Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.
Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.
Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.
Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.
Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertemuan
Tangan Endric bergerak sendiri. Jarinya menekuk lalu membuka pelan, seolah ada sesuatu yang menggerakkannya dari dalam.
Endric menatap tangannya dengan tatapan ngeri.
“Jangan mulai,” gumamnya pelan.
Kuku hitam itu kini lebih panjang. Ujungnya runcing dan mengilap aneh, padahal tidak ada cairan yang menempel.
“Ndhul, ini gerak sendiri, cok.”
Gandhul mendekat dan memperhatikan dengan serius.
“Ya wajar. Lo makin nyambung.”
“Nyambung apaan?!”
“Ke bawah.”
Endric langsung menarik tangannya ke belakang tubuhnya.
“Gue gak mau nyambung ke mana-mana!”
“Udah jalan prosesnya.”
“Oke. Tenang. Kita cari cara.”
Endric berjalan mondar-mandir dengan langkah cepat. Kepanikan mulai naik kembali.
“Kalau gue potong jari gue gimana?”
Gandhul menatapnya tajam.
“Lo serius?”
“Daripada gue jadi antena ke dunia bawah, mending jari ilang.”
“Secara teori bisa.”
Endric berhenti mendadak.
“Praktiknya?”
“Lo bisa mati duluan karena kehabisan darah.”
Endric menghela napas panjang dan lelah.
“Gue benci semua opsi di sini.”
“Selamat datang.”
Jari itu kembali bergerak mengetuk meja.
Tok tok tok
Endric langsung menarik tangannya menjauh.
“Ini kayak yang di lantai kemarin.”
“Polanya sama.”
“Berarti apa?”
“Berarti sekarang yang ngetok bukan dari bawah. Tapi dari gue?”
Gandhul tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menjawab rasa takut Endric.
“Gue gak suka ini.”
“Wajar.”
Endric berjalan ke dapur dan mengambil pisau dapur. Ia menatap mata pisau itu tajam.
“Gue serius, Ndhul.”
“Lo yakin?”
“Ndak.”
“Ya sudah.”
Endric menaruh kembali pisau itu.
“Gue belum segila itu.”
“Bagus.”
“Plan lain.”
“Apaan?”
“Gue harus kelihatan gak cocok.”
“Gimana caranya?”
“Kita bikin gue aneh.”
Gandhul langsung tertawa.
“Rek, lo udah aneh dari awal.”
“Bukan aneh biasa. Aneh yang bikin mereka ilfeel.”
Gandhul berhenti tertawa.
“Menarik.”
“Kalau mereka suka yang takut, gue santai.”
“Iya.”
“Kalau mereka suka yang siap, gue kacau.”
“Betul.”
“Kalau mereka mau yang patuh...”
“Lo lawan.”
“Persis.”
“Oke. Gue mulai suka plan ini.”
“Gue bakal jadi orang paling gak layak dipilih.”
“Semoga mereka punya selera buruk.”
“Doain yang bener, cok.”
Jari di tangannya bergerak lebih cepat dan kencang.
Tok tok tok tok
Endric menggenggam tangannya erat-erat.
“Diam!”
Gerakan itu tetap terasa dari dalam, seperti denyut nadi yang asing.
“Fokus. Lo masih pegang kendali.”
“Belum tentu lama.”
“Gue bakal tahan.”
“Bagus.”
Beberapa jam berlalu dengan sangat cepat. Endric mencoba berbagai latihan ekspresi dan tingkah laku.
“HAHAHA...”
“Lo kenapa?”
“Latihan jadi aneh.”
“Lo kayak orang gagal kesurupan.”
“Gak gitu juga.”
“Serius. Kalau gue warga, gue malah makin tertarik.”
“Gagal.”
“Coba yang lain.”
Endric berjalan pincang dan kaku.
“Ini gimana?”
“Lo kayak orang salah tidur.”
“Gue capek.”
“Tenang. Malam ini lo bakal ngalami banyak hal. Latihan gak terlalu penting.”
“Gue cuma gak mau mati.”
“Semua juga gitu.”
“Lo dulu gimana?”
Gandhul diam beberapa detik.
“Gue nurut.”
“Kenapa?”
“Karena gue takut.”
“Dan hasilnya?”
“Lo lihat.”
Endric menelan ludah.
“Berarti gue gak boleh kayak lo.”
“Betul.”
Matahari mulai turun. Langit berubah oranye dan udara menjadi dingin.
Warga mulai terlihat beraktivitas di luar, namun lebih diam dari biasanya.
“Mulai,” gumam Endric.
“Ya.”
Ia menatap tangannya. Kuku itu kini hampir menyamai panjang kuku aslinya.
“Cepat banget.”
“Waktu lo tipis.”
“Gue siap.”
“Lo yakin?”
Endric tersenyum tipis.
“Ndak.”
“Bagus. Jangan kelihatan siap.”
“Iya juga.”
Langit semakin gelap. Lampu di rumah berkedip dua kali lalu mati total.
“Mulai lagi.”
“Ya.”
Suara langkah kaki terdengar dari luar, banyak dan serempak.
Endric membuka pintu. Warga sudah berjejer rapi menutupi seluruh jalan.
Pak Wakhid berdiri paling depan dengan senyum yang sama.
“Mas Endric.”
“Iya, Pak.”
“Sudah siap?”
Endric tersenyum lebar dan dipaksakan.
“Gak sama sekali, Pak.”
Senyum Pak Wakhid berubah tipis.
“Bagus.”
Nada suaranya terdengar berat dan tidak wajar.
Endric melangkah keluar dan bergabung dengan barisan. Gandhul sudah menunggu di sampingnya.
“Mainkan peran lo.”
Mereka berjalan menuju balai desa. Namun kali ini terasa berbeda.
Langkah warga tidak sepenuhnya serempak. Ada yang tersendat, ada yang tidak stabil.
“Ndhul...”
“Hm?”
“Yang ini beda.”
“Ya.”
“Kenapa?”
Gandhul menatap lurus ke depan ke arah bangunan kayu yang tampak gelap gulita.
“Karena malam ini... yang datang bukan cuma warga.”