NovelToon NovelToon
Toko Lorong Waktu

Toko Lorong Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:961
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tahun 2000

Tahun 2000 di SMA Negeri 1 terasa seperti sebuah dunia yang terisolasi dari kegilaan masa depan. Bagi Aris, ini adalah tanah yang subur untuk menanam kembali jati dirinya yang sempat hancur oleh mesin waktu.

"Waktu adalah kanvas kosong, Aris. Lukis lah dengan karya terbaikmu," bisik Pak Salim, guru seni rupa yang eksentrik, saat mereka sedang duduk di ruang kesenian yang berbau cat minyak dan debu kapur.

Aris menatap kanvas putih di depannya. Kata-kata itu beresonansi dengan cara yang tidak terduga. Selama hidupnya, Aris selalu berpikir bahwa waktu adalah musuh yang harus dikejar, disiasati, dan dimenangkan. Ia selalu berusaha menghapus "coretan" buruk yang ditinggalkan orang lain. Namun sekarang, di tahun 2000, ia menyadari bahwa waktu tidak perlu ditaklukkan; ia perlu diisi.

Bersama Dito yang kini menjadi sahabat karibnya, Aris mulai mengisi kanvasnya. Mereka tidak menghabiskan waktu dengan meretas server, melainkan dengan membentuk sebuah band kecil di garasi rumah Dito. Aris, dengan pengetahuan teknisnya yang jauh melampaui zamannya, memodifikasi perangkat audio tua menjadi sesuatu yang suaranya sejernih kristal, membuat lagu-lagu Britpop yang mereka mainkan terdengar seperti mahakarya di telinga teman-teman sekolahnya.

Maya, sang ketua OSIS yang dulu terlihat galak, ternyata memiliki sisi lembut yang tersembunyi. Aris sering menghabiskan waktu luang membantu Maya mengurus majalah dinding sekolah. Aris tidak lagi menggunakan kemampuannya untuk mengintip masa depan, melainkan untuk merancang tata letak dan tulisan yang menggugah semangat teman-temannya. Ia melukis karya di hati orang-orang di sekitarnya melalui perhatian kecil dan dedikasi.

Dito menatap gelang itu dengan heran. "Aris, gelang itu keren banget. Beli di mana?"

Aris menatap gelang yang telah menemaninya melewati ribuan kematian dan kehancuran itu. Ia tersenyum, lalu memasukkannya ke dalam saku jaketnya, menutupinya dengan rapat.

"Ini cuma kenang-kenangan dari masa lalu yang tidak perlu diingat lagi," jawab Aris tenang.

Ia sadar bahwa karya terbaik bukanlah tentang seberapa canggih teknologi yang ia miliki atau seberapa hebat ia bisa mengubah sejarah. Karya terbaik adalah hari-hari sederhana yang ia lalui tanpa rasa takut—saat ia tertawa sampai perutnya sakit bersama Dito, saat ia membantu Maya menyelesaikan masalah penggalangan dana sekolah, dan saat ia bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk tentang masa depan yang terbakar.

Di atas kanvas waktu yang kini bersih, Aris tidak lagi melukis dengan tinta darah atau jejak kaki sejarah. Ia melukis dengan warna-warna kehidupan remaja yang jujur: warna persahabatan, warna cinta yang sederhana, dan warna ketenangan yang selama ini ia cari.

Bagi Aris, lukisan itu kini telah sempurna. Ia tidak lagi peduli pada jarum jam yang berdetak; ia hanya peduli pada detak jantungnya sendiri yang kini berdetak dalam harmoni dengan dunianya yang baru. Waktu bukan lagi hukuman, melainkan sebuah ruang luas di mana ia akhirnya diizinkan untuk menjadi manusia biasa.

Pernah suatu sore, di puncak kejayaan masa SMA mereka, Aris, Dito, dan Maya sedang tertawa terbahak-bahak di kantin. Dito baru saja melakukan lelucon konyol tentang gaya rambut ikonik era 2000-an, dan Maya sampai meneteskan air mata karena terlalu keras tertawa.

Di tengah riuh tawa itu, Aris terdiam. Ia melihat Dito yang sedang memegang botol soda, Maya yang menyeka sudut matanya dengan tisu, dan cahaya senja yang masuk melalui jendela kantin, menciptakan partikel debu yang menari-nari di udara. Aris menyadari satu hal yang selama ribuan tahun ia abaikan: waktu bukanlah sesuatu untuk dikuasai, melainkan untuk dirasakan.

