NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 2: Darah di Atas Tanah Suci

Suasana bedua di bawah air terjun seketika sirna, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang."

Sekar gemetar, bukan karena air yang membasahi tubuhnya, melainkan karena melihat perubahan drastis pada raut wajah Raka.

Mata pemuda itu, yang tadinya dipenuhi gairah, kini bersinar tajam dengan pendar keemasan yang redup namun mengancam.

"Raka... ada apa?" bisik Sekar dengan suara parau. Ia masih memegangi lengan kekar Raka, merasakan otot-otot itu mengeras seperti baja.

Srakkk... Srakkk...

Langkah kaki itu semakin dekat. Bukan satu, tapi tiga orang."

Mereka muncul dari balik rimbunnya pohon pakis raksasa. Ketiganya mengenakan jubah abu-abu kusam dengan topeng kayu berbentuk wajah iblis yang menyeringai. Di pinggang mereka tergantung pedang lengkung yang mengeluarkan aura hitam pekat.

"Ternyata benar," salah satu dari mereka bersuara, suaranya parau seperti gesekan batu.

"Benih sang Penguasa Jagat ada di sini, di desa terpencil ini."

Lihat tanda itu... Naga Matahari yang melegenda."

Raka mendorong Sekar ke belakang tubuhnya."

"Siapa kalian? Apa mau kalian dariku?"

"Kami adalah Utusan Lembah Kelam," jawab pria di tengah sambil menghunuskan pedangnya.

Cringgg!

Bunyi logam yang tajam bergema di antara tebing air terjun.

"Kami datang untuk mengambil apa yang bukan milikmu. Kekuatan itu harus dikembalikan kepada tuan kami, dan kau... kau hanyalah wadah yang harus dihancurkan."

Wusss!

Tanpa peringatan, pria di sebelah kanan melesat maju dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi manusia biasa. Ia mengayunkan pedangnya ke arah leher Raka.

Sret!

Raka menghindar dengan refleks yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Ia merasa seolah waktu berjalan melambat. Ia bisa melihat setiap tetesan air yang melayang di udara, setiap serat kain jubah musuhnya.

"Jangan sentuh dia!" teriak Raka.

Raka memukul udara kosong di depannya, namun sebuah ledakan energi transparan keluar dari kepalan tangannya.

Musuh yang menyerang tadi terpental sejauh lima meter, menghantam pohon besar hingga tumbang.

Krakkk! Pohon itu patah menjadi dua.

Sekar memekik tertahan, menutup mulutnya dengan tangan. Ia belum pernah melihat Raka bertarung, apalagi dengan kekuatan sebesar itu.

"Gunakan formasimu!" perintah pemimpin utusan itu.

Dua orang yang tersisa mulai berlari mengitari Raka dan Sekar.

Mereka bergerak sangat cepat hingga hanya terlihat seperti bayangan abu-abu yang kabur. Aura hitam dari pedang mereka mulai membentuk jaring-jaring energi di udara, mengurung Raka dalam lingkaran kegelapan.

Deg... deg... deg...

Jantung Raka berdegup kencang. Panas di dadanya semakin tak tertahankan.

Tanda naga itu kini bersinar menembus kain pakaiannya yang basah. Di dalam kepalanya, suara misterius itu kembali menggema, kali ini dengan nada memerintah.

"Jangan hanya bertahan, Raka! Darahmu adalah api! Bakar mereka! Hancurkan kegelapan itu dengan cahayamu!"

Raka mengerang kesakitan. Tubuhnya terasa seperti akan pecah. Ia berlutut di tanah, mencengkeram kepalanya.

"Aaaaaakkkhhh!"

"Raka! Bangun!" teriak Sekar histeris saat salah satu musuh melayangkan tebasan ke arah punggung Raka yang terbuka.

Clanggg!

Pedang itu tidak mengenai kulit Raka. Seolah-olah ada dinding kaca yang sangat keras melindungi tubuhnya. Percikan api memercik saat pedang itu menghantam aura ungu keemasan yang menyelimuti Raka.

Raka mendongak. Matanya kini benar-benar berubah seluruh bagian putih matanya menghilang, berganti dengan cahaya emas yang berkobar. Ia berdiri perlahan.

Setiap langkah yang ia ambil membuat tanah di bawah kakinya retak.

"Kalian salah memilih lawan," ucap Raka dengan suara yang berlapis, seolah ada ribuan suara yang berbicara bersamaan.

Raka melesat.

Booms!

Kecepatannya menciptakan ledakan suara yang memekakkan telinga. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan pemimpin utusan itu. Raka mencengkeram leher pria bertopeng itu dan mengangkatnya ke udara hanya dengan satu tangan.

Kreeek...

Suara tulang leher yang tertekan terdengar mengerikan.

