NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Onimaru Rascall

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Onimaru Rascall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Tony duduk di dalam mobilnya sambil menatap gedung perusahaan keluarga Darmawan dari kejauhan. Tangannya mengetuk pelan setir mobil dengan wajah penuh kekesalan. Jabatan yang dulu membuat semua orang membungkuk hormat padanya kini sudah hilang. Dulu dia adalah direktur operasional yang punya akses ke hampir semua keputusan penting perusahaan. Sekarang? Hanya seorang manajer produksi yang bahkan tidak lagi dianggap penting dalam rapat besar.

Ironis sekali hidup manusia. Ketika punya jabatan, semua orang tertawa mendengar lelucon paling bodoh sekalipun. Begitu jatuh, suara napas saja dianggap mengganggu.

Kasus penggelapan dana yang beberapa bulan lalu terbongkar benar-benar menghancurkan posisinya. Walaupun tidak ada bukti langsung yang menyeret namanya, semua orang tahu Tony tidak mungkin benar-benar bersih. Tidak ada yang percaya seorang direktur operasional bisa tidak tahu aliran uang perusahaan.

Namun yang paling membuatnya gelisah bukan kehilangan jabatan.

Melainkan Clara.

Putri bungsu pemilik perusahaan itu dulu selalu mengejarnya. Clara yang manja, cantik, dan keras kepala dulu hampir seperti anjing kecil yang terus mengikuti dirinya ke mana-mana. Tony bahkan sering merasa bosan menghadapi perhatian Clara yang berlebihan.

Tetapi sekarang keadaan berbeda.

Ayah Clara menghukum putrinya hidup mandiri. Semua kartu fasilitas diblokir. Mobil mewah ditarik. Clara bahkan dipindahkan menjadi pegawai biasa di perusahaan.

Tony tersenyum tipis.

Menurutnya, Clara pasti tidak akan tahan hidup susah terlalu lama.

Gadis yang sejak kecil hidup dalam kemewahan mana mungkin tahan naik bus umum dan tinggal di kontrakan sempit? Cepat atau lambat Clara pasti akan mencari tempat bersandar lagi.

Dan Tony berniat menjadi tempat itu.

Kalau dia bisa mendapatkan Clara kembali lalu menikahinya, ayah Clara mungkin akan melunak. Setelah itu jalannya untuk mendapatkan kekuasaan perusahaan akan terbuka lagi.

Rencana yang licik. Sangat manusia sekali. Mengubah hubungan menjadi transaksi bisnis dengan bonus drama murahan.

Sore itu langit mulai gelap ketika Tony melihat Clara turun dari bus umum di ujung jalan. Gadis itu mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam kantor. Rambut panjangnya diikat seadanya. Wajahnya tampak lelah.

Namun anehnya, Clara masih terlihat cantik.

Tony keluar dari mobil sambil memasang ekspresi prihatin palsu yang bahkan mungkin bisa membuat aktor sinetron merasa tersaingi.

“Clara.”

Clara yang baru melangkah memasuki gang kecil menuju kontrakannya langsung berhenti. Wajahnya berubah datar saat melihat Tony.

“Ngapain datang ke sini?”

Tony mendekat perlahan.

“Aku cuma ingin lihat keadaanmu.”

“Sudah lihat?” jawab Clara dingin.

Tony tersenyum kecil.

“Aku dengar ayahmu benar-benar menghukummu. Kamu sekarang naik bus? Tinggal di tempat seperti ini?”

Clara menatapnya tanpa ekspresi.

“Terus kenapa?”

“Aku kasihan sama kamu, Clara.”

Clara hampir tertawa mendengar itu.

Kasihan?

Dari semua manusia di dunia, Tony adalah orang terakhir yang pantas mengucapkan kata itu.

Tony melanjutkan dengan suara lembut yang dibuat-buat.

“Kamu tidak seharusnya hidup begini. Kamu terbiasa hidup nyaman. Aku punya apartemen. Kamu bisa tinggal di sana bersamaku.”