Tanpa sepengetahuan mereka, Aris memutar tuas kecil di gelang peraknya. Bukan untuk melompat ke masa depan, bukan untuk mengubah takdir, melainkan hanya untuk memperlambat detak dunia di sekitarnya.

Dalam dunia yang melambat itu, Aris bisa melihat kebahagiaan yang murni. Ia melihat betapa berharganya kerutan di sudut mata Maya saat ia tersenyum, betapa tulusnya persahabatan Dito yang sederhana. Dalam keheningan waktu yang berhenti, Aris merasakan kesadaran yang sangat dalam: Setiap detik yang ia lalui saat ini adalah anugerah yang jauh lebih bernilai daripada semua kemenangan perang waktu yang pernah ia capai.

"Waktu adalah pengingat bahwa hidup ini berharga," bisik Aris pada dirinya sendiri.

Ia melepaskan kembali tuas gelang itu. Dunia kembali bergerak dengan normal. Suasana kantin yang tadinya tenang mendadak hidup kembali dengan suara musik pop dari radio tua dan obrolan antrean siswa.

Aris tidak lagi merasa terbebani oleh gelang itu. Ia justru menjadikannya sebagai saksi bisu. Jika dulu gelang itu adalah rantai yang mengikatnya pada tragedi, kini ia menjadi pengingat untuk menghargai momen. Aris mulai lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ia lebih banyak mengamati detail kecil yang selama ini ia lewatkan karena terlalu sibuk dengan strategi.

Ia membantu Maya menyelesaikan acara pensi dengan sabar, tidak lagi mengandalkan kemampuannya untuk memprediksi masalah, melainkan dengan berdiskusi dan berkolaborasi. Ia membantu Dito berlatih gitar berjam-jam, menikmati setiap nada sumbang yang mereka hasilkan, karena ia tahu bahwa proses belajar itulah yang membuat persahabatan mereka berharga.

Suatu malam, saat mereka bertiga pulang dari acara musik sekolah dan berjalan di bawah sinar bulan yang temaram, Aris merasa hatinya begitu penuh. Ia menyadari bahwa hidup yang berharga bukanlah hidup yang tanpa kesalahan atau tanpa waktu yang terbuang, melainkan hidup di mana kita benar-benar hadir di setiap detiknya.

Aris memandang gelang peraknya di pergelangan tangan, lalu menatap langit malam yang luas. Ia tidak akan pernah lagi mencoba mengendalikan kanvas waktu itu. Ia akan membiarkan hidup mengalir, membiarkan setiap detik menjadi anugerah yang ia nikmati dengan cara yang paling manusiawi.

Aris akhirnya mengerti, bahwa untuk menghargai waktu, ia tidak perlu menjadi pengamat waktu—ia hanya perlu menjadi bagian dari waktu itu sendiri. Dan bagi Aris, itu adalah kemenangan terbesarnya.

Ujian sesungguhnya bagi Aris datang bukan dalam bentuk musuh atau ancaman kiamat, melainkan dalam kerentanan manusiawi sahabat-sahabatnya.

Suatu hari, Dito datang dengan wajah yang sangat pucat. Ayahnya mengalami kebangkrutan usaha, dan Dito terancam putus sekolah. Di saat yang sama, Maya sedang hancur karena konflik keluarga yang membuatnya hampir kehilangan harapan untuk mengejar impiannya masuk universitas seni.

Melihat mereka menderita, naluri lama Aris bergejolak. Jari-jarinya gemetar di atas gelang perak itu. Satu putaran saja, satu lompatan kembali ke masa lalu, ia bisa mengembalikan modal usaha ayah Dito. Satu ketukan saja, ia bisa mengubah keputusan orang tua Maya. Ia bisa "memperbaiki" semuanya dalam sekejap.

1
Adi Rbg
berguna banyak pelajaran tentang hidup!
SANTRI MBELING: makasih kak
total 2 replies
Ariasa Sinta
bahasan nya udah berat ya, meskipun q kurang ngerti sama istilah²nya v lanjutkan saja, penasaran
Ariasa Sinta
hmmm...
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
SANTRI MBELING: ia kak. makasih
total 1 replies
SANTRI MBELING
makasih kak 👍👍👍👍🙏🙏😍😍
Ariasa Sinta
aku kasih kopi thor biar semangat update nya 💪
SANTRI MBELING: jangan lupa baca yang novel saya yg cinta zaenab
total 2 replies
Ariasa Sinta
banyak bgt kata2 d kepala ku thor buat komen tapi q bingung ngerangkai nya,
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
Ariasa Sinta
aduhhh banyak wow nya ini
Ariasa Sinta
aku merinding loh ...
Ariasa Sinta
aku mampir thor,
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!