Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karin dan Ramuan Jamu Ajaib
Pasca-ketegangan di kantor Dekan dan operasi senyap yang menguras energi, ruko markas besar terasa lebih sunyi dari biasanya. Namun, kesunyian itu tidak berlangsung lama. Vittorio baru saja menyelesaikan laporan logistik untuk Tiger di ruang kerjanya ketika sebuah aroma yang sangat tajam, perpaduan antara bau tanah basah, rempah menyengat, dan sesuatu yang tercium seperti kaus kaki lama, mulai merayap masuk ke bawah pintu.
Vittorio mengernyitkan dahi. Ia berdiri, merapikan kemejanya, dan melangkah keluar. Sumber bau itu berasal dari dapur ruko. Di sana, ia menemukan pemandangan yang lebih menakutkan daripada serangan sepuluh eksekutor bersenjata: Karin, mengenakan celemek bermotif polkadot, sedang mengaduk sebuah panci besar yang mengeluarkan uap berwarna kuning kecokelatan yang pekat.
"Karin," panggil Vittorio, sambil menutup hidungnya dengan punggung tangan. "Apa kau sedang mencoba membuat senjata kimia baru untuk melumpuhkan klan Lorenzo?"
Karin menoleh dengan semangat, wajahnya berkeringat dan ada noda kuning di pipinya. "Bukan, Juna! Ini bukan senjata kimia. Ini adalah warisan leluhur, ramuan legendaris keluarga gue: Jamu Sakti Jagad Raya!"
Vittorio mendekat dengan ragu. "Jamu? Untuk apa?"
"Gue liat lu belakangan ini kurang tidur, Jun. Muka lu pucat, mata lu item kayak panda habis kena begadang. Lu itu aset negara, nggak boleh sakit. Makanya, gue racikin jamu ini. Bahannya lengkap: temulawak, jahe merah, kunyit asam, brotowali, sama ada sedikit campuran rahasia dari Mbak Yanti," jelas Karin sambil memberikan jempol yang juga berwarna kuning.
Vittorio menatap cairan di dalam panci yang kini meletup-letup. "Brotowali? Bukankah itu bahan paling pahit di dunia?"
"Pahit itu obat, Jun! Semakin pahit, semakin takut setan-setan mafia mau deketin lu. Ayo, mumpung masih anget, lu harus minum satu gelas penuh!"
Vittorio mencoba mundur selangkah. "Terima kasih, Karin. Tapi aku merasa sangat sehat. Aku baru saja melakukan push-up lima ratus kali pagi tadi."
"Halah, push-up mah cuma otot! Ini buat daleman, Jun! Buat stamina, biar lu nggak gampang masuk angin pas lagi operasi malam-malam," Karin tidak menyerah. Ia mengambil sebuah gelas besar, menyendokkan cairan kental itu, dan menyodorkannya tepat ke depan wajah Vittorio.
Bau itu semakin menusuk. Vittorio, yang pernah bertahan hidup dari luka tembak di perut tanpa bius, merasa keberaniannya menciut di depan segelas jamu buatan Karin.
"Karin, aku lebih suka minum racun sianida daripada benda ini," ucap Vittorio jujur.
"Jahat banget mulutnya! Ini kasih sayang asisten, Jun! Kalau lu nggak minum, gue bakal mogok kerja. Gue nggak mau nge-hack cctv lagi, gue nggak mau buatin kopi, dan gue bakal kasih tau Satya kalau lu itu sebenernya cemburuan!" ancam Karin sambil berkacak pinggang.
Vittorio menghela napas panjang. Ancaman Karin jauh lebih efektif daripada ancaman Don Lorenzo. Dengan tangan gemetar, ia menerima gelas itu. Ia menatap cairan kuning itu seolah-olah sedang menatap jurang kematian.
"Sekali teguk, Jun! Jangan dirasain, langsung telan!" instruksi Karin dengan wajah penuh harap.
Vittorio memejamkan mata, menahan napas, dan... GLUK. GLUK. GLUK.
Dalam hitungan detik, wajah Vittorio berubah drastis. Kulitnya yang biasanya pucat mendadak memerah, lalu membiru, lalu kembali ke warna semula namun dengan ekspresi yang sangat menderita. Rasa pahit yang luar biasa meledak di lidahnya, seolah-olah ada seribu akar pohon yang tumbuh di dalam tenggorokannya.
