NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:23.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 11

“Abang ngapa senyum-senyum begitu? Mau mesum, ya?” tuduh Nadya seraya beranjak dari ranjang.

Rizal tersentak seketika, satu tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menunduk pelan.

“Hih, untung cepat bangun saya, kalo nggak—”

“Kalo nggak apa?” sergah Rizal sambil meraih puncak kepala Nadya, namun gerakannya terhenti saat melihat kancing baju Nadya yang masih terbuka.

Seketika, ia meneguk ludah susah payah, ia lalu menarik tangannya kemudian buru-buru mengalihkan perhatiannya ke arah Adam yang tertidur lelap.

Menyadari gelagat aneh Rizal, dahi Nadya mengernyit tipis, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Benerkan mau mesum, tuh muka Abang langsung merah,” godanya, sambil menatap Rizal yang blingsatan.

Rizal berdecak kecil, beranjak dari sisi Adam lalu berjalan keluar sambil mengusap singkat puncak kepala Nadya.

“Buruan kancingkan bajumu, ayo makan. Ibu udah nunggu dari tadi,” ucapnya belagak acuh.

“Kenapa? Nafsu, ya,” celetuk Nadya, satu alisnya terangkat seraya tersenyum genit. “Sama adek sendiri masak nafsu, nggak konsisten amat,” selorohnya kemudian sambil mendahului langkah Rizal.

Mata sendu Rizal membelalak, senyumnya tertahan di ujung bibir. “Kamu nguping?” serunya sambil menyusul langkah Nadya.

“Suudzon aja, Ibu sama Abang ghibahnya yang kekencengan,” sahut Nadya yang lebih dulu sampai di meja makan.

Melihat Rizal dan Nadya saling melempar candaan, wajah Bu Harmi berseri, bibirnya melengkung lembut.

“Sudah ayo cepat makan keburu dingin nanti lauknya,” ujarnya, kemudian.

Mereka pun makan bersama, sesekali terselip obrolan dan candaan di sela suapan mereka. Merasakan kehangatan dan keakraban itu, hati kecil Nadya berdesir getir, wajahnya menunduk—menyembunyikan sorot matanya yang berkaca-kaca.

‘Jadi, begini rasanya punya keluarga,’ batin Nadya berbisik lirih.

Bulan mulai merangkak ke peraduan, suara jangkrik berderik lirih di sela-sela rimbunan ilalang, lampu bohlam berpendar hangat di teras-teras rumah warga, mengundang sekumpulan ngengat menari dalam lingkaran tak berujung.

Rizal baru saja menyelesaikan kewajibannya, sholat maghrib dan membaca surat yasin saat sang Ibu mengajaknya untuk duduk bersantai di teras rumah.

“Panggil Nadya sekalian, Zal,” seru wanita paruh baya itu sambil membawa nampan berisi ketela goreng dan tiga gelas teh hangat.

Rizal mengangguk seraya melipat sajadahnya, ia lalu berjalan ke kamar sang putra, mengetuk pintu yang tertutup rapat.

“Nad,” panggilnya pelan.

Nadya yang sedang libur dari kewajiban sholatnya menjawab, sambil membuka pintu dengan Adam di gendongannya.

“Belum tidur, Adam?” tanya Rizal saat melihat manik sang putra terbuka lebar.

“Baru ganti diapers, biasanya mainan dulu dia nanti habis isyak baru mau tidur,” sahut Nadya.

Rizal tersenyum hangat, lalu menunduk pelan—mencium singkat pipi sang putra.

“Duduk di teras, yok, lagi terang bulan. Ibu juga ada goreng ketela itu,” ucapnya sambil mengusap lembut kepala putra kesayangannya.

“Emang Adam boleh dibawa keluar malem-malem sama Ibu?” tanya Nadya dengan raut heran, karena selama dia berada di rumah itu Bu Harmi selalu melarang Adam keluar malam bahkan sekedar keluar dari kamarnya.

“Ibu yang nyuruh,” jawab Rizal singkat.

Nadya mencebik kecil, seraya memakaikan kaos kaki pada kaki mungil Adam.

“Ya dah, Abang bawa Adam dulu gih, saya mau ke kamar mandi bentar,” sahutnya begitu Adam sudah rapih.

“Mau ngapain?” tanya Rizal, polos.

“Kencing lah. Ya kali colly,” sahut Nadya, sengak. Tatapannya setengah menyipit penuh rasa sebal.

Rizal tertawa kecil, satu tangannya menyurai puncak kepala Nadya yang berdiri tepat di depannya. Ia lalu menunduk, mengangkat sang putra ke gendongannya, setelah itu berjalan keluar kamar meninggalkan Nadya yang masih cemberut di tempatnya.

Di teras depan, Bu Harmi sudah duduk di lantai beralas tikar plastik dengan corak kebun binatang. Wanita sepuh itu langsung menyambut Adam ke pangkuannya begitu melihat sang cucu.

“Mana Nadya?” tanyanya saat tak melihat Nadya turut keluar bersama Adam dan Rizal.