Clara menghela napas panjang.

“Tony, kamu serius?”

“Aku serius.”

“Kamu pikir aku bakal ikut sama orang yang nyolong uang perusahaan ayahku?”

Wajah Tony langsung berubah.

“Aku tidak terbukti melakukan apa pun.”

Clara tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat Tony semakin kesal.

“Itu masalahnya. Tidak terbukti bukan berarti tidak bersalah.”

“Kamu menuduh aku?”

“Aku cuma tidak sebodoh dulu.”

Ucapan itu membuat rahang Tony menegang.

Clara melangkah melewatinya.

“Aku capek. Minggir.”

Namun tiba-tiba Tony menarik pergelangan tangan Clara dengan keras.

“Aku belum selesai bicara.”

Clara langsung berusaha melepaskan tangannya.

“Lepasin.”

“Kamu masih marah sama aku karena masalah kecil itu?”

“Masalah kecil?” Clara menatap tajam. “Perusahaan ayahku hampir rugi besar gara-gara penggelapan dana dan kamu bilang itu masalah kecil?”

Tony mulai kehilangan kesabaran.

“Kamu terlalu percaya omongan orang.”

“Aku percaya logika.”

Clara mencoba menarik tangannya lagi.

“Lepas.”

Namun Tony malah menarik tubuh Clara mendekat.

“Kamu pikir ada laki-laki lain yang bakal mau sama kamu sekarang? Kamu sudah bukan putri konglomerat manja lagi.”

Tatapan Clara berubah dingin.

“Kalau cuma untuk hidup numpang di apartemen hasil uang kotor, aku lebih pilih tinggal di kontrakan sempit.”

Tony tersenyum sinis.

“Kamu cuma gengsi.”

“Tidak semua orang bisa dijual pakai uang, Tony.”

Kalimat itu seperti menyiram bensin ke api emosi Tony.

Selama ini semua orang selalu tunduk pada uang dan kekuasaan. Mendengar Clara menolaknya mentah-mentah membuat harga dirinya terasa diinjak.

Tony menarik Clara menuju mobilnya.

“Kamu ikut aku sekarang.”

Clara langsung meronta.

“Lepasin aku!”

“Kamu cuma keras kepala sekarang.”

“Aku bilang lepaskan!”

Tony tetap menyeret Clara.

Orang-orang di sekitar gang mulai melirik, tetapi tidak ada yang berani mendekat. Pemandangan paling menyedihkan dalam hidup sosial manusia modern. Semua orang suka menonton masalah, tetapi takut ikut campur.

Clara mulai panik saat tubuhnya didorong mendekati mobil.

“Tony! Lepas!”

“Aku cuma mau ngobrol baik-baik!”

“Bohong!”

Clara mencoba memukul dada Tony, tetapi pria itu jauh lebih kuat.

Saat Tony membuka pintu mobil, Clara tiba-tiba menggigit tangan Tony sekuat tenaga.

“AARGH!”

Tony refleks melepas tangannya.

Clara langsung mundur beberapa langkah sambil terengah-engah.

“Jangan sentuh aku!”

Tony memandangi bekas gigitan di tangannya dengan wajah merah penuh amarah.

“Kamu gila?!”

“Lebih baik gila daripada jadi penjahat.”

Ucapan Clara membuat emosi Tony meledak.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Clara hingga tubuh gadis itu hampir jatuh. Suara tamparan menggema di gang sempit itu.

Clara memegang pipinya dengan mata membelalak.

Tony mencengkeram rambut Clara kasar.

“Kamu pikir sekarang kamu siapa?!”

Clara meringis kesakitan.

“Lepas!”

“Kamu dulu ngejar-ngejar aku seperti orang bodoh! Sekarang malah jual mahal?”

Air mata mulai menggenang di mata Clara, tetapi bukan karena sedih.

Karena marah.

Karena jijik pada dirinya sendiri yang dulu pernah mencintai laki-laki seperti Tony.