"Bagaimana, Jun? Terasa kan khasiatnya?" tanya Karin antusias.
Vittorio tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menunjuk-nunjuk ke arah wastafel, mencari air putih secepat mungkin. Setelah menenggak dua botol air mineral, ia baru bisa bernapas kembali.
"Karin... jika aku mati malam ini, pastikan kau menulis di nisan ku bahwa aku dibunuh oleh jamu," ucap Vittorio parau.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi tiga puluh menit kemudian.
Vittorio, yang biasanya sangat terkontrol dan tenang, mulai merasakan aliran energi yang sangat besar merayap di tubuhnya. Jantungnya berdetak lebih kencang, matanya terbuka lebar seolah-olah ia baru saja meminum sepuluh gelas espresso sekaligus. Rasa lelah yang menghimpitnya selama berminggu-minggu menghilang seketika.
"Karin... apa yang kau masukkan ke dalam jamu itu?" tanya Vittorio, suaranya kini terdengar sangat bertenaga.
"Lho, kenapa Jun? Kok lu kayak habis menang lotre gitu mukanya?"
Vittorio mulai berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan kecepatan tinggi. "Aku merasa bisa memindahkan kontainer di pelabuhan hanya dengan satu tangan. Aku merasa ingin melakukan audit seluruh bank di Swiss sekarang juga!"
Karin melihat jamu di pancinya. "Oh... gue lupa. Mbak Yanti bilang, kalau buat cowok, takaran jahe merah sama ginsengnya harus dilebihin dikit. Kayaknya gue tadi nuangnya agak kebanyakan deh, soalnya botolnya tumpah."
Vittorio berhenti di depan Karin, matanya berkilat penuh energi yang tidak wajar. "Karin, buka laptopmu. Kita akan melakukan pengintaian terhadap faksi-faksi kecil di Eropa. Aku merasa sangat... produktif."
"Waduh, Jun! Ini kan jam dua siang, waktunya tidur siang!" keluh Karin.
Tapi Vittorio tidak bisa berhenti. Ia mulai melakukan shadow boxing di tengah ruangan dengan kecepatan yang membuat Tiger, yang baru saja masuk ke ruko, terhenti di pintu dengan wajah bingung.
"Ghost? Kau sedang latihan untuk turnamen UFC?" tanya Tiger heran melihat bosnya yang biasanya sangat dingin kini sedang melompat-lompat energik.
"Tiger! Bagus kau datang! Ayo kita lakukan simulasi tempur satu lawan sepuluh sekarang juga!" teriak Vittorio dengan semangat berapi-api.
Tiger menatap Karin. "Dia kenapa?"
Karin menyengir bersalah. "Kelebihan dosis jamu sakti jagad raya, Mas Tiger."
Efek jamu ajaib itu ternyata bertahan lebih lama dari yang diperkirakan. Selama lima jam berikutnya, Vittorio menjadi orang paling sibuk di duni bawah. Ia membersihkan seluruh senjata di gudang, menyusun ulang database Maya hingga sepuluh kali lipat lebih cepat, dan bahkan sempat membantu Mbak Yanti memperbaiki pompa air yang rusak di lantai bawah hanya dalam waktu sepuluh menit.
Karin hanya bisa duduk di sofa, menonton Vittorio yang terus bergerak seperti mesin yang tidak bisa dimatikan.
"Jun, istirahat dong! Gue pusing liat lu muter-muter terus!" teriak Karin.
"Aku tidak bisa istirahat, Karin! Dunia ini penuh dengan ketidakadilan yang harus diselesaikan! Aku baru saja menemukan tiga celah di sistem keamanan bursa saham Tokyo!" jawab Vittorio sambil mengetik di keyboard dengan kecepatan cahaya.
Namun, seperti halnya semua hal yang naik dengan cepat, penurunan energinya pun datang secara mendadak.
Pukul delapan malam, Vittorio tiba-tiba membeku di tengah kalimatnya saat sedang menjelaskan strategi baru kepada Tiger. Ia berdiri diam selama beberapa detik, lalu tiba-tiba... BRUK!