“Lagi di kamar mandi,” jawab Rizal sambil turut duduk di samping sang Ibu.

Ia kemudian menyomot satu gorengan ketela yang masih mengepulkan asap tipis, tak selang berapa lama Nadya turut bergabung bersama mereka.

Obrolan hangat pun bergulir di teras rumah sederhana itu. Sesekali mereka tertawa saat saling melempar cerita. Kehangatan di teras itu menarik perhatian Bu Farida yang tinggal di depan rumah mereka untuk turut bergabung.

Wanita yang usianya di bawah Bu Harmi itu datang dengan membawa sepiring pisang rebus.

“Panenan sendiri ini, Da?” sambut Bu Harmi begitu Farida meletakkan piring yang dibawanya.

“Pisang belakang rumah, Bu,” sahutnya. Ia lalu menggeplak pelan paha Nadya yang duduk di sampingnya, “main-main ke luar, jangan di rumah aja, biar kenal sama lingkungan,” ujar Farida.

Nadya mengangguk pelan seraya tersenyum manis.

“Ei … nenek ama tantemu tumben nggak dateng,” lanjut Farida sambil menepuk pelan kaki Adam.

“Sakit gitu katanya, si Dewi siang tadi dateng minta uang,” sahut Bu Harmi.

Farida mencebik kecil, alisnya berkerut halus seraya mengambil Adam dari pangkuan Bu Harmi. “Sakit apanya, sore tadi gosip di warungnya Yuli sampe hampir mau magrib.”

Sudut bibir Farida melengkung, suaranya berubah lembut. “Ba … anak bayi jam segini nggak tidur kamu,” ujarnya sambil mencium perut gembul Adam. “Besok-besok lagi kalo nenekmu ngoceh idak jelas begitu kencingin aja, ya … ya,” lanjutnya sambil memiringkan kepala—mengajak Adam berceloteh meski jawabannya hanya lidah Adam yang mengulum udara.

Bu Harmi menghela napas berat sambil berdecak kesal. “Ck, sampe darah tinggi aku ngerasain neneknya Adam, tiap dateng nggak ada acara lain, selain nyari keributan.”

Farida tertawa pelan, tangannya yang ringan kembali menggeplak paha mulus Nadya.

“Untung Nadya berani anaknya, kalo nggak, apa nggak udah kabur dari sini,” ujarnya, lalu melirik ke arah Rizal yang asik dengan pisang rebusnya. “Pinter Bang Rizal cari pengasuh, udah cantik berani lagi, curiga lama-lama Bang Rizal yang di asuh sama Nadya bukan cuma Adam,” lanjutnya sambil tertawa ringan.

“Apalah, Uwak ini,” sahut Rizal sedikit tersipu.

“Ya, siapa tau lo Bang, mosok iya Abang nggak mau cari ganti. Nadya juga keliatan sayang sama Adam, apalagi yang kurang?” seru Farida.

“Belum kepikiran, Wak. Makam mamanya Adam aja masih merah tanahnya.” Rizal menjawab sambil setengah menunduk menutupi rautnya yang sedikit muram.

Farida mengangkat Adam ke gendongannya, sambil menimang pelan bocah gempal itu. “Ya nggak sekarang juga lah, Bang. Kedepannya kita 'kan nggak tau. Dari pada turun ranjang sama si Dewi, apa nggak mending Nadya.”

“Sama siapa aja asal bukan Dewi,” timpal Bu Harmi, “tapi, kalau ternyata jodohnya Nadya, ya alhamdulillah,” lanjutnya sambil melirik ke arah Nadya yang terlihat salah tingkah.

Nadya menggigit bibir bawahnya, pandangannya tertunduk pada gorengan ketela di depannya, tanpa ada niat sedikitpun menampik ucapan dari dua wanita paruh baya itu.

Farida yang masih menimang Adam, kembali melanjutkan celotehannya. “Apa jangan-jangan, Bang Rizal nungguin Hasna. Denger-denger lusa dia pulang lo, Bang.”

Rizal dan Bu Harmi sama-sama terdiam sejenak, begitu mendengar nama Hasna—gadis tetangga mereka yang merupakan teman dekat Rizal sebelum akhirnya memutuskan meminang Sukma.

“Hasna bukannya nikah sama orang Palembang, Da?” tanya Bu Harmi.

“Nggak jadi itu, Bu. Kalo jadi, apa nggak udah heboh kampung kita. Hasna itu di Pelambang kerja di klinik saudaranya, beberapa hari ini kan Yuk Sadiah kambuh sakitnya, jadi mungkin dia pulang mau ngurus emaknya, atau denger Bang Rizal jadi duda makanya dia pilih pulang,” cerita Farida.

Rizal terbatuk pelan, sudut matanya melirik ke arah Nadya yang terlihat tidak nyaman. Laki-laki itu lalu meminta Nadya untuk masuk ke dalam dengan alasan sang putra sudah mulai mengantuk.

Nadya yang sedari tadi berpikir ingin mengambil Adam dan masuk ke dalam rumah, namun sungkan, akhirnya bisa bernapas lega. Ia buru-buru beranjak dari duduknya, lalu mengambil Adam dari gendongan Farida.

“Adam tidur dulu, Among,” pamitnya, seolah mewakili Adam berbicara. “Sabar, Ndut, nanti di kamar nen'nya,” serunya, saat melihat Adam dengan tidak sabar—mengusapkan bibir mungilnya ke dada Nadya.

Samar Nadya menangkap obrolan ketiga orang itu yang masih berlanjut.

“Kayanya galak tapi telaten sama bayi,” ucap Farida.

Telaten poll, aku aja kalah, Da, ngurusnya sama Nadya,” sahut Bu Harmi.

Malam semakin larut, Nadya yang baru saja selesai menidurkan Adam berniat ke kamar mandi saat Rizal baru saja mengambil air wudhu. Ada gurat canggung di wajah keduanya setelah obrolan mereka dengan Farida.

“Nad,” panggil Rizal sedikit ragu.

Nadya tak menjawab, hanya menoleh sekilas sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Tentang omongan Uwak Farida tadi, jangan di pikirin. Uwak Farida orangnya memang suka ceplas-ceplos,” lanjut Rizal.

“Yang tentang apa? Tentang Abang suruh nikahin saya?” sahut Nadya santai.

“Bukan,” balas Rizal cepat.

Nadya mengerutkan alisnya, bibirnya bergumam pelan. “Lalu?”

“Tentang Hasna.”

“Uhukkk.”

Bersambung.

1
Vera Dewiaryani
iya double dong thor kali²
Anna: Sedang di usahakan kak 🫶
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
lho lho lho baru baca kok sdh bersambung..pelit niqn ni kak thor up dikit kali..sekali kali double up lah kak biar puas dirini baca
Anna: Kakak terima kasih sudah selalu mensupport karya saya.
Sejujurnya saya pun ingin up banyak-banyak, tapi apa daya.
Saya sedang berusaha merevisi karya lama sebab malu dengan penulisannya, semoga minggu ini selesai Saya revisi agar bisa up banyak dan membahagiakan pembaca.

Sehat selalu untuk kakak pembaca yang baik.
🫶🫶🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
wkwkwk
.. aku kmrn suudzoon.... 🤣🤣🤣
Anna: Siap-siap di sentilll Bang Rizal. 😒
total 1 replies
Rehan Atar
kaget saya kira bales chat hasna taunya bales si'kaki tangan leganyaa...😄😄😄
Anna: prankkkkkk 🤣🤣🤣
total 1 replies
haci
aku akuu😭
haci: nangiss 😭
total 2 replies
haci
ooo yasirr maaf ya bang udah sooudzoonnn 😩
Anna: Kata saya juga supresss🥳🤣
total 1 replies
Erlina Yakin
bagus
Anna: Kakak terima kasih banyak 🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
sebenarnya yang kamu cintai tuh sapa baaangg...... Nadia atau Hasnaa...
Anna: Tonjok aja, Kakl 🤣
total 3 replies
haci
kenapa kasii harapan terus siii
di tinggal nadya baru tauk rasa😭
Anna: baca up terbaru 🥳
total 3 replies
haci
jangan mauuu bang Rizal awasss aja😩
Anna: kita gundulin, ya kali Rizak tergoda
total 1 replies
haci
helehh bantuan apa to hasann 😭
Anna: menggitil dia 😗
total 1 replies
Yessi Kalila
itu si Hasna kurang kerjaan betul.... drama teroosss...
Anna: Modus, sapa tau berhasil. begitu kira-kira isi pikiran Hasna
total 1 replies
Vera Dewiaryani
up lagi dong thor😁
Anna: barusan up, Kak. 🫶
total 1 replies
haci
gak kebalikk ya 😭
ilyas yang manipulatif bgtt sombong 😩
Anna: kan memang hobi nya Ilyas memutar balikkan fakta. 😗
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
saya suka ceritanya, latqr belekang perkebunan suasana pedesaan dualek lokal
Anna: Makasih suportnya, Kak 🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
ceritanya bagus kaa.... lanjut aja.... 😍😍😍
Yessi Kalila: wooww... mantap ka Anna... semangat... semangat oke.. oke... aku setia selalu.... padamuuu... 😄😄😍😍😍
total 2 replies
Ita Nuryani
lho kok sudah tamat, tak kira panjang crtax
Anna: belummmmm masihh panjang. kan bang Rizal sama Nadya belum ahh ahhh 😭🤣🤣🤣
total 1 replies
Rehan Atar
izin..gosip papa kandung yg ngerudal anaknya sendiri ?? sadiss thorr 😡😡
Ratih Tupperware Denpasar: ada beberapa kali berita ayah menghamili anqk kandung
total 2 replies
haci
ya Allah 😭
kasian bgt mit amit ihhh 😭
Sriekyu: kak..cerita mu bagus.. thanks ya..cm klo bs nadya gk usahlah panggil ilyas papi..udah ketauan bejat gitu
total 5 replies
haci
kapan siii dia tumbang ihh nyebelin bgt😩
Anna: Habis ini masuk bui.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!