"Siapa tuanmu? Di mana aku bisa menemukannya?" tanya Raka dingin.

Pria itu tertawa meski darah mulai keluar dari balik topengnya.

"Dia... Dia sudah menunggumu di Utara... Raka. Kau tidak akan bisa... lari dari takdirmu..."

Duar!

Raka melepaskan sebuah ledakan energi dari telapak tangannya, menghancurkan topeng dan melempar pria itu masuk ke dalam kolam air terjun yang dalam.

Dua musuh lainnya, melihat pemimpin mereka dikalahkan dengan mudah, segera melemparkan bola asap ke tanah.

Puffff!

Asap hitam pekat menyelimuti area itu. Saat asap menghilang, kedua utusan itu sudah lenyap, hanya menyisakan bau belerang yang menyengat.

Hening kembali melanda. Raka berdiri diam, napasnya memburu.

Pendar cahaya di matanya perlahan memudar, kembali menjadi mata manusia biasa. Ia berbalik dan melihat Sekar yang masih terduduk lemas di tepi sungai, wajahnya pucat pasi.

Raka mendekat, hendak membantu Sekar berdiri.

Namun, saat tangannya terjulur, Sekar tanpa sadar sedikit mundur. Ada ketakutan di matanya. Ketakutan yang belum pernah Raka lihat sebelumnya.

Hati Raka mencelos. "Sekar... ini aku..."

Sekar menatap tangan Raka yang masih mengeluarkan uap panas, lalu menatap wajah pria yang baru saja ia cium dengan penuh gairah tadi.

"Raka... siapa kau sebenarnya? Kekuatan itu... itu bukan kekuatan manusia."

Raka terdiam. Ia mengepalkan tangannya, merasakan sisa-sisa tenaga yang masih berdenyut di nadinya.

"Aku tidak tahu, Sekar. Tapi satu hal yang pasti... aku tidak bisa tinggal di sini lagi. Kehadiranku hanya akan membawa maut bagi desa ini."

Raka menggendong Sekar dengan lembut, membawanya kembali menuju desa. Sepanjang jalan, pikirannya berkecamuk. Musuh-musuh tadi hanyalah pembuka!"

Ada kekuatan besar di luar sana yang menginginkan dirinya. Dan sosok misterius dalam mimpinya... ia adalah kunci dari semua ini.

Sesampainya di pinggir desa, Raka menurunkan Sekar.

"Masuklah ke rumahmu. Jangan ceritakan apa yang terjadi pada siapa pun. Aku harus menemui Ayah dan Ibu."

Sekar menahan tangan Raka. Rasa takutnya kini berganti dengan kesedihan yang mendalam. Ia menarik tubuh Raka, memeluknya dengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya.

"Berjanjilah padaku... kau akan kembali. Berjanjilah kau akan tetap menjadi Raka yang kukenal."

Raka membalas pelukan itu, mencium kening Sekar dengan lembut. Aroma melati dari rambut Sekar seolah menjadi pengikat terakhirnya dengan kehidupan normal yang ia cintai.

Mmm... Raka menghirup aroma itu dalam-dalam, menyimpannya di dalam memori terdalamnya.

"Aku berjanji," bisik Raka.

Namun, di dalam hatinya, Raka tahu bahwa janji itu mungkin adalah janji yang paling sulit untuk ia tepati."

Malam itu, di bawah rembulan yang mulai tertutup awan, Raka memutuskan untuk memulai perjalanannya. Perjalanan seorang pewaris sakti yang akan mengguncang dunia demi mencari jati dirinya yang hilang.

Wusss...

Angin malam bertiup kencang, membawa aroma darah dan petualangan yang baru saja dimulai."

"Raka melangkah masuk ke dalam gubuknya dengan napas yang masih tersengal. Pakaiannya yang basah kuyup menempel ketat di tubuhnya, menonjolkan setiap lekuk otot dadanya yang bidang. Di dalam, ia menemukan kedua orang tuanya sedang duduk di depan perapian yang menyala kecil. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara kayu bakar yang meletup.

Darman mendongak, menatap putranya dengan tatapan yang dalam dan penuh kesedihan. Ia tidak bertanya apa yang terjadi di air terjun, seolah-olah ia sudah tahu bahwa saat ini akan tiba.

"Duduklah, Raka," suara Darman berat dan serak.

Raka duduk di hadapan ayahnya, sementara ibunya, Arini, hanya bisa terisak pelan sambil memegangi kain panjangnya.

"Ayah, siapa aku sebenarnya? Orang-orang bertopeng itu... mereka menyebutku wadah bagi Penguasa Jagat."

Darman menghela napas panjang, lalu ia berlutut dan menyingkap sebuah papan kayu di bawah tempat tidurnya."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!