𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19| Just You!
Laju mobil sedan mulai memelan ketika memasuki pekarangan mansion dan berhenti, gadis remaja yang duduk di kursi belakang tampak tak menyadarinya. Sampai pintu mobil di sisi kanan dibuka dari luar menyetak lamunan Aluna, ia menghela napas berat turun dari mobil. Perkataan Zea masih mempengaruhi suasana hati Aluna, kepalanya menunduk sesekali menendang kerikil kecil di jalan yang ia lalui.
"Sayang!" seruan keras dari arah depan mansion menyita fokus Aluna, ia menengadah.
Senyum lembut dengan tatapan mata penuh cinta kini tertuju ke arahnya, Aluna tertegun untuk beberapa detik.
'Lalu kenapa kalo pun dia bukan Ibu kandung gue. Dia tetaplah seorang Ibu yang bahkan nungguin kepulangan gue. Dibandingkan Ibu yang berbagi darah dengan gue.' Aluna mengepalkan kedua tangannya, kedua tungkai kakinya melangkah cepat mendekati teras.
Sonya merentangkan kedua tangannya, menyambut tubuh putrinya masuk ke dalam pelukannya. Aluna membenamkan wajahnya di leher jenjang sang ibu angkat, menghirup aromanya dalam-dalam. Kedua kelopak matanya terpejam, kehangatan yang tak pernah pernah bisa ia rasakan. Belaian penuh kasih sayang seakan menutupi lubang kosong yang hampa tanpa cinta orang tua, pelan-pelan mengisi ruang kosong itu.
"Eh, kenapa nih? Kok putri Mommy tercinta satu ini mendadak kek manja gini sama Mommy-nya, hm?" Sonya membelai rambut Aluna.
Aluna menggeleng dan merangkul Sonya, tersenyum lembut. "Aku cuma mau manja-manja sama Mommy, karena Mommy adalah ibuku. Benarkan Mom?" Aluna berkedip-kedip kecil merayu Sonya.
Sonya terkekeh renyah, jarinya mencubit lembut puncak hidung Aluna. Gadis ini tumbuh semakin cantik dalam asuhannya, masih jelas di ingatan Sonya bagaimana kakunya Aluna saat pertama kali bertemu. Bahkan Aluna terkesan terus menjaga tindakannya di depannya dan sang suami, berhati-hati seakan-akan mencoba membaca suasana hati mereka berdua. Bertingkah seperti orang dewasa yang melayani atasan, tindakannya membuat Fandi dan dirinya harus ekstra hati-hati juga untuk tidak menakuti Aluna. Tapi, beberapa mingguan belakang Aluna tampak secara alami bergaul dengan mereka berdua, bertingkah manja. Sonya—menyukainya tingkah Aluna saat ini.
"Tentu aja, Mommy adalah ibunya Aluna dan akan selalu begitu." Sonya mengecup pipi Aluna, pipi Aluna bersemu.
"Tampaknya pria tua ini tidak dilibatkan dalam cinta Ibu dan anak, huh?" sungut Fandi yang entah sejak kapan berdiri di ruangan tamu melirik interaksi keduanya.
"Daddy!" seru Aluna, ia melepaskan rangkulan manjanya pada Sonya, berlarian menuju Fandi.
Tanpa rasa canggung Aluna memeluk Fandi, Fandi membalas pelukannya. Sonya melangkah mendekati kedua dengan tatap mata cerah, matanya terasa panas. Setelah sembilan tahun, tampaknya Aluna baru benar-benar membuka hatinya dan mempercayai mereka sebagai orang tua bukan orang luar.
...***...
Sesekali ia melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, bibirnya mengerucut kecil. Derap langkah kaki dari arah dalam mengalihkan perhatiannya, gadis itu datang cemberut menghempas tubuhnya di sofa menghadap ke arahnya.
"Gue baru balik ya, Kai. Gue capek banget butuh istirahat, dan lo ngapain ke rumah gue. Kenapa nggak langsung pulang aja ke rumah lo, huh?" omel Aluna mendengus sebal.
Kai mengulum senyum, dan menjawab, "Lagian rumah lo 'kan juga bakalan jadi rumah gue juga, karena gue 'kan calon mantu Nyokap sama Bokap lo."
Jawaban yang tak tahu malu, Aluna memutar bola matanya. Mengundang kekehan renyah dari Kai, Aluna melototi Kai.
"Gue sama lo, itu nggak bakalan berhasil Kai. Karena gue akan jadi bininya Jayden, tuh!" Aluna membantah blak-blakan pernyataan sepihak dari Kai.
Kekehan Kai mendadak sirna, raut wajahnya tampak jelas tak suka. Meskipun ia dan Jayden adalah sahabat dekat, hanya saja soal perempuan Kai tak akan mundur. Gadis di depannya ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja, walaupun sempat merasa tak suka dengan Aluna. Nyatanya perubahan aneh Aluna menarik minat Kai, apalagi fakta jika gadis di depannya ini sulit untuk ia manipulasi menggelitik rasa penasaran dan membangkitkan keinginan untuk menaklukkan kerasnya Aluna.
"Siapa bilang lo bakalan jadi istrinya Jayden? Gue masih idup, selagi gue masih bernapas. Lo nggak akan pernah jadi milik cowok lain, tapi kalo lo bersikeras. Lo boleh coba, dan gue suka berjuang buat dapatin cewek secantik dan seksi lo." Kai berkedip, setelah memasang ekspresi serius.
Kedua tangan Aluna di lipat di bawah dada kedua sisi pipinya menggembung, senyum nakal Kai terlihat.
"Lo berani lawan Jayden?" tanya Aluna menyipitkan kedua matanya.
Kai mendapatkan pertanyaan provokasi dari gadis-nya mengangkat dagu pongah, menyeringai membalas tatapan Aluna.
"Jayden dan Sebastian bukan lawan gue, Aluna. Gue percaya diri kalo soal naklukin perasaan perempuan, gue lebih paham gimana caranya," sahut Kai percaya diri.
Aluna mengangguk-angguk ringan, "Lalu gimana kalo lawan lo malah Gavino. Apa lo masih sepercaya diri itu buat ngadepin dia?"
Jakun Kai naik-turun disertai desahan berat, guratan ekspresi wajahnya yang penuh percaya diri itu mendadak sirna digantikan tatapan mata rumit. Jayden bukan pria yang paham cara memperlakukan wanita, sementara Sebastian dia terlalu banyak berpikir dibandingkan bertindak. Kai jauh lebih cepat dibandingkan keduanya, dan paham cara mengajar wanita. Tetapi di saat nama 'Gavino' mengudara seakan ada lapisan demi lapisan keraguan di hati Kai, ada perbedaan besar di antara mereka berempat.
Kai bisa memprovokasi kedua sahabatnya tetapi tidak dengan Gavino, ia lebih paham bagaimana Gavino bertindak. Perubahan Kai di depannya, membuat Aluna mengerutkan dahinya. Seakan ia tahu apa yang membuat seorang Kai—manipulatif yang hebat dalam bermain peran pun dibuat ragu, Aluna juga dapat merasakan perasaan takut saat berada di sisi Gavino.
"I see, satu-satunya orang yang nggak berani lo lawan ternyata Gavino," kata Aluna terkekeh geli tanpa ada niatan mencemooh Kai.
Kai mengulum bibirnya slow motion, mencondongkan tubuhnya ke depan sembari menggeleng tak berdaya. Namun, beberapa detik kemudian tampak ada kilatan mata licik di manik mata Kai. Apalagi di saat seringai aneh tersungging di bibirnya, tatapan mata Kai lurus ke arah Aluna.
"Lo nggak sepenuh salah Aluna," balas Kai serak, "tapi, gue juga punya jalan keluar tersendiri kalo lawan gue adalah Gavino. Gue nggak bakalan terang-terangan berdiri berlawanan, tapi gue bakalan...."
"Bakalan?" Aluna dibuat penasaran karena kata-kata yang digantung.
Kai memberikan kode dengan jarinya, Aluna berpindah posisi dengan cepat. Duduk di samping Kai, Kai mencondongkan tubuhnya ke samping. Napas hangat Kai menyemprot sisi wajah Aluna ketika ia mendekatkan bibirnya ke daun telinga Aluna, gadis yang duduk di sampingnya tampak memasang indera pendengaran.
"Gue bakalan ngehamilin cewek itu, dengan begitu nggak akan ada jalan keluar untuk dua pihak selain cewek itu jadi milik gue," bisik Kai serak.
Kedua mata Aluna melotot, dan melirik Kai dari ekor matanya.
'Wah! Bego banget gue, udah pasti jawaban si mesum satu ini nggak bakalan jauh-jauh dari tanam saham duluan. Apa sih yang gue harapin dari otaknya.' Aluna mendesah berat.
Kai mengulum senyum geli mendapati ekspresi wajah Aluna, jari jemari panjang Kai menarik helaian rambut panjang Aluna. Membawanya ke hidungnya, mencium aroma sampo yang tertinggal di batang rambutnya.
"Gimana? Bukankah rencana gue paling sulit buat ditebak musuh?" tanya Kai, matanya tampak berharap dipuji oleh Aluna.
Aluna mencibir menarik rambutnya di tangan Kai, dan berkata, "Cowok gila bin mesum."
Kai tertawa kembali, meraih tangan Aluna yang ditangkis beberapa kali. Sayangnya Kai terlalu gigih hingga telapak tangan Aluna berada di dalam genggaman tangan Kai.
"Yeah..., itu gue, Sayang. Cowoknya lo, Aluna Calista." Kai mengecup punggung telapak tangan Aluna dengan senyum mesumnya.
...***...
Suara petikan gitar di sela alunan suara berat menggema, kafe outdoor dengan panggung mini tempat para pengunjung kafe menyumbangkan suara akan kencintaan mereka pada musik. Menemani pengunjung yang menyantap makanan dan minuman di meja, kaum Hawa tampak mengulum senyum dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman menatap pria duduk di kursi di atas panggung menyanyikan lagu cinta.
Syair dari lagu 'It's Only Me' dari penyanyi Kaleb J, seakan menyuarakan perasaan si penyanyi untuk gadis yang duduk di meja yang bersandar di kursi menatap ke arah panggung. Petikan gitar dan nyanyi berakhir disambut dengan tepukan tangan meriah dan siulan dari para remaja lelaki, bersorak-sorai membuat suasana di kafe outdoor semakin semarak.
"Owh..., sweet kali Abang ini."
"Abang ganteng! Gue juga mau dicintai sama lo Bang."
"Iri kali gue, Woy. Mau juga dinyanyin cogan kecintaan mampus kek gitu."
Suara keluhan yang datang dari beberapa meja wanita membuat pipi Aluna memanas. Sementara Kai meletakkan gitar yang ia mainkan di tempatnya semula, masih berdiri di panggung.
"Aluna Calista! I love you," katanya lantang, "just you!"
Sebelah matanya ditutup dan jari jemari tangannya membentuk gambar hati yang tak sempurna, hanya untuk menunjuk perasaan pada gadis yang dipaksa makan malam di kafe.
Pekikan keras dari para wanita membuat kaum Adam berdecak dengan tangan serentak menutupi telinga mereka masing-masing, melindungi dari pekikan melengking tak jelas dari kaum Hawa.
Aluna menutupi wajahnya dengan telapak tangan, malu bukan main dengan tingkah Kai—cogil tengil yang membuat seluruh orang yang ada di kafe menjadi menatapnya.
"Ini orang keknya selain otaknya nggak jalan, bin mesum urat malunya juga dah putus deh," dumel Aluna di bangku masih menutupi wajahnya yang merah padam karena malu.