“Toloooong!”

Clara berteriak keras.

Namun Tony malah menamparnya lagi.

PLAK!

Kali ini sudut bibir Clara sampai terluka.

“Diam!”

Tony membuka pintu mobil lalu mendorong Clara masuk secara paksa.

Clara menahan tubuhnya di pintu sambil terus meronta.

“Lepasin aku! Tolong!”

Dan tepat saat itu sebuah tangan tiba-tiba menarik kerah belakang Tony dengan keras.

BUGH!

Pukulan berat menghantam wajah Tony hingga tubuhnya terlempar ke samping mobil.

Tony sempoyongan sambil memegang bibirnya yang berdarah.

Di depan Clara kini berdiri Doni.

Wajah pria itu gelap penuh amarah.

“Berani sekali kamu sentuh dia.”

Clara menatap Doni dengan napas gemetar.

“Doni…”

Tony meludah darah ke tanah sambil menatap tajam.

“Ini urusan pribadi. Jangan ikut campur.”

Doni langsung berdiri di depan Clara melindunginya.

“Kalau sudah pakai kekerasan, itu bukan urusan pribadi lagi.”

Tony mendecih kesal.

“Kamu pikir kamu pahlawan?”

“Tidak.” Doni melirik Clara sekilas. “Aku cuma tidak suka lihat laki-laki memukul perempuan.”

Tony tertawa sinis.

“Dia mantan pacarku.”

“Dan jelas dia tidak mau ikut sama kamu.”

Tony kembali mencoba mendekat.

“Clara ikut aku.”

Namun Doni langsung mendorong dada Tony keras.

“Satu langkah lagi, aku pastikan kamu masuk rumah sakit.”

Tatapan keduanya bertemu tajam.

Tony benar-benar marah, tetapi dia juga sadar Doni bukan orang yang mudah dihadapi. Tubuh pria itu lebih besar dan jauh lebih tenang. Jenis orang yang berbahaya saat marah karena tidak banyak bicara.

Tony memandang Clara yang berdiri di belakang Doni.

“Aku cuma mau bantu kamu.”

Clara tertawa kecil meski pipinya masih sakit.

“Kalau itu bantuanmu, lebih baik aku miskin seumur hidup.”

Wajah Tony mengeras.

“Kamu bakal nyesal.”

“Yang aku sesali cuma pernah percaya sama kamu.”

Suasana mendadak sunyi.

Beberapa warga mulai keluar rumah memperhatikan keributan itu. Tony sadar situasi mulai tidak menguntungkannya.

Dia menatap Doni penuh kebencian.

“Jangan ikut campur urusanku lagi.”

Doni menjawab datar.

“Jangan sentuh Clara lagi.”

Tony akhirnya masuk ke mobilnya dengan kasar lalu pergi meninggalkan gang itu.

Suara mobil menghilang perlahan.

Setelah suasana tenang, tubuh Clara mendadak lemas. Doni segera menahan bahunya sebelum gadis itu jatuh.

“Kamu tidak apa-apa?”

Clara mencoba tersenyum meski bibirnya gemetar.

“Aku masih hidup.”

Doni memandangi pipi Clara yang merah membengkak. Rahangnya mengeras menahan emosi.

“Dia sering begini?”

Clara menggeleng pelan.

“Dulu dia cuma manipulatif. Hari ini pertama kali dia sampai memukulku.”

Doni menghela napas panjang.

“Manusia memang aneh. Saat kehilangan kekuasaan, mereka mulai menunjukkan wajah aslinya.”

Clara tertawa lirih.

“Kedengarannya filosofis sekali.”

“Aku capek lihat orang merasa bisa memiliki orang lain.”

Clara terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

“Terima kasih.”

Doni menatapnya.

“Kamu tidak perlu berterima kasih karena diselamatkan dari orang gila.”

Clara akhirnya benar-benar tertawa kecil walau terasa nyeri di bibirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!