Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA LUKA DI PUNGGUNG SANG RAJA
Ada satu hukum yang tidak tertulis di dalam penthouse megah De Calvi: kamar pribadi Lucien adalah wilayah terlarang yang paling sunyi. Jika Marc memiliki ruang kendali siber yang berisikan barisan server yang berdenyut, Julien dengan ruang persenjataan yang dingin, dan Etienne dengan ruang santai yang penuh dengan botol minuman mahal, maka Lucien memiliki sebuah ruangan besar bernuansa gotik klasik dengan dominasi warna hitam dan beludru merah tua. Kamar itu mencerminkan beban berat yang dipikulnya sebagai sulung—sang "Raja" yang harus berdiri paling depan menjadi tameng bagi ketiga adik kembarnya.
Malam itu, badai musim semi melanda Paris. Rintik hujan deras menghantam kaca jendela besar yang menghadap langsung ke arah Menara Eiffel di kejauhan. Suara petir sesekali menggelegar, menciptakan bayangan kilat yang menari-nari di atas lantai kayu ek yang gelap.
Alya melangkah pelan membelah keheningan koridor ruko atas penthouse. Di tangannya, dia membawa sebuah nampan perak berisi secangkir teh jahe hangat dengan madu dan sebotol minyak kayu putih yang sengaja dia selundupkan dari Jakarta. Dia tahu, setiap kali cuaca mendingin secara ekstrem seperti ini, suasana hati Lucien akan memburuk, dan pria itu biasanya akan mengurung diri selama berjam-jam untuk meninjau laporan keuangan klan.
Alya mengetuk pintu kayu ek besar itu tiga kali secara ritmis. "Bang Lucien? Ini Alya. Saya masuk ya?"
Tidak ada jawaban, namun pintu itu ternyata tidak terkunci rapat. Alya mendorongnya perlahan dengan siku, mengendap-endap masuk agar tidak menimbulkan suara decitan roda nampan.
Lampu utama kamar dimatikan, hanya menyisakan keremangan dari lampu meja kerja di sudut ruangan. Namun, Lucien tidak sedang berada di balik meja kerjanya. Pria itu sedang berdiri memunggungi pintu, tepat di depan jendela kaca besar yang basah oleh air hujan. Dia baru saja melepas kemeja sutra hitamnya, menyisakan tubuh atletisnya yang telanjang dada.
Tepat saat kilat petir menyambar di luar, menerangi seluruh sudut kamar untuk sepersekian detik, jantung Alya mendadak berhenti berdetak. Kantong matanya melebar karena rasa terkejut yang luar biasa.
Di atas punggung bidang Lucien yang kokoh, terbentang sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Bukan tato naga atau lambang klan De Calvi, melainkan barisan jaringan parut putih yang tebal, panjang, dan saling bersilangan dengan tidak teratur. Luka-luka parut itu tampak seperti bekas cambukan besi panas dan sayatan pisau dalam yang sengaja dibiarkan sembuh tanpa penanganan medis yang layak. Luka itu merusak kehalusan kulitnya dari batas pundak hingga turun ke pinggang bawah.
Alya secara tidak sadar menarik napas dalam-dalam, membuat bunyi langkahnya terdengar.
Lucien langsung berbalik badan dengan kecepatan yang luar biasa. Matanya berkilat penuh kewaspadaan liar, dan dalam sekejap, sebuah pisau belati kecil yang tersembunyi di balik meja sudah berada di genggamannya, mengarah tepat ke arah pintu. Namun, begitu melihat bahwa sosok di depannya adalah Alya yang mengenakan daster batik motif bunganya, kilatan kejam di mata Lucien langsung padam, digantikan oleh rasa panik dan malu yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.
Dengan terburu-buru, Lucien menyambar kemeja hitamnya dari atas kursi dan memakainya kembali, mengancingkannya dengan jari yang sedikit gemetar untuk menyembunyikan punggungnya.
"Alya... kenapa kau tidak mengetuk pintu dengan benar?" tanya Lucien, suaranya terdengar lebih serak dan dingin daripada biasanya. Dia membuang muka, tidak berani menatap mata istrinya.
Alya meletakkan nampan peraknya di atas meja kopi dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia tidak menjawab pertanyaan Lucien. Langkah kakinya bergerak maju, mendekati pria jangkung itu dengan ritme yang lambat namun pasti.
"Bang Lucien," panggil Alya lembut, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang mendadak membubung di dadanya. "Itu... luka apa, Bang?"
Lucien memundurkan langkahnya satu tapak, membetulkan kerah kemejanya. "Bukan apa-apa. Hanya sisa-sisa kenang-kenangan dari masa lalu yang tidak penting. Kau tidak perlu tahu, Alya. Kembali ke kamarmu, tidurlah."
"Nggak mau!" tolak Alya keras kepala. Dia menolak untuk mundur. "Saya ini istri Abang! Kita udah taruhan nyawa bareng-bareng di Palmerah, di Champs-Élysées, bahkan kemarin pas saya diculik di Saint-Denis! Masa hal begini aja Abang sembunyiin dari saya? Sini, buka kemejanya. Saya tahu kalau cuaca dingin begini, luka lama kayak begitu pasti rasanya linu dan perih banget kan?"
Lucien terdiam. Kata-kata Alya menghantam dinding pertahanan emosionalnya yang telah dia bangun dengan kokoh selama belasan tahun. Kelembutan dan kepedulian yang tulus dari gadis Jakarta ini adalah sesuatu yang tidak pernah dia persiapkan dalam hidupnya sebagai seorang pemimpin mafia.
Melihat Lucien yang hanya terpaku, Alya dengan berani mengulurkan kedua tangan mungilnya. Jari-jarinya yang hangat mulai melepas satu per satu kancing kemeja hitam Lucien dari bagian depan. Lucien tidak menolak; dia hanya berdiri mematung dengan napas yang tertahan, membiarkan istrinya melucuti pakaiannya beserta seluruh harga diri mafianya.
Alya memutari tubuh Lucien, berdiri tepat di belakang punggung pria itu. Dia menyentuh jaringan parut yang paling panjang di dekat belikat kiri Lucien menggunakan ujung jarinya dengan sangat hati-hati, seolah-olah tekanan yang terlalu kuat bisa menghancurkan tubuh sang Raja.
Lucien mendesah pelan, tubuhnya sedikit menegang saat kehangatan jari Alya menyentuh kulitnya yang sedingin es.
"Siapa yang tega berbuat sekejam ini sama Abang?" bisik Alya, air mata bening mulai menggenang di sudut matanya, meluruhkan ketegaran yang biasanya dia pamerkan di depan klan musuh.
Lucien memejamkan matanya, membiarkan kenangan kelam yang paling dia benci merayap kembali ke dalam benaknya. Suara hujan di luar seolah menjelma menjadi suara tawa dingin dari masa lalunya.
"Itu terjadi lima belas tahun yang lalu, Alya," awal Lucien, suaranya sangat rendah, hampir menyatu dengan desau angin badai di luar. "Saat klan De Calvi belum sekuat sekarang, dan ayah kami masih memegang kendali dengan tangan besi. Kami dikhianati oleh salah satu cabang keluarga internal kami sendiri yang menginginkan posisi takhta."
Lucien menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. "Mereka menyergap kami berempat saat kami masih remaja. Mereka mengunci kami di sebuah ruang bawah tanah. Sebagai anak sulung, aku tahu bahwa jika aku tidak bisa mengalihkan perhatian mereka, ketiga adikku—Marc, Julien, dan Etienne—tidak akan pernah keluar dari ruangan itu dalam keadaan hidup."
Alya mendengarkan dalam keheningan yang pekat, tangannya beralih mengambil botol minyak kayu putih dari nampan, menumpahkan beberapa tetes ke telapak tangannya, lalu mulai mengusapkannya ke punggung Lucien dengan gerakan memutar yang lembut untuk mengusir rasa linu akibat udara dingin.
Lucien melanjutkan ceritanya, merasakan kehangatan batin yang aneh mulai menjalar dari usapan tangan Alya. "Aku menawarkan diriku sebagai pengganti. Aku mengatakan pada para penculik itu untuk menyiksaku saja asalkan mereka tidak menyentuh ketiga adikku. Selama tiga hari tiga malam, besi panas dan cambuk kawat ini menghantam punggungku setiap kali aku menolak memberikan kode akses brankas keuangan klan."
Air mata Alya akhirnya runtuh, menetes mengenai lantai kayu ek kamar. Dia bisa membayangkan bagaimana seorang Lucien remaja, berdiri dengan tubuh bersimbah darah, menahan rasa sakit yang tidak manusiawi demi menjadi perisai bagi adik-adik kembarnya yang ketakutan di sudut sel gelap.
"Marc berada di sana, melihatku pingsan berkali-kali. Itu sebabnya dia sangat terobsesi dengan sistem keamanan siber, agar tidak ada lagi orang yang bisa melacak keberadaan kami," urai Lucien, suaranya bergetar halus. "Julien melihat darahku mengalir di lantai, itu yang membuatnya tumbuh menjadi mesin pembunuh yang tidak memiliki belas kasihan pada musuh. Dan Etienne... dia menggunakan senyum topeng kasualnya untuk menutupi trauma psikologis mendalam karena melihat kakaknya hampir mati di depan matanya sendiri."
Lucien berbalik badan perlahan, menatap Alya yang kini sedang terisak kecil sambil memegang botol minyak kayu putih. Lucien mengulurkan tangannya yang besar, menghapus air mata di pipi Alya dengan ibu jarinya dengan kelembutan yang sangat kontras dengan reputasinya yang kejam di dunia luar.
"Jangan menangis, Alya. Luka-luka ini adalah buktinya," ucap Lucien, sebuah senyuman tipis dan tulus terukir di wajah tampannya. "Bukti bahwa aku berhasil menjalankan tugas pertamaku sebagai seorang kakak. Aku berhasil melindungi mereka. Punggung ini adalah harga yang harus kubayar untuk memastikan dinasti De Calvi tetap berdiri tegak."
Alya mendongak, menatap mata abu-abu Lucien yang kini tidak lagi memancarkan kedinginan, melainkan sebuah kerapuhan emosional yang hanya diperlihatkan khusus untuk dirinya seorang.
Alya langsung menghambur ke depan, memeluk erat tubuh telanjang dada Lucien, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu yang berdetak dengan konstan dan kuat. "Abang itu hebat... Abang itu kakak yang paling luar biasa di dunia. Tapi mulai sekarang, Abang nggak usah menanggung semuanya sendirian lagi ya? Ada saya di sini. Kalau ada musuh yang mau melukai punggung Abang lagi, bakal saya hantam pake ulekan batu sampai mereka tobat!"
Lucien tertegun sejenak mendengarkan sumpah setia yang dibumbui lelucon khas domestik ala Alya. Tawa renyah yang sangat jarang terdengar akhirnya lolos dari bibir sang Raja. Dia membalas pelukan Alya dengan sangat erat, membenamkan wajahnya di rambut hitam istrinya yang beraroma wangi melati dan minyak kayu putih—sebuah perpaduan aroma yang sangat aneh bagi seorang mafia Paris, namun terasa seperti rumah yang paling aman bagi jiwanya yang lelah.
"Terima kasih, Alya. Kehadiranmu di sini... rasa hangat dari minyak tradisionalmu ini, jauh lebih menyembuhkan daripada terapi medis terbaik yang pernah kubeli di Swiss," bisik Lucien dengan penuh ketulusan.
Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, tiga bayangan pria jangkung berdiri dalam keheningan koridor yang remang. Marc, Julien, dan Etienne ternyata sejak tadi berdiri di sana, mendengarkan setiap bait cerita masa lalu yang kembali diungkit. Mereka saling melempar pandangan dengan senyuman lega yang sama. Selama belasan tahun, mereka selalu merasa bersalah atas luka di punggung Lucien, namun malam ini, mereka melihat bahwa beban rasa bersalah itu akhirnya berhasil diangkat dan disembuhkan oleh jemari lembut seorang gadis bernama Alya.
Julien perlahan menarik gagang pintu hingga tertutup rapat sepenuhnya, memberikan ruang privasi total bagi kakak sulung mereka dan permaisuri mereka untuk menghabiskan malam badai itu dalam kehangatan cinta yang sejati.
Dan di dalam kamar yang kini terasa sangat hangat, Lucien De Calvi menyadari satu hal: rahasia terbesar dari kekuatannya bukanlah karena dia tidak bisa terluka, melainkan karena kini dia memiliki satu alasan baru yang sangat berharga untuk tetap hidup dan terus bertarung—seorang istri mungil asal Jakarta yang tidak takut pada bekas lukanya, dan siap menantang dunia bawah tanah bersamanya hanya dengan modal keberanian serta cinta yang tulus.
"Alya," panggil Lucien lembut saat pelukan mereka merenggang.
"Ya, Bang?"
"Teh jahe buatanmu... sepertinya mulai dingin. Bisakah kau menyuapkannya untukku?"
Alya tersenyum manis, mengangguk cepat sambil menghapus sisa air matanya. "Siap, Baginda Raja! Habis minum teh, Abang harus tidur ya, biar besok pas bangun tidurnya nggak pegal-pegal lagi kakek-kakek."
Lucien hanya bisa pasrah menerima julukan baru tersebut, diiringi kehangatan teh jahe yang perlahan mengalir di tenggorokannya, mengusir sisa-sisa dinginnya malam Paris yang mencekam.