Sinopsis:
Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.
Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.
"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."
Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: perdebatan di balik pintu
Pagi harinya, aku bangun dengan tekad yang sudah bulat. Mata sembabku tidak lagi penting. Aku merapikan surat pengunduran diri itu ke dalam amplop putih bersih—surat yang bukan hanya menandai berakhirnya masa magangku, tapi juga pelarianku dari sosok Danendra.
Aku tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Aku tidak menuju meja kubikelku, melainkan langsung berdiri di depan pintu ruangan Pak Bram. Aku ingin menyelesaikan ini sebelum Danendra datang dan kembali menggunakan otoritasnya untuk menahanku.
"Masuk, Azzalia," suara Pak Bram terdengar setelah aku mengetuk pintu.
Aku melangkah masuk dan meletakkan amplop itu di atas meja beliau. Pak Bram mengernyit, mengambil amplop itu, dan membacanya dengan cepat. Wajahnya yang semula ramah seketika berubah tegang.
"Mengundurkan diri? Zal, kamu asisten teknis yang dipilih langsung oleh perwakilan pusat. Proyek ini baru berjalan satu Minggu . Kenapa mendadak sekali?" tanya Pak Bram dengan nada tidak percaya.
"Saya ada urusan keluarga yang mendesak, Pak. Saya rasa saya tidak bisa melanjutkan tanggung jawab ini dengan maksimal," jawabku datar, sebuah kebohongan yang sudah kusiapkan sejak semalam.
"Urusan keluarga apa sampai kamu harus berhenti magang? Kamu tahu kan ini akan berpengaruh pada nilai akhirmu?"
"Saya sadar risikonya, Pak. Tapi keputusan saya sudah final."
Tepat saat Pak Bram hendak membalas, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Danendra berdiri di sana, masih dengan kemeja rapi namun raut wajahnya terlihat lelah, seolah dia juga tidak tidur semalaman. Matanya langsung tertuju pada amplop putih di meja Pak Bram.
"Ada masalah, Pak Bram?" tanya Danendra, suaranya terdengar dingin namun tajam.
"Ini, Pak Danendra. Azzalia tiba-tiba menyerahkan surat pengunduran diri. Katanya ada urusan keluarga," lapor Pak Bram.
Danendra berjalan mendekat, mengambil surat itu dari tangan Pak Bram tanpa izin, dan membacanya dalam diam. Aku mengepalkan tangan, menatap lantai, berusaha tidak terpancing oleh kehadirannya.
"Urusan keluarga, atau urusan melarikan diri, Azzalia?" bisik Danendra, cukup keras untuk kudengar tapi cukup rendah agar tidak menyinggung Pak Bram.
Aku mendongak, menantang matanya. "Apapun alasannya, itu hak saya sebagai karyawan, Pak."
Danendra merobek surat itu menjadi dua bagian tepat di depan wajahku, lalu menjatuhkannya ke lantai. Pak Bram terperanjat, sementara aku terpaku dengan napas yang mulai memburu.
"Pak Bram, tolong tinggalkan kami sebentar. Ada urusan teknis pusat yang perlu saya bicarakan secara pribadi dengan staf saya," perintah Danendra dengan otoritas yang tidak bisa dibantah.
Pak Bram yang kebingungan hanya bisa mengangguk dan keluar, meninggalkan aku terjebak dalam ruangan yang mendadak terasa sangat sempit bersama pria yang paling ingin kuhindari.
"Kamu pikir dengan pindah kota lagi, semuanya bakal selesai?" Danendra melangkah maju, memaksaku mundur hingga punggungku menghantam pintu yang sudah tertutup. "Mau ke mana lagi kali ini, Zal? Ke ujung dunia? Aku bakal tetap ada di sana."
"Kenapa kamu harus seegois ini, Nen?" suaraku bergetar. "Aku cuma mau hidup tenang tanpa harus diingatkan kalau aku ini sampah! Biarin aku pergi!"
"Enggak," sahutnya mutlak. Ia mengunci pergerakanku dengan meletakkan kedua tangannya di pintu, di sisi kiri dan kanan kepalaku. "Kalau kamu butuh tempat sembunyi, sembunyi di balik punggungku. Jangan lari ke kota lain seolah kamu nggak punya siapa-siapa. Aku nggak akan izinin kamu kehilangan masa depanmu cuma karena takut sama aku."
"Aku lebih takut kehilangan privasiku daripada masa depanku!" teriakku tepat di depan wajahnya.
Danendra terdiam, matanya menatapku dengan luka yang mendalam. "Privasi kamu jauh lebih aman bersamaku daripada di tangan orang asing di kota lain, Zal. Kamu pikir aku bakal bocorin rahasia itu? Aku cuma mau kamu tahu kalau kamu nggak perlu memikulnya sendiri."
"Tapi aku mau sendiri!" balasku sengit.
Danendra menghela napas panjang. Amarah yang tadi sempat berkilat di matanya perlahan meredup, digantikan oleh sorot mata yang begitu lelah dan terluka. Bahunya yang tegap perlahan merosot, seolah seluruh kekuatan yang ia gunakan untuk menahanku selama ini telah habis tak bersisa.
Ia menarik kedua tangannya dari pintu, mundur satu langkah untuk memberikan jarak yang sejak tadi kupinta dengan paksa.
"Maaf, Azzalia," suaranya parau, nyaris pecah. "Kamu benar. Aku memang egois. Aku selalu merasa tahu apa yang terbaik untukmu, selalu memaksa masuk ke ruang yang sengaja kamu kunci. Aku... aku hanya tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapimu selain dengan cara ini."
Aku terpaku. Zirah besiku yang biasanya sangat efektif menangkis amarahnya, mendadak terasa berat saat harus menghadapi kelembutan yang tiba-tiba ini.
Danendra menunduk, menatap potongan surat pengunduran diriku yang berserakan di lantai. "Aku tahu aku menyebalkan. Aku tahu caraku melindungi dan menjagamu justru membuatmu merasa tercekik. Tapi yang perlu kamu tahu, Zal... semua kekacauan ini, semua sikap keras kepalaku, itu muncul karena aku sangat menyayangimu. Lebih dari apapun, bahkan mungkin lebih dari harga diriku sendiri."
Ia kembali mengangkat wajahnya. Kali ini, tidak ada lagi tatapan "Pak Danendra" yang berkuasa. Hanya ada Danendra, laki-laki yang dunianya pernah berhenti berputar enam tahun lalu.
"Tolong, jangan mengundurkan diri. Jangan pergi lagi, Zal. Nggak untuk kali ini," pintanya dengan nada memohon yang menyayat hati. "Jangan hancurkan karier dan masa depan yang sudah kamu bangun susah payah di kota ini hanya karena ingin lari dariku."
Aku tetap membisu, membiarkan punggungku bersandar pada pintu yang dingin.
"Aku janji," lanjutnya lagi, suaranya bergetar. "Aku akan menjaga batasan itu. Aku nggak akan lagi mengungkit soal Ayah, soal masa lalu, atau apapun yang membuatmu ingin menutup diri. Biarkan aku tetap bisa melihatmu, meskipun dari jauh. Biarkan aku tahu kalau kamu baik-baik saja di kantor ini, itu sudah cukup bagiku. Tolong... jangan menghilang lagi."
Keheningan di ruangan Pak Bram terasa begitu pekat. Aku bisa melihat ketulusan yang telanjang di matanya sebuah permohonan dari seorang pria yang rela membuang otoritasnya demi satu kesempatan untuk tetap berada di orbit yang sama dengan wanita yang terus mendorongnya pergi.
Dadaku berdenyut nyeri. Aku membencinya karena dia memaksa masuk, tapi aku jauh lebih membenci diriku sendiri karena melihatnya serapuh ini membuat tembokku perlahan runtuh tanpa bisa kucegah.
" Biarkan aku pergi,dengan kita tidak bertemu lagi semuanya akan kembali seperti tahun-tahun lalu,aku dengan duniaku dan kamu dengan duniamu,kalau setiap hari kita bertemu disini satu gedung satu kantor,aku akan menyakiti perasaan kamu lagi tanpa sengaja,dan aku nggak mau ada di sana di Enam tahun lalu Danendra." desisku tajam
" dengan membiarkan kamu pergi sama saja kamu membunuhku untuk kedua kalinya azzalia." ucapnya lirih dengan tatapan memohon.