membunuhku,” gumam Damien sambil duduk di seberang Serena.

“Aku sedang mempertimbangkannya.”

Damien terkekeh kecil. Dan sialnya, suara itu masih terdengar menyenangkan di telinga Serena.

“Bagaimana kepalamu?”

“Aku masih hidup.”

“Bagus.”

Hening kecil jatuh di antara mereka.

Damien mulai memotong roti dengan santai, sementara Serena hanya menatap kopi di depannya tanpa benar-benar ingin menyentuhnya.

Pagi ini terasa terlalu normal. Dengan cara inilah Damien selalu membuatnya bertahan selama sepuluh tahun. Bukan dengan janji besar, melainkan dengan momen-momen kecil seperti ini yang membuat Serena merasa dicintai.

“Pria itu,” ucap Damien tiba-tiba sambil tetap fokus pada sarapannya. “Jangan menemuinya lagi.”

Serena langsung mengangkat kepala.

“Kita mulai lagi?”

“Aku serius.”

“Kau terdengar posesif sekali untuk seseorang yang sudah putus denganku.”

Tatapan Damien perlahan naik menatap Serena. Tenang. Dingin. Namun ada sesuatu dalam matanya yang membuat Serena langsung waspada.

“Aku tidak suka caranya melihatmu.”

Serena tertawa kecil. “Dan aku tidak suka kau tidur dengan perempuan lain. Namun hidup tetap berjalan, kan?”

Damien diam beberapa detik. Lalu pria itu meletakkan pisau di tangannya perlahan.

“Kau ingin membuatku marah sepagi ini?” tanyanya rendah. Dan sialnya, cara Damien mengatakannya terdengar jauh lebih seperti ancaman dibanding pertanyaan.

Serena langsung terdiam. Bukan karena kata-katanya. Melainkan karena perubahan kecil pada wajah Damien. Sangat kecil. Namun cukup untuk membuat udara di ruang makan mendadak terasa lebih dingin.

Damien Knox jarang marah. Selama sepuluh tahun, pria itu hampir tidak pernah meninggikan suara pada Serena. Bahkan saat mereka bertengkar paling buruk sekalipun, Damien tetap tenang. Tetap rapi. Tetap terkendali. Dan justru itu yang membuat Serena takut. Karena saat Damien mulai kehilangan kesabaran, semuanya berubah menjadi jauh lebih mengintimidasi.

“Aku hanya bicara fakta,” ucap Serena pelan, berusaha terdengar santai. "Kau tidur dengan perempuan itu, kan? Atau jangan-jangan, saat kita tidur bersama, kau membayangkan aku sebagai dirinya?"

Damien menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi. Tatapannya tidak lepas dari Serena sedikit pun.

“Kau pulang tengah malam dengan pria asing.” Damien tersenyum tipis tanpa kehangatan. “Lalu pagi-pagi langsung membicarakan perempuan lain di depanku. Apa kau memang sedang mencoba mengujiku?”

Jantung Serena langsung berdegup lebih cepat.

“Aku tidak sedang melakukan apa pun.”

“Kau selalu melakukan sesuatu.”

Damien berdiri perlahan dari kursinya. Dan reflek tubuh Serena langsung menegang.

Sial.

Ia membenci fakta bahwa dirinya masih bereaksi seperti ini terhadap Damien.

Pria itu berjalan pelan mengitari meja makan hingga berhenti tepat di samping Serena. Dekat sekali.

“Kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau lakukan?” gumam Damien sambil menunduk sedikit ke arah Serena.

Aroma parfum pria itu langsung memenuhi indera Serena.

“Kau marah padaku.” Jemari Damien menyentuh dagu Serena pelan, tetapi genggamannya terasa terlalu kuat untuk disebut lembut. “Jadi sekarang kau ingin membuatku cemburu.”

“Aku tidak peduli kau cemburu atau tidak.”

“Oh ya?” Damien terkekeh kecil. Dingin. “Kalau begitu kenapa kau terus menyebut perempuan itu sejak semalam?”

Napas Serena mulai terasa tidak nyaman. Karena Damien benar. Dan Serena membenci saat pria itu benar.

“Kau membuatku terlihat seperti orang jahat,” lanjut Damien rendah. “Seolah aku pria paling buruk di dunia karena mengakhiri hubungan kita.”

“Memanfaatkan seseorang selama sepuluh tahun bukan sekadar memilih hidup.”

Kalimat itu akhirnya keluar. Suasana seketika berubah. Tatapan Damien mengeras seketika. Kini tidak ada lagi senyum tipis atau nada lembut.

Hanya Damien Knox yang sebenarnya. Dingin. Tajam. Begitu mengintimidasi.

“Aku tidak pernah memanfaatkanmu.”

“Benarkah?” Serena langsung berdiri. “Lalu apa aku selama ini? Pengganti sementara sampai kau siap kembali pada perempuan itu?”

Damien tiba-tiba mencengkeram lengan Serena. Kuat. Membuat Serena langsung terdiam dan meringis.

“Jaga bicaramu.” Nada suara pria itu turun drastis. Nyaris terdengar seperti ular yang berdesis.

Untuk pertama kali setelah sekian lama, Serena benar-benar merasa takut. Bukan takut Damien akan menyakitinya. Namun takut melihat sisi Damien yang selama ini selalu disembunyikan rapat-rapat darinya.

“Kau mulai terlalu emosional,” gumam Damien dingin.

“Aku emosional?” Serena tertawa tidak percaya. “Kau tidur di rumahku, menyentuhku seperti kau masih mencintaiku, lalu pagi-pagi bertingkah seolah aku yang salah?”

Damien mendekat. Kini Serena nyaris terjebak di antara tubuh pria itu dan meja makan.

“Kau memang salah kalau berpikir aku akan diam melihatmu dekat dengan pria lain.”

“Dan kau pikir aku akan terus diam saat kau mempermainkanku?”

Hening. Damien menatap Serena lama begitu lekat. Tatapan gelap yang membuat dada Serena terasa semakin sesak setiap detiknya. Lalu perlahan, pria itu mengusap bibir bawahnya sambil tertawa kecil tanpa humor.

“Kau benar-benar tidak sadar seberapa berbahayanya dirimu saat sedang terluka.”

Kalimat itu terdengar aneh. Nyaris seperti ancaman terselubung. Serena langsung mengernyit. “Apa maksudmu?”

Namun Damien justru menatap Serena dari atas ke bawah perlahan sebelum tersenyum tipis. Senyum yang tidak membuat Serena tenang. Justru sebaliknya.

“Mungkin aku memang terlalu memanjakanmu selama ini.” Pria itu menyeringai.

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!