Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertemuan
Tangan Endric bergerak sendiri. Bukan seperti refleks biasa. Jarinya menekuk pelan lalu membuka, seperti ada sesuatu yang mencoba menggerakkannya dari dalam. Endric langsung menatap tangannya.
“...Jangan mulai,” gumamnya.
Kuku hitam itu kini lebih panjang. Ujungnya runcing dan mengilap aneh seperti basah, padahal kering. Endric mencoba menariknya, tetapi tidak bisa.
“Ndhul, ini gerak sendiri, cok,” katanya cepat.
Gandhul mendekat, memperhatikan dengan serius.
“Ya wajar. Lo makin nyambung.”
“Nyambung apaan?!”
“Ke bawah.”
Endric langsung menarik tangannya ke belakang.
“Gue gak mau nyambung ke mana-mana!”
Gandhul mengangkat bahu. “Udah jalan prosesnya.”
Endric mengusap wajahnya kasar. “Oke. Oke. Tenang. Kita cari cara.”
Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruangan. Langkahnya cepat, paniknya mulai naik lagi.
“Kalau gue potong jari gue gimana?” katanya tiba-tiba.
Gandhul langsung menatapnya. “Lo serius?”
“Daripada gue jadi antena ke dunia bawah, mending jari ilang.”
Gandhul berpikir sebentar. “Secara teori... bisa.”
Endric langsung berhenti. “Secara teori?”
“Iya.”
“Praktiknya?”
“Lo bisa mati duluan karena kehabisan darah.”
Endric langsung menghela napas panjang. “Gue benci semua opsi di sini.”
Gandhul terkekeh. “Selamat datang.”
Endric duduk lagi di kursi dan menatap tangannya. Jari itu kembali bergerak pelan seperti mengetuk meja.
Tok... tok... tok...
Endric langsung menarik tangannya.
“Ini kayak yang di lantai kemarin,” bisiknya.
Gandhul mengangguk. “Polanya sama.”
Endric menatapnya. “Berarti apa?”
Gandhul tersenyum tipis. “Berarti sekarang yang ngetok bukan dari bawah.”
Endric membeku. “...Tapi dari gue?”
Gandhul tidak menjawab, hanya menatap tangannya. Endric langsung berdiri lagi. “Gue gak suka ini.”
“Wajar.”
Endric berjalan ke dapur kecil, mencari sesuatu. Ia membuka laci dan menemukan pisau, lalu mengangkatnya dan menatap ujungnya.
“Gue serius, Ndhul.”
Gandhul mendekat. “Lo yakin?”
Endric menelan ludah. “Ndak.”
“Ya sudah.”
Endric menatap pisau itu beberapa detik, lalu mengembalikannya.
“Gue belum segila itu.”
“Bagus.”
Endric menghela napas panjang. “Plan lain.”
“Apaan?”
Endric menatap Gandhul. “Gue harus kelihatan gak cocok.”
Gandhul mengangkat alis. “Gimana caranya?”
Endric tersenyum tipis. “Kita bikin gue aneh.”
Gandhul langsung tertawa. “Rek, lo udah aneh dari awal.”
“Bukan aneh biasa. Aneh yang bikin mereka ilfeel.”
Gandhul berhenti tertawa. “...Menarik.”
Endric mulai berpikir keras. “Kalau mereka suka yang takut, gue santai.”
“Iya.”
“Kalau mereka suka yang siap, gue kacau.”
“Betul.”
“Kalau mereka mau yang patuh...”
Gandhul menatapnya. “Lo lawan.”
Endric tersenyum. “Persis.”
Gandhul mengangguk. “Oke. Gue mulai suka plan ini.”
Endric menunjuk dirinya sendiri. “Gue bakal jadi orang paling gak layak dipilih.”
“Semoga mereka punya selera.”
Endric mendecak. “Doain yang bener, cok.”
Tiba-tiba jari Endric bergerak lagi, kali ini lebih cepat.
Tok tok tok tok...
Endric langsung menggenggam tangannya.
“Diam!”
Namun gerakan itu tetap terasa dari dalam, seperti denyut, seperti panggilan. Endric menutup mata dan menahan diri.
“Fokus,” katanya pada diri sendiri. “Lo masih pegang kendali.”
Gandhul menatapnya. “Belum tentu lama.”
Endric membuka mata dan menatap tajam. “Gue bakal tahan.”
Gandhul mengangguk. “Bagus.”
Beberapa jam berlalu. Siang terasa lebih cepat dari biasanya, atau mungkin Endric yang terlalu fokus memikirkan malam. Ia mencoba berbagai hal: mengobrol sendiri, latihan ekspresi, bahkan sempat mencoba tertawa tanpa alasan.
“HAHAHA...”
Gandhul menatapnya. “Lo kenapa?”
“Latihan jadi aneh.”
“Lo kayak orang gagal kesurupan.”
Endric langsung berhenti. “gak gitu juga.”
“Serius. Kalau gue warga, gue malah makin tertarik.”
Endric menghela napas. “Gagal.”
“Coba yang lain.”
Endric berpikir lagi, lalu berdiri dan berjalan aneh, sedikit pincang dan kaku. “Ini gimana?”
Gandhul menatapnya. “Lo kayak orang salah tidur.”
Endric berhenti. “Gue capek.”
Gandhul tertawa. “Tenang. Malam ini lo bakal ngalami banyak hal. Latihan gak terlalu penting.”
Endric duduk lagi dan menghela napas panjang. “Gue cuma gak mau mati.”
“Semua juga gitu.”
Endric menatapnya. “Lo dulu gimana?”
Gandhul diam beberapa detik, lalu menjawab pelan. “Gue nurut.”
Endric langsung mengernyit. “Kenapa?”
Gandhul tersenyum tipis. “Karena gue takut.”
Endric terdiam. “Dan hasilnya?”
Gandhul menunjuk dirinya sendiri. “Lo lihat.”
Endric menelan ludah. “Berarti gue gak boleh kayak lo.”
“Betul.”
Endric mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, ia merasa punya arah, walau kecil dan belum jelas.
Matahari mulai turun. Langit berubah oranye, udara mulai dingin lagi. Endric berdiri di depan jendela dan menatap keluar. Warga mulai terlihat lagi, lebih banyak dan lebih diam.
“Mulai,” gumamnya.
“Ya,” jawab Gandhul.
Endric menatap tangannya. Kuku itu sekarang lebih panjang lagi, hampir menyamai kuku aslinya.
“Cepat banget,” bisiknya.
“Waktu lo tipis.”
Endric menghela napas panjang. “Gue siap.”
Gandhul menatapnya. “Lo yakin?”
Endric tersenyum tipis. “Ndak.”
“Bagus. Jangan kelihatan siap.”
Endric tertawa kecil. “Iya juga.”
Langit semakin gelap. Lampu di rumah mulai berkedip, sekali, dua kali, lalu mati.
Endric langsung menegang.
“Mulai lagi,” katanya.
“Ya.”
Suara di luar muncul, langkah kaki yang banyak dan serempak.
Endric berjalan ke pintu. Tangannya gemetar, tetapi ia tetap membuka. Di luar, warga sudah berdiri, lebih banyak dari kemarin, lebih rapat, lebih diam.
Dan di depan, Pak Wakhid dengan senyum yang sama. “Mas Endric,” katanya pelan.
Endric menelan ludah.
“Iya, Pak.”
“Sudah siap?”
Endric tersenyum lebar, dipaksakan. “gak sama sekali, Pak.”
Pak Wakhid berhenti. Senyumnya sedikit berubah, tipis. “Bagus,” katanya.
Namun nadanya tidak sama seperti kemarin, lebih berat. Endric melangkah keluar dan bergabung dengan barisan. Gandhul sudah di sampingnya.
“Mainkan peran lo,” bisiknya.
Endric mengangguk kecil.
Mereka berjalan menuju balai desa. Namun kali ini Endric merasakan sesuatu yang berbeda. Langkah warga tidak sepenuhnya serempak. Ada yang tersendat, ada yang tidak stabil, seperti tidak semua dari mereka benar-benar hidup.
Endric menelan ludah.
“Ndhul...”
“Hm?”
“Yang ini... beda.”
Gandhul menatap ke depan. “Ya.”
Endric menegang. “Kenapa?”
Gandhul menjawab pelan. “Karena malam ini...” Ia berhenti, menatap lurus ke balai desa yang kini terlihat lebih gelap dari sebelumnya. “...yang datang bukan cuma warga.”