Vittorio jatuh terduduk di sofa, kepalanya terkulai, dan ia langsung tertidur pulas dengan suara dengkuran halus yang belum pernah didengar Karin sebelumnya.
"Lho? Juna? Mati lu ya?" Karin panik, menepuk-nepuk pipi Vittorio.
"Dia cuma pingsan karena kelelahan ekstrim, Rin," Tiger menggelengkan kepala. "Jamu buatanmu itu sepertinya meminjam energi minggu depan untuk dipakai hari ini."
Keesokan paginya, Vittorio terbangun dengan kepala yang terasa berat namun tubuh yang terasa sangat ringan. Bau jamu masih tertinggal sedikit di dapurnya. Ia berjalan keluar kamar dan menemukan Karin sedang menyiapkan sarapan—roti bakar sederhana.
Karin menoleh dengan takut-takut. "Pagi, Raja Jamu... masih mau satu gelas lagi?"
Vittorio menatap Karin dengan tatapan datar yang sangat lama, hingga Karin mulai merasa ingin lari ke luar ruko. Namun kemudian, Vittorio menghela napas dan tersenyum tipis.
"Tidak, terima kasih. Satu gelas sudah cukup untuk membuatku merasa seperti pahlawan super selama sehari," ucap Vittorio. "Tapi aku harus mengakui... tidurku semalam adalah tidur paling nyenyak yang pernah kualami sejak aku tiba di Indonesia."
Karin langsung bersorak. "Tuh kan! Gue bilang juga apa! Jamu itu emang ajaib! Walaupun lu jadi agak gila dikit pas melek, tapi efeknya buat tidur emang juara."
"Tapi tolong, jangan pernah masukkan campuran rahasia Mbak Yanti lagi," tambah Vittorio. "Aku tidak ingin terbangun dan menyadari bahwa aku sudah membeli seluruh pulau di Pasifik karena terlalu semangat."
Karin tertawa terbahak-bahak. "Oke, Bos! Janji! Lain kali jamunya versi light aja, buat mahasiswa biasa, bukan buat legenda mafia."
Siang itu, saat mereka bersiap berangkat ke kampus, Vittorio merasa jauh lebih segar. Ia menyadari bahwa di balik keisengan Karin dengan ramuan jamunya, ada kepedulian yang sangat tulus. Karin adalah satu-satunya orang yang berani memperlakukannya bukan sebagai "Sang Legends" atau "Vittorio sang Mafia", melainkan sebagai manusia yang perlu dirawat.
Di mobil, Karin sibuk bercerita tentang rencana bisnis baru: "Jamu Sang Legends".
"Bayangin Jun, kita jual jamu ini ke mahasiswa yang mau ujian. Pasti laku keras! Tagline-nya: 'Minum Jamu Ini, Auto Dapet Nilai A dan Bisa Berantem Lawan Preman'!"
Vittorio menggelengkan kepala sambil menyetir. "Itu adalah ide bisnis yang akan membuat kita dipenjara oleh Badan POM dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Karin."
"Dih, lu mah nggak ada jiwa pengusahanya!"
Meskipun pembicaraan mereka konyol, Vittorio merasa bahagia. Humor gelap dan situasi absurd seperti "insiden jamu" inilah yang menjaga kewarasannya di tengah duni bawah yang penuh dengan pengkhianatan dan peluru.
Saat mereka sampai di parkiran kampus, Vittorio melihat botol jamu kecil yang diselipkan Karin di tasnya. Ia tidak membuangnya. Ia menyimpannya sebagai pengingat bahwa sekuat apa pun ia sebagai seorang raja, ia tetap butuh seorang asisten semprul yang akan selalu memastikan "dalemannya" tetap sehat dengan ramuan yang bau kaus kaki namun penuh cinta.
"Makasih ya, Rin," bisik Vittorio pelan sebelum mereka turun dari mobil.
"Sama-sama, Bos! Tapi inget ya, ntar malem jangan minta lagi, gue capek meres kunyitnya!"
Vittorio tertawa. Legenda duni bawah mungkin bisa membuat musuh berlutut ketakutan, tapi hanya seorang Karin yang bisa membuat Sang Legends bertekuk lutut di depan segelas jamu pahit. Dan bagi Vittorio, itu adalah jenis kekalahan yang paling manis yang pernah ia alami.
lanjut kkk👍
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