NovelToon NovelToon
Brine Dan Marine Garis Takdir

Brine Dan Marine Garis Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesisir antah berantah

Guncangan keras pada sekoci itu akhirnya berhenti, digantikan oleh suara gesekan pasir di bawah lambung logam. Clara Marine terbangun dengan rasa pening yang luar biasa. Cahaya matahari pagi yang terik menembus jendela kecil sekoci, membakar matanya. Di sampingnya, Sebastian Reef masih memegang kemudi darurat dengan kepala tertunduk di atas panel kontrol yang sudah mati.

"Sebastian..." suara Clara serak, tenggorokannya terasa seperti terbakar pasir.

Pria itu tersentak bangun, wajahnya yang pucat kini tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata. Ia mengerang saat mencoba menggerakkan kaki kanannya yang terbalut gips kotor. "Kita mendarat, Nona. Saya tidak tahu di mana, tapi kita tidak lagi berada di jalur radar."

Dengan susah payah, Sebastian membuka pintu kedap air sekoci itu. Udara panas dan lembap khas tropis langsung menyerbu masuk. Mereka terdampar di sebuah pulau kecil dengan garis pantai yang pendek dan hutan bakau yang sangat rapat di belakangnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, tidak ada bangunan, hanya suara burung laut dan deburan ombak.

Clara turun ke pasir putih, kakinya gemetar. Ia menatap ke arah cakrawala, berharap melihat The Leviathan atau setidaknya kepulan asap, namun laut itu kosong. "Nikolai... apakah dia selamat?"

Sebastian tertatih keluar menggunakan kruknya yang kini penuh goresan. Ia tidak menjawab langsung. Ia menatap laut dengan pandangan kosong. "Tuan Nikolai adalah orang yang sulit mati. Tapi kapal itu meledak di tengah laut, Nona. Logikanya, tidak ada yang bisa selamat dari suhu api setinggi itu."

Clara merasakan sesak di dadanya. Sebuah perasaan yang aneh, karena seharusnya ia senang penculiknya telah tiada. Namun, ingatan saat Nikolai mencium keningnya dan mendorongnya masuk ke sekoci demi keselamatannya terus menghantui. Pria itu mempertaruhkan nyawanya, sementara kakaknya sendiri, Silas, mencoba menenggelamkannya.

Bertahan dalam Keheningan

Siang itu, mereka mengumpulkan apa yang tersisa dari sekoci: dua botol air mineral, beberapa paket makanan darurat, sebuah kotak P3K, dan satu senjata api cadangan yang disimpan Nikolai di laci bawah kursi.

Sebastian duduk di bawah pohon kelapa, mencoba memperbaiki pemancar darurat yang rusak. "Ini tidak berguna. Sirkuitnya terbakar terkena air garam saat kita meluncur tadi malam."

Clara memperhatikan Sebastian. Pria ini dulu adalah orang kepercayaan Nikolai, pria yang ditembak kakinya oleh bosnya sendiri karena dicurigai sebagai pengkhianat. "Kenapa kau masih menyelamatkanku, Sebastian? Kau bisa saja meninggalkanku di kapal dan menyelamatkan dirimu sendiri."

Sebastian berhenti mengutak-atik mesin itu. Ia menatap Clara dengan mata yang tajam namun lelah. "Karena jika Tuan Nikolai masih hidup dan dia tahu aku membiarkanmu terluka, dia akan melakukan hal yang jauh lebih buruk daripada sekadar menembak kakiku. Nikolai Brine tidak pernah melepaskan apa yang sudah ia tandai sebagai miliknya."

"Tapi dia mungkin sudah mati," bisik Clara.

"Anda tidak mengenalnya," sahut Sebastian pendek. "Obsesinya adalah bahan bakarnya. Dia tidak akan membiarkan maut menjemputnya sebelum dia mendapatkan kembali apa yang dia anggap miliknya. Dan saat ini, Nona, Anda adalah obsesi terbesarnya."

Bayangan di Atas Air

Sementara itu, ratusan mil dari pulau tersebut, sebuah kapal nelayan tua bergerak perlahan di tengah puing-puing kapal kargo yang masih mengapung. Di atas kapal itu, seorang pria dengan tubuh penuh luka bakar dan seragam yang koyak berdiri dengan bantuan sebatang besi.

Nikolai Brine masih hidup.

Wajahnya yang tampan kini ternoda oleh luka sayatan dan jelaga hitam. Bahu kirinya tertembak, namun ia tidak mengeluarkan suara rintihan sedikit pun. Matanya terus menatap permukaan air, mencari sekoci nomor empat.

"Tuan, kita harus segera pergi. Tim penyelamat Silas Marine akan tiba di koordinat ini dalam tiga puluh menit," lapor salah satu pengawalnya yang selamat, seorang pria Rusia bertubuh raksasa bernama Ivan.

Nikolai tidak bergeming. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah perangkat pelacak cadangan yang kecil. Lampu merah di perangkat itu berkedip lemah, menunjukkan sinyal yang jauh namun masih aktif.

"Dia masih hidup," gumam Nikolai. Suaranya dingin, namun ada nada kepuasan yang mengerikan di sana. "Dia ada di pulau di sektor utara."

"Tapi Tuan, luka Anda..."

"Luka ini tidak ada artinya," potong Nikolai tajam. Ia mencengkeram besi pegangan kapal hingga buku jarinya memutih. "Silas Marine sudah melakukan kesalahan besar. Dia mencoba menghancurkan mainanku. Sekarang, aku tidak hanya akan mengambil Clara kembali, aku akan memastikan Silas melihat dunianya terbakar sebelum aku mengakhiri nyawanya."

Nikolai menoleh ke arah Ivan. "Putar arah. Kita menuju sektor utara. Jangan gunakan lampu navigasi. Kita akan menjemputnya dalam kegelapan."

Di kepala Nikolai, ia sudah tidak lagi peduli pada bisnis, pada kapal kargo yang tenggelam, atau pada harta keluarga Marine. Pikirannya hanya tertuju pada satu titik: Clara. Wanita itu adalah miliknya, dan bagi seorang Brine, apa yang sudah menjadi miliknya tidak boleh disentuh oleh siapa pun, bahkan oleh maut sekalipun.

Kembali di pulau, malam mulai turun. Clara duduk di dekat api unggun kecil yang dibuat Sebastian. Suara hutan di belakang mereka mulai terdengar mengancam. Tiba-tiba, Sebastian berdiri dengan waspada, memegang pistol cadangan Nikolai.

"Ada apa?" tanya Clara panik.

"Ada suara mesin," bisik Sebastian. "Tapi bukan suara helikopter. Ini mesin kapal yang sangat halus."

Clara berdiri, menatap ke arah laut yang gelap. Jauh di tengah kegelapan, ia melihat sebuah titik cahaya merah yang berkedip secara ritmis. Itu adalah sinyal yang sama dengan yang ada pada gelang di pergelangan tangannya.

Jantung Clara berdegup kencang. Ia tidak tahu apakah ia harus merasa takut atau lega. Karena ia tahu, hanya ada satu orang di dunia ini yang memiliki frekuensi pelacak tersebut.

"Dia datang," bisik Clara.

"Siapa?" tanya Sebastian.

"Sang Iblis," jawab Clara pelan.

Dari kegelapan air, sebuah kapal tanpa lampu perlahan-lahan menampakkan siluetnya. Nikolai Brine tidak akan membiarkan Clara Marine menghilang. Ia akan mengejar wanitanya sampai ke ujung dunia, karena bagi Nikolai, Clara bukan lagi sekadar sandera. Dia adalah obsesi yang mulai mendarah daging.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Mega Maharani
lanjut thor ditunggu update bab selanjutnya
olyv
